Thursday, July 31, 2008



"Siapa punya Time edisi ini ya? Kalau punya bilang-bilang dong. Pengen pinjem
& baca."
Menulis Mimpi
---Anwar Holid

Bisa jadi kamu benar dari sisimu; aku benar dari sisiku.
--Pepatah



Terakhir kali aku mimpi yang cukup mengesankan, mimpi itu masih sulit aku ingat baik-baik. Awalnya aku merasa melihat warna-warni psikedelik dan bentuk-bentuk optik, tapi entahlah seperti apa semua itu terjadi. Tapi rasanya aku ingat akhirnya: Aku seperti lihat kedua orangtuaku, mungkin siap-siap masak, dan aku minta dimasakkan sesuatu dari sungai. Kayaknya aku jelas lihat sungai, mungkin mau ngambil lauk(?) atau ikan. Tapi ketika menoleh, aku lihat di salah satu permukaan sungai dangkal itu entah daging atau tahi sedang dikerubungi lalat. Aku mual.


Sejujurnya aku malas dengan mimpi, apalagi mimpi yang timbul dari kesengajaan, maksudku karena aku secara mental sengaja menginginkannya. Dulu, kadang-kadang aku memang sengaja mengundang mimpi bila benar-benar ingin, entah karena rindu ketemu seorang gadis atau karena ingin suasana tertentu ketika tidur. Tapi barangkali mimpi cukup penting untuk menelusuri lagi masa lalu. Tapi apa gunanya masa lalu? Untuk mendapat petunjuk? Ha ha ha... waduk! Dulu sekali aku dan kawan-kawan suka menertawakan Harmoko yang sering berkata "Menurut petunjuk bapak presiden" untuk menerangkan sesuatu atau mengambil tindakan tertentu atas hal yang sulit dia pahami atau takut menanggung risikonya. Sekarang aku sering dengar orang bisa bilang sedang berusaha "mendapat petunjuk" atau bertindak "sesuai petunjuk." Rasanya itu déjà vu yang menyebalkan. Tapi kalau lihat mimpi sebagai mimpi dan membersihkan dari hal-hal mistik, bolehlah. Aku sering juga kok menerima mimpi yang menyenangkan atau juga menegangkan. Di sejumlah kisah Al-Quran memang ada mimpi yang digunakan Allah untuk menyampaikan pesan tertentu pada orang tertentu; barangkali juga yang terjadi padaku. Tapi sayang aku malas menafsirkan mimpi---apalagi untuk mendapat petunjuk.

Petunjuk buat aku sudah terang sekali: itu tersebar di manapun di dunia ini, dalam banyak peristiwa atau buku yang aku baca dan aku mendapat pelajaran atau cara tertentu untuk melakukan kebaikan di dunia ini. Segala keburukan yang aku lakukan jelas merupakan kegagalanku menguasai diri. Rasanya aku sulit sekali percaya ada petunjuk muncul dari mimpi yang digerakkan oleh niat yang keras, diupayakan lewat cara-cara tertentu. Dulu aku bisa dapat mimpi basah kalau menginginkannya sebelum tidur. Wah, mungkin aku terlalu spekulatif tentang hal ini, terlalu sembarangan. Tapi kalaupun ada, itu bukan jenis petunjuk yang sesuai buatku. Kalau itu cocok dan berhasil buat orang lain---tentu menarik untuk diperhatikan. Silakan. Kebenaran tak harus berlaku pada setiap orang. Bisa jadi kamu benar dari sisimu, begitu juga aku. Bisa jadi aku benar dari sisiku. Salah satu yang paling penting tampaknya mengakui betapa orang punya keyakinan tertentu dan sebaiknya orang lain jangan memaksa keyakinannya pada orang lain. Islam jelas melarang seseorang memaksakan keyakinannya pada orang lain.

Hanya aku masih tertarik mencatat mimpi dengan baik, meski usaha itu ternyata sulit karena aku lebih mudah lupa akan mimpi-mimpi yang terjadi. Begitu bangun sehabis merasa dapat mimpi, ternyata sulit aku ingat detil-detilnya, apalagi untuk ditulis, hingga satu-satunya yang terbetik hanyalah pikiran "aku barusan mimpi." Semoga mimpi itu jadi bahan tulisan yang menarik. Mimpi menurutku misterius, dan karena itu patut dieksplorasi sebagai bagian dari diri kita yang tersembunyi.

Kalau gambaran-gambaran gaib bisa muncul dari mimpi, tentu itu punya simbol tertentu atau menyiratkan sesuatu (e.g. "petunjuk" tadi)---tapi entahlah bagaimana cara kerjanya. Aku terlalu repot menelusurinya. Lagian, entah kenapa aku juga malas baca buku kajian tentang mimpi, bahkan yang komik sekalipun. Mungkin lain kali harus aku paksa. Sebagian orang hebat terilhami mimpi yang mereka alami.

Aku bisa menghargai disiplin sebagai wahana bertobat atau memohon ampun pada Allah. Tapi jelas aku menilai disiplin sebagai sesuatu yang biasa. Menurutku shalat malam (i.e. bukan shalat isya yang dilakukan kemalaman) malah lebih afdol buat kaum Muslim. Untungnya kaum Muslim boleh berdoa atau bertobat dengan cara bagaimanapun. Setiap orang pasti punya cara paling nyaman untuk berdoa atau minta ampunan. Sebab Tuhan Maha Mendengar. Jelas aku lebih tertarik kandungan kebaikan yang ada dalam disiplin. Aku moralis, kamu tahu! Selama ada kebaikan, wajib aku dukung, setidaknya membiarkan orang lain dengan nyaman melakukan tanpa gangguanku.

Aku sudah lama kesulitan menulis mimpi dengan utuh dan detil. Aku sedang mengusahakan agar bisa lagi menuliskan mimpi dengan cukup baik. Ini menurutku berguna untuk mempertahankan kenangan atau menajamkan ingatan---aku lemah dalam soal mengingat-ingat. Aku ingin memperbaiki kekurangan yang ada pada diriku. Aku agak yakin setidaknya kemampuanku menulis bakal lebih berpengalaman bila aku mampu menghadirkan/meneroka hal-hal pelik atau bahkan misterius. Aku cukup kesulitan menguak subjek sulit yang ingin aku tulis.

Pengalaman menunjukkan aku penulis yang malas dan sulit. Aku hanya bisa menulis sedikit saja setiap bulan dan sering kelimpungan mewujudkan ide dengan baik dan agak cepat. Yah, menulis secara alamiah memang mudah buatku. Tapi menulis yang baik, dengan maksud tertentu, dalam tahap tertentu punya dampak terhadap publik, termasuk bermanfaat buat kolega---jelas lebih sulit dan harus diusahakan dengan hati-hati dan serius. Aku mudah kalah oleh kantuk dan berpaling pada subjek lain. Pasti kalau mau belajar menulis dengan baik sesuatu yang pelik, aku bisa mendobrak kemalasanku sendiri. Barangkali salah satunya ialah menulis tentang mimpi. Aku tahu, dari bacaan, sejumlah karya penting untuk manusia itu lahir dari mimpi. Kitab suci ditulis dari wahyu---yang kurang-lebih setingkat dengan wangsit dan mimpi. Tapi aku lebih suka mimpi alamiah daripada yang dipancing lewat sesuatu, biar tetap dianggap sebagai berkah.

Semakin banyak yang aku tahu tentang Islam, terutama dari buku, aku khawatir bahwa disiplin tertentu yang dipilih orang itu bidah. Tapi aku optimistik bahwa disiplin sebagaimana diajarkan banyak kelompok tertentu ialah bidah yang baik. Aku juga ragu hal itu semacam ibadah. Buatku, disiplin merupakan semacam cara orang berkomunikasi dengan Tuhannya. karena itu aku lebih mementingkan sisi manfaat saja alih-alih berharap dapat "petunjuk." Aku sudah tahu disiplin seperti itu tak membantu karirku di dunia penerbitan atau memperbaiki moral seseorang. Moral atau karir dibangun oleh orang itu sendiri. Aku bahkan berani berpendapat tentu lebih mulia kalau aku lebih membela shalat malam daripada disiplin seperti itu.

Lepas dari semua mimpi yang pernah aku alami dan aku ingat, yang lebih aku harapkan sekarang ialah bisa mendapat lebih besar. Pada dasarnya itu tergantung pada profesionalisme dan kedisiplinan atau perolehan yang bisa aku raup. Harapan ini jelas dipicu oleh banyaknya kewajiban atau tagihan yang belum terbayar penghasilan per bulanku masih boleh dibilang kecil. Ada banyak kewajiban menabung yang terus terbengkalai karena duit sebulan sudah keburu habis dan selalu kurang. Kata mas Arvan Pradiansyah, kenapa penghasilan kita senantiasa kurang untuk mencukupi kebutuhan, karena kita (i.e. orang itu) terlalu rendah menghargai diri sendiri. Aku akan melecut diri sendiri biar lebih semangat dan produktif. Aku mau membereskan persoalan yang mengganggu atau kewajiban yang sydag harus dituntaskan. Sebagian caranya sudah aku tahu, sebagian lagi tinggal mencari atau tanya. Aku yakin bahwa aku masih rendah diri dalam hal tertentu, itu membuat sejumlah kekurangan belum bisa aku tuntaskan. Misal, aku dulu ragu bisa mendapat pemasukan per bulan lebih besar daripada gaji dari ngantor; maka aku masih merasa perlu bertahan. Tapi di sisi lain aku ingin meyakinkan diri bahwa aku bisa berkarir dengan baik atau membangun sesuatu bersama-sama---meski porsinya paling utama jelas demi kemajuan diri sendiri. Dalam hal ini aku juga punya harapan makin mampu mengasah kemampuan untuk menaikkan atraf keahlian dan kehidupan.

Pada Allah aku berserah diri.[]07/07/08

Anwar Holid berusaha mengurai dan mewujudkan mimpi lewat tulisan. Dia ngeblog @ http://halamanganjil.blogspot.com

Menjaga Api Semangat Menulis

--Anwar Holid

Republika, Minggu, 27 Juli 2008 Selisik



FAKTA ini mungkin agak mengagetkan: beberapa blog teman saya ternyata tak di-up date sampai dua tahun. Ini membuat saya bertanya: ke mana semangat menulis mereka? Apa mereka ganti blog atau punya kesibukan luar biasa sampai lupa menulis? Salah seorang menjawab enteng: "Saya sudah malas mengisi blog lagi, mas." Wah, padahal tulisan dia jadi favorit sejumlah orang lho, termasuk di antaranya seorang kritikus yang menurut saya paling nyelekit senusantara. Posting kawan saya itu merupakan paduan antara kejujuran, humor, dan sinisme menyiasati kesulitan pilihan hidup. Jelas, orang yang malas menulis biasanya (sedang) kehilangan motif menulis.

Seminggu lalu saya menerima email dari kawan. Dia jujur bilang bahwa belakangan ini gairah menulisnya hilang, sulit konsentrasi menuntaskan draft novel yang sudah agak lama terlunta-lunta, gelisah tak punya "pekerjaan tetap," dan agak kehilangan orientasi karena mendadak kekasihnya dipanggil Tuhan. Dengan merasa ikut sedih, saya berusaha menghibur, kemungkinan besar dia sulit menemukan alasan kuat yang bisa bikin dirinya semangat, penuh motivasi. Saya bilang, "Sebenarnya pekerjaan tetap penulis itu ya duduk menulis; bukan ngantor atau lainnya. Waktu ngobrol dengan Bagus Takwin, kami mendapati bahwa beberapa di antara kelemahan kita sebagai penulis ialah kita kesulitan, bahkan gagal, mengorganisasi diri, sulit mengelola kesempatan atau bikin skala prioritas. Akibatnya target tulisan gagal tercapai, dan dia frustrasi."

Bila blog lama terbengkalai, draft kisah tak kunjung selesai, bingung mau berbuat apa, itu merupakan tanda bahwa seorang penulis tengah kehilangan dorongan (motivasi) ataupun writer's block (halangan menulis.) Dia kehilangan api yang bisa memanaskan semangat berkarya. Sebagian penulis terhalang oleh kebingungan, lainnya bayang-bayang kesuksesan. Apa yang bisa diperbuat dalam keadaan seperti itu?

Dorongan (motif) menulis setiap orang lain-lain, dan itu harus sejak awal ditetapkan dengan jujur oleh dirinya sendiri. Ada orang menulis karena uang, ingin melampiaskan perasaan, mengungkapkan pikiran, bersaksi (membeberkan kejujuran), mengungkap informasi, bersenang-senang, menghibur, dan 101 motif lain. Tanpa motivasi seseorang bisa segera bosan menulis atau kehilangan alasan untuk melanjutkan keinginan menulis, apalagi jika suatu ketika dia bertemu masa sulit saat menulis---misalnya mengalami writer's block, kekecewaan hidup, atau karena subjek tulisannya sulit.

Dalam kasus blog, saya berprasangka, boleh jadi si blogger bosan menulis setelah tahu ternyata blognya sepi, nyaris tak dilirik orang, dan tulisan-tulisannya didiamkan. Mungkin timbul perasaan sia-sia dirinya menulis. Padahal tujuan awal dia punya blog ialah ada media publikasi tulisan-tulisannya.

Dalam suatu wawancara, Jilly Cooper, seorang penulis novel populer & bestseller Inggris, berkata: "Saya hanya sedikit melakukan kerja rumah tangga, karena saya mengupah orang lain untuk melakukannya. Itulah salah satu alasan utama saya ingin menulis banyak buku." Dari sana terungkap bahwa maksud dia menulis ialah mendapat uang cukup biar dia tidak melakukan sesuatu yang kurang disukainya, yaitu pekerjaan rumah tangga. Menulis membuat dia superior karena bisa meminta orang memenuhi keinginannya.

Sejumlah orang menulis karena uang. Mereka menulis dengan niat tembus ke media massa, berusaha agar tulisan itu sesuai kriteria media, dipoles, dan memenuhi idealisme tertentu. Memang belum tentu bila tulisan ditolak mereka bakal kecewa; tapi itu berarti kesempatan mendapat nafkah jadi kurang. Wartawan merupakan contoh utama menulis demi nafkah. Penulis yang saya tahu persis punya motif ekonomi antara lain Farid Gaban (saya dengar langsung ucapannya), Ajip Rosidi (dari esai dia), dan Philip Pullman (dari wawancara). Saya ingin jujur dengan hal ini. Kata Paul Arden: "Pikirkan tentang uang. Ia jujur. Uang akan membuat Anda kreatif."

Tapi sebagian orang menulis tanpa motif uang sama sekali. Anne Frank, Franz Kafka, Emily Dickinson, tidak menulis karena uang. Baru-baru ini Y.F. Nata, seorang suster, menerbitkan kumpulan puisi Cinta Itu Tidak Dosa sehabis mengalami kecelakaan lalu lintas parah, menyisakan tangan kanan sebagai anggota tubuh yang masih terbilang utuh. Dengan itu dia menulis, kadang-kadang bahkan lewat sms di HP. Dia menulis sebagai terapi mental. Orang-orang itu menulis murni untuk melampiaskan perasaan, menenangkan tekanan, menemukan pelepasan. Begitu juga dengan sejumlah blogger. Mereka menulis saja, baik untuk melatih menulis, mengungkapkan perasaan, memberi informasi, termasuk berbagi cerita.

MENJAGA api semangat menulis ini ternyata sulit juga, meski banyak caranya.

Kita harus jujur dengan motif menulis sendiri. Kalau ingin tulisan dipublikasi, lantas mendapat honor, akui saja. Kejujuran motif akan membuat penulis mahfum untuk apa dia menulis, dan akan ketahuan apa dirinya tulus atau bohong. Bila motif seseorang "senang menulis", dia tak akan sedih bila tulisannya ditolak media, sebab dia bisa mempublikasi tulisan itu di media lain. Bila niatnya menjual tulisan tapi media menolak, dia patut sedih, karena produknya tak laku. Oleh karena itu tulisan itu harus diperbaiki atau diteliti lagi kenapa sampai gagal dimuat.

Satu hal, Horace Walpole mengingatkan bila seseorang menulis semata-mata karena uang. "Begitu orang menulis demi keuntungan, mereka biasanya jadi kurang peka." Uang memang bisa jadi motif yang besar, sebagaimana kata Mike Price. Dia bilang: "Lebih banyak orang punya bakat daripada disiplin. Itu sebabnya disiplin dibayar lebih tinggi." Tapi di lain pihak, Maria Yudkin pernah bilang, dia menolak "menzinahi otak" agar bisa menulis. Apa itu "menzinahi otak"? Yakni memforsir sedemikian rupa agar otak (keinginan) sampai rela berbohong agar seseorang bisa menulis.

Bila sudah tahu motif menulis dan tahu cara menjaga api semangat terus menggerakkan tangan, mungkin orang bisa tetap antusias meski tulisannya diabaikan orang, atau bisa puas meski dibaca sendiri. Yang paling utama ialah berusaha sebaik mungkin menulis, bereksperimen, terus meningkatkan pencapaian. Dengan begitu dia kehabisan alasan untuk tidak meng-up date blog maupun berusaha lebih keras mencari cara menyelesaikan draft naskahnya.[]

ANWAR HOLID, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung.


KONTAK: wartax@yahoo.com (022) 2037348 - 08156140621 Panorama II No. 26 B, Bandung 40141

Thursday, July 24, 2008




Imaji Religius dari Gerak Rumputan
Kisah tentang Proses Kreatif
Oleh Ahmadun Yosi Herfanda, penyair


Sebagai penyair yang merambah sastra religius sebagai pilihan ekspresi estetik, sajak-sajak saya banyak yang lahir dari pengalaman religius. Tiap pengalaman religius yang mengesankan, baik pengalaman inderawi maupun rokhani, selalu merangsang proses kelahiran ‘bayi unik’ yang disebut sajak. Dari sini, ribuan sajak saya lahir dan membangun hidupnya sendiri.

Bagi saya, religiusitas tidak hanya inspiratif, tapi juga indah. Setidaknya, begitulah penjelajahan kreatif saya setiap bersentuhan dengan pengalaman-pengalaman religius. Atau sebaliknya, ketika sebuah perjalanan ataupun pergulatan religius menemukan momentum-momentum puitik yang begitu kuat menyentuh rasa keindahan. Hasilnya, adalah imaji-imaji puitik yang sering terangkai begitu saja dalam kata-kata yang terasa indah.

Bagi seorang Muslim, tiap rakaat shalat adalah perjalanan ke langit (mikraj) untuk menjumpai-Nya. Tapi, sejujurnya, banyak di antara orang Muslim yang merasakan perjalanan itu tak sampai-sampai pada-Nya, meskipun rakaat demi rakaat, beribu rakaat, tiap saat ia lipat dalam ‘kelelahan spiritual’ yang kadang menjemukan. Bahkan, zikir dengan kucuran air mata pun tak menyampaikan hati pada-Nya ketika pikiran berada dalam tarikan kuat tipu daya dunia. Maka, ketika dalam suatu tahajud, karena sebuah ‘keberuntungan spiritual’ tiba-tiba dapat merengkuhkan kita ke dekapan-Nya, itu akan menjadi pengalaman religius yang luar biasa indahnya.

Bayangkan saja, ketika kelelahan spiritual seperti mencapai puncaknya, ketika rakaat demi rakaat, berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, seperti sia-sia; ketika kerinduan untuk istirah di pangkuan-Nya seperti sudah tak tertahankan lagi; tiba-tiba sebuah lorong gaib dalam tahajud di tengah malam mengantarkan kita persis ke hadapan-Nya, maka itu akan menjadi pertemuan yang sangat indah -- bagai pertemuan dua kekasih di puncak kerinduannya. Dalam suasana hati seperti itulah sajak saya, Ciuman Pertama untuk Tuhan (terkumpul dalam buku Ciuman Pertama untuk Tuhan, Logung Pustaka, 2004), lahir:



Merendehkan hati di bawah telapak kaki
Dalam tahajud paling putih dan sunyi, akhirnya
Sampai juga aku mencium tuhan. Mungkin kaki atau telapak
Tangannya - tapi aku lebih ingin mengecup dahinya
Duhai, hangatnya sampai ke ulu jiwa.

Inilah ciuman pertamaku, setelah berabad-abad
Gagal meraihnya dengan beribu rakaat salat dan dahaga puasa
Tiada kecerdasan kata-kata yang bisa menjangkaunya
Tak juga doa dalam tipu daya air mata -- Duhai kekasih,
Raihlah hatiku dalam hangatnya cinta




Namun, sajak tersebut, tidak mampu mewakili semua keindahan pengalaman religius yang serba gaib itu, karena kata-kata tak sepenuhnya mampu mengimajinasikan keindahannya. Sebab, pengalaman religius yang intensif adalah semesta jiwa, sedangkan kata-kata yang tertuliskan hanyalah setitik planet di dalam keluasannya.

Sebuah sajak saya yang lain, Sembahyang Rumputan (terkumpul dalam buku The Worshipping Grass, Bening Publishing, 2005), juga lahir dari pergulatan panjang di wilayah religius yang hampir sama, shalat. Pergulatan panjang tentang makna shalat itu tiba-tiba menemukan simbolisasi yang indah pada gerak rumputan yang tertiup angin, yang seakan rukuk (membungkuk) bersama-sama seperti dalam shalat berjamaah.

Sentuhan puitik (poetical touch) melalui pengalaman indriawi itu saya dapatkan secara tidak sengaja, ketika suatu sore saya sedang mengamati halaman berumput hijau. Saat itu angin bertiup secara periodik. Tiap angin bertiup, rumputan itu seperti rebah bersama-sama, dan begitu angin reda, rumputan itu pun berdiri lagi bersama-sama. Dalam imajinasi saya, rumputan itu seperti ribuan jamaah shalat yang sedang rukuk dan sujud bersama, lantas berdiri lagi bersama. Saat melihat fenomena alam itulah, spontan saya menemukan idiom simbolik ‘sembahyang rumputan’.

Simbolisasi shalat ke gerak rumputan itu saya rasakan sangat pas, karena rumput juga sekaligus simbolisasi kerendah-hatian, kebersahajaan, kefanaan dan ketakberartian umat manusia di hadapan Sang Pencipta. Lebih dari itu, rumputan juga bermakna keteguhan dan semangat religius yang takkan bisa padam, meski berbagai kekuatan sekuler terus berupaya memadamkannya. Coba bakarlah padang rumput, tak lama setelah itu selalu akan tumbuh (bersemi) rerumputan baru yang lebih hijau dan segar. Karena itu, rumputan juga simbol perlawanan yang bersifat laten terhadap penindasan, terus bergerak menyusup tanpa harus berteriak keras, untuk meraih kemenangan:

Walau kau bungkam suara azan
Walau kau gusur rumah-rumah tuhan
Aku rumputan
Takkan berhenti sembahyang
: inna shalaati wa nusuki
wa mahyaaya wa mamaati
lillahi rabbil 'alamin

topan menyapu luas padang
tubuhku bergoyang-goyang
tapi tetap teguh dalam sembahyang
akarku yang mengurat di bumi
tak berhenti mengucap shalawat nabi
: allahumma shalli 'ala muhammad
ya rabbi shalli 'alaihi wa sallim

sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan jiwa dan badan
yang rindu berbaring di pangkuan tuhan
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan habis-habisan

Walau kau tebang aku
Akan tumbuh sebagai rumput baru
Walau kau bakar daun-daunku
Akan bersemi melebihi dulu

Aku rumputan
Kekasih tuhan
Di kota-kota disingkirkan
Alam memeliharaku
Subur di hutan-hutan
Aku rumputan
Tak pernah lupa sembahyang
: sesungguhnya shalatku dan ibadahku
hidupku dan matiku hanyalah
bagi Allah, tuhan sekalian alam


Dari pergulatan kreatif seperti itu juga sajak-sajak religius - serta sajak-sajak sosial-religius -- saya yang lain lahir, baik yang terkumpul dalam buku Ciuman Pertama untuk Tuhan (Logung Pustaka, 2004), The Worshiping Grass (Bening Publishing, 2005), Sembahyang Rumputan (Bentang Budaya, 1997), Sang Matahari (Nusa Indah, 1984), Sajak Penari (Masyarakat Poetika Indonesia, 1992), dan Fragmen-Fragmen Kekalahan (Forum Sastra Bandung, 1996), maupun yang tercecer di berbagai media sastra dan antologi puisi yang terbit di dalam dan luar negeri.

***

Di antara lebih dari 1000 puisi yang saya tulis dalam rentang waktu lebih dari 30 tahun (1976-2007), sajak Sembahyang Rumputan (SR) adalah yang paling popular, paling disukai publik sastra, paling banyak mendatangkan berkah, dan paling memberi citra baik bagi kepenyairan saya. Dua kali SR mendapatkan penghargaan nasional (puisi terbaik dalam Sayembara Penulisan Puisi Iqra, 1992) dan internasional (puisi terbaik dalam Peraduan Menulis Puisi MABIMS - forum Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura, 2002) untuk versi pendeknya dengan judul Zikir Rumputan. Sajak SR juga sangat sering dipilih sebagai puisi untuk berbagai lomba membaca sajak dan musikalisasi puisi di berbagai kota dan daerah di tanah air.

Tentu saya sangat bersyukur, sajak tersebut dapat menjalani nasibnya dengan baik. Seperti pernah dikatakan oleh Sapardi Djoko Damono, sebuah karya sastra, setelah dilempar ke publik, pada akhirnya akan menjalani nasibnya sendiri, yang sering tidak terduga dan kadang-kadang penuh kejutan. Demikianlah, nasib sajak SR, sebuah puisi religius yang pencitraannya diilhami oleh gerak dan karakter rerumputan, yang kini lebih terkenal dari penyairnya sendiri.

Di dalam sajak SR itu pula terkandung spirit kepenyairan saya untuk memilih religiusitas sebagai wilayah kreatif. Sajak SR lahir dari pergulatan batin dan perenungan panjang tentang tujuan dan makna hidup sekaligus hakikat shalat yang menjadi bagian dari rutinitas keseharian seorang Muslim karena harus dijalankan lima kali sehari.

Tentu banyak versi dan penjelasan tentang tujuan dan makna hidup, tergantung pada bagaimana seseorang memahami hidupnya, dan eksistensinya, sebagai manusia, serta bagaimana ia menempatkan diri pada stratifikasi harkat kemahklukannya. Seorang hedonis, misalnya, akan memiliki tujuan dan makna hidup yang berbeda dengan seorang spiritualis. Begitu juga tujuan dan makna hidup ‘manusia profan’ akan berbeda dengan ‘manusia transenden’.

Bagi seorang Muslim, berbicara tentang tujuan hidup akan selalu sampai pada pertanyaan tentang tujuan penciptaan manusia sendiri, seperti ditegaskan oleh Allah di dalam Alquran, yakni sebagai abdillah (abdi Allah) sekaligus khalifatullah (wakil Allah) di bumi. Bagi seorang abdillah, tujuan hidup adalah pengabdian sekaligus penyerahan diri secara total kepada Al Khalik. Ia akan memperuntukkan seluruh hidup dan matinya, shalatnya, serta ibadahnya, hanya bagi Allah semata, seperti ‘janji’ yang selalu diucapkannya tiap membaca doa iftitah pada awal tiap shalat wajib: Inna shalati wa nusuki, wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin (sesungguhnya shlatku dan ibadahku, hidupku dan matiku, hanyalah bagi Allah, Tuhan sekalian alam).

Sajak SR juga dapat dianggap sebagai ‘tonggak religiusitas’ kepenyairan saya. Sajak tersebut menjadi semacam mind set proses kreatif, landasan spiritual, sekaligus orientasi kepenyairan saya. Dengan kata lain, sajak SR menjadi semacam manifestasi dari ke-abdillah-an sekaligus kekhalifahan saya sebagai manusia ciptaan Allah. Sehingga, dengan demikian, kegiatan menulis sajak bagi saya adalah bagian dari ibadah---semacam ibadah kreatif---kepada Tuhan Semesta Alam.[]

Jakarta, September 2007



Aib Lurie
--Anwar Holid


Aib
Judul asli: Disgrace
Penulis: J. M. Coetzee
Penerjemah: Indah Lestari
Penerbit: Jalasutra, 2005
Tebal: 317 hlm.; format: 15 cm x 21 cm
ISBN: 979-3684-33-X


WAKTU itu Afrika Selatan baru saja mengakhiri politik Apartheid pada 1992. Perubahan tersebut membawa dampak signifikan, yakni membangkitkan kebanggaan dan percaya diri kaum kulit hitam, meski kadang-kadang bentuknya keras dan anarkis, yaitu membalas dendam dan mudah berusaha menyeret orang kulit putih yang dianggap jahat.



Adalah David Lurie, dosen flamboyan di Universitas Teknik Cape, Afrika Selatan. Sebagai orang yang secara bawah sadar merasa lebih terpelajar dan berkuasa, dia dibanting memasuki perubahan drastik tersebut, baik karena sudah terlalu tua atau merasa harusnya dunia memang tetap seperti sedia kala.



Keruntuhan hidup Lurie terjadi lewat sejumlah pergeseran: awalnya dia profesor lingustik, tapi karena universitas berubah, dia diturunkan jadi asisten profesor; awalnya mampu memikat perempuan sekali lirik, kini terpaksa membayar pelacur (yang dia tahu suka menertawakan pelanggan tua). Selama di universitas dia mendapat banyak previlese, tapi di dunia nyata dia tak bisa apa-apa, bahkan dengan enggan jadi relawan klinik penyayang binatang.



Perubahan drastik ini nyaris gagal dihadapi Lurie, sampai-sampai di batas nalar, dia kalap menghajar bocah lelaki yang disangka pemerkosa putrinya, sulit menerima keputusan putrinya tetap memelihara kandungan. Awalnya Lurie menolak fakta dia telah kehilangan semua keistimewaan, sampai perlahan-lahan tahu perubahan itu niscaya, bisa terjadi baik karena terpaksa, tak pernah diharapkan sekalipun. Ujung-ujungnya Lurie terhenyak, sebentar lagi dia jadi kakek dari bayi yang benihnya sama sekali beda, dengan pengaruh makin pudar dari dirinya. Bayi itu akan lebih merupakan bagian dari sejarah dan bangsa baru, alih-alih sekadar warisan biologis. Perubahan juga niscaya pada hubungan David dan putrinya, yang perlahan-lahan tapi tegas meninggalkan bayang-bayang sebagai anak penurut, lalu hidup sendiri, bebas menentukan langkah.



"Di Afrika Selatan, jadi miskin dan hitam itu normal; jadi miskin dan putih adalah tragedi," demikian kata Nelson Mandela, ikon gerakan anti-Apartheid. David Lurie persis mengalami hal itu; dia terhina menyaksikan putrinya diperkosa, apalagi oleh orang kulit hitam, sementara dia dituduh memperkosa; dipecat, mengganggur, kekayaannya habis, proses kreatifnya mandek, dan tak ada yang bersedia membela.

COETZEE membuka Aib dengan eksplisit: "Menurutnya, untuk lelaki seumurnya, lima puluh dua tahun, duda, dia telah menyiasati masalah seks dengan cukup baik." Awalan seperti ini pasti membuat siapa pun mengira novel ini akan dipenuhi seks atau pemuasan hasrat. Rupanya, itu intro kejatuhan David Lurie, antihero kulit putih yang hadir nyaris tanpa belas kasih dan rasa simpati. Segera beberapa bab berikutnya pembaca digelincirkan pada jungkir-balik manusia menghadapi nasib yang amat jauh dari prasangka siapa pun, melemparkan dia pada keadaan yang sama sekali asing.



Aib Lurie dimulai ketika dia diajukan ke pengadilan universitas dengan tuduhan pemerkosaan oleh keluarga mahasiswi dan tekanan pacarnya yang cemburu. Atas desakan komite, dia mengakui tuduhan itu, tapi menolak meminta maaf sebagai syarat peringanan hukuman, baik kepada universitas dan keluarga gadis. Alasannya jujur dan fundamental: menurutnya, mereka adalah sepasang kekasih. Karena itu dia dipecat dengan lumuran cela baik dari kolega maupun mahasiswa. Tak tahan oleh tatapan hina Lurie berencana tinggal sebentar bersama putri tunggalnya, di pinggiran Cape Town, hendak menyelesaikan libretto tentang Lord Byron. Yang dia temukan ternyata bukan ketenangan atau kelancaran proses kreatif, melainkan malapetaka. Mereka dirampok penjahat kulit hitam: anaknya diperkosa, dia dibakar, harta bendanya lenyap. Lurie kehabisan muka untuk menuntut keadilan, sebab dia sendiri merasa tercela, anaknya menolak menggugurkan kandungan karena trauma; dan ketika pulang ke Cape Town, ternyata rumahnya juga habis dijarah.



Aib merupakan kesempatan bagus bagi kita untuk menikmati dan merasakan kekuatan tulisan Coetzee. Kecuali masalah rasisme, bangsa dan negara Afrika Selatan memiliki kemiripan nasib dengan Indonesia, misal dalam hal rentannya hubungan sosial dan jaminan keamanan, apalagi bila diingat bahwa Afrika Selatan lama sekali mengidap trauma sejarah dan politik. Namun, mengakarnya bahasa Inggris sebagai media ekspresi sastra dan pertalian dengan persemakmuran Inggris memungkinkan pengarang Afrika memperoleh reputasi yang lebih baik dibandingkan penulis Asia. Pencapaian fiksi Inggris di Afrika memicu munculnya cultural studies dan sastra poskolonial, bahkan memberi banyak sumbangan bagi bahasa Inggris, termasuk melahirkan karya yang kualitasnya mampu menyaingi kanon karya penulis asli Inggris maupun Amerika Serikat.



Meski berlapis-lapis, kisah Aib membuat pembaca bisa mendapat banyak wawasan, boleh dibilang sangat kaya mengingat halamannya yang tipis. Aib adalah buku yang mudah dan jelas, memuaskan dan mudah dicerap dalam sekali baca. Tapi begitu diselami, ia menawarkan kedalaman dan keluasan universal dan fundamental. Dari sisi teknik novel ini ditulis sederhana, jelas, efektif, dengan plot cukup cepat; tapi pembaca masih bisa menarik banyak simpul dari setiap peristiwa dan narasi di dalamnya. Selain drama hidup David Lurie, pembaca bisa mendapat masukan tentang Afrika Selatan, isu seksualitas, ketidakadilan, ras dan gender, poskolonialisme, hubungan orangtua-anak, interaksi sosial, sejarah, serta tak kalah memikat: keuletan seorang sarjana menuntaskan idealitas dan proses kreatif.



Selain memperlihatkan betapa rentan kehidupan sosial suatu masyarakat yang baru berubah, Aib mampu menyamarkan alegori yang lebih krusial, misalnya mengembalikan nasib pada kaum pribumi, yang karena beberapa alasan memang hak mereka; betapa sebuah bangsa harus mengalami kejadian paling buruk sebelum akhirnya mengambil haluan baru. Tanpa sepatah kata "apartheid" novel ini mampu menghadirkan ancaman paling mengerikan yang muncul dari prasangka purba manusia, yakni saat seseorang merasa lebih tinggi, beradab, memandang orang lain lebih rendah dan buas, baik disebabkan warna kulit, perbedaan sosial, sejarah, dan sebagainya.



Pembaca bisa risih dan gelisah sendiri bila menghadapi dilema: "Bisakah saya belajar dari orang yang bermoral longgar?" Rasanya mustahil melupakan David Lurie yang begitu kasar, membuat orang segera jijik, namun berkarakter kuat. Kondisinya sebagai orang kehilangan harga diri, jatuh, tercelup aib amat mengenaskan. Padahal sebelumnya mungkin pembaca iba karena Lurie tipikal orang apolitik, sederhana, lebih peduli pada kesenangan dan kepentingan pribadi. Menurut pendapatnya sendiri, dirinya "tidak jahat, tapi juga tidak baik." Dia berdedikasi sebagai pengajar, pada mahasiswa, berani tanggung jawab.

SEBAGAI PENGARANG pertama yang dua kali memenangi Booker Prize; tiga kali mendapat hadiah Central News Agency (CNA); dan mendapat hadiah Nobel sastra pada 2003, reputasi J. M. Coetzee di Indonesia bisa dikatakan sangat kabur. Namanya tenggelam di antara penulis yang bukunya lebih banyak diterjemahkan, seperti Gabriel García Márquez, Paulo Coelho, Umberto Eco, Milan Kundera, bahkan yang lebih muda, misalnya Arundhati Roy. Satu-satunya jejak lama atas Coetzee ialah ketika pada 1991 YOI menerbitkan Jeritan Hati Nurani, Dilema Kehidupan Sang Hakim terjemahan atas Waiting for the Barbarians (1980). Novel ini merupakan karyanya yang sangat disarankan, dinilai sebagai karya matang pertamanya, dan kini telah masuk kategori "klasik modern."



Dibandingkan dengan Nadine Gordimer, penulis Afrika Selatan pertama yang meraih Nobel Sastra, Coetzee pun tampak kalah wibawa. Salah satu sebab paling mencolok ialah karena Coetzee dinilai tidak pernah terang-terangan mengecam ketidakadilan yang terjadi di negerinya atau bereaksi sangat keras terhadap Apartheid sebagaimana Gordimer. Anggapan ini sebenarnya tergesa-gesa, tapi agak sulit dijernihkan baik dilihat dari karya maupun tabiat Coetzee yang menghindari publisitas dan terkenal dingin terhadap pers; dia tak hadir dalam dua kali penyerahan Booker Prize, malah diwakili oleh editornya. Bila pesan politik dalam tulisan Gordimer senantiasa tegas dan langsung, karya Coetzee lebih bernuansa, diisi sejumlah lapis cerita, dengan pesan subtil yang perlu hati-hati dicerap agar langsung dipahami dalam sekali baca.




Coetzee sangat jeli mengangkat masalah sensitif tersebut dari tingkat paling dasar, ialah ketika politik, negara, dan sistem nyaris gagal berbuat apa pun untuk menyelamatkan seseorang dari kemalangan, gantinya dia harus mempertahankan keyakinan maupun nasib pada usaha dan iktikad baik untuk menerima keadaan. Tepat komentar Grant Farred atas kekhasan karya Coetzee, "Dia menulis tentang Afrika Selatan tapi tak terwadahi oleh Afrika Selatan." Itu bisa sedikit menjelaskan kenapa Coetzee juga kerap meninggalkan negerinya, hidup di Inggris, Amerika Serikat, dan sejak 2002 tinggal di Australia, tempat dia memegang posisi kehormatan di Universitas Adelaide. Di sana dia menerbitkan Elizabeth Costello: Eight Lessons (2004) dan Slow Man (2005). Wajar dalam sebuah memoar Coetzee menulis bahwa masyarakat tempat dia hidup mirip penjara. "Saya bukan pembawa pesan masyarakat atau apa pun," tegasnya, "Saya orang yang punya pesan tentang kebebasan dan menggagas harapan tentang orang melepaskan rantai dan menghadapkan wajahnya pada cahaya."[]

Anwar Holid, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com

Cover diambil dari Net; cover edisi Indonesia nanti saja ya.

Sunday, July 20, 2008



Be A Writer
Oleh Septina Ferniati


Aku suka membaca. Sewaktu masih kecil, ketika usiaku sekitar sepuluh tahunan, aku sudah membaca majalah langganan ibu, Femina. Dia selalu melarangku membaca Femina, karena menurutnya usiaku belum cocok membaca majalah dewasa. Di sela-sela jadwalnya yang padat mengurus anak, rumah tangga, dan usaha warung, ibu suka membaca. Dia mengajariku membaca sejak usiaku empat tahun. Karena itu di usia sepuluh, aku semakin penasaran dengan buku apa pun yang kutemukan di rumah. Ibu sampai kewalahan menyediakan bacaan. Dia juga kadang marah jika sulit melarangku membaca majalahnya. Ibu sering bilang, “Majalah ini bukan untuk anak-anak, ini khusus untuk ibu!” Jadi perlahan aku pun beralih membaca buku-buku yang tepat untuk usiaku. Kadang jika bosan membaca buku-buku yang sudah berkali-kali kubaca di rumah, aku pun meminta izin mampir ke rumah tetangga yang anaknya punya banyak buku dan ikut membaca di sana. Kadang aku diizinkan meminjam, jadi bisa kubaca di rumah. Tak terhitung banyaknya bacaan yang sudah kulahap sejak kecil.

Setelah usiaku tiga belas, baru aku diizinkan ibu membaca Femina. Yang paling kusukai ialah rubrik “Gado-Gado”, cerita pendek dan cerita bersambung. Tawaku meledak jika menemukan cerita lucu di Gado-gado. Air mataku deras mengalir saat membaca cerita cinta yang menyedihkan hati. Aku gemar mengoleksi cerita bersambung. Namun sebagian besar cerita yang kukumpulkan hilang setelah kupinjamkan pada kakak atau saudara. Mereka tak telaten merawatnya.

Beranjak besar aku pindah ke kota lain. Aku berpisah dengan keluarga. Tak satu pun kumpulan cerita dari majalah ibu yang kubawa, karena repot dan berat. Hanya barang-barang paling penting yang ikut. Sebenarnya sayang juga meninggalkannya, tapi aku yakin di kota baru itu dapat kumulai lagi mengumpulkannya, apalagi majalah itu relatif mudah ditemui. Beberapa cerita yang benar-benar bagus bahkan tersimpan rapi di dalam hati, teringat selamanya. Hanya kesan yang kuingat, karena judul, jalan cerita, dapat kutebak-tebak.

Selama menjalani proses sekolah menengah dan kuliah yang lama, aku benar-benar terkungkung dalam dunia yang tak terlalu kusukai. Setelah lulus dan bingung cari kerja, aku pun teringat kegemaranku menulis. Pertama-tema, aku ingin jadi guru, karena ingin mempersuasi orang agar cinta membaca. Namun ibu ingin aku bekerja di perusahaan bonafide, “Agar tak kekurangan,” katanya. Maka setelah melamar, ikut proses pelatihan di sebuah perusahaan baja ternama, dan ternyata gagal di tahap penentuan, ibu pun merelakanku kerja sesuai keinginan. Aku pun melamar jadi guru di sebuah madrasah dekat rumah. Gajinya lumayan kecil, namun aku rela menjalani, karena bukan semata-mata uang yang aku kejar. Aku ingin murid-murid yang kuajar suka baca. Jika proses membaca sudah lumayan dijalani dengan baik, aku berharap mereka jadi suka menulis. Biasanya begitu. Orang yang suka membaca biasanya jadi suka menulis, setidaknya menulis pemikirannya tentang apa yang sudah dia baca, lihat, atau alami.

Lima tahun aku mengajar di dua sekolah berbeda. Aku betah jadi guru. Pada dasarnya aku suka berbagi pengalaman membaca dan menulis pada siapapun. Jadi guru memudahkanku berbagi pada murid-murid. Karena sebagian besar muridku berasal dari kelas bawah, akulah yang menyediakan tempat dan buku untuk mereka. Kubuka rumahku sekian jam sehari untuk menerima kedatangan mereka. Kupinjami mereka buku. Beberapa buku raib, namun sebagian besar selalu kembali. Mereka pun sedikit demi sedikit mulai suka membaca. Beberapa di antaranya jadi suka menulis, dan sering meminta saranku dalam proses penulisan. Harapanku tak muluk; asal mereka bahagia dengan yang mereka lakukan, sudah besar artinya bagiku dan bagi mereka sendiri. Perlahan-lahan kusarankan mereka mengirim tulisan pada media. Meski tak satu pun dimuat, mereka tetap semangat dan terus menulis.

Karena kehamilan pertamaku rentan, aku berhenti mengajar di sekolah. Aku beralih menerjemahkan dan menulis. Menurutku, keduanya berhubungan. Kepiawaian menulis biasanya membuat seorang penerjemah lebih pintar membaca makna sebagaimana maksud penulis. Meski kadang lelah, semua terbayar begitu pekerjaan selesai. Hasilnya terasa memuaskan.

Setelah punya anak, aku tambah bersemangat menulis. Salah satunya karena ingin meringankan beban suami. Kupikir seorang istri harus bisa membantu suami menanggung biaya hidup rumah tangga, agar dia dapat menghargai jerih payah suami. Sebagai perempuan, aku suka mengalir. Aku menolak jadi beban orang lain. Aku menolak tertekan. Jika kulakukan yang kusukai, tak ada beban melakukannya. Ada kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri jika bekerja. Di hadapan anak-anak dan suami aku bisa membuktikan bahwa aku berdaya.

Aku kini menerjemahkan dan menulis. Buku yang kuterjemahkan sudah cukup banyak. Cerpen pertamaku, “Cinta Kedua”, dimuat Femina pertengahan 2003. Sebelumnya aku sudah sering menulis cerpen, namun belum ada satu pun yang dimuat. Aku sangat bahagia. Lalu bertahap esaiku mulai menghiasi berbagai media, antara lain Matabaca, Kompas, Pikiran Rakyat. Pengalaman itu membuat aku diajak bergabung jadi instruktur menulis cerpen sebuah klub menulis.

Aku kini ingin menerbitkan cerita dan esai yang jumlahnya sudah beberapa sebagai buku. Sementara menerjemahkan kuharap dapat terus jadi pekerjaanku. Aku suka membaca kehidupan dalam buku yang kuterjemahkan. Banyak pelajaran bisa kujadikan cermin. Dari situ pula aku dipercaya mengedit beberapa buku. Awalnya aku ragu bisa melakukannya. Namun dari kebiasaan membaca, menulis, dan menerjemahkan, aku pun jadi mudah mengedit dengan sendirinya. Femina dan buku-buku yang kubaca waktu kecil berpengaruh besar dalam proses kepenulisanku. Andai tak pernah baca Femina, barangkali takkan kudapati keasyikan menulis cerita sampai sekarang. Kusyukuri itu sebagai berkah.

Dari semua itu, aku dan suami sudah bisa memiliki sebuah rumah yang sebagian dirancang dengan kayu. Rumah kami ada di gang. Rumah itu kecil saja, namun di sana kami sering menerima teman, saudara ataupun tetangga yang ingin baca buku koleksi kami atau anak-anak. Beberapa orang sudah dapat dipercaya membaca buku untuk dibaca di rumah mereka, beberapa kadang membaca di tempat sampai selesai. Dari situ aku percaya kehidupanku punya berkah bagi orang lain. Aku ingin terus berbagi.[]

Septina Ferniati, penerjemah & penulis; baru-baru ini menjuarai sayembara penulisan Kisah (Kisah Inspirasi dan Harapan) 2007 dari Penerbit Erlangga-BodyShop.



Taslima Nasrin

Perlu Lebih Banyak Baca Kisah Kedamaian


Lajja
Penulis: Taslima Nasrin
Penerjemah: Anton Kurnia dan Anwar Holid
Penerbit: LKiS, 2003
Tebal: xxvi + 336 halaman; Ukuran: 12x18 cm


Genre: Novel Sejarah


Diterjemahkan oleh Anton Kurnia dan Anwar Holid, buku ini mengangkat tema sastra, konflik antaragama, dan tokoh feminisme.

Buku ini ditulis sebagai refleksi dari peristiwa 6 Desember 1992, ketika pada tanggal tersebut Masjid Babri di Ayodhya, India, warisan sejarah abad ke-16, dihancurkan dan dibakar oleh para anggota "Kebangunan Hindu." Yang kemudian mengakibatkan kerusuhan susulan yang tidak hanya terjadi di India, namun justru terjadi di Bangladesh. Di sini, para pemuda Muslim fanatik menyerang dan membunuh umat Hindu, membakar rumah dan toko, menjarah dan merampas harta benda---(mirip Peristiwa Mei 1998 yang menimpa etnis Cina di Indonesia).
Dalam versi Inggrisnya, Lajja diterjemahkan menjadi Shame, artinya malu. Judul ini sangat singkat, jitu, dan bersifat semiotik. Secara harfiah, malu berarti "merasa tidak enak hati, rendah, bahkan hina, karena melakukan sesuatu yang kurang baik." Lalu, apa yang malu, mengapa malu, dan siapa yang malu?

Sudhamoy merasa malu karena ia yang selama ini menganjurkan orang-orang beragama Hindu tetap di Bangladesh, dan selalu menghardik serta memarahi mereka yang mempunyai gagasan untuk berimigrasi ke India, pun pada akhirnya berimigrasi ke India.

Suranjan, yang selama ini dikenal sebagai aktivis antikomunal, merasa malu pada dirinya, karena ia pada akhirnya menjadi komunalis dan melampiaskan dendam pada orang Muslim. Sebelumnya, bagi Suranjan, "rasa malu itu tidak ditujukan pada dirinya sendiri, namun ditujukan kepada mereka yang memukulinya. Rasa malu adalah milik mereka yang menyiksa, bukan mereka yang disiksa..."

Rasa "malu" inilah yang hendak digedor oleh Nasrin, dan diharapkan membuka refleksi yang mendalam mengenai "imigrasi", "agama", "kemanusiaan", dan seterusnya.

TASLIMA NASRIN adalah seorang dokter, penulis, dan penyair. Ia lahir di Mymensingh, Bangladesh Selatan, pada tahun 1962 dari keluarga Muslim kelas menengah. Ayahnya seorang fisikawan andal dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Setelah menjadi dokter, ia bekerja di kalangan petani perempuan miskin di Bangladesh. Pengalaman ini membuka mata dan perhatiannya akan perlakuan yang tidak pantas di dalam masyarakat.

Novel Lajja ini sendiri mengundang kemarahan kaum Islam garis keras di Bangladesh. Mereka menuntut agar Nasrin ditangkap dan dihukum gantung. Pemerintah Bangladesh secara resmi menyatakan ia telah melakukan blasphemy (penghinaan terhadap agama). Nasrin kemudian lari dari negaranya sendiri. Ia terus hidup berpindah-pindah sebagai eksil di berbagai negara. "Penaku adalah senjataku," katanya.

Ada satu hal yang tidak saya setujui di novel ini, yakni terhadap pernyataan: "Biarlah Agama berganti nama menjadi Kemanusiaan." (Seharusnya ia tahu, bahwa manusia tidak akan pernah mengerti arti kata "kemanusiaan" tanpa ada agama. Sebab agama lebih dulu ada, jauh sebelum kemanusiaan itu ada. Tidak ada kemanusiaan tanpa agama, sebab nilai-nilai hidup diletakkan berdasarkan ajaran agama).

"Agama yang selama ini mengklaim membawa kasih dan perdamaian, ternyata lebih banyak membawa petaka dan tragedi." (Benarkah? Benarkah lebih banyak membawa petaka dan tragedi? Seandainya ia tahu, betapa jauh... jauh lebih banyak orang yang mendapatkan ketenangan setelah mendalami agama... Oh, betapa picik dan sempitnya ia berpikir...)
"Agama dengan demikian, kehilangan rasa malu, karena gagal menegakkan prinsip kehadirannya yang paling hakiki: perdamaian dan keselamatan." (Malu adalah sebagian dari iman. Sebuah penilaian yang subjektif yang salah besar. Taslima Nasrin mungkin belum paham, bahwa "agama yang haq" tidak pernah gagal dalam segala hal yang menyangkut kebaikan. Yang gagal adalah oknum. Yang gagal adalah orang-orang yang tidak pernah mendalami agama itu sebagaimana mestinya).

Ada satu hal yang belum direnungi lebih dalam oleh seorang sekaliber Taslima Nasrin, yaitu bahwa: "Orang-orang yang kejam TIDAK DATANG DARI AGAMA ATAU KULTUR TERTENTU!" Sebab, fakta yang ada menunjukkan bahwa kekerasan terjadi di mana-mana, melintasi agama, tingkat ekonomi, kelas sosial, warna kulit, dan budaya. Jadi, menurut saya, tidak benar agama telah gagal menegakkan prinsipnya yang paling hakiki, yaitu perdamaian dan keselamatan. Sebab, agama tidak dapat dipersalahkan dalam hal ini. Sungguh, satu hal yang ironis untuk pemulis sekaliber Taslima Nasrin yang masih mendudukkan agama di kursi pesakitan." Mungkin saran saya, Taslima Nasrin perlu lebih banyak membaca kisah-kisah kedamaian di zaman Nabi Muhammad Saw.[]


Diambil dari Jayanti's Site, http://irjayanti.multiply.com/, dirapikan seperlunya oleh Anwar Holid.


Haruki Murakami

Pemberontak Sastra Jepang
--Yuliani Liputo


Suatu kali saya meminjam dua buku dari sebuah perpustakaan di Tokyo, Beauty and Sadness karya Yasunari Kawabata dan A Wild Sheep Chase karya Haruki Murakami. Dalam buku Kawabata, novelis Jepang pertama yang meraih Nobel Sastra pada 1968, saya bertemu keindahan formal yang menjadi ciri literatur Jepang masa pascaperang. Kuil eksotik dengan taman lumut yang teduh, kimono sutra elegan, upacara minum teh yang khidmat, geisha berpupur putih yang terampil meramu pembicaraan memikat dengan tamunya. Sebuah dunia yang halus dan penuh aroma nostalgik seperti mimpi indah.

Ketika membuka halaman novel Murakami saya bagaikan terlontar jauh dari semua itu dan dibawa masuk ke sebuah dunia surealis yang misterius.

Tak ada lagi kemolekan Jepang seperti yang tergambar dalam kartupos-kartupos. Tak ada puncak Fuji yang putih menjulang atau Sakura yang anggun di awal musim semi. Novel Murakami mengubah Jepang yang eksotik itu menjadi sebuah tempat ajaib, aneh dan mencengangkan, yang penuh individu terasing dan hampa.

Haruki Murakami memang menandai sebuah pergeseran dalam khazanah literatur Jepang. Novel-novelnya menggambarkan kegelisahan dan keterasingan yang dirasakan individu dalam masyarakat Jepang modern.

Tulisannya sangat dipengaruhi oleh budaya Amerika, penuh perujukan dan pengagungan pada film, musik, dan budaya pop Barat. Karakter-karakter dalam ceritanya menerima budaya tersebut sebagai bagian yang padu dengan kehidupan Jepang masa kini. Anak-anak muda Jepang menggemarinya karena karya-karyanya menyuarakan apa yang mereka alami, mereka dengan mudah mengidentifikasi diri dengan karakter dalam ceritanya, tetapi generasi tua mengkritiknya sebagai terlalu terbaratkan. Kata mereka, Murakami menggambarkan masyarakat Jepang secara sangat negatif.

Murakami secara terang-terangan mendeklarasikan keinginannya untuk berbeda dari pendahulunya. Dalam sebuah wawancara pada 1991 dia berkata, "Saya ingin mengubah sastra Jepang dari sebelah dalam." Dia bisa disebut seorang pemberontak dalam panorama literatur Jepang. "Kebanyakan novelis Jepang," kata Murakami, "kecanduan pada keindahan bahasa. Saya ingin mengubah itu.

Menulis dalam bahasa Jepang bagi orang Jepang mempunyai satu gaya tertentu yang kaku. Orang harus mengikuti gaya itu. Tapi gaya saya berbeda, dengan atmosfer yang sangat Amerika. Saya mencari gaya baru untuk pembaca Jepang dan saya pikir saya sudah mendapat pijakan." Pijakan itu sungguh kuat jika melihat posisi yang telah diraihnya sekarang. Novel pertama Murakami, Hear the Wind Sing, terbit pada 1979, ketika dia masih berstatus pemilik sebuah bar jazz di Tokyo yang didirikannya usai menamatkan studi di Waseda. Kini selusin judul buku telah ditulisnya, lebih dari dua belas juta eksemplar bukunya beredar di Jepang, dia telah menerima serangkaian penghargaan bergengsi, dan novelnya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari empat belas bahasa. A Wild Sheep Chase adalah novelnya yang ketiga, berisi kisah aneh tentang seorang pria yang dipancing masuk ke dunia antahberantah yang mistis untuk mencari seekor domba misterius.

Murakami menyebut novel ini sebagai kisah fantasi petualangan. Kritikus menyebutnya sebagai gabungan cerita detektif dengan fabel, misteri, dan komedi di mana mimpi, halusinasi, imajinasi liar lebih penting daripada bukti-bukti nyata.

Protagonisnya adalah seorang pekerja di biro penerjemahan yang menandai hari-hari yang dilewatinya lewat lagu-lagu yang didengarnya di radio. Seperti di kebanyakan novelnya yang lain, sang protagonis hanya disebut sebagai "Boku" atau "Watashi", yang keduanya berarti aku atau saya. Secara geografis latar novelnya adalah Jepang, tapi pengalaman protagonis sama sekali tidak bergantung pada tempat itu karena ceritanya dipenuhi oleh perujukan pada budaya pop Amerika tahun 1960-an.

Lewat novel inilah Murakami pertama kali dikenal di Amerika setelah edisi Inggrisnya terbit pada Oktober 1989. Buku itu segera mendapat sambutan hebat di kalangan pembaca berbahasa Inggris. Ulasan wawancara dan foto besar Murakami bermunculan di The New York Times Book Review, Washington Post, Wall Street Journal, San Francisco Chronicle, Los Angeles Times, dan sejumlah majalah serta jurnal sastra lain. Gaya tulisnya diperbandingkan dengan Kafka, Don DeLillo, Tom Robbins, Chandler, Salinger, Borges, tapi kemudian diakui sebagai orisinal. Penerbitnya di Jepang, Kodansha, menyebut baru kali ini sebuah novel Jepang modern didiskusikan dengan begitu luas di lingkaran sastra dan penerbitan Amerika. Tak lama kemudian novel ini terbit pula di Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Korea, Belanda, dan Spanyol.

Murakami lahir di Kyoto pada 1949 dan dibesarkan di Kobe. Kedua orangtuanya pengajar sastra Jepang. Dengan latar belakang ini,dia juga bisa disebut pemberontak dalam keluarganya karena di masa remaja dia menolak membaca novel-novel Jepang sama sekali. Kobe adalah kota pelabuhan yang besar dengan banyak toko buku bekas. Novel-novel Amerika dapat diperolehnya dengan mudah dan murah.

Bacaan kegemarannya saat itu adalah novel detektif dan fiksi sains dari berbagai pengarang: Ed McBain, Mickey Spillaine, Scott Fitzgerald, Truman Capote, dan terutama Raymond Chandler serta Raymond Carver. Kedua pengarang dengan nama depan sama ini menanamkan pengaruh besar pada dirinya.

Meski banyak membaca, Murakami tidak segera tertarik untuk menulis. Dia merasa tak punya bakat dan persyaratan yang dibutuhkan untuk menjadi novelis,dan lebih tertarik membuat film. Ketika menjadi mahasiswa teater dan film di Waseda,Murakami pernah mencoba menulis, tapi tidak berhasil. Dia berhenti mencoba ketika berusia 22 tahun lantas melupakannya, dan baru mencoba menulis lagi tujuh tahun kemudian. Berawal dari sebuah peristiwa yang langka. Ketika sedang menonton base ball, menyaksikan seorang pemain asal Amerika memukul bola ganda, di benaknya tiba tiba tebersit keyakinan bahwa dia bisa menulis. Seperti sebuah wahyu, epifani, keyakinan itu menjadi dorongan yang penuh tenaga. Sejak itulah Murakami mulai menulis, duduk di meja dapurnya setelah bar ditutup pada pukul satu malam.

Novelnya yang pertama selesai setahun kemudian. Dua tahun setelah itu dia menghentikan usaha barnya dan berkarir sebagai penulis purnawaktu. Bersamaan dengan itu Murakami mulai menerjemahkan fiksi Amerika. Dia memilih sendiri buku yang akan diterjemahkan karena dua alasan. Pertama, dia ingin memperkenalkan seorang pengarang kepada pembaca Jepang. Kedua, dia ingin belajar menulis dari buku itu. "Menerjemahkan adalah cara yang paling baik, karena Anda bisa membaca setiap rincian, setiap halaman, dan setiap kata," katanya. Di antara buku yang telah diterjemahkannya adalah karya Fitzgerald, Carver, Irving, dan Theroux.

Pengarang yang paling berpengaruh pada gaya tulisnya adalah Raymond Chandler. Murakami sangat menyenangi tokoh rekaan Chandler, Philip Marlowe, dan sering mengangankan hidup seperti tokoh itu ketika muda. Karier sebagai pemilik bar jazz selama tujuh tahun tampaknya juga memberi warna sendiri dalam tulisannya.

Dia sangat memperhatikan ritme, sering mengutip lirik lagu, dan menekankan pentingnya musik sebagai penawar kesempitan dunia kata. Dalam menulis, dia tidak merancang plot novelnya sejak awal, tapi membiarkannya mengalir sambil berjalan. "Kalau saya mengetahui semuanya sejak awal, tentu akan sangat membosankan," katanya. Dia menulis bab pertama kemudian bab kedua berlanjut secara otomatis tanpa mengetahui apa yang akan terjadi. "Saya menulis dengan spontan. Saya tidak menemukan kesulitan dalam menulis," katanya.

Kelancarannya menulis yang membuat dia mampu menghasilkan karya dengan produktivitas mengagumkan. Empat kumpulan cerpen antara 1982 dan 1986, sebuah novel pada 1985, Hard Boiled Wonderland yang meraih penghargaan prestisius Tanizaki Prize. Disusul berturut-turut dalam jarak dua tahun oleh Norwegian Wood (1987) dan Dance, Dance, Dance (1989) yang merupakan sekuel bagi A Wild Sheep Chase.

Secara keseluruhan, karya Murakami dapat dibagi tiga kelompok. Pertama adalah fabel fantasi seperti A Wild Sheep Chase, yang merupakan buku ketiga dalam sebuah trilogi. Dua buku pertama dalam trilogi ini adalah Hear the Wind Sing (1979) dan Pinball 1973 (1974). Termasuk juga dalam kategori ini adalah Wind Up Bird Chronicle (1994) yang menyoroti tindakan Jepang di Manchuria dalam Perang Dunia kedua. Buku-buku dalam kategori inilah yang paling kuat mencerminkan kecenderungan surealisme dan realisme magis Murakami.

Kategori kedua adalah kisah cinta seperti Norwegian Wood, sebuah novel yang melambungkan kepopulerannya. Jika novel-novelnya terdahulu hanya mencapai angka penjualan seratus ribu eksemplar, buku ini meledak dengan angka dua juta eksemplar pada tahun awal penerbitannya. Hampir setiap anak muda Jepang telah membacanya. Karya ini mengantar Murakami mencapai status selebritis di negerinya. Lantaran itulah bersama istrinya dia kemudian hidup berpindah-pindah di Eropa dan Amerika untuk menghindari konsekuensi tidak mengenakkan dari sebuah popularitas.

Para kritikus menyebut kepopuleran novel ini adalah karena tokoh utamanya terlalu banyak melakukan hubungan seks dan membicarakan soal itu secara sangat ringan dan terbuka. Bagi Murakami sendiri, Norwegian Wood merupakan buku yang unik karena ditulis dalam gaya realisme murni dan sangat linear. Dia menyukai buku itu tapi tidak berencana menulis lagi dalam gaya seperti itu.

Karyanya yang juga termasuk dalam kategori kedua ini adalah Sputnik Sweetheart (2001). Ketiga adalah buku-buku nonfiksi, Underground (1998) dan After the Quake (2000). Kedua buku ini ditulisnya sebagai respons terhadap dua kejadian penting yang menimpa Jepang: serangan gas sarin oleh kelompok kultus Aum Shinrikyo terhadap penumpang kereta bawah tanah di Tokyo pada 1995 dan gempa besar di Kobe pada 1997. Kedua peristiwa itu terjadi ketika Murakami berada di "pengasingannya", menulis di Yunani dan menjadi pengajar tamu pada Universitas Princeton dan Tufts. Dia merasa harus memperlihatkan kepedulian pada kejadian besar itu.

Untuk menulis Underground, Murakami mewawancara sekitar 65 orang penumpang kereta bawah tanah yang diserang itu. Dalam proses itu dia menemukan pengenalan baru tentang negerinya, tentang para pekerja keras yang berdesak-desakan setiap pagi di dalam gerbong kereta. "Saya mengagumi mereka," katanya. "Tapi tak ingin menjadi seperti mereka." After the Quake merupakan kumpulan cerita pendek yang menelusuri apa yang terjadi pada keluarga keluarga di Kobe setelah gempa besar itu. Kedua buku ini seperti menunjukkan perubahan pada diri Murakami, dari seorang yang ingin menjauh menjadi seorang yang kembali ke komitmen pada negerinya.

Di belakang Murakami kini berdiri para penggemar dari seluruh penjuru dalam barisan yang terus bertambah panjang. Novel-novel bertemakan kesepian individu di tengah masyarakat hyperkonsumer Jepang saat ini juga ditulis oleh pengarang lain seperti Natsume Soseki dan Banana Yoshimoto. Murakami tampaknya belum akan berhenti menelurkan karyakarya baru. Dari sekian banyak karyanya barangkali Anda ingin tahu mana yang paling ia sukai. "Buku yang selanjutnya, buku yang sedang saya tulis sekarang," katanya. Dia tampaknya belum berhenti memberontak.[]

Yuliani Liputo, editor & penerjemah, sempat tinggal di Jepang beberapa tahun.


Fiksi dan Semiotika Umberto Eco
---Anwar Holid


UMBERTO ECO merupakan salah seorang novelis kontemporer paling terkemuka di dunia. Novelnya The Name of the Rose legendaris dan mengukuhkan dirinya sebagai penulis utama sastra posmodern. Sebagai bestseller terbitan 1983 di Italia, buku itu masih mudah dijumpai dan jadi salah satu standar fiksi jenis thriller. Hampir semua kritik mengakui bahwa The Name of the Rose merupakan karya dia yang paling terkenal sekaligus enak dinikmati, sebab novel itu bisa tampil sebagai karya yang bermanfaat dan menghibur pembaca.

Namun bagi sebagian pihak lain, Eco merupakan filosof ahli semiotika---sains tentang tanda dan simbol. Di kedua ranah tersebut dia sama-sama terkemuka, hingga sulit menentukan apa dia lebih terkenal sebagai novelis atau cendekiawan. Sebenarnya di luar itu dia juga ahli sastra dan Abad Pertengahan, kritikus budaya populer yang produktif dan tajam. Namun lebih dari itu, sejumlah karyanya memberi sumbangan amat penting dan karena itu berpengaruh kuat di ranah masing-masing.

The Name of the Rose juga sukses diadaptasi sebagai film pada 1986, arahan Jean-Jacques Annaud, dibintangi Sean Connery sebagai William of Baskerville dan Christian Slater sebagai Adso of Melk. William dan Adso ini dua tokoh utama upaya pembongkaran misteri rangkaian pembunuhan brutal yang terjadi di biara di Abad Pertengahan, persisnya tahun 1327. Di zaman yang begitu lama berselang itu, Eco bisa mengubahnya jadi pertunjukan kisah yang mencekam, misterius, sekaligus merupakan petualangan detektif memecahkan persoalan pelik melibatkan masalah iman (ketuhanan), bidah, dan logika. Eco memadukan unsur sejarah, agama, dan sastra sebagai teka-teki berisiko tinggi.

UMBERTO ECO lahir pada 5 Januari 1932 dari keluarga besar di Alessandria, kota kecil di wilayah Piedmont, yang beribu kota di Turin---markas klub sepakbola Italia legendaris Juventus. Ayahnya punya tiga belas saudara. Menurut situs themodernword.com, nama keluarga Umberto, yaitu Eco, merupakan akronim dari ex caelis oblatus, bahasa Latin yang artinya "bingkisan dari surga." Nama itu berasal dari kakeknya yang lahir tanpa diketahui orang tuanya, dirawat di panti asuhan, dan oleh petugas kependudukan diberi nama demikian. Ayahnya, Guilio, sebenarnya ingin Umberto jadi pengacara, tapi dia rupanya lebih tertarik pada filsafat dan sastra.

Waktu Perang Dunia II berkecamuk, dia dan ibunya, Giovanna, pindah ke desa di kaki pegunungan Piedmontese, sementara ayahnya dipanggil ikut wajib militer. Di desa itu Umberto mendapat pendidikan dasar dari ordo Salesian (didirikan oleh Santo Francis de Sales pada 1845), yang mengabdikan diri di bidang pendidikan. Dari sanalah Umberto mula-mula tertarik pada segala yang terkait dengan Abad Pertengahan. Komentarnya tentang zaman antara akhir Kekaisaran Romawi di abad ke-5 hingga awal 15 itu: "Di sana ada skema/bagan rasional sederhana tentang bagaimana mestinya suatu keindahan hadir, di sisi lain ada kehidupan seni inspiratif dan intuitif dengan bentuk dan kedalaman dialektikanya---seolah-olah kedua-duanya merupakan irisan dari permukaan kaca satu sama lain." Maka di Universitas Turin dia kuliah jurusan filsafat Abad Pertengahan dan sastra sampai menjadi doktor pada 1954. Namun suatu krisis iman yang terjadi padanya selama masa itu menyebabkan dirinya keluar dari Gereja Katolik Roma.

Umberto, yang dahulu pernah menggunakan nama alias Dedalus, sebentar bekerja di radio pemerintah, RAI (Radiotelevisione Italiana) sebagai editor program budaya, bareng nyambi sebagai dosen di alma maternya. Selama kerja di RAI dia berkawan dengan Gruppo 63 yang berisi seniman, perupa, pemusik, dan penulis avant-garde. Gruppo 63 berpengaruh penting dalam karir kepenulisan Umberto, karena di sini dia memantapkan pendalaman terhadap studi Abad Pertengahan, terlebih-lebih ketika dia menerbitkan buku pertamanya Il problema estetico di San Tommaso (1956), risalah tentang estetika menurut Thomas Aquinas, yang kelak dia kembangkan sebagai tesis. Begitu lulus jadi doktor, dia memulai karir sebagai dosen, mengembangkan riset serta studi kajian sastra dan penulis.

Dia mengukuhkan diri sebagai ahli Abad Pertengahan tiada banding berkat Sviluppo dell'estetica medievale (1959). Dua buku ini membuatnya malang melintang sebagai dosen estetika dan semiotika di berbagai universitas Italia, dan hingga kini kerap diundang jadi dosen tamu di sejumlah universitas Amerika Serikat. Setelah kira-kira 15 tahun mengabdi, dia dilantik jadi profesor semiotika pada 1971 di Universitas Bologna. Menerima lebih dari 30 gelar doktor honoris causa dari berbagai universitas di dunia, kini Umberto Eco jadi Presiden Scuola Superiore di Studi Umanistici, Universita Bologna. Prestasi Umberto membuktikan pada sang ayah bahwa ia tepat memilih sastra.

**

DI AKADEMIK, lelaki yang biasa tampil berewok ini mengasah ketajaman pemikiran sebagai eksponen utama semiotika. Buku-bukunya mengalir deras. Boleh jadi nonfiksi dia yang paling terkenal ialah A Theory of Semiotics (1976), Travels in Hyperreality (1986), dan Semiotics and the Philosophy of Language (1984). Meski sebenarnya kira-kira sudah 25 judul dia tulis, mencakup semiotika, linguistik (kajian bahasa), estetika, filsafat, dan moralitas. Misal In cosa crede chi non crede? (1996), sebuah buku berisi dialog antara dirinya dengan kardinal Carlo Maria Martini mengenai orang beriman dan murtad. Nonfiksi terakhirnya terbit tahun lalu, Storia della bruttezza, sebuah kajian estetika mengenai keburukan.

Umberto memberi sumbangan pemikiran orisinal pada semiotika; secara bergurau dia memelesetkan semiotika sebagai "ilmu berbohong." Tulis dia: "Semiotika ialah studi tentang segala yang bisa diambil secara signifikan sebagai pengganti (tanda) untuk sesuatu yang lain. Yang lain ini tidak perlu ada atau benar-benar di suatu tempat persis ketika sebuah tanda menggantinya. Maka pada prinsipnya semiotika merupakan disiplin untuk mempelajari segala sesuatu yang bisa digunakan untuk berbohong. Jika sesuatu gagal digunakan untuk menceritakan kebohongan, sebaliknya ia gagal digunakan untuk menceritakan kebenaran---bahkan tentu mustahil ia bisa digunakan untuk bercerita apa pun. Saya pikir definisi sebagai teori untuk berbohong harusnya ditempuh sebagai program yang cukup komprehensif bagi semiotika secara umum."

Tanda (sign) dan simbol (symbol) merupakan sesuatu yang kompleks dan sulit. Di satu sisi semiotika bukan berarti bisa menyangkut segala-galanya, tanda dan simbol ternyata tidak melulu berupa teks (tertulis), melainkan bisa mulai dari proses alamiah komunikasi spontan hingga ke sistem budaya yang kompleks, kode, komunikasi visual, dan komunikasi massa. Di sinilah karyanya Opera aperta (1962) menjadi landasan yang mengundang pembaca (pemirsa) agar terlibat lebih aktif menafsirkan dan kreatif.

DI FIKSI pun demikian, dia kini telah menulis lima novel yang semua merupakan pergulatan mental dan pemikiran yang disampaikan dalam dunia fiktif dan imajinatif, namun dengan telak mempertanyakan agama, sejarah, analisis teks alkitab, dan penafsiran tentang kebenaran. Novel keduanya Foucault's Pendulum (1988), disebut Jane Sullivan sebagai "Da Vinci Code milik orang cerdas", membahas adanya konspirasi kelompok jahat rahasia berkedok agama yang hendak menguasai dunia dan terkait sisa-sisa peninggalan bersejarah Knights Templar---sebuah ordo militer Kristen di zaman Perang Salib I. Fiksi terakhirnya ialah La misteriosa fiamma della regina Loana (2004). Umberto bahkan masih sempat menulis cerita anak, bekerja sama dengan ilustrator Eugenio Carmi, antara lain I tre cosmonauti (Tiga Astronot) dan Gli gnomi di Gnu.

Pergumulan Umberto yang begitu intens dengan berbagai macam teks dengan baik menggambarkan konsep intertektualitas, yakni keterkaitan segala jenis karya sastra sekaligus menerapkan bangunan gagasan bernama Opera aperta (karya terbuka), dipadankan dengan konsep teks terbuka dan tertutup (open and closed texts.) Dia mengkaji teks dari zaman pertengahan hingga zaman internet, sementara di rumah dia mengoleksi lebih dari 50.000 judul---yang disimpan di rumah keluarga dan rumah liburan. Keterkaitan teks dalam semua karyanya bisa sangat imajinatif sekaligus kreatif, melibatkan tokoh faktual, tokoh fiktif, termasuk menghadirkan tokoh fiktif dengan karakter berdasar tokoh sejarah.

Di Indonesia, Bentang menerbitkan dua buku Umberto, yaitu Baudolino dan
The Name of the Rose yang versi digitalnya disediakan oleh digibookgallery.com, sementara Jalasutra menerbitkan Travels in Hyperreality.[]

Anwar Holid, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com

KONTAK: wartax@yahoo.com (022) 2037348 - 08156140621 Panorama II No. 26 B, Bandung 40141

Awalnya esai ini dipublikasi Pikiran Rakyat, 19 Juli 08 dan http://www.digibookgallery.com/.

Thursday, July 17, 2008



jus wortel tambah pepaya
(kebahagiaan bersahaja)
--Anwar Holid

Ya Allah, aku bersyukur hari ini
ada temanku lagi sedih
gelisah nggak punya kerja, sulit menuntaskan naskah kisah
kehilangan orientasi karena kekasihnya tiada
agak waswas menghadapi kenyataan
kehabisan motivasi kerja
padahal ia tahu jangan mudah putus asa
atau menjomblo terlalu lama, usia makin tua
mau kawin sulit biaya

sementara aku barusan
masih bisa jalan dengan sepatu pemberian
dari rumah untuk menggadaikan perhiasan
yang aku gunakan buat beli
anggur, keju, sabun colek dan sabun cuci perabot
sebagian ditabung, biar di masa depan masih bisa aku gunakan
terus buat internet, memeriksa surat dan baca-baca berita
tentang FPI, yang menghalalkan cara kekerasan
hingga berujung pada insiden Monas
dan makan banyak korban, kemudian pertengkaran
diteruskan di ruang-ruang maya
sampai akhirnya aku memilih mengabaikan sama sekali
habis hanya meniupkan-niupkan rasa benci
Barack Obama yang diledek New Yorker dengan menampilkan dirinya
mengenakan baju koko, bergandeng mesra dengan Michelle istrinya
menyelempangkan senjata api di punggung dan pakaian tentara
sementara di dinding gedung putih
terpasang foto osama
dan bendera Amerika jadi bahan bakar tungku pemanas
ada juga rencana peluncuran buku puisi di Ultimus
dengan tema 50 % merdeka karya Heri Latief
sebelum akhirnya aku kirim tulisan
moga-moga kali ini dimuat dan dibayar
sebab yang dulu rasanya sudah 1-2 bulan
aku tunggu belum dipublikasi juga

di rumah istriku bikin jus cukup enak
meskipun agak aneh: wortel diblender bersama pepaya
dengan daun ketumbar tambah gula
atau susu kedele campur anggur
"buat stamina," kata dia menghibur
padahal awalnya aku sama sekali tak tergiur
sudah beberapa minggu dicoba, lama-lama
enak juga rasanya

aku sendiri mau meresensi buku tentang kebahagiaan
yang ternyata banyak sekali jenisnya
atau malah kadang-kadang mengecoh
yang kita sangka kebahagiaan aslinya pura-pura
karena itu mungkin orang rela
bersusah-payah mencari bahagia
alangkah aneh jadinya: bersusah-payah mencari bahagia
sebab bahagia mestinya datang suka rela
tak dipaksa-paksa; kenapa orang mau bersedia kepayahan
demi kebahagiaan

apa aku hari ini juga masih bahagia
karna masih bisa baca dan menikmati cinta
punya keluarga, mendengar tawa Lalang
atau Shanti yang lagi belajar bicara
dan pagi tadi sarapan roti keju
sementara sorenya lidah kami bersama-sama
merasakan cokelat bulat buatan Australia
optimistik dengan masa depan
meski sebenarnya jelas sudah kekurangan uang
tapi kata orang uang tak bisa beli bahagia
ah, kata siapa, kataku segera
uang bisa beliin kamu apa saja, kayaknya
bahkan mungkin mimpi dan keinginan
kata temanku dulu, uang itu cuma alat
alat segala-galanya, sambungnya sambil terkekeh-tekeh
sementara aku tersenyum kecut

Ya Allah, bolehkah aku bersyukur hari ini
kerna merasa lebih mendapat berkah
sementara ada kawan sedang ditimpa
putus asa dan musibah
tapi baiklah, aku akan segera menghiburnya
membagikan sedikit bahagia
kalau itu bisa.

15:57 15/07/08

Friday, July 11, 2008



[HALAMAN GANJIL]

Surat Cintamu Seperti Apa?
---Anwar Holid


Keisenganku mengklak-klik serakan file waktu online di warnet suatu hari membuat aku menemukan sebuah surat cinta yang lupa dihapus oleh pemiliknya. Begini ungkapannya:

/*/
iya, kan neng bilang gpp. jadi artinya gpp..
iya, lebih baik ke dokter aja. biar gak nambah serius..kenapa?

apa yg aa bilang itu kedengeran gak masuk akal buat neng.
i'm chinesse. and u hate chinesse. aa messy, dan neng benci acak"an. apa itu bikin jadi gak pantes saling mendampingi masing? kalo iya... gampang aja. berarti kita gak cocok brg, kan? tp diluar itu kan ada fakta: kita luv eachother. karena itu kita harus coba... neng benci sesuatu yg acak"an, kan bukan krn neng meng'set pikiran neng seperti itu. itu cuma satu part dari otak neng yg bilang begitu. apa bedanya sama neng yg kecanduan sama hal teratur? ritual? berulang? itu bukan mau neng. dr. richard bilang, "anggap aja itu karena cuma satu belah otak kamu yg kerja," neng juga yakin itu sama hal'nya dengan aa yg benci chinesse, gay... ato apalah... aa gak mau, kan? tp aa gak bs nolak itu.

jadi neng percaya. i have much more than my chinsse part. aa juga gitu, u have much more dari pada sekedar messy. dan itu artinya kita DESERVE buat saling mendampingi.
karena kita gak sempurna dan kita coba untuk saling berusaha ngerti.
gitu aja. simple, kan? :)
apa lg yg aa pikirin? luv u2, a..

/*/

Aku rada-rada geli baca surat cinta itu, meski kasihan juga membayangkan sedang ada masalah serius dalam hubungan mereka. Aku menebak-nebak: Si lelaki tampak punya masalah/penyakit, tapi dia enggan diperiksa dokter untuk memastikan masalahnya; di lain pihak mereka berusaha kuat mengatasi persoalan yang muncul dalam hubungan mereka.

Pasangan ini tampaknya sedikit ganjil: Seorang gadis Cina (Tionghoa) yang tergila-gila pada kerapian pacaran dengan lelaki acak adut yang benci etnis Cina. Aku sulit membayangkan bagaimana mereka dulu bisa ketemu, saling suka, kemudian hati mereka jatuh cinta. Tapi segera setelah mereka pacaran, persoalan perbedaan, termasuk masalah dalam diri pria, muncul nyaris di luar kemampuan mereka untuk mengatasinya. Tentu sebelum "jadian", mereka punya sesuatu yang melampaui kebencian masing-masing, boleh jadi itu berbentuk kepribadian (karakter), pembawaan, sikap, dan sebagainya, sampai mereka bisa sama-sama jatuh cinta lepas dari perbedaan yang begitu genting. Yang sulit aku bayangkan ialah cara mereka mengungguli kualitas yang bisa membuat mereka ribut atau pisah. Apa yang dilakukan pria itu sampai membuat si gadis ini bisa menoleransi kebiasaan acak-acakannya? Apa yang terjadi dalam diri si pria atau apa yang dilakukan si gadis sampai-sampai laki-laki ini mengabaikan prasangka kebenciannya pada etnis Cina? Dari surat itu terbaca niat masing-masing untuk terus berusaha saling cinta, tetap bareng, meski itu harus mereka perjuangkan dengan gigih.

Sebuah surat cinta. Rasanya aku terakhir kali mengirim sejenis surat cinta pada Ubing dan anak-anak pada akhir 2006, ketika aku ada di Banda Aceh. Memang pada Maret 08 lalu aku kirim lagi sebuah surat cukup panjang ke dia, tapi sebenarnya itu karbon kopi dari surat curhatku pada seorang kawan, tentang beberapa kejujuran atas diriku. (Nanti mau aku posting setelah diedit dulu.) Memang agak susah bikin surat cinta kalau sepasang manusia berdekatan, karena cinta tampaknya lebih mudah langsung diucapkan pada seseorang daripada repot-repot harus ditulis lebih dulu. Lebih mudah kirim sms cinta daripada harus bikin surat cinta dulu, termasuk lewat email, kecuali kita hidup terpisah dengan kekasih, dan satu-satunya cara menghubunginya, mengungkapkan perasaan, ialah lewat snail mail.

Pada 1992 lalu, waktu OPSPEK fakultas, surat cintaku terpilih sebagai surat cinta terbaik buat senior. Aku tentu cengar-cengir ketika harus membacakan surat itu di hadapan semua orang, sementara si senior yang aku maksud ini berdiri persis di sampingku. Aku heran kok bisa suratku mengalahkan semua tulisan para junior. Entah mereka kurang berbakat atau aku yang terlalu menganggap serius tugas itu, jadi aku kerjakan sungguh-sungguh. Beberapa kalimatnya sering disoraki oleh orang-orang, dan aku lihat si gadis senior ini wajahnya jadi bersemu merah dan kesulitan menahan senyum karena aku rayu. Rasanya, kalau itu bukan kewajiban norak perintah dari senior, aku ingin bilang bahwa aku jujur dengan yang aku tulis di surat itu. Sayang surat itu nggak dikembalikan setelah aku bacakan, jadi aku juga sulit mengira-ngira kenapa surat itu sampai bisa menang. Jadi kesaktiannya nggak teruji. Yang lucu, beberapa minggu setelah masuk kuliah, aku sering digodain teman-teman si senior bila kebetulan kami ketemu. Sementara gadis senior itu mungkin agak-agak jengkel, kenapa juga ada anak culun kok bisa-bisanya menembak dia sebagai sasaran rayuan. Apa yang ada dalam kepalaku waktu itu? Mungkin dia terlalu cantik untuk mendadak jadi senior judes dalam OPSPEK, atau secara fisik dia memenuhi selera fantasi seksualku. Sekarang aku bahkan lupa nama gadis itu.

Namun sayang kemampuanku menulis surat cinta yang sungguh-sungguh malah gagal meyakinkan seorang gadis yang dulu ingin aku jadikan istri. Kalau ingat itu aku ingin ketawa juga. Padahal seingatku waktu itu aku sudah kerja, punya karir di sebuah perusahaan "yang sedang berkembang pesat." Padahal rasanya hubungan kami baik-baik saja ketika aku lama-lama cukup yakin bahwa gadis ini bakal rela diajak ke level hubungan yang lebih serius. Ini membuktikan ternyata kepercayaan seorang calon pasangan kadang-kadang gagal dijamin oleh adanya karir atau penghasilan. Tapi meski dia menolak harapanku, dia nggak mengembalikan surat cintaku itu. Atau jangan-jangan sebenarnya begitu selesai baca---entah tamat atau tidak---langsung dia cabik-cabik dan dilemparkan ke tempat sampah. Sayang aku nggak memfoto kopi dulu surat cinta itu. Mungkin menarik mengenang lagi betapa ada seorang pemuda menyusun sebuah rencana ideal akan cinta, tapi apa lacur dia salah strategi. Mestinya yang pertama-tama diyakinkan ialah memastikan bahwa gadis itu bakal menerima cintanya, bukannya mengajukan proposal pembangunan kehidupan masa depan.

Tapi yang paling konyol, kalau aku ingat sekarang, ialah entah darimana aku mendadak merasa dapat keberanian atau gagasan hebat pada suatu hari memutuskan mengirimi surat seorang jomblo yang ikut kontak jodoh di Kompas. Rasanya aku tolol sekali kalau ingat sekarang. Mungkin ada waktu kepalaku gelap hingga merasa begitu hebat atau malah putus asa bisa menulis risalah tentang hubungan lelaki dan perempuan. Keputusan memalukan. Untunglah surat itu berhenti segera. Aku berharap penerimanya---seorang gadis yang ciri-ciri fisik dan kriteria keinginannya sekarang sudah aku lupa---langsung mengibas-ngibaskan surat itu dari tangannya, menolak memegangnya sama sekali setelah itu. Itu lebih mending daripada dia menyangka aku seorang psikopat yang berusaha menjebak gadis baik-baik yang sedang sungguh-sungguh berusaha mencari jodoh baik-baik. Sekarang aku merasa menyesal dan berdosa berbuat itu.

Kebiasaan menulis surat ternyata memudahkan aku bercerita tentang apa saja ke beberapa kenalan dan sahabat pena yang awalnya aku tahu dari Hai. Di antara mereka ada yang bertahan hingga kini, aku kunjungi di kota mereka kala bisa. Menurutku ini agak menakjubkan. Dengan teman-temanku itu kami bisa saling kirim surat berbelas-belas halaman. Ada salah seorang gadis yang kerap curhat tentang pacarnya yang malah sering membuatnya jengkel karena hubungan mereka banyak masalah. Aku untungnya tetap waras untuk berposisi sebagai teman sejati, bukan lelaki yang diam-diam berusaha menebar pesona dan kemudian mengirim sebuah surat balasan dengan tulisan: Sudah, putuskan pacar kamu. Aku di sini menunggumu. Untung aku tidak memanfaatkan kemalangan seseorang demi keuntungan atau kesenangan pribadi. Kali ini aku lebih bisa menguasai diri. Aku bersyukur bisa mempertahankan sikap baik seperti itu selama hubungan kami.

Di zaman orang kirim surat via email dan chatting berkepanjangan dengan kekasih atau selingkuhan, sementara kadang-kadang mereka ceroboh dengan file itu, aku jadinya beberapa kali menemukan berkas surat cinta atau chatting mereka. Aku pernah baca surat seorang gadis yang antara marah atau putus asa pada lelaki yang sudah sembilan tahun berhubungan dengannya. Gadis itu merasa dikhianati dan sakit hati karena si lelaki menolak mengakui mencintainya atau minimal mereka saling mencintai; malah sebaliknya, si lelaki ini tampaknya dengan sombong bilang bahwa dia yang dikejar-kejar oleh gadis itu, bukannya mengakui bahwa hubungan mereka resiprokal. Si gadis meradang: Kurang ajar sekali kamu bilang seperti itu. Kamu pikir hubungan kita ini apa hah? Apa artinya kita berhubungan selama sembilan tahun itu? Wah... jelas hubungan mereka sedang gawat. Aku membatin: mungkin lelaki ini sedang terjebak dalam badai perkawinan dan berharap si gadis tetap mau jadi selingkuhan daripada jadi istri keduanya. Rasanya tipikal seorang laki-laki bilang bahwa dirinya dikejar-kejar gadis, untuk mengangkat egonya, seolah-olah "dicintai" itu lebih unggul daripada "mencintai." Lelaki malang. Dasar male chauvinist pig!

Setelah beristri dan beranak (yah, ini penegasan saja: aku beristri dulu baru punya anak; bukan punya anak dulu baru kemudian beristri), rasanya aku baru bisa menulis sejenis surat cinta lagi justru bila kami sedang berjauhan, misal karena sedang di luar kota. Sebenarnya menyenangkan bisa menulis cinta, apalagi yang mesra-mesra, bukan yang malah penuh masalah seperti surat yang aku temukan di atas. Tapi kan tiap orang punya maksud sendiri-sendiri. Gadis di atas, yang surat pribadinya aku temukan, lepas bahwa dia sedang dirundung masalah, sebenarnya mencintai pacarnya dengan segenap hati. Gadis itu waras, meski ejaannya sembrono. Kata dia dalam ungkapan khas anak gaul 2008-an: "i have much more than my chinsse part. aa juga gitu, u have much more dari pada sekedar messy. dan itu artinya kita DESERVE buat saling mendampingi. karena kita gak sempurna dan kita coba untuk saling berusaha ngerti." Aduh, senangnya punya kekasih pengertian seperti dia!

Beberapa tahun lalu aku sempat baca novel Subject: Re (Novita Estiti) yang sedikit bikin heboh di media karena penulisnya ngambek menolak novelnya dipaksa dilabeli kategori chick-lit oleh penerbit, GagasMedia. Aku membela kengototan penulisnya. Beberapa minggu kemudian aku dikirimi novel itu. Isinya ternyata kumpulan email-emailan surat cinta (dalam sastra bentuk itu disebut sebagai novel epistolari) antara gadis yang tinggal di Indonesia dengan seorang lelaki yang tinggal di Australia. Aku kurang terkesan oleh isi novel itu, karena tampaknya kurang ada aksi atau plot yang bisa membuat ceritanya lebih menegangkan atau menyedot aku masuk dalam dunia mereka. Isinya tampak melulu tentang hubungan mereka, membicarakan aspek psikologis wanita dan pria ketika sedang jatuh cinta. Sebenarnya menarik sepasang manusia bisa membicarakan cinta jadi seintens itu, setebal itu, dengan bahasa yang tampak dingin, lewat surat elektronik. Seingatku, ada kala mereka ragu tentang hubungan mereka, meski aku ragu apa ada unsur selingkuh di sana. Akhirnya aku menghadiahkan novel itu ke komunitas Asoe Kaya di Banda Aceh.

Yang sedikit mengejutkan aku malah kisah di balik novel itu. Fakta ini baru aku ketahui belakangan saja waktu jalan bareng ke Jakarta dengan seorang kawan. Cerita punya cerita surat-surat dalam novel itu memang surat pribadi penulis dengan lelaki yang membalas suratnya. Artinya setengah dari isi novel itu sebenarnya karya si lelaki, yakni balasan yang bersubjek Re:. Kata kawanku, si penulis dan lelaki ini sampai bikin surat perjanjian perihal isi surat yang dimasukkan dalam novel itu. Entah apa maksudnya; apa kira-kira untuk mencegah jangan sampai ada gugat menggugat atau sakit hati di antara mereka di kemudian hari atau bagaimana. Yang jelas hubungan cinta wanita dan pria ini sekarang sudah kandas secara menyakitkan. Bagaimana kamu tahu? tanyaku. Aku kenal penulisnya, kata dia. Karena itu dia masih menyimpan novel itu. Sementara si lelaki ini dia kenal reputasinya saja. Aku juga kenal reputasi si lelaki itu sebenarnya, bahkan pernah sekali waktu kami email-emailan. Menurutku, lelaki ini tipe kritikus jujur paling nyelekit yang pernah ada, dengan integritas yang bisa dipercaya dan berlandas pada argumen hebat. Tipe kritikus yang paling aku takuti bila sampai ketemu. Wah, kenyataan ternyata lebih ajaib dari fiksi.

Banyak sebenarnya kisah tentang surat cinta, termasuk yang dilagukan oleh Vina Panduwinata (Surat Cintaku yang Pertama) atau Sinead O'Connor (Love Letters.) Film Message in the Bottle yang dibintangi Kevin Costner juga cerita tentang itu.

Seperti apa surat cinta Anda? Kalau belum pernah, sesekali tulislah sebuah surat cinta. Pada kekasih, orang tua, adik, kakak, untuk benda atau Tuhan Anda. Mungkin surat cinta bisa melampiaskan emosi-emosi lembut dan terdalam dalam diri Anda.[]

Anwar Holid, eksponen TEXTOUR Rumah Buku Bandung.
Ngeblog @ http://halamanganjil.blogspot.com

Sunday, July 06, 2008




Ilalang di Spice Fest

---Anwar Holid


Ilalang dan teman-teman dari Jendela Ide-Sabuga tampil jadi pembuka acara Spice Fest di Gedung Sate, 5 Juli 08. Dia main jembe dengan kawan-kawan sebayanya---anak-anak berumur sekitar 6-8 tahun, diiringi kawan-kawan mereka yang lebih besar. Bintang jadi pengendali irama musik perkusi yang mereka mainkan dengan gemuruh, menyentak, dinamik, dan gembira, ditambah tarian gerakan lucu-lucu. Dia main di balik set drum. Alia dan Jilly---dua pemain jembe perempuan yang bergerak, melonjak, dan menabuh sambil tersenyum dan ekspresif---mungkin jadi pemain yang paling enak dilihat. Tubuh mereka lentur bergerak dengan kompak. Melihat anak-anak dan remaja main musik dengan semangat seperti itu rasanya meyakinkan aku bahwa ada kala mereka bisa menikmati hidup dengan gembira dan maksimal, belum bertemu kesukaran hidup.

Aku dan Ilalang datang kepagian di acara itu. Pagi amat cerah, matahari bersinar kuat, hangat, namun segera mudah bikin panas. Persis di lapangan depan Gedung Sate, ibu-ibu masih senam kesehatan, sambil diperingati oleh instruktur, "Konsentrasi, konsentrasi... jangan pedulikan sekitar ibu" karena di sekelilingnya suasana sudah gaduh oleh persiapan Spice Fest. Rombongan komunitas Hong latihan tari-tarian untuk mengiringi pemilik hajatan keliling lokasi. Sementara anak-anak Jendela Ide melakukan gladi resik malam sebelumnya, dalam sergapan angin malam yang dingin.

Kami baru ketemu dengan Riksa, Jilly dan ibunya. Rombongan Jendela Ide belum datang dari Sabuga. Aku duduk di kursi yang tersedia, menghadap panggung. Demi ingin menghadirkan kesan spice (bumbu, rempah-rempah), panitia sampai rela menaruh beberapa pohon pisang utuh, langsung dicabut dari tanah, lengkap dengan pisang dan jantung yang masih mentah. Aduh, sayang banget. Rasanya aneh melihat pisang berdiri di atas aspal, daunnya melambai-lambai diterpa angin yang sering bergerak kencang. Aku ketawa. Segitunya. Begitu juga jagung-jagung mentah, diambil utuh dengan batang dan daunnya, ditaruh di setiap stand jadi hiasan. Aku yakin jagung dan pisang itu belum bisa direbus agar bisa dimakan. Pisang itu mungkin masih bisa dikembalikan ke tanah, tapi jagung itu pasti dibuang sehabis acara.

Spice Fest rupanya hajatan paduan antara wisata kuliner, sayur-mayur, pertanian, kerajinan, tanaman obat, oleh-oleh Bandung, juga tekstil, perikanan, dan wisata situs bersejarah Bandung. Penyelenggaranya KUKMI (Kerukunan Usaha Kecil & Menengah Indonesia), yang kini ketuanya Tetty Kadi, mantan diva jaman baheula. Acara ini menarik, apalagi kalau mau belanja banyak. Segala ada. Termasuk musik---yang di acara ini dinamai "Spice Jazz."

Ini untuk kedua kali Ilalang manggung dengan anak-anak Jendela Ide. Yang pertama ialah di Modjembe Stomp the Ground, di Sabuga, 1-2 bulan lalu. Dia sudah beberapa bulan ikut main perkusi di sana, dan mungkin cukup menikmati suasananya. Dia bisa main jembe dengan nada yang menurutku enak didengar. Tampaknya dia semangat. Musik perkusi yang dimainkan Jendela Ide memang mudah mengingatkanku pada kelompok Stomp---yang dulu aku saksikan videonya. Tapi ada yang unik dari Jendela Ide, yaitu mereka memasukkan rampak kendang Sunda---yang tentu saja tak ada di sana.

Aku lama sekali nggak pernah menginjakkan kaki ke Gedung Sate lagi. Dulu, waktu zaman penataran P4, karena sma-ku di belakang Gedung Sate (SMA 20), kami mengawali penataran di Gedung Sate. Sampai masuk TVRI segala. :) Sekarang aku masuk ke sini untuk menemani anak main, bareng istri dan si bungsu Shanti. Awalnya aku kira pembukaan acara ini akan diresmikan oleh gubernur Jawa Barat baru Ahmad Heryawan dan wakilnya, Dede Yusuf. Ternyata dibuka oleh kepala Dinas Pariwisata Jabar, Lex Laksamana (?). Mungkin menarik lihat gubernur dan wakilnya yang baru. Kan baru menang pilkada. Tapi dengar-dengar dari obrolan orang sebelah, Dede Yusuf katanya lagi ke Kalimantan, ketemu dengan warga Jawa Barat di sana.

Aku nggak beli apa pun di acara ini. Rasanya aku masih kenyang sarapan sop Ubing. Dia kemarin bikin sop dan semur ayam dengan bumbu cabe yang sangat kental. Ilalang minta dibelikan senjata tradisional dari buluh bambu kecil, Shanti lari kian kemari dan mudah rewel. Tapi bisa anteng kalau main tanah. Jadi aku biarkan dia keliaran di lapangan dan taman Gedung Sate yang asri dan penuh bunga. Ialalang juga minta dibelikan tutut, keong sawah. Ini kali pertama dia makan tutut. Dia kerepotan mencerucup isi tutut dari cangkangnya, sampai bumbu dan kuah berceceran di kaos pentasnya. Akhirnya ditusuki pakai biting. Shanti mula-mula suka aku suapi tutut; tapi lama-lama dia menolak. Mungkin baru sadar agak jijik dengan daging tutut yang panjang kayak cacing. Ubing beli benang rajut dan jarumnya (dari kayu, yang ternyata segede telunjuk.) Dia pengen bikin sweater rajutan. Ini untuk kedua kali dia beli benang rajut. Yang pertama dia beli di Reading Lights. Dia beli dua bungkus stroberi, buah favorit Shanti. Mereka makan buah itu lahap, sementara aku menghabiskan tutut. Ubing juga beli jamur crispy yang enak dari sini, ditambah risoles jagung, yang menurutku rasanya mirip ragout. Kami makan tutut ditemani Imelda Astri Rosalin trio main jazz di panggung. Mereka bawakan Solar (Miles Davis) dan lagu jazz yang panjang-panjang. Aku ketawa. Aneh rasanya menyantap makanan yang amat tradisional, bahkan mungkin primitif, ditemani lagu dari peradaban yang amat jauh bernama Amerika.

Siang itu kami menghabiskan waktu di Spice Fest, Gedung Sate yang cerah dalam suasana gembira. Pulang-pulang kami kecapean, habis mampir dulu di sana-sini. Syukur untuk hari yang menyenangkan.[]2:25 06/07/08

Anwar Holid, aka Wartax
ngeblog @ http://halamanganjil.blogspot.com/
Foto oleh Wartax; Ilalang pakai topi tanduk. Dua gadis paling kiri ialah Aliya dan Jilly.