Friday, December 30, 2016

Kiat Menghancurkan Rintangan Menulis dari Si Pemalas

Sabtu, 24 Desember 2016; 9:37

Selamat pagi Pak Anwar.

Saya telah membaca buku
Keep Your Hand Moving yang sudah lama saya beli.

Saya suka menulis. Sebagai penulis pemula, semua yang bapak tulis di buku itu menjadi rintangan saya, seperti membiasakan menulis berkala, sesuai EYD, menyusun pointer sebelum mulai menulis, dan lain sebagainya.

Saat masih kuliah saya sering menulis, namun sekarang sudah jarang karena kalah oleh berbagai tugas dan kesibukan kampus yang menyita waktu. Setelah tamat kuliah, saya sangat senang bisa memanfaatkan waktu luang untuk menulis kembali (sembari berusaha menemukan tempat baru untuk melanjutkan kuliah atau bekerja).

Sejauh ini saya lebih banyak menulis puisi, karena selain bisa saya tulis dalam kondisi apa pun, juga lebih praktis untuk saya tuangkan. Namun, saya sangat ingin belajar bagaimana menulis berbagai jenis tulisan yang lebih panjang baik fiksi maupun non-fiksi.

Apa yang perlu saya lakukan agar bisa belajar lebih banyak soal tulis-menulis? Sekarang saya juga sedang mencari-cari posisi menjadi penulis amatiran di berbagai media, namun kebanyakan hanya membuka peluang bagi yang sudah berkompeten dalam menulis. Saya sangat senang jika bisa berkesempatan belajar langsung dari bapak.

Hormat saya,
Alma

Sumber: bbc.co.uk

Halo Alma, makasih sudah baca buku sederhana itu ya.

Kondisi yang kamu alami sekarang terjadi juga sama aku. Rasanya ada saja rintangan buat menulis. Lihat saja blog halamanganjil.blogspot.com yang akhir-akhir ini sangat-sangat jarang aku update--bahkan sampai berkali-kali diingetin teman-teman. Sekarang aku merasa jarang latihan menulis, terutama bikin draft atau langsung bergerak buat menuangkan pikiran. Jujur saja itu bikin aku sering malu kalo dimintai saran soal menulis, karena sebenarnya justru akulah yang harus pertama-tama dihajar dan dinasihati. Aku lebih suka bilang berbagi soal menulis dan menyunting, karena aku juga banyak belajar dari orang lain.

Menurutku, rintangan utama penulis ialah MALAS. Aku mengalaminya dan ini bisa menjangkiti siapapun. Kemalasan ini bentuknya macam-macam, mulai bener-bener berhenti nulis (gak produktif lagi) sampai malas mengeksplorasi dunia penulisan. Di satu sisi, produktif dan berusaha terus menghasilkan tulisan itu penting daripada akhirnya gak menulis sama sekali atau menunda-nunda terus untuk menyelesaikan tulisan. Menulis tidak jadi prioritas, dianggap tidak menghasilkan, enggak penting, bisa ditunda... lama-lama akhirnya benar-benar terpinggirkan dalam kebiasaan kehidupan kita.

Kemalasan menulis ini yang terus aku coba lawan di tengah-tengah rutinitas bekerja membantu menerbitkan buku.

Kemalasan juga yang membuat kita susah dan berat buat membiasakan diri menulis apa saja yang patut ditulis. Padahal ada begitu banyak hal yang bisa ditulis. Ide-ide terus berseliweran. Kepala selalu penuh dengan segala yang pengen diungkapkan atau dilampiaskan. Tapi karena malas akhirnya semua mampet tertahan. Sementara kalo kita lihat tulisan orang lain, ternyata ada banyak hal yang bisa ditulis dengan menarik, meski ide atau subjeknya bisa jadi biasa banget.

Padahal menulis itu harusnya MEMBUAT KITA SENANG. MEMBEBASKAN. Bikin kita lebih ekspresif dan lega. Mungkin inilah hal-hal yang hilang dari orang-orang seperti kita yang lagi kesulitan menulis. :) Kita kehilangan alasan terbesar dari kegiatan menulis seperti dulu. Dulu kita menulis karena ingin menulis saja, karena ada yang mau diutarakan, tanpa pamrih, jujur, simpel... Tapi kini kita menulis karena ingin eksis, bisa mempengaruhi, dianggap punya ide brilian, ingin populer. Padahal yang kita lakukan sering buat menyindir orang lain.

Yang juga menghalangi menulis ialah karena kita terbebani oleh berbagai aturan, misalnya soal EYD, tulisan harus bagus, kata-katanya harus baku, dan lain-lain. Itu semua membuat kita segan, berat, malas menulis. Menulis ternyata penuh aturan. Padahal kita boleh-boleh saja melanggar aturan, asal alasannya jelas dan kuat. Ya, menulis itu bebas dan sebagian darinya ialah adu kuat-kuatan dengan aturan yang terlalu mengikat dan merintangi. Aturan itu harus didobrak.

Membiasakan/latihan menulis mestinya membuat kita semangat mengeksplorasi segala hal terkait dunia menulis, seperti membuat ungkapan baru, cara menuturkan yang lebih seru, dll. Jujur saja, meski selalu semangat dengan ide-ide segar di dunia penulisan dan penerbitan, itu belum langsung berpengaruh pada produktivitasku menulis.

Coba deh kamu menulis bebas aja, jangan peduli dulu sama EYD, aturan bahasa, pengen hasilnya bagus, dianggap keren, dan ilusi lainnya. Jangan peduli dulu sama typo, jangan peduli sama logika, jangan terlalu perhatian sama kesalahan. Tulis saja. Tulis saja. Yang penting gagasan terungkapkan dan ekspresinya ke luar dengan bebas. Yang penting bebas dan senang menulis aja dulu. Entah itu berupa puisi, diari, komentar, cerita, atau apa aja. Yang penting kita senang dan semangat menulis.

Mungkin itu bisa bikin semangat baru dalam menulis. Teknik ini aku coba lakukan dikit-dikit. Kalo untuk pribadi (nulis di notes, blog, komentar, bikin status), aku berusaha bebas, gak peduli EYD. Itu saja menurutku masih kurang berani dan kreatif. Serius. Aku masih takut bilang dengan kata-kata kasar. Masih jaim dengan ungkapan. Sangat memilih dan mencari-cari cara biar kelihatan pantas. Padahal itu semua bisa menghalangi kita menulis. Sementara di luar sana aku menemukan ada banyak anak muda yang jauh lebih kreatif, produktif, terus berlatih dan melakukan. Itu selalu bikin aku salut. Betapa mereka sangat bebas, punya sudut pandang unik, dan cara menulis yang menarik. Mereka juga sering sangat-sangat berani mendobrak banyak hal, termasuk soal tabu--sesuatu yang kadang-kadang bikin aku ngeri. Sementara aku banyak takut, kurang bebas, banyak halangan.... padahal selama itu bikin semangat nulis, menurutku pantas dilakukan.

Mintalah kritik atas tulisanmu dari teman-teman terdekatmu. Kalo kamu punya teman dekat yang sama-sama suka menulis atau ikut grup menulis, itu lebih bagus. Mintalah kritik yang jujur, berani, pedas. Yang tega. Minta komentar apa yang salah dari tulisan kamu, apa kelemahannya. Apa cara ungkapnya basi, kurang berani dan tegas, cara bertuturnya klise, dan seterusnya.

Aku yakin kalo kamu produktif menulis dan tulisanmu menarik/menghentak, punya kebaruan atau sesuatu yang berharga, berlatih terus, insya Allah lama-lama kemampuan menulismu akan dikenal banyak pihak dan bisa kamu gunakan sebagai portfolio/bukti untuk mendapatkan posisi sebagai penulis atau penyunting.

Heheheh..... maaf ya... jadi sebenarnya aku gak punya saran jelas dan bagus apa yang harus kita lakukan biar bisa belajar lebih banyak soal tulis-menulis.

Terlepas dari apa pun, teruslah menulis. Soal apa pun yang perlu disampaikan.

Ayo terus menulis.
Menulis.
Menulis.
Menulis.
Menggerakkan tangan.
Mengungkapkan pikiran.

Keep your hand moving.[]
 

Friday, November 18, 2016


Frustrasi Melawan Frustasi
--Anwar Holid

Dulu saya baca Our Iceberg is Melting (John Kotter dan Holger Rathgeber) terbitan Elex Media Komputindo, 2007. Buku menarik ini berisi fabel modern tentang koloni penguin di Antartika dalam mengambil tindakan saat menghadapi krisis karena ancaman perubahan yang terjadi pada gunung es tempat mereka tinggal. Di buku itu saya menemukan kira-kira enam kali kata frustrasi. Sekali dieja tepat sebagai f-r-u-s-t-r-a-s-i, sisanya salah semua, yakni dieja sebagai f-r-u-s-t-a-s-i. Kebetulan sekali, entah kenapa buku terjemahan itu juga tidak mencantumkan editor, jadi tak ada pihak yang langsung harus bertanggung jawab atas keteledoran tersebut.
Contoh lain betapa kita kesulitan mengeja frustrasi ialah Ufuk Press menerbitkan novel berjudul Joey, Si Frustasi yang Beruntung (Mark Robert Bowden) dengan poin huruf mencolok. Ketika seorang editor mengulas buku itu pun, penulisan 'frustasi' ini pun luput dari perhatiannya. Berarti dia menganggap ejaan itu sudah benar. Di bidang musik, Ebiet G. Ade dan band Tipe-X sama-sama menciptakan lagu berjudul "Frustasi." Sementara di milis-milis berisi para penulis dan jurnalis pun anggotanya mudah menulis salah eja persis hal serupa. 

 
Tiap kali menemukan salah eja saat membaca, saya tertawa. Bersama seorang teman yang jeli dan juga mudah terganggu oleh salah eja, kami kerap mengolok-olok salah eja yang dilakukan penerbit, penulis, maupun lembaga pers. Kami menganggap salah eja mampu meruntuhkan kredibilitas, membuktikan bahwa mereka abai terhadap ejaan yang semestinya. "Bagaimana kami bisa percaya terhadap keseluruhan isi wacana itu, bila dalam hal mendasar saja mereka sudah salah?" demikian pikir kami.
Boleh jadi salah eja itu sederhana dan tidak begitu serius. Saya harus lebih santai terhadap kesalahan elementer dalam penulisan. Kadang-kadang kejengkelan atas kesalahan itu saya rasakan sebagai kerewelan atau sikap perfeksionisme berlebihan terhadap penulisan. Salah eja merupakan hal yang sangat umum, bahkan ada kala saya pun terpeleset melakukannya.
Nah, bayangkan bila lembaga penerbitan yang selama ini terkenal menetapkan standar tinggi dalam penerbitan dan berbahasa---misalnya Tempo, Kelompok Kompas-Gramedia (KKG), Mizan, dan Pikiran Rakyat, atau mereka yang terlatih agar berbahasa baik seperti editor, jurnalis, penerjemah, dan penulis---justru berkali-kali melakukan kesalahan. Apa kata dunia? Bukankah mereka memiliki gaya selingkung (house style), terus berusaha menambah wawasan dan mengembangkan bahasa Indonesia, termasuk rutin menyediakan kolom bahasa?
Karena menganggap keterlaluan sebuah penerbit besar melakukan kesalahan fatal, abai terhadap akurasi ejaan, saya terpikir barangkali kesalahan itu terjadi bukan gara-gara ketidaktahuan penerjemah, editor, atau proofreader, melainkan secara bawah sadar para pekerja buku itu menganggap yang benar memang frustasi, bukan frustrasi. Yang selip bukan lagi lidah atau tangan, melainkan pikiran.
Boleh jadi karena pengaruh budaya, aksen (logat), dan dialek, secara alamiah orang Indonesia kesulitan mengucapkan konsonan dobel, dan berkecenderungan menghilangkannya. Seperti orang Sunda terbalik-balik mengucapkan huruf 'p', 'v', dan 'f', orang Indonesia kesulitan mengeja frustrasi. Kata yang juga kerap salah pengejaannya antara lain ekspresi, transfer, transportasi, dan deja vu.
Ada apa dengan lidah dan ejaan kita? Ternyata sulit mendisiplinkan diri agar kita dengan tepat menulis dan mengucapkan frustrasi sesuai sumbernya. Apa ini tanda agar kita menerima "frustasi" sebagai ejaan yang benar (diterima) daripada kita terlalu mudah salah menuliskan maupun melafalkannya? Ini mirip dengan orang Malaysia yang dengan sadar memilih ejaan "moden" karena lidah mereka kesulitan mengucapkan "modern."
Usul menerima 'frustasi' sebagai ejaan yang baku berisiko akan menuai protes para editor, penulis, munsyi, dan penganut teguh EYD. Namun, perhatikan betapa lidah kita sudah terbukti lebih nyaman mengucapkan "potret" daripada ribet mengeja sesuai sumbernya, yaitu "portrait", yang terasa kurang praktis pengucapannya karena mengandung tiga dempet konsonan. "Potret" sudah diadopsi jadi kosakata resmi. Kita juga berhasil memapankan ucapan "buku" yang terdengar lebih luwes karena berakhiran vokal sebagai ganti "boek" atau "book." 
Tiada salahnya menggunakan ejaan yang terasa lebih mudah bagi lidah dan pengucapan kita sendiri. Sah-sah saja menyerap kebiasaan berbahasa yang lebih dulu tumbuh dan digunakan masyarakat, lantas memopulerkan dan membakukannya. Sejumlah kosakata asing diserap sesuai pengucapannya alih-alih penulisannya. Biar setelah ini kita berhenti merasa patut menertawakan salah eja yang sebenarnya bisa tidak fatal. Santai sajalah seperti orang di negara tetangga kita juga melakukannya.[]

Thursday, November 17, 2016


MENGAMPLAS TULISAN
--Anwar Holid

Beberapa waktu lalu aku mengisi workshop menyunting (editing) tulisan. Sebenarnya aku lebih suka berbagi dengan peserta. Aku yakin mereka pun pasti memiliki pengalaman, ilmu, dan keyakinan yang perlu aku serap. Jadi alih-alih berceramah, aku berusaha memancing agar peserta giat berpendapat.

Menyunting merupakan bagian penting dari penerbitan dan industri penerbitan (seperti buku, media massa, dan content provider) membutuhkan penyunting andal. Nyatanya masih banyak pertanyaan mengenai penyuntingan, bahkan bagi orang yang telah lama menggeluti penerbitan dan tulis-menulis sekalipun. Ada saja kasus menarik dalam penyuntingan, misalnya kekecewaan penulis atas kinerja penyunting, deadline yang harus dihadapi penyunting, bahkan risiko kerugian yang harus ditanggu penerbit.

Photo by Wartax, aka Anwar Holid


Berikut ini beberapa poin yang mencuat dari workshop itu.

* Apa itu menyunting tulisan?
Menyunting merupakan langkah ke-2 setelah menulis selesai tercurahkan. Saat menyunting kita memutuskan apa yang terbaik untuk sebuah tulisan.

Pada intinya menyunting tulisan ialah memeriksa dan menyiapkan tulisan hingga layak terbit atau enak dibaca. Yang paling harus diperhatikan dalam persiapan itu ialah isi dan bahasa (cara menyampaikannya). Dalam persiapan itu kita melakukan sejumlah hal, di antaranya ialah memeriksa subjek (gagasan) tulisan, kejelasan akurasi data (informasi), dan keluwesan cara menuturkan/menyampaikannya.

* Apa guna menyunting tulisan?
Fungsi paling penting dari menyunting ialah menghindari kesalahan ketika terbit. Jika kesalahan ditemukan setelah terbit dan dikritik pembaca, hal itu merepotkan penulis, editor, dan media bersangkutan. Kredibilitasnya jadi turun. Dalam kasus yang parah karena kesalahannya fatal, media/penulis harus membuat ralat (errata), bisa dituntut, penulis maupun editor dipecat, media kehilangan kepercayaan pembaca, pasar, dan pelanggan (pengiklan). Jika sudah begitu, penulis dan media bisa mati, karena ia tidak dipercaya lagi.

Menyunting memungkinkan penulis menangkap gagasan terbaiknya, menjaga agar tulisannya fokus, tahu persis agar pesan di dalamnya tersampaikan dengan baik, bagaimana cara penulis mengungkapkan gagasan dan menjelajahi subjeknya.

* Apa saja yang perlu diperhatikan kala menyunting tulisan?
- Kejujuran (integritas).
Penulis dilarang menyampaikan kebohongan (hoax), memelintir fakta, menyesatkan pembaca atas sesuatu. Meski wajar bila penulis punya sudut pandang (perspektif) lain terhadap suatu subjek dan hal itu membuat tulisannya berbeda atau bertentangan dengan tulisan/penulis lain, tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menyampaikan kebohongan. Perpektif lain mestinya memberi pengayaan terhadap suatu fakta, agar melahirkan pemahaman yang lebih utuh pada pembaca.

Selama integritas penulis terjaga dan berani bertanggung jawab, penulis boleh mengungkapkannya.

- Kejernihan menyampaikan gagasan.
Kejernihan menuturkan gagasan dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya ialah
keringkasan (tidak bertele-tele, langsung), kepaduan tulisan (koherensi) sehingga menghasilkan tulisan yang utuh, tidak jomplang, konsistensi, kejujuran, dan sebisa mungkin bersih dari kesalahan menulis (baik salah tulis atau tanda baca).

- Menyampaikan gagasan secara halus dan persuasif.
Kemampuan ini dipengaruhi oleh kepekaan terhadap bahasa dan kata. Penulis mesti awas pada efek bahasa, dan kemungkinan penerimaan pembaca terhadap cara ungkap yang disampaikannya. Tulisan mempengaruhi orang. Pilihan kata (diksi) punya efek dan makna tertentu. Tulisan bisa menyejukkan dan memanaskan pembaca. Tulisan akan sia-sia bila efeknya malah menggagalkan misi penulis yang sebenarnya.

* Apa peran penyunting (editor), khususnya bagi seorang penulis, dan umumnya bagi dunia literasi?
- Peran terpenting penyunting ialah menjaga tulisan agar fokus, jernih, tidak bikin pening ketika dibaca. 
Penyunting mesti menghindarkan segala hal yang bisa membuat tulisan jadi jelek. Ia berhati-hati atau menggunakan perspektif yang lebih luas agar sebuah tulisan jadi pembeda, punya daya tawar dan nilai lebih, segar, juga mengungkapkan informasi berharga yang luput tersampaikan di tulisan lain.

Dalam konteks lebih luas, menyunting membuat pembaca jadi lebih waras.[]

Anwar Holid kini bekerja sebagai editor di Penerbit Rosda, Bandung.

Thursday, June 16, 2016



Kehilangan Momen Berbuat Baik 
Anwar Holid

Suatu pagi pas jalan ke pasar inpres, aku ditawari seorang laki-laki berwajah bingung dan memelas untuk membeli sekantung keresek beras. Dia bilang istrinya mau melahirkan dan tak punya cara lain mencari uang buat biaya persalinan, makanya menawari siapa saja yang ada di pinggir jalan. Aku minta maaf menolak membeli berasnya, bilang di rumah masih ada persediaan, dan sedang tidak berencana beli beras. Aku memang mau beli sejumlah kebutuhan keluarga, tapi tidak termasuk beras. Laki-laki itu berusaha terus meyakinkan dan membujuk, tapi aku tetap menolak. Raut wajahnya tampak makin sedih. Aku lihat kilatan matanya makin berair mengalir ke sudut, menggumpal mau jatuh jadi tangis. sambil melengos putus asa, dia bilang, 'Maaf... ini memang salah saya...'

Aku langsung nelangsa dengar itu dan memegang pundaknya sambil berkata, 'Bukan... itu bukan salah akang. Saya hanya enggak niat beli beras. Mungkin nanti ada orang lain yang mau beli beras akang. Maaf ya...' Dia mengangguk dan kami berpisah.

Aku membatin, aku percaya bahwa dia jujur atas kondisinya. Dia tak punya cara lain berusaha, sehingga berharap keberuntungan di pinggir jalan. Sementara aku tidak spontan membantu orang lain dan merasa kurang lapang. Aku pernah dalam situasi sulit serupa, dan tahu persis betapa mencari bantuan memang bisa sangat sulit. Sekarang saja aku tengah butuh biaya untuk renovasi rumah, pengen beli kamera, mau beli road bike, kadang-kadang dituntut beli barang yang lebih mahal lagi, membiayai macam-macam keinginan... tapi masih terlalu malas lebih giat mendulang rezeki. Aku merasa bahwa keperluan itu masih bisa ditunda. Padahal aku tak punya aset selain menawarkan jasa, memaksimalkan kemampuan dan kesempatan. Kejadian itu membuatku membatin, kenapa ya Tuhan mempertemukan aku dengan pria itu?

Kenapa aku tak langsung menolongnya dan terlalu keukeuh dengan rencana yang sudah disusun? Apa kalau aku beli berasnya maka hidupku bisa berantakan atau malah diketawain sebagai orang yang gampang ditipu orang pinggir jalan? Jujur saja aku tidak kuatir oleh komentar orang lain. Cuma aku penasaran. Kenapa aku ditakdirkan menyaksikan detil kehidupan seseorang yang tengah kesulitan? Mungkin itu tanda sebenarnya aku bisa menolongnya sesuai kemampuan. Karena kemampuanku kecil, maka yang dihadapkan kepadaku juga detil kehidupan yang simpel. Kenapa orang seperti itu tak dipertemukan dengan pengusaha sukses, gubernur atau pemimpin partai? Kalo itu terjadi tentu persoalannya bisa langsung beres dan bisa dimaksimalkan untuk pencitraan.

Kenapa pria itu tak ketemu dengan para pemimpin negara-negara yang tengah berunding membicarakan masa depan dunia dan persoalan rumit seperti kemiskinan, krisis ekonomi dunia, ancaman terorisme? Apa hal itu terlalu sepele dibanding persoalan besar dunia, maka terjadi di sudut bumi di luar jangkauan radar kekuatan besar. tampaknya juga mustahil bahwa 'persoalan kecil' seperti kebutuhan pribadi terungkap di acara demikian. Mungkin gak sih dalam pertemuan 'penting' tingkat internasional seseorang minta tolong dirinya butuh biaya persalinan istri, ongkos sunatan, atau biaya nikah anaknya? Orang akan bilang itu irelevan dan di luar konteks. Atau gila. Jadi apa sebenarnya kejadian kecil itu sama bobotnya dengan peristiwa besar yang dianggap penting dan perlu dicatat sejarah?

Ah... mungkin aku terlalu repot mencari-cari alasan atas kemalasanku segera menolong, meski di luar rencana dan irelevan. Jujur saja aku suka menyesal tak bisa menolong karena merasa sempit, padahal kalau mau bersikap lapang mestinya masih bisa menyisihkan kemampuan atau rezeki walau sedikit. Sementara pada saat merasa mampu, kesempatan itu sudah lewat. Kita kehilangan momen berbuat baik, padahal kesempatan itu cuma sekelebat. Waktunya sempit sekali, dan mungkin tak terulang lagi. Seperti tendangan penalti, dalam hitungan detik ia harus segera dieksekusi.

JEDARRRRR!!!!![]


[HALAMAN GANJIL]

Wednesday, June 15, 2016



Ketika sang Raja Tak Bisa Pura-Pura
Oleh: Anwar Holid


Aku mendengar kabar kematian Freddie Mercury dari TVRI. Waktu itu hampir tengah malam. Aku sedang sendirian menatap televisi hitam putih. Semua orang sudah tidur. Ketika penyiar memberitakan kematian Freddie, aku langsung terpana. Aku dengar baik-baik sampai selesai. Setelah itu aku terdiam beberapa saat. Rasanya ada yang menghilang dari dalam diriku. Seakan-akan ada yang kosong... tapi setelah itu pikiranku langsung membeberkan album dan lagu Queen favoritku.

Queen adalah band favorit nomor satuku. Aku tumbuh ketika lagu I Want to Break Free atau Radio Ga Ga sering diputar atau diminta agar disetel di radio. Sumber utama informasi Queen berasal dari majalah Hai. Tambahannya dari seperti Vista atau entah dari mana saja. Freddie meninggal setelah Queen merilis Innuendo. Namun spekulasi bahwa Freddie menderita HIV-AIDS sudah terdengar sejak Queen merilis The Miracle. Di beberapa video clip era itu, Freddie terlihat sudah sangat kurus, tulang pipi menonjol, dan matanya cekung. Dia mencukur kumis tebalnya, namun mengganti dengan membiarkan cambang dan kumis tumbuh tipis. Penampilan seperti itu menguatkan dugaan banyak fans, meski dia belum mengakui kepada umum.

Dokumenter Days of Our Lives bahkan mengungkapkan bahwa Freddie merahasiakan dirinya terjangkiti HIV-AIDS dari May, Roger, dan Deacon, dan malah mengutarakan pertama kali pada Jim Beach, manajer Queen. Bisa jadi pilihan tersebut membuktikan betapa dalam hal tertentu Freddie memang seorang tertutup dan pemilih. Tentu saja ini kontradiktif dengan image Freddie di panggung yang kharismatik, memikat, meledak-ledak, dan sangat komunikatif. Di sinilah dirinya sebagai seorang great pretender jadi kentara. Dia seperti bermain peran sesuai tuntutan personanya. Dia suka mengganti-ganti 'topeng' sesuai kebutuhan untuk diperlihatkan dan dilampiaskan semaksimal mungkin, entah sebagai seorang rock star (musisi), teman, makhluk sosial, dan pecinta. Bisa dibilang dia mengeksplorasi berbagai peran itu hingga ujung, berani mendobrak tabu, bahkan melampaui batas, misalnya dalam hal seks.

Apa yang kira-kira ingin dilampiaskan atau disembunyikan seorang rock star jika pada dasarnya dia berkeliaran dari satu puncak ke puncak lain? Apa dia sebenarnya kebingungan dan akhirnya terjebak dalam kepura-puraan akut? Freddie sangat ekspresif, terbuka, banyak ide dalam bermusik dan seni, juga mudah berempati atas nasib manusia. Tapi sebaliknya, dia tampak sengaja menutupi kehidupan pribadinya, yang hanya dibagi pada orang tertentu yang dianggapnya mengerti dan sudah benar-benar dianggap dekat.


Beberapa detil kebiasaan memperlihatkan bahwa secara bawah sadar Freddie tetap tidak bisa berpura-pura atau menyembunyikan diri. Ini terlihat misalnya dari kebiasaan mengusap bibir atas kumis, tidak percaya diri karena gigi tonggosnya, kuatir dengan kulit dan latar belakangnya yang cukup berbeda dari kebanyakan orang di sekitarnya, juga kesukaannya pada wanita tegap berpayudara besar. Soal kecenderungan biseksualnya, bisa jadi itu tidak terlepas dari pengaruh lingkaran gaya hidup sangat bebas. Manajer hebat di awal karir Queen ialah seorang gay, teman-teman dekat Freddie banyak yang homoseksual dan biseksual, asisten pribadinya pun gay, sementara kehidupan asmaranya sering berakhir buruk. Semua itu membuatnya lebih parah. Gaya hidup Freddie memang sangat berisiko, sementara saran ketiga temannya agar meninggalkan dan berhati-hati tak digubris.

Momen paling menyedihkan sekaligus menggugah dalam dokumenter Freddie Mercury: The Great Pretender ialah ketika menyadari dirinya bakal tak tertolong lagi. Kondisi itu mengubah jalan hidupnya sekaligus memaksa orang-orang di dekatnya harus sangat hati-hati berinteraksi dengan dia, dan membuatnya ringkih. Namun justru saat itulah dia berusaha terus berdiri dan total memaksimalkan bakat demi melampiaskan kemampuan terbaiknya. Dari sini lahirlah Barcelona bersama Monserrat Caballe yang ambisius, diteruskan dengan kerja terakhir bersama Queen untuk menghasilkan Innuendo yang pantas dikenang. Freddie seperti memberikan 'perlawanan' terakhir dengan penuh gaya. Dia berusaha mengeluarkan kemampuan terbaiknya sebelum akhirnya kalah oleh HIV-AIDS dan meninggal secara tragis.

Enigma dan magnet terkuat Queen memang Freddie Mercury. Di atas panggung, aksinya sungguh menawan. Dia membuat ribuan penonton terkesima, terperangah, sekaligus mampu menggerakkan orang agar kompak melakukan aba-abanya, entah berdendang dan menyanyi bersama, tepuk tangan, dan lainnya. Namun di balik panggung, ketika hingar-bingar pertunjukan sudah usai, ketika proses kreatif di studio berakhir, dia seperti sengaja memisahkan diri dari sebuah unit bernama Queen. Saat itulah dia sendiri, ada di lingkaran lain yang membuatnya mungkin nyaman atau malah bisa melampiaskan hasratnya yang paling liar. Dalam kondisi seperti itu tentu hanya sedikit orang tahu kepribadian Freddie Mercury sesungguhnya seperti apa. Dan kita sebagai fans Queen barangkali hanya bisa memandang dia dari bangku penonton. Pertama untuk mendengar dan menikmati karyanya; kedua penasaran siapa sesungguhnya Mr. Bad Guy ini. Apa dia memang seorang rock star atau raja berpura-pura?[]

Freddie Mercury - The Great Pretender
Sutradara: Rhys Thomas | Produser: Rhys Thomas, Jim Beach | Editor: Christopher Bird | Rilis:16 Oktober 2012 | Genre: Dokumenter | Asal negara: Inggris | Bahasa: English | Durasi: 87 menit | Produksi: Eagle Rock; Mercury Songs Release



Anwar Holid, fans Queen tinggal di Bandung

Thursday, June 09, 2016


Harapan
Oleh: Agus Kurniawan

Sewaktu kecil saya menemukan komik strip di koran bekas, yang dipakai sebagai pembungkus belanjaan ibu saya dari Pasar Grabag, suatu kecamatan di pinggiran Kabupaten Magelang. Komik itu berbahasa Jawa, berkisah seperti ini.

Syahdan seorang pejabat kerajaan berpangkat rendah bermuram diri di jalan setapak suatu hutan di tepi kota. Berteriak, memaki, dan menyumpah. Bersamaan itu, berlalulah seorang pengelana tua, berjenggot putih tak terawat dan bersorban dekil. Sang pengelana yang tampak kurang meyakinkan penampilannya itu pun diliputi empati, lalu bertanya.
"Kisanak, apakah gerangan yang membuatmu berduka, marah, hingga mengutuki Tuhan?"
"Ah, kau orang tua tahu apa. Aku ini pejabat. Mau marah, teriak, mengumpat, suka-suka saya... Tuhan itu tidak adil. Aku pejabat yang baik, selalu patuh dan berbakti pada kerajaan, mengapa ditimpakan fitnah yang keji. Salahku apa, dosaku apa."
"Kisanak, sekalipun penderitaanmu berat, tetapi tidak semestinya engkau mengutuki Sang Pencipta. Jika kau tetap menyumpahi-Nya seperti itu, kau akan tertimpa adzab yang lebih besar."
"Hai tua bangka," suara pejabat itu menggelegar bak petir. Kemarahannya makin tak terkendali, apalagi setelah seorang pengelana tua yang tampak bukan siapa-siapa itu mengguruinya. Dicabutnya keris, lalu mengancam, "Kalau kau tak pergi dari sini sekarang juga, ujung kerisku yang akan membuat nyawamu pergi."

Pengelana tua itu pun beranjak, tetapi sambil berucap, "Allah Maha Kuasa, apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi."

Beberapa waktu kemudian, entah mengapa pejabat itu ditimba musibah beruntun, yang teramat pedih, yang jauh lebih berat dari sebelumnya. Persis seperti perkataan pengelana tua itu. Pejabat pun jatuh sakit, dan merasa selalu dihantui oleh perkataan dan wajah sang pengelana. Berbulan-bulan tak kunjung sembuh, sampai seorang kyai tabib menyelidiki asal-muasalnya.
"Kyai, ini semua terjadi karena saya mengancam seorang pengelana tua di hutan..."
"Pengelana? Bagaimana kejadiannya? Coba kau sebutkan ciri-cirinya."
Setelah sang pejabat menceritakan dengan terbata-bata kejadian tempo dulu, dan tentang ciri-ciri sang pengelana yang begitu dihapalnya, kyai itu pun menjerit, "Astaghfirullah. Kau, malang sekali. Itu Sunan Bonang. Kau kena kutukan Sunan Bonang!"

Apakah komik itu ingin bercerita tentang kesaktian Sunan Bonang, salah seorang Wali Songo, ulama maksum yang berperan besar dalam menyebarkan Islam di Tanah Jawa? Folklorenya sih begitu. Tapi, bagi saya, moral ceritanya bukan itu. Komik ini mengisyaratkan tentang satu kata yang termasuk paling penting dalam kehidupan manusia, yakni harapan. Komik itu sama sekali tak bercerita tentang kutukan ulama masyhur itu. Tetapi berkisah tentang kondisi mental seseorang yang berprasangka buruk terhadap kemungkinan. Dampaknya memang dahsyat.

Ketika seseorang secara intensif menganggap dirinya tak mampu melakukan sesuatu, maka 'mental state'-nya akan menjadi seperti itu. Lalu secara tidak nampak, individu itu akan menyesuaikan perilaku dan tindakannya sesuai dengan kondisi mentalnya. Semacam alam bawah sadar. Refleks, otomatis. Bukan sunan yang mengutuk pejabat itu, tetapi dia sendiri yang mengondisikan dirinya ke arah kehancuran.

Masih tentang harapan, saya pernah menonton film epik, Jakob The Liar, dibintangi aktor maestro, Robbin Wiliams. Kisah ini tentang seorang Yahudi tahanan Jerman bernama Jakob, pada masa Perang Dunia II. Dia melata di kamp kosentrasi yang papa, dan terus-menerus berbohong hingga dihukum mati karena kebohongannya. Dia membual memiliki radio--barang terlarang, yang setiap hari mengudarakan pergerakan tentara Sekutu mengganyang Jerman. Tentu dia tak punya radio, tetapi terus saja berbohong. Mengapa? Bualannya ternyata melimpahkan semangat hidup yang tiada banding kepada seluruh penghuni kamp. Pernah sekali dia jujur, lalu fatal akibatnya. Teman baiknya di kamp mati gantung diri, merasa tak punya lagi harapan hidup. Jakob berbohong untuk memasok harapan.


Adakah sesuatu yang lebih penting dan langka ketimbang harapan, pada saat penderitaan dan kematian akrab berkarib? Dan harapan itu nyatanya memang menyelamatkan teman-temannya dari penderitaan, dari kematian yang tak perlu.

Harapan telah bertakhta agung dalam setiap kisah zaman. Bangsa Yunani, misalnya, memiliki legenda tentang ini. Kita mengenalnya sebagai hikayat Pandora. Konon, Pandora adalah perempuan pertama di dunia, yang dilimpahi beragam anugerah oleh para dewa: kecantikan, kepandaian, kelembutan, hasrat, dan juga nyanyian merdu. Tetapi dia sesungguhnya diciptakan sebagai petaka bagi sang terhukum, Promotheus, yang lancang mencuri api dari haribaan Zeus, tetua para dewa. Oleh mereka, Pandora yang molek itu dititahkan untuk menggoda lalu menikahi kakak Promotheus yang memang dianggap pendek akal, yakni Epimetheus. Promotheus sudah memperingatkan kakaknya agar menolak hadiah dari Zeus--"pandora" juga berarti hadiah. Tapi sang kakak tak menghiraukannya. Mana bisa menolak hadiah perempuan jelita yang tak ada duanya di Bumi.

Padahal sesungguhnya Pandora telah dibekali sebuah "bom" oleh para dewa, yang akan diledakkannya di depan Epimetheus. Dan benar saja, begitu sampai di depan calon suaminya, Pandora pun membuka "bom" itu, sebuah kotak berisi segala bentuk kejahatan dan keburukan, tetapi juga harapan. Alhasil, bumi yang semula tanah surgawi, replika citra kahyangan, yang bisa dinikmati tanpa perlu bersusah-susah, mendadak menjadi tempat yang buruk, dekil, dan menyesatkan. Pandora hanya menyisakan satu saja di dalam kotak itu, yang kemudian disimpannya rapat-rapat sebagai pusaka, yakni harapan. Hanya harapan yang tersisa di dalam kotak, sebuah modal awal dari perjuangan menaklukkan dunia yang buruk dan menyesatkan itu.

Suatu sore Faiza, si bungsu anak saya yang lagi gemar-gemarnya melahap ensiklopedia, bercerita dengan gayanya yang agak show-off. 
"Ayah, kenapa bangsa Indonesia itu jadi bangsa yang menyedihkan, ya?"
"Maksudnya?"
"Kan Allah sudah memberikan berbagai kekayaan kepada kita. Misalnya cadangan emas, sekian juta kilo (dia menyebut angka yang diambil dari bacaannya). Terus laut yang luas, yang produksi ikannya sekian juta ton (dia menyebut angka). Mengapa bangsa kita tetap miskin dan terbelakang?"

Sudah tentu saya harus menjawab pertanyaan itu setidaknya sama atau lebih baik dari Jakob. Saya mustahil mengiyakan pesimisme si kecil yang bisa jadi akan mematri menahun. Lalu saya pun bercerita tentang tanah-tanah subur yang merangkai kepulauan nusantara ini. Kelak tanah ini akan menghasilkan energi terbarukan yang tak dimiliki oleh banyak bangsa lain, sekalipun itu bangsa-bangsa besar. Jagung atau singkong kita kelak akan memasok bahan bakar biologis ke seluruh dunia, menggantikan BBM jika sudah terkuras habis. Makanan kita akan memenuhi pasar-pasar negara manca karena kita memiliki tanah yang subur. Listrik kita juga akan melimpah, karena kita memiliki sinar matahari dan angin meruah, untuk menggantikan listrik konvensional.
"Jadi, nanti negara kita akan jadi negara maju, Ayah?"
"Tentu. Tentu saja, anakku."

Sambil menyembunyikan mata saya yang berkaca-kaca, saya teringat sebuah hadist qudsi, yang bunyinya, "Aku (Allah) sesuai persangkaan hamba-Ku."[]

Agus Kurniawan, seorang karyawan. Bekerja di Jakarta, tinggal di Banjaran, Kab. Bandung.

Thursday, May 26, 2016



Kisah Diusir dari Grup WA
Anwar Holid

Baru saja aku diusir dari grup WA SMA satu angkatan. Rupanya ada admin tersinggung oleh komentar-komentarku. Seorang dari mereka bilang begini soal aku, 'Perasaan sebelum dia masuk ini grup enak-enak saja deh... seruuuu.'

Oh, maaf kalo begitu. Jadi aku bikin grup gak seru, gak asyik, gak enak, sampai perlu ditendang. Aku tertawa membayangkan kawan seangkatanku sendiri segitu tersinggung oleh komentar atau pernyataanku. Mungkin aku memang sengak. Aku merasa dia sensitif, gampang ngambek, bahkan mungkin intoleran pada pendapat tegas atau cenderung pedas. Padahal aku sendiri merasa apolitis dan pasifis.

Entah kenapa aku langsung ingat Saut Situmorang, seorang penyair yang dituntut ke pengadilan atas dakwaan pencemaran nama baik. Rupanya si penuntut tersinggung atas kelancangan Saut mengata-ngatai dirinya di media sosial. Aku  merasa Saut pemberani, bahkan mungkin urat takutnya sudah putus. Dia yakin atas ucapan dan kelakuannya. Saking salut, aku suka menitipkan keberanian kepadanya. Tapi tentu saja kasusku bukan apa-apa dibanding yang dialaminya.

Aku cuma sedih dan kasihan pada orang yang takut berpendapat, takut  mengutarakan sesuatu dengan baik dan jelas. Kasihan sekali kalau kamu berumur lebih dari 40 tahun tapi masih takut bilang ini-itu, gentar menyatakan sesuatu hanya karena punya pikiran lain. Aku menyangka admin yang mengusirku itu tak bisa dibantah, harus diturut, gampang terusik, merasa otoritasnya terganggu. Mungkin ia bos yang berkuasa penuh mengatur ini-itu, disegani, bangga bila kehadirannya menebar teror, membuat orang lain takut dan segan. Jadi dia tak sungkan menendangku.

Aku cuma senyum-senyum waktu kawan sekelasku kaget mendapati diriku  sudah diusir. Aku tidak menyesal, tapi langsung membuatku malas minta balik. Toh aku juga tidak merengek ingin masuk. Aku cuma merasa sayang gagal jadi orang menyenangkan dan menutup peluang mendapat tambahan follower di media sosial... ha ha ha. Tapi untungnya dengan begitu aku bisa menghemat paket data, bebas dari clear chat atas komentar membosankan, terhindar dari orang kolokan, dan bisa lebih hemat batre hape.[]

Wednesday, January 06, 2016

suatu hari dengar cerita pak sopir angkot
--anwar holid

kemarin waktu aku ngobrol dengan sopir angkot, dia cerita putranya yang sudah menikah jadi penjual kebab pinggir jalan. gajinya 800 ribu rupiah per bulan. terkadang kalau beruntung dia dikasih tambahan oleh bosnya sekitar 200 ribu.

'800 ribu cukup buat apa?' tanya pak sopir retorik. dia bilang sambil merokok. garis-garis di wajahnya tergurat dengan jelas dan tajam. topi kumal yang dia kenakan menambah kesan betapa dirinya sudah puluhan tahu disepuh alam.

aku terdiam dengar ucapannya. antara kaget dan prihatin atau gak bisa berbuat apa-apa. termangu.

'oh, penjual kebab itu digaji ya pak?' tanyaku tanpa bermaksud mengalihkan topik. 'saya kira dapat dari jualannya...'

'enggak. kan semua sudah dipasok sama bosnya. anak saya tinggal ambil dan jual.'

jadi sekarang aku baru tahu bahwa penjual kebab dan semacamnya juga orang gajian. pikiranku langsung terpelanting ke zaman pra-reformasi ketika aku pernah digaji di atas sejuta lebih sedikit. dengan gaji segitu saja rasanya aku masih prihatin. dan sekarang di rezim jokowi aku mendengar ada seseorang digaji di bawah sejuta. tapi untunglah aku sedang males nyinyir soal politik atau keadilan sosial yang jelas-jelas di luar kontrolku.

bagaimana satu keluarga menyiasati hidup sehari-hari dengan uang 800 ribu dalam sebulan? terlalu gelap buatku untuk membayangkannya.

'dengan gaji segitu, incu saya sering minta dibeliin buat paket data juga... jadi weh pengeluaran teh tambah besar,' lanjut pak sopir.

jujur saja aku ingin membensini ucapannya biar langsung melalap emosi yang sedang meluap-luap. tapi coba aku tahan. aku juga sudah lama niat berhenti beli paket data, tapi enggak bisa. malah sekarang harganya tambah mahal tapi terpaksa aku beli demi kepuasan bersenang-senang. aku sudah menyarankan agar berhenti beli air dalam galon (kembali minum air jerang), berhenti beli tisu, juga jangan beli dvd bajakan... tapi itu semua gagal. aku pikir kalau bisa menghemat pengeluaran untuk beberapa kebutuhan mewah itu maka aku bisa sedikit merasa lebih lega atau bahkan bisa menabung untuk beli kamera leica.



rasanya aku harus lebih prihatin. tapi mendengar obrolan pak sopir hatiku jadi lebih perih dan bergetar lagi. aku cuma bisa coba berempati.

banyak orang bekerja keras tiap hari sampai badannya mengeluarkan bau memuakkan, berjalan belasan kilo untuk mendapatkan nafkah, menunggu sampai tengah malam, memulai sejak dini hari... tapi hasilnya masih saja di bawah pengharapan dan mustahil protes lagi. sebab kalau protes keadaan bisa jadi lebih buruk lagi.

cerita pak sopir membuat pikiranku perlahan-lahan kabur. aku memandang ke luar. hari itu bandung sedang ditaburi air begitu banyak dari atas. udara yang rapat seperti mengeluarkan kabut. semua itu membuatku suasana hatiku jadi nelangsa... sampai entah kenapa mendadak aku teringat sebuah lirik lagu balada queen yang artinya: apa seperti ini dunia yang kita ciptakan?[]

[halaman ganjil]