Wednesday, February 02, 2011

[RESENSI]
Menanam Benih-Benih Kebahagiaan 
---Anwar Holid

You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan Kebahagiaan
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Elex Media Komputindo, 2010
Halaman: 252 hal., soft cover
ISBN: 978-979-27-7918-9      
Harga: Rp.52.800,-

SPIRITUALITAS kerap menjadi subjek yang pelik, sulit dijelajahi, dan cenderung abstrak. Sebagian orang dengan mudah menyangka bahwa spiritualitas identik dengan religiositas (keberagamaan), sebab dua hal itu memang kerap bersinggungan, meskipun berbeda secara esensial, sampai muncul istilah "spiritual tapi bukan religius." Agama formal manapun pasti ditolak oleh penganut ateis, tapi belum tentu spiritualitas. Sudah kerap terbukti betapa sejumlah penganut ateis bisa membahas spiritualitas di luar prakiraan banyak orang, misalnya Andre Comte-Sponville. Dalam buku The Little Book of Philosophy (2005), Comte-Sponville secara sengit menyatakan: "Kita tidak tahu apa Tuhan itu ada. Itu sebabnya kita harus bertanya apa kita akan percaya atau tidak."

Arvan Pradiansyah membantah pendapat itu dengan tandas. Di dalam buku terbarunya, You Are Not Alone yang terbit di pengujung 2010, dia berpendapat: kaum ateis gagal menemukan Tuhan seperti halnya para pencuri gagal menemukan polisi. Persoalannya ada di dalam mental. Arvan menegaskan: "Tuhan hanya dapat didekati dalam tataran spiritual." Itu sebabnya dia yakin hanya orang yang cerdas secara spiritual yang memiliki kesadaran bahwa Tuhan senantiasa melihat, memperhatikan, mencintai, memelihara, dan menjaga makhluk-Nya (hal. 11). Keyakinan ini senapas dengan pendapat Ludwig Wittgenstein---salah satu filosof paling berpengaruh di abad ke-20---yang yakin betapa "kita beriman kepada Tuhan untuk menyadari bahwa hidup punya makna." Persis seperti itulah semangat yang muncul dari buku ini.

Arvan membangun basis teoretik mengenai Tuhan dan spiritualitas di buku sebelumnya, The 7 Laws of Happiness (2008), khususnya di puncak hukum kebahagiaan, yaitu Relasi Spiritual berupa berserah diri kepada Tuhan. Dia menyatakan: kita akan bahagia bila punya koneksi yang tak terbatas dengan Tuhan (hal. 137). Di buku terbaru ini dia langsung memberi ilustrasi betapa spiritualitas bisa terwujud dalam berbagai hal, dan secara khusus berusaha mengaitkan bahwa spiritualitas korelatif dengan kebahagiaan. Bila manusia penuh kesadaran akan Tuhan seperti itu, dirinya akan memperoleh kebahagiaan ultima dalam perjalanan kehidupannya.

Spiritualitas menjadi prasyarat untuk merasakan kehadiran Tuhan maupun demi meraih kebahagiaan. Kebahagiaan kerap dianggap sebagai sesuatu yang kualitatif, meski faktor-faktornya bisa diukur secara fisikal. Misal soal kepemilikan. Survey Gallup terbaru (Juli 2010) menyatakan mayoritas orang kaya lebih bahagia daripada orang miskin, lepas dari mana kekayaan itu didapat. Peneliti menyatakan: Studi kami pada orang-orang terkaya memperlihatkan bahwa di sana hanya ada sedikit saja orang yang sangat tidak bahagia. Beruntung, studi itu masih menguatkan anggapan umum bahwa pada dasarnya kebahagiaan tidak bergantung pada materi.

Arvan Pradiansyah menyatakan bahwa kebahagiaan tidak dijual. Ia masih berupa benih yang harus ditanam. Benih-benih itu mengandung beragam unsur penghasil kebahagiaan, yaitu kesabaran, keikhlasan, rasa syukur, kasih sayang, kejujuran, rela memaafkan, dan berserah diri. Hanya orang yang mampu memelihara dan menumbuhkan benih dengan baik yang akhirnya memanen kebahagiaan dengan kualitas terbaik.

ARVAN mengaku bahwa gagasan menulis You Are Not Alone dipicu niat memprovokasi pikiran orang agar berubah. Dia prihatin dengan fakta bahwa di Indonesia yang dari permukaan tampak religius ini masyarakatnya justru kerap kehilangan kendali, mudah terbakar amarahnya, dan lebih buruk lagi merupakan sarang koruptor. Provokasi itu melahirkan definisi ulang yang berani mengenai agama dan spiritualitas. Arvan menyatakan percaya pada Tuhan tidak sama dengan beriman, sebab buktinya ada banyak orang mengaku percaya pada Tuhan tapi perilakunya justru kontradiktif dengan keimanan, misal berbuat jahat. Orang-orang yang melakukan kejahatan itu justru pantas disebut kafir---sebuah pendapat yang sekarang didukung oleh organisasi-organisasi besar agama di Indonesia.

You Are Not Alone berisi tiga puluh keping renungan dibumbui komentar dan pemahaman mendalam mengenai Tuhan dan kebahagiaan. Arvan mengawali setiap bab bukunya melalui kisah dengan subjek-subjek cukup kontroversial, misal betapa religius saja belum cukup, pilih mana: orang beragama atau orang baik?, agama merupakan keharusan atau kebutuhan?, buat apa kita mengharapkan surga, juga pertanyaan esensial yang membungkus seluruh isi buku ini: apa beda mendasar antara agama dan spiritualitas? Apa yang ditawarkan spiritualitas untuk manusia dan kehidupan di zaman kini?

Namun berbeda dengan tipikal buku agama formal, Tuhan yang dibicarakan dalam buku itu tidak mengacu pada agama tertentu, melainkan Tuhan sebagaimana dipahami orang secara universal---yaitu Tuhan semesta alam. Maka bertebaranlah khazanah spiritualitas dari beragam sumber, mulai kisah dari agama-agama di dunia, perlambang, kajian mengenai spiritualitas kontemporer, kritik terhadap praktik beragama yang intoleran, termasuk pendapat berani terhadap kecerdasan spiritual.

Buku ini memperlihatkan besarnya perhatian Arvan Pradiansyah sebagai ahli SDM yang lebih mengutamakan moral dan etika daripada agresivitas individu maupun organisasi. Dia melecut pembaca untuk menemukan esensi spiritualitas dan kebahagiaan melalui kesadaran yang terus-menerus dilatih. Kesadaran akan adanya Tuhan, nilai spiritualitas, juga keinginan mencapai kehidupan yang lebih bermakna merupakan bukti bahwa manusia itu memang memiliki kecenderungan mulia.[]

Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010).
KONTAK: wartax@yahoo.com | http://halamanganjil.blogspot.com

Resensi ini awalnya terbit di Media Indonesia pada Sabtu, 22 Januari 2011.

Copyright © 2010 Anwar Holid

1 comment:

muebles soria said...

I read really much effective material here!