Saturday, December 22, 2012

Tiga Film Bila Hidupmu Dalam Tekanan 
---Anwar Holid

Mengejutkan banget betapa film yang bisa membuat aku menangis berkali-kali sampai nyeri ke hati bukanlah Life of Pi yang aku tonton bareng Ilalang (12 th) di bioskop keren sambil pakai kacamata 3D dan cemilan gurih, tapi dua film yang aku kopi dari warnet waktu mengirim kerjaan. Film pertama ialah That’s What I Am, ke dua yaitu It's Kind of a Funny Story. Dua film ini aku dapatkan kurang dari satu jam dengan biaya Rp.2.500,- Sementara waktu nonton Life of Pi aku mengeluarkan hampir Rp.100.000,- untuk semua ongkos termasuk menyumbang PMI dan bayar angkot.

Yah, aku harus jujur bilang bahwa Life of Pi juga film yang bagus, keren, dramatik, termasuk sedikit bisa bikin senyum. Tapi ia tidak membuatku menangis atau terharu lebih dalam, meskipun efek-efek visualisasinya menakjubkan. Tiga scene yang paling mengesankan buatku ialah waktu Pi ada di tengah lautan membayangkan bahwa dirinya bersama seluruh alam semesta ini ditelan Krisna, waktu dia di tengah malam ditemani kelap-kelip ubur-ubur dan dilewati ikan-ikan yang pindah, juga perpisahannya yang berakhir antiklimaks dengan Richard Parker padahal tentu saja dia berharap kejadian ini akan berlangsung mengharukan setelah melewati badai hidup bareng sedahsyat dan selama itu. Satu hal, Life of Pi menurutku 'terlalu berusaha' untuk dramatik, sampai aku merasa apa harus segitunya membuat orang agar terpesona oleh efek dan kejutan-kejutan yang tampak artifisial?

Hal itu tidak terjadi pada That’s What I Am dan It's Kind of a Funny Story. Aku mengira, si pendownload awalnya terpesona oleh (500) Days of Summer karena dua film ini juga merupakan drama coming-of-age. Cuma sedikit bedanya ialah kadar komedi di dua film ini lebih kurang dibandingkan film terakhir.




That’s What I Am berkali-kali membuat dadaku nyeri sampai akhirnya memerihkan mata dan membuatku menangis berkali-kali. Dari dulu aku cukup yakin bahwa film yang begitu saja bisa membuatku menangis pasti film hebat. Waktu nangis aku teringat perpisahan dengan guru-guru praktik SD yang entah kenapa bikin aku mewek di akhir acara dan sepanjang jalan pulang. Begitu juga waktu aku berpisah dengan guru praktik di SMP, barangkali menyadari bahwa aku bakal sulit lagi ketemu orang yang aku hormati dan seakan-akan bisa mengerti aku. Perasaan bahwa kita terlibat begitu emosional dengan seseorang, apalagi dia berpengaruh dalam hidup kita.

That’s What I Am terjadi di SMP di California, Amerika Serikat, berlatar pertengahan tahun 1960-an, sebagian warganya percaya takhayul dan prasangka, masih dihantui ancaman komunisme, padahal negara bagian ini baru mencatat sejarah memiliki kepala sekolah perempuan pertama. SMP ini punya guru teladan dan favorit murid, Mr. Simon. Dia mengajar sastra. Mr. Simon memasangkan Andy Nichol dengan Big G untuk mengerjakan tugas menulis akhir semester. Big G adalah salah satu siswa yang dianggap paling aneh, kerap jadi bahan celaan, bahkan serangan fisik, meski badannya paling bongsor.

Masalah jadi tambah rumit ketika Andy mulai tertarik pada Mary Clear, gadis paling cantik sesekolah, yang sayangnya pernah pacaran dengan Ricky Brown, jagoan di sekolah itu. Saat itu muncul isu bahwa Mr. Simon seorang homoseksual, membuat sebagian orangtua siap-siap mengusirnya karena menganggap homoseksual enggak pantas jadi guru, bisa menularkan bahaya, membawa pengaruh buruk. Andy tertekan dan kalut dengan situasi yang dihadapinya. Pertemanannya dengan Big G memunculkan banyak masalah bagi Andy, ketertarikannya pada Mary Clear membuat dia diancam Ricky Brown, kedekatan dan hormatnya pada Mr. Simon membuatnya bertanya homoseksual itu apa.

Masa itu adalah masa ketika masyarakat belum bisa menerima seseorang membuat pengakuan bahwa dirinya seorang homoseksual, lain sama sekali di zaman sekarang ketika orang dengan berani, mudah mengakui orientasi seksualnya, atau dengan percaya diri bilang, 'Aku gay dan aku bangga mengakuinya.' Masyarakat juga belum tahu pasti, tapi mereka berani berprasangka, menghakimi, dan lebih dari itu: siap bertindak atas nama massa. Di masa-masa galau itu Andy dan Big G berhasil menuntaskan tugas karangan berjudul "Toleransi." Berkat Mr. Simon  dan Big G-lah akhirnya Andy menemukan diri dan berani menyatakan siapa dirinya sesungguhnya.


Secara keseluruhan It's Kind of a Funny Story lebih lucu dan segar dibanding That’s What I Am yang bawaannya menekan dan kurang humor, meski mayoritas ceritanya di rumah sakit jiwa. Film ini menceritakan Craig, anak SMU yang stres, depresi, dan hidupnya merasa kacau menghadapi berbagai 'beban' sehari-hari mulai dari tugas sekolah, orang di rumah, ancaman masa depan, seksualitas, ketertarikan pada wanita, bingung terhadap banyak hal yang tidak dimengerti, dan kalut oleh pilihan hidup. Stres ini bisa membuatnya muntah tanpa sebab secara berlebihan, menyebabkannya ingin bunuh diri.

Beruntung dia memenuhi panggilan hot line layanan publik, yang mengantarnya masuk rumah sakit jiwa. Anak SMU masuk rumah sakit jiwa? Padahal dia punya orangtua yang manis, bertanggung jawab, keluarga harmonis. Craig seperti mengidap sindrom sakit "orang biasa." Gejalanya ialah dia merasa dirinya biasa saja, kuatir bila dirinya nanti tersingkir sebagai orang biasa. Orang biasa adalah orang yang menghabiskan hidupnya seperti kebanyakan orang. Dia punya karir, kehidupan sosialnya bagus, hidup normal, tapi dia tidak menonjol dibandingkan orang lain. Craig bingung kenapa dirinya bisa masuk sekolah favorit, padahal siswa-siswa lain punya keistimewaan terhadap bidang tertentu. Dia panik enggak bisa baca peta pada umur 5 tahun, sementara mendapati fakta bahwa pada umur segitu Mozart sudah bisa menciptakan komposisi. Dia kesulitan mengungkapkan minat dan bakat seni pada kedua orangtuanya. Persoalan terbesarnya barangkali karena dia tidak bisa menyatakan dirinya seperti apa dan dunia terdekatnya malah memgaburkan pada pencarian terhada makna.

Dari satu sisi mungkin kita bisa mengecam bahwa Craig tidak pantas sakit jiwa atau dia terlalu manja. Tapi ayolah, siapa yang pantas bilang bahwa satu masalah itu ringan atau terlalu serius bagi seseorang. Orang bisa gila karena cinta, sebagaimana orang bisa stres karena kerja, gagal memahami Tuhan, terlalu ekstrem berpendirian, penghasilan minim, enggak punya jodoh, perannya dilecehkan, menganggur, gagal memahami hidup, disalahpahami orang-orang terdekat, mengalami disfungsi seksual, karir berantakan, ditipu klien, takut mengutarakan kejujuran, merasa sengsara, kesulitan mengekspresikan perasaan, tidak bahagia, tidak bisa membelanjakan uang, atau dihantui agama maupun ideologi, bingung dengan orientasi seks, atau ingin bunuh diri karena enggak dapat perhatian dari orangtua. Masalah orang beda-beda dan tidak setiap orang punya daya tahan maupun keyakinan bahwa dirinya bisa menanggung masalah dan beban dirinya. Poinnya adalah: Jangan menyepelekan masalah orang lain, siapa tahu itu adalah masalah terberat dia dan dia bingung menyelesaikannya.

Di rumah sakit jiwa inilah Craig mendapat terapi hingga stresnya berangsur-angsur berkurang. Dia belajar bahwa sebagian orang punya beban atau kasus jauh lebih berat dan berbahaya. Lebih membahagiakan lagi dia bisa menyalurkan tekanan batinnya lewat seni dan kehadirannya secara signifikan mempengaruhi sesama pasien. Begitu ke luar dari rumah sakit jiwa dia tahu apa yang akan dilakukan dalam hidupnya.

Adegan paling menyenangkan buatku dalam film ini ialah waktu Craig secara lip-synch menyanyikan "Under Pressure" dari Queen dan David Bowie. Pas banget dengan situasi filmnya, meski aku tahu opini ini dipengaruhi bahwa aku seorang #1 fan Queen.

Ke tiga film ini secara halus memperlihatkan sebenarnya masalah dalam hidup seseorang membuat dirinya tumbuh dan dewasa lebih matang. Yang dibutuhkan manusia bisa jadi cuma rasa syukur bahwa dirinya bisa mengambil sesuatu dari masalah, baik lega hidup itu punya makna atau kedekatan dengan Tuhan. Begitu orang lolos dari bencana masalah, jiwanya mengerti. Masalahnya, sebagian orang dilecehkan, tidak punya kesempatan, aksesnya ditutup, tidak punya kepercayaan diri bahwa dirinya pantas menyelesaikan masalah dan bingung mencari solusi dalam menjalani hidup. Masalah seseorang barangkali sangat serius, menguatirkan, membuatnya nyaris putus asa, tapi sedikit keyakinan dan keberanian bisa menyelamatkan hidup.[]

Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis.

Link terkait:
Life of Pi  
That’s What I Am
It's Kind of a Funny Story

4 comments:

wawan said...

terima kasih resensinya mas. dua film dramanya kedengarannya menarik. life of pi belum nonton, baru baca bukunya minggu lalu setelah geger mas arie saptajie dan sidik nugroho membicarakan filmnya. padahal, sampean sudah kasih bukunya sejak seperempat abad yg lalu :D. bukunya menarik sekali.
karena mas wartax menyinggung 500 days of summer, saya juga pingin curcol soal film itu. saya suka banget film itu (yg saya ketahui dari search film2 cinta paling keren tahun 2012 :D) karena ya... sok independen dan gaya cerita dan dialog dan narasi yg unik, dan saya curiga banyak mengacu ke film before sunrise/sunset (atau mungkin karena saya sendiri yg gemar sepasang film itu :D). oke deh, saya akan cari that's what i am nanti.

HALAMAN GANJIL dan TEXTOUR said...

thx juga komentarnya, mas wawan. aku juga pernah nonton before sunrise/sunset, tapi tidak segitu terkesannya. :D btw, kemarin aku minjem dvd judul ruby sparks. menarik juga. kalau bisa nanti aku coba review. salam.

wawan said...

iya, saya nonton ruby, buk sparks sekitar 4 minggu yg lalu, tahunya juga dari search fim-film menarik tahun 2012. saya tergelitik sama permainan antara realisme dan ganjilisme-nya. menurut saya film ini berhasil menjadi film 'cool' tanpa terjebak fenomena 'non-chronological plot' (yg menurut saya sudah menjadi konvensi, bukan lagi pemberontakan seperti jaman ketika pulp fiction muncul). btw, artisnya kayak anaknya SBY yg baru kawin itu hehehe...

dika said...

wuah, aku jadi tertarik buat nonton dua film itu. terutama yg it's kind of funny story...