Wednesday, February 27, 2013

Saya Tak Ingin Menyodorkan Karya yang Belum Memuaskan 
Wawancara dengan Yusi Avianto Pareanom
--Anwar Holid

Yusi Avianto Pareanom punya banyak ketertarikan dan cerita. Mulai dari The Beatles, cerita silat, kuliner, film porno Jepang, isu politik dan sosial, serta tentu saja sastra dan penerbitan. Di dunia penulisan berbagai ranah telah dia jamah, mulai sebagai wartawan, penerjemah, editor, esais, penerbit, sampai jadi guru menulis.

Berikut ini wawancara dengan beliau setelah diskusi Rumah Kopi Singa Tertawa di Kineruku, Bandung.

* Dari mana cerita-cerita ajaib, rada absurd, terkesan fantastik tapi tetap membumi, dengan selera humor yang aneh di buku Rumah Kopi Singa Tertawa berasal?

Pertama-tama harus disebutkan di sini bahwa segala predikat yang Bung Anwar lekatkan kepada cerita-cerita itu belum tentu saya atau orang lain sepakati lho. Tapi, jawaban untuk pertanyaan itu sederhana saja, cerita-cerita itu bermula dari apa yang saya lihat dan baca, atau dengan kata lain pemantiknya adalah keseharian yang berlangsung di depan mata ataupun peristiwa besar yang terjadi di belahan dunia sana, yang bisa saja terjadi sekian puluh tahun yang lalu.  

Cerpen “Sebelum Peluncuran”, misalnya, saya garap sepulang dari peluncuran Jantung Lebah Ratu Nirwan Dewanto. Malam itu di mata saya selain terlihat tegang Nirwan juga tampak kencang. Nah, dari situ saya menduga-duga siapa tahu Nirwan melakukan persiapan khusus. Ide ini kemudian saya gabungkan dengan kenangan tentang ayah saya yang sebagaimana orang Semarang lainnya terlahir sebagai pengeluh profesional.
“Edelweiss Melayat ke Ciputat” bermula dari pemandangan seni instalasi alternatif alias tumpukan sampah di depan Pasar Ciputat yang sering saya temui sehabis mengantar A.S. Laksana yang berumah di kawasan itu. Dari situ kemudian timbul pemikiran bagaimana seandainya kantung-kantung plastik itu isinya bukan sampah melainkan potongan tubuh manusia dan bagaimana sikap kita jika mendengar kabar orang yang tak kita senangi mati dengan cara mengenaskan.

“Cara-cara Mati yang Kurang Aduhai” bermula dari berita ringan tentang santapan terakhir yang diinginkan Stanley Baker, Jr, tahanan mati paling lapar sedunia.

“Sengatan Gwen” adalah obsesi kepada seorang adik kelas semasa SMA di Semarang. Nama gadis itu Carolina, cantiknya maksimal. Sayangnya, saya tak punya keberanian untuk sekadar berkenalan waktu itu, sungguh sesuatu yang saya sesali sampai sekarang karena saya tak bisa melacak lagi jejaknya.

Rumah Kopi Singa Tertawa sendiri lahir dari kejengkelan. Dalam cerita-cerita pendek Indonesia dengan setting kafe, yang sering terjadi adalah si protagonis duduk di pojokan, melamunkan seseorang, lalu datang pengunjung baru yang menarik minatnya,  si protagonis plirak-plirik tak karuan lalu membayangkan sekian skenario di kepalanya, tetapi tak pernah ada tindakan lanjutan. Jangankan itu, dialog saja disimpan dalam hati sehingga suasana kafe mirip malam kudus yang sunyi senyap. Padahal, justru di kafe atau rumah kopilah kemeriahan dan keriuhan terjadi, sering kita dengar potongan percakapan menarik tanpa tahu konteks atau juntrungannya. Omong-omong, saya membuat versi Inggrisnya, lho. Awalnya sih sekadar ingin mengalihbahasakan, tapi kenapa harus berhenti di situ. Ini ibaratnya rumah kopi yang sama pada hari yang berbeda. Sila simak di sini: https://www.facebook.com/notes/yusi-avianto-pareanom/rumah-kopi-singa-tertawa-20/10151045515353046

Petualangan Raden Mandasia dan kawan-kawannya adalah pelintiran sesuka hati dari berbagai cerita rakyat Nusantara. Saya menyebutnya demikian karena dongeng (ya, semestanya dongeng) ini sangat anakronis sehingga cerita dari tlatah dan zaman lain masuk. Saya tak mau membuka lebih banyak, tak mengejutkan nanti kalau Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi terbit. Yang pasti, di dalam sendirinya ia, sebagaimana fiksi yang lain, harus logis, seajaib apa pun premisnya.

Kalau ingatan tak berkhianat, saya malah belum menyentuh atau menggarap cerita-cerita yang bahan dasarnya sudah “elok”. Saya contohkan tiga, ya. Di Depok, tepatnya di luar pintu 35 perumahan Pesona Khayangan, ada tukang ojek bertangan satu. Nama panggilannya Jore, ia kehilangan tangan karena kecelakaan. Tak banyak yang mau menggunakan jasanya, apalagi ibu-ibu. Saya termasuk yang bersedia. Nah, karena Jore jarang dapat penumpang, setiap kali saya muncul para tukang ojek di sana menyorongkan laki-laki asal Ambon ini. Di satu sisi, memberi kesempatan Jore mencari nafkah patut dilakukan. Di sisi lain, sebetulnya kecemasan tak pernah benar-benar menghilang dan saya sadar sepenuhnya jika terjadi kecelakaan—semoga tak pernah demikian—saya hanya boleh menyalahkan diri sendiri.


Di Jogja, semasa kuliah dulu, ada tetangga samping tempat kos, ia asli warga kampung Pogung Dalangan yang suatu malam memotong penisnya sendiri karena jengkel istrinya tak mau meladeni. Padahal, si istri sudah dikode sejak sore hari. Karena rumahnya gelap, potongan burung itu tak bisa ditemukan segera dan ketika akhirnya disusulkan ke rumah sakit, dokter menyerah. Ketika ditanya mengapa ia melakukan itu, jawabnya cukup mengejutkan, ia ingin menghukum istrinya. Bahwa kemudian ia sendiri yang merana ia hanya bisa tersenyum pahit. Tapi, menurut pengakuannya, setelah tragedi itu ia masih tetap punya hasrat dan punya cara khusus melakukannya dengan istrinya. Bagaimana tepatnya? Mengingat tulisan ini dipacak di ruang publik dan materinya dewasa, saya hanya bisa bilang pengaturannya sedikit banyak bisa menghibur keduanya.

Contoh ketiga berkaitan dengan kematian, kejadiannya di Jogja dan Jakarta, berentang belasan tahun. Di Jogja, saya sempat mengantar pacar melamar menjadi dosen di sebuah sekolah tinggi bahasa. Di sana, saya sempat ngobrol dengan kepala admistrasinya, seorang pria kurus berambut putih yang saya taksir berusia di atas 60 tahun. Ia sangat santun sebagaimana kebanyakan priyayi Jogja pada umumnya. Tak ada yang istimewa dari obrolan kami. Beberapa hari kemudian, tak sampai sepekan, laki-laki itu ditangkap dengan tuduhan membunuh dua orang tetangganya, sepasang suami istri, gara-gara urusan tanah. Kasusnya cukup heboh waktu itu, tapi kemudian karena kurang bukti ia dibebaskan. Seperti apa yang sebenarnya terjadi, saya tidak tahu. Tapi, saya sempat dihinggapi perasaan ganjil bahwa ketika kami mengobrol, laki-laki itu pasti sedang memikirkan tindakan keji terhadap tetangganya. Di Jakarta, di kawasan Kalibata, saya sempat potong rambut di sebuah salon. Pemiliknya seorang laki-laki Batak umur 60-an yang penampilannya sangat melambai. Kami sempat ngobrol, dan untuk suatu alasan, ia ekstra ramah kepada saya. Beberapa hari kemudian, tak sampai sepekan juga, ia terbunuh di salonnya, dan sampai sekarang pelakunya belum tertangkap. Jadi, saya sempat bertemu calon pembunuh (sekiranya tuduhan itu benar) dan calon korban pembunuhan tak lama sebelum peristiwanya terjadi. Bahannya dahsyat, bukan? Tapi, saya belum menemukan momen menuliskannya. 

* Mas Yusi menulis fiksi dan nonfiksi. Kenapa berada di dua ranah kepenulisan itu, tidak pilih salah satu? Apa masing-masing daya tarik, kesulitan, dan tantangannya?
Mungkin pada dasarnya saya seorang poligamis. Kalau bisa dua kenapa harus ambil satu?  Fiksi, dengan aturan ketat di dalam dirinya sendiri—yaitu kelogisan—memungkinkan saya beruji coba bentuk. Kesulitan terbesar saat ini adalah menyediakan waktu lebih untuk menulis fiksi karena secara nyata banyak sekali urusan lain. 

Dalam nonfiksi, fakta adalah sesuatu yang suci, jadi godaannya adalah menahan diri tidak menyelundupkan hal-hal di luar fakta yang bisa membuat tulisan lebih menarik. Dalam fiksi, saya enteng memasukkan yang faktual. Dalam nonfiksi, saya tak berani menghadirkan yang fiktif.  Tantangan utama penulisan nonfiksi adalah mencari sudut pandang, mana yang paling penting sekaligus memikat karena biasanya jatah halaman di media cetak terbatas sehingga cerita-cerita sampingan yang mungkin menarik terpaksa dipinggirkan. Lain cerita jika kita menulis feature panjang atau buku dengan beberapa tulisan yang saling berkait. Ada sedikit kelonggaran, tapi prinsipnya penulisan tetap harus hemat.

Sebetulnya, menulis hemat juga berlaku untuk fiksi, tak boleh ada kata, frasa, apalagi kalimat yang sia-sia.
Sebuah materi dasar yang sama bisa diangkat menjadi tulisan fiksi atau nonfiksi, tetapi efeknya akan berbeda kepada pembaca. Misalnya, cerita tentang pemerkosaan dan pembunuhan seorang gadis kecil. Katakanlah dua tulisan ini setara bagusnya, tetapi yang nonfiksi akan lebih mengusik karena pembaca tahu peristiwanya nyata, dukanya nyata, dan kematiannya mutlak. Sementara, tulisan fiksi, jika pembaca tak tahu cantelannya dengan kejadian nyata, sedikit banyak menghadirkan jarak.  

Saya tak tahu apakah pembaca tulisan-tulisan saya merasakan perbedaan suara kepengarangan antara karya fiksi dan nonfiksi saya. Sila Bung Anwar menjawab di sini….

* Ceritakan pada saya bagaimana mas Yusi memelihara etos menulis?
Simpel saja, Bung: banyak membaca dan berkumpul dengan teman-teman yang punya minat besar kepada kepenulisan. Kumpul-kumpul ini kan seperti mengamalkan pepatah lama Jawa, cedak kebo gupak atau dekat kerbau bakal kena kotoran. Untungnya, gerombolan kerbaunya aduhai sehingga kotorannya pun asyik. Dengan bacaan dan obrolan (ejekan juga), saya tak saja tergerak selalu menulis tetapi juga tertantang menghasilkan karya yang lebih baik.

* Mungkin mas Yusi punya banyak draft tulisan yang lama tidak selesai dan akhirnya malah dibuang. Apa halangan mas Yusi sehingga draft itu gagal jadi tulisan yang siap dipublikasi atau dijual?
Kalau yang belum selesai banyak, Bung, tapi ya tidak dibuang. Saya tak menganggapnya gagal, belum lengkap saja. Suatu ketika pasti menemukan jalan menjadi tulisan utuh. Sebelum menggarap Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi, sebetulnya saya sudah menulis draft novel Anak-anak Gerhana, pengalaman generasi saya yang tumbuh sebagai anak Orde Baru. Tapi, di tengah jalan ada kesulitan menentukan siapa narator dan bagaimana suaranya, pula belum sanggup berbagi cerita yang saya rasa terlalu pribadi. Resminya memang fiksi, tapi tetap saja pada bagian-bagian tertentu terasa terlalu dekat sehingga bikin macet. Saya lari ke Raden Mandasia yang semestanya dongeng, ini pengalaman yang membebaskan. Sekarang saya sudah tahu bagaimana menangani Anak-anak Gerhana, semoga tergarap cepat setelah merapikan Raden Mandasia.

Ilustrasi lain soal draft. “Sebelum Peluncuran“ saya tulis dalam dua jam tetapi “Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih” perlu berbulan-bulan. Bukan sok menyulit-nyulitkan diri melainkan memang cerita itu seperti datang dalam kepingan-kepingan. Pertama soal nama Anwar Sadat itu sendiri, kemudian cat kuku, dan kenangan kenakalan masa kecil. Karena benang merahnya belum dapat, yang tersimpan baru fragmen-fragmen. Setelah sebuah kebetulan yang betul-betul terjadi, perjumpaan anak-anak Bengkel Novel Dewan Kesenian Jakarta dengan seorang pemuda yang baru saja mereka rasani, saya langsung tahu apa yang ingin saya tulis dengan bahan-bahan yang sudah terkumpul sebelumnya. “Ajal Anwar Sadat” sering dibaca sebagai cerita tentang kebetulan atau bahkan nasib naas. Ini tentu boleh-boleh saja. Seorang pemuda, peserta diskusi di Kineruku bulan Oktober 2012 lalu, malah sempat protes kepada saya mengapa Anwar Sadat dalam cerita mesti tewas. “Ia kan orangnya baik, mas,” katanya. Saya hanya bisa tersenyum. Kalau dalam kasus ini seorang pengarang boleh hidup lagi, saya ingin bilang bahwa cerita itu sebetulnya tentang penulisan. Tak ada yang mati, kecuali si pengarang setelah naskahnya ia bagi.

* Apa kelemahan mas Yusi sebagai penulis? Apa ada usaha tertentu untuk mengatasinya atau malah membiarkan kelemahan itu, berusaha menguburnya dengan kualitas karya?
Kurang militan, selalu memberi alasan kepada diri sendiri menunda pekerjaan. Tenggat sejatinya tenaga penggerak yang hebat. Dulu, semasa di TEMPO, saya bisa menulis rubrik Selingan atau Investigasi yang berisi beberapa artikel sekaligus dalam sehari. Sekarang, karena tenggat dibuat sendiri, saya langgar sendiri pula seenak-enaknya. Terlalu, memang. Tapi, untuk tulisan pesanan saya tetap taat. Nah, ini bukti sekali lagi.
Kalau kelemahan karya silakan orang lain menilainya. Yang pasti, saya berupaya menyajikan yang terbaik ketika naskah itu terbit. Rumah Kopi Singa Tertawa, misalnya, saya seleksi dari sekitar 150 cerpen yang saya buat sejak masa kuliah. Saya tak ingin menyodorkan karya yang menurut saya belum memuaskan sekalipun mereka sudah dimuat di media massa. 

* Apa mas Yusi tidak tertarik cari proyek tulisan dari politisi, pengusaha, atau pesohor yang minta dibuatkan buku ? Atau kalau pernah, ceritakan pengalaman mengerjakan buku pesanan.
Pada 2012 ini terbit buku Pembelajaran T. P. Rachmat yang saya garap bersama seorang penulis lain, isinya tentang pemikiran Teddy Rachmat, mantan Presiden Direktur Grup Astra International dan pendiri Grup Triputra. Ini bukan kali pertama saya menulis buku pesanan. Pertimbangan saya menerima pekerjaan semacam ini simpel, saya mesti mendapatkan imbalan yang sangat layak. Imbalan di sini tidak melulu soal uang tetapi lebih kepada pengalaman yang memperkaya saya.

Penulisan Pembelajaran T.P. Rachmat memberi saya kesempatan belajar langsung dari salah satu pelaku bisnis papan atas Indonesia. Ia pintar, idealis, sekaligus sangat realis sehingga ide-idenya membumi. Sudah begitu, bayaran untuk saya pun aduhai. Jadi, nikmat Tuhan mana yang hendak saya dustakan kalau begini?
Lain waktu, pada 2009 saya diminta Departemen Kebudayaan dan Pariwisata serta Departemen Luar Negeri menulis sejarah hubungan baik Indonesia – Korea Utara. Sejak awal saya tahu bahwa tulisan saya mesti dalam koridor mereka dan honor dalam bentuk uang juga tak terlalu istimewa. Tapi, kesempatan berkunjung ke sebuah negara sosialis semasa Kim Jong Il masih hidup terlalu langka dilewatkan. Kapan lagi? Kalau kita punya uang, ke Eropa gampang saja. Tapi ke Korea Utara, punya uang berapa pun belum tentu tembus. Sila tengok catatan saya di sini: https://www.facebook.com/notes/yusi-avianto-pareanom/musim-semi-di-pyongyang-2009/10150993514568046.

Tidak semua tawaran saya terima, tentu. Ada yang benar-benar karena angka yang mereka sodorkan membuat saya terharu karena jumlahnya sangat menggelikan sementara proyek penulisannya jelas-jelas komersial, ada pula yang saya tak cocok dengan tema maupun subjeknya. Saya, misalnya, tak akan mau menggarap penulisan biografi politisi atau pengusaha bermasalah jika niatnya adalah pencitraan (saya tak terlalu suka kata ini, terlalu banyak dipakai, tapi untuk kali ini terpaksa) sekalipun dibayar sangat-sangat mahal. Pasti akan jadi buku degil dan melodramatis. Wah, dosa besar saya kalau sudah begini. Tapi, saya malah tak akan meminta bayaran sedikit pun dan bersedia mengongkosi sendiri penerbitannya jika saya mendapatkan akses penuh dan subjeknya mau buka-bukaan serta kendali penulisan sepenuhnya ada di tangan saya. Siapa yang tak mau jika suatu saat para jenderal di pusaran 1998 berani buka-bukaan total, misalnya.

* Proyek ambisius apa yang mas Yusi lagi kerjakan sekarang?
Tentu ada ambisi dalam setiap penulisan, tapi apakah itu ambisius, silakan teman-teman yang menilai. Saat ini sedang menggarap dua novel, Anak-anak Gerhana dan Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi.  Anak-anak Gerhana semula berjudul Kue Mangkok Kelima. Dulu, kalau tak salah kelas empat SD, saya sempat iseng ikut-ikutan bekerja untuk tetangga yang membuat kue mangkok. Pekerjaan saya dan teman-teman sederhana, mencutik kue keluar dari mangkoknya. Jika ada kue yang rusak, kami disuruh memakannya karena kalau dijual kue itu tak bakalan laku. Satu-dua kali masih senang, tapi begitu kue kelima sudah tidak lagi karena kue ini fungsinya primer sekali, mengenyangkan. Saya tak lama bekerja di sana karena ketahuan ayah dan dimarahi. Setelah besar, saya baru sadar bahwa Mas Puji, pemilik usaha kue mangkok itu, sebenarnya mengajarkan kehatian-kehatian kepada kami. Seingat saya, istri atau kakak perempuannya tak terlalu sepakat dengan kebijakan Mas Puji soal keharusan makan kue yang rusak tadi.Tapi, karena perkara kue mangkok ini saya anggap kurang mewakili apa yang saya mau sampaikan secara keseluruhan, judulnya saya ubah jadi Anak-anak Gerhana.

Calon-calon buku berikutnya sudah ada juga, tapi tak menyebut di sini, wong yang dua ini saja sudah bertahun-tahun belum klaar.

* Apa yang kurang dalam industri penerbitan kita sekarang?
Cenderung latah. Beberapa penerbit sebetulnya sudah berani menyodorkan tawaran berbeda. Tapi, dengan sistem distribusi yang dimonopoli Kelompok Kompas-Gramedia agak berat buku-buku semacam ini mendapat tempat kecuali tersambar dewi keberuntungan. Umur buku di rak-rak toko buku singkat sekali, paling tiga bulan kecuali sangat-sangat laku. Padahal, ada buku yang panasnya lambat. Ketika orang di jejaring sosial mulai bicara, bukunya tak ada di toko. Sialnya, si penerbit kesulitan menjual langsung karena buku masih tertahan pula di distributor.

Kelompok Kompas-Gramedia terlalu besar, ia menguasai bisnis dari hulu sampai hilir (pabrik kertas, percetakan, penerbitan, toko, sampai bisnis dalam satu grup yang menunjang promosi mereka—harian Kompas, apa lagi?). Kebijakannya sulit ditawar karena posisinya memang lebih kuat. Mungkin suatu saat jika para penerbit di luar Gramedia mau mengajukan keberatan ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha untuk menghilangkan monopoli, situasinya bisa menarik. Tapi, mungkin pula toko buku ke depan makin tak dibutuhkan. Banana belum meluncurkan buku-e, tapi ke depan pasti ke sana dan penjualan langsung secara online akan makin ditingkatkan.

* Apa mas Yusi berpandangan sinis terhadap buku best seller?
Sama sekali tidak, rezeki orang masing-masing. Tapi, saya akan lebih berbahagia jika yang laris adalah buku bermutu. Saya lebih terganggu oleh perayaan berlebihan karya-karya buruk, pula yang mendapatkan kredit lebih daripada yang semestinya, terlepas buku-buku itu laku atau tidak.

* Mending mana: buku yang page turner atau buku yang susah dibaca meski kelihatannya insightful?
Saya menjawab begini saja, yang penceritaannya asyik. Insightful itu apa sih sebetulnya, hikmah?  Jika ya, tak akan ada yang baru, jatuhnya truisme dan mirip judul buku-buku Balai Pustaka atau film Rhoma Irama: sengsara membawa nikmat, salah asuhan, perjuangan dan doa, dan sejenisnya. Umberto Eco sering banget nulis perkara remeh-temeh, dan itu ia sebutkan sendiri di bukunya, tapi tetap saja enak dikunyah karena penceritaannya memang ciamik.

* Kenapa sebagian orang tetap baca buku yang bodoh? Maksud saya ialah buku yang dangkal, karakter plin-plan, meragukan, ceritanya pun gampangan dan tidak mengayakan pembaca---tapi eh buku seperti itu tetap saja dibaca dan laris. Apa ada sesuatu yang melampaui itu, sehingga orang tetap ramai-ramai baca dan merasa mendapat manfaat dari buku seperti itu?
Sedikit memutar, ya. Di Korea Utara, setelah beberapa hari saya menyadari mengapa rakyatnya begitu patuh kepada penguasa. Benar, sebagian karena rasa takut. Tapi, yang tak kalah berperan adalah tak adanya kesempatan melihat selain apa yang disodorkan pemerintahnya sehingga mereka tak bisa membandingkan keadaan diri sendiri dengan dunia luar. Otomatis, tak ada keinginan mereka mendapatkan yang berbeda, terlebih rezim Korut berhasil menanamkan ke rakyat mereka bahwa negara merekalah semesta dunia dan salah satu yang termakmur di planet ini. Seseorang bisa tergoda kepada rumput tetangga karena melihat, bukan karena hijau atau lebatnya benar. Kalau akses kepada rumput tetangga tak ada, “rumput tetangga” itu sendiri menjadi sesuatu yang asing.

Nah, kasus Korea Utara bisa dipakai menjawab secara tak langsung pertanyaan Bung Anwar. Akses kepada bacaan berbeda, atau bacaan yang baguslah, sering tertutup karena tekanan kawan sebaya atau lingkungan. Karena teman-temannya membaca dan membicarakan terus sebuah buku , seseorang akhirnya membeli atau setidaknya membaca dengan meminjam buku itu karena tak mau ketinggalan kereta. Bila buku itu bagus, beruntunglah ia. Kalau buku itu mblawus, belum tentu ia tahu buku itu mblawus karena jarang atau malah tak pernah terpapar buku bagus. Yang  jelas, ia tak akan menjadi orang luar di kalangannya, dan ini penting baginya.  Hasrat menjadi bagian dari yang lebih besar ini masih kuat karena komunalitas berakar. Pepatah kita kan bilang ‘Bersatu teguh bercerai runtuh’, padahal mestinya ‘Bersatu teguh, sendiri-sendiri juga begitu’. Faktanya, banyak yang tak nyaman atau sanggup hidup individualis (bukan berarti mementingkan diri sendiri lho, tapi berani berbeda  dengan alasan bukan asal-asalan). 
   
* Buku bodoh seperti apa yang pernah mas Yusi baca?
Kalau buku terjemahan yang asal-asalan alih bahasanya. Contohnya banyak, tapi saya tak mau berpanjang-panjanglah untuk hal ini. Kalau yang karya lokal adalah yang segala unsurnya kebalikan dari syarat-syarat buku bagus yang saya sebutkan di atas. Selain bahasa yang berantakan, dalam buku bodoh sering saya jumpai motif seorang karakter melakukan tindakan sedemikian misteriusnya sampai tak diketahui pengarangnya sendiri. Judul-judul tak perlu disebutlah. Bukan mengelak, saya lebih senang membikin daftar buku yang mendatangkan pahala karena kita bersyukur berjumpa dengan buku semacam itu.

* Terakhir: kenapa mas Yusi dengan jengkel bilang bahwa pertanyaan tentang proses kreatif itu ketinggalan sepuluh tahun lalu?
Karena dari dulu sampai nanti karya bagus itu hanya dihasilkan dengan cara berpikir kok, Bung.  Berpikir ciamik tentu butuh asupan yang aduhai, yaitu bacaan dan tontonan yang bagus dan mitra tanding setara yang tak ragu menyuarakan pendapat mereka.

No comments: