Thursday, June 19, 2008



Robert Zimmerman
--Anwar Holid



Tiba-tiba aku mendapati sejumlah gambar Bob Dylan di sebuah folder komputer warnet. Aku hanya punya dua teman yang suka dia. Dulu, temanku tumbuh remaja, Iwan Sofyan, sudah suka dia, bareng dengan Joan Baez dan Nana Miskouri. Menurutku itu selera yang aneh. Tiap kali masuk kamar dia, kami selalu dengar mereka nyanyi.

Aku malah baru suka lagu Bob Dylan yang dinyanyikan orang lain. Guns 'N Roses, Youssou N'Dour, U2, Dave Matthews Band, dan banyak lagi suka membawakan lagu-lagu Bob Dylan. Itu artinya dia seorang musisi hebat yang pengaruhnya diakui tanpa sanggahan.

Waktu aku kenal Rani dan Rumah Buku, keanehanku bertambah lagi. Gadis ini mungkin punya semua album Dylan, juga buku tebal hard cover berisi lirik lengkap karya dia.

Hanya ada satu bait lirik dia yang cukup baik aku ingat, yaitu dari "Blowin' in the Wind" (1962).

How many roads must a man walk down
Before you call him a man?

Aku bertanya-tanya, orang seperti apa di zaman sekarang yang tetap suka dia, hingga aku ikut mengopi gambar-gambar dia?[] 2:43 16/06/08




 






Kawin, Talak, Cerai, Rujuk

Penulis: Anwar Holid





Bagaimana rasanya menikah dengan duda beranak tiga? Tanyalah Senny atau Jenna. Tapi mungkin pertanyaan itu hanya akan membuat orang lain sebal, jijik, benci. Sejujurnya aku pun bukan orang yang suka memancing keributan. Barangkali jika diletakkan sebagai pertanyaan saja, bisa diajukan pada siapa pun, hal seperti itu tak akan menyebabkan orang lain sebal. Tapi kalau kita menganggap bahwa perkawinan adalah sesuatu yang wajar, tidak terlalu diagung-agungkan dengan alasan kabur, barangkali pertanyaan itu justru menguji keyakinan seseorang atas pendapatnya tentang cinta, perkawinan, kebahagiaan, keluarga, dan lain-lain. Perkawinan itu sesuatu yang wajar dan alamiah, seperti halnya perceraian, pertengkaran, berjanji, bayar utang, atau mungkin kebelet. Perjanjian bahwa itu disaksikan Allah aku pikir terlalu dibesar-besarkan, karena toh sebenarnya orang juga mudah lalai atas janjinya sendiri, meski disaksikan banyak orang sekalipun. Benar bahwa itu memang disaksikan Allah dan malaikat-Nya, tapi mereka adalah "sesuatu yang lain," jadi sebenarnya tak terlalu diperhatikan. Yang mungkin lebih diperhatikan barangkali tentang mahar, acara, atau dengan siapa seseorang kawin.
Aku menghadiri perkawinan Jenna dan Titon, direktur Oxymedia Publishing (penerbit tempat aku pernah freelance agak lama), di sebuah desa yang mungkin hanya akan aku datangi sekali saja, Margacinta, di daerah Jepara. Ini desa mengingatkan aku pada desa orangtuaku di Lampung. Suasana, kebun-kebun, rumah, juga sungainya. Hanya saja lalu lintas di situ terlalu sibuk dan kendaraan lalu-lalang terlalu cepat. Aku datang dini hari, jadi baru sadar esok harinya, terlebih-lebih ketika pergi meninggalkannya menuju Semarang, ke rumah sodara di Simpang Tiga. Beberapa orang dari kota lain juga datang, kebetulan ada yang satu-dua aku kenal. Banyak yang datang berpasangan, meski ada juga perempuan yang sendirian, datang mengenakan gaun memperlihatkan banyak anggota badan. Sebenarnya aku malas banget datang-datang ke acara seperti ini; tapi demikianlah, aku sudah menikah, dan sejak awal sudah janji akan menghadiri perkawinan mereka. Dulu aku juga tega tak datang ke perkawinan Kodrat, dan rasanya setelah nikah, keputusan itu sedikit aku sesali. Termasuk ke pernikahan Pras, nggak aku bela-belain datang ke sana. Barangkali karena di Jakarta.

Tapi, bayangkan, aku mau bela-belain datang ke Pesta Buku; apa karena ada Bang Mula di sana? Kalau mengingat jasa baik Pras, keakraban kami di masa lalu, sejujurnya aku merasa bersalah tak datang ke resepsi pernikahannya. Tapi aku bersyukur sudah berkenalan dengan istrinya. Rasanya aku rindu untuk ketemu dengan dia terus, tapi barangkali belum waktunya. Bahwa aku diberi tahu dia sendiri ketika akan menikah, betul-betul membuat aku terharu. Aku merasa dulu kehilangan sekali tak berhubungan dengan dia lama sekali, dan bersyukur bisa kembali berhubungan dengan dia, meski jarang.

Sejujurnya aku tak terlalu tertarik dengan urusan rumah tangga atau perkawinan orang lain. Perkawinan itu sangat manusiawi, sebuah hubungan personal orang per orang yang diikat oleh perasaan, kerelaan, dan sejumlah chemistry lain-lain. Marx malah lebih sinis memandang perkawinan; dia bilang perkawinan adalah semacam usaha orang mempertahankan kelas atau daya tawar menaikkan kelas sosial. Sejujurnya aku suka dengan pandangan Marx, terlebih-lebih andai aku kurang beriman dan mengabaikan aspek religius dan spiritual. Tapi, coba terus dikejar: apa itu religius, apa itu spiritual? Aku juga gagal menjawab dengan pasti dan tegas.

Itulah sebab aku menganggap perkawinan tak demikian sakral, melainkan sebuah kerelaan/keridhaan seseorang menerima orang lain, atas izin Allah yang diimaninya. Kalau tidak demikian, orang boleh hidup bersama baik-baik saja. Tapi karena ada faktor agama, ketakutan primordial pada dosa, Tuhan, dan hal-hal yang tak terjelaskan, perkawinan sering dimistifikasi, termasuk oleh lembaga pemerintah dan lain-lain.
Dulu, sekitar sampai September 2004, ada dua perkawinan selebritas yang jadi sorotan media gosip besar-besaran. Satu, perceraian Ray Sahetapy-Dewi Yull; dua, rencana perceraian Reza Artamevia-Adjie Massaid. Kenapa bikin heboh, karena selama ini perkawinan mereka dianggap baik-baik saja, bersih dari gosip keretakan. Tapi barangkali itu masalah kecerdikan mengemas masalah saja. Aku dulu pernah baca berita bahwa Adjie Massaid ketangkap berzina dengan wanita lain (siapalah, aku nggak tahu), dan aku pikir setidaknya dugaan dia zina itu bisa jadi benar. Ray menikah lagi dengan seorang dosen UI. Kata Ubing, body-nya yahud. Menurut dugaan media dia menikahi perempuan itu karena masalah tubuh saja, tapi siapa yang tahu sebenarnya? Aku pernah baca di Nova, istri baru Ray itu (siapalah, aku nggak tahu) bilang, dia mau menikah dengan Ray karena Raylah satu-satunya lelaki yang berani melamarnya. Ha ha ha, aku tertawa ngakak baca perkataan itu. Jadi apa persoalannya berani melamar atau tidak? Bagaimana kalau aku melamar Aria G, dan diterima; apa aku akan begitu saja mencampakkan istri dan anak? Sebuah alasan yang terlalu sederhana untuk menikah; tapi siapa tahu benar. Aku pernah dengar ada teman ngomong, kenapa seseorang mau menikah dengan orang lain, hanya karena dia ingin menikah dengan seorang 'aktivis'. Barangkali memang ada orang yang ingin menikah karena dia penyair, penulis, pelukis, dokter, tentara, pengusaha, cakep, dijodohkan, diberi wangsit, bahkan karena playboy dan pintar merayu. Hanya seseorang sendiri yang tahu alasan kenapa dia mau menikah. Termasuk alasan kenapa seseorang masih lajang.

Ada banyak aspek perkawinan, termasuk unsur yang rendah-rendah, di balik hal-hal luhur yang kerap diusungnya. Barangkali ada kejujuran di sana, tapi rasanya selalu ada yang disembunyikan oleh setiap orang, bahkan dari orang terdekatnya sekalipun. Kenyataan mengajari aku bahwa perkawinan kadang-kadang adalah jalan selamat yang mungkin paling mudah, dan aman.

Di perkawinan Jenna dan Titon kemarin, waktu akad nikah disebut semoga pernikahan itu adalah "perkawinan pertama dan terakhir" oleh lebe. Padahal Titon itu kan duda. Itu perkawinan keduanya. Sementara Jenna gadis. Boleh jadi itu juga bukan perkawinan terakhir mereka. Tentang perkawinan pertama Titon aku nyaris tak tahu sama sekali, dan mungkin juga sia-sia aku ingin mengetahuinya. Tapi setidaknya aku pernah diberi tahu seseorang, dia pernah beristri, dengan anak tiga. Jelas dia juga tak pernah cerita padaku tentang perkawinan pertamanya itu; tapi dia pernah cerita dia punya anak. Namun aku juga tak melihat anak-anaknya ada di resepsi pernikahan itu. Aku tanya seorang kenalan, apa anak-anaknya ikut? Dia bilang tidak. Jadi anak-anak yang ikut rombongan itu adalah saudara-saudaranya dari Purbalingga. Barangkali ketiga anaknya sengaja tak diajak, atau mereka ikut ibunya. Istri pertamanya juga tidak ada. Mungkin dia menolak datang, atau tak diundang. Ayah mempelai pria juga tak ada, mungkin dia mengalami kesulitan untuk datang.

Jelas aku tak mendengar keterangan bahwa Jenna menikah dengan seorang duda beranak tiga dari panitia; tapi kalau iya, apa pentingnya? Apa itu akan menimbulkan aib bagi mereka? Apa sih bedanya 'duda', 'lajang', 'janda', dan sebagainya itu? Aku dulu pernah baca sebuah buku, mungkin judulnya "Memulai Perkawinan Baru", dan itu selalu membuat aku tertawa setiap kali ingat judulnya. Waktu mahasiswa aku pernah dengar olok-olok tentang seorang foto model seronok yang mendadak kawin dengan seorang musisi. Kawanku yang memasang poster dia di kamarnya bilang, "Jangankan jandanya, mayatnya juga gua masih mau!" Benar saja, segera setelah perkawinan singkat itu mereka cerai dan si foto model langsung jadi janda kembang.

Pada dasarnya orang ingin sempurna, dan menganggap bahwa perceraian adalah sebuah kegagalan---betapapun ada hikmahnya itu. Jika aku suatu ketika cerai, lalu menikahi jomblo kaya, yang mungkin lebih tua, tak sepadan, apakah itu akan jadi sebuah "cerita"? Aku hingga sekarang yakin bahwa pasangan suami-istri itu diciptakan sempurna pas mereka dinikahkan. Entah kenapa. Aku merasa bahwa aku dan Ubing itu sempurna, sepadan; begitu juga dengan Anna-Anwar; Mas Rindang-Mbak Ima. Bagaimana dengan Dewo dan Desi, Troilus dan Cressida? Rasanya juga baik-baik saja. Ubing selalu marah kalau aku bilang bahwa aku tidak ingin bersama dia di akhirat nanti; tapi siapa jamin bahwa aku akan bersama dia; siapa jamin aku akan bersama orang lain? Kadang-kadang aku punya keinginan, tapi tahu jika keinginan itu tak terwujud, rasanya akan baik-baik saja.

Mungkin orang itu terlalu terobsesi pada perkawinan sempurna, maka mereka seakan-akan mengharamkan perceraian. Padahal kalau kita baca hukum perkawinan dalam Islam---dan itu artinya harus dipertimbangkan masak-masak oleh pengadilan agama/negara---orang bisa (mengajukan) cerai hanya gara-gara, misalnya, pasangannya dianggap tidak cakep, terlalu miskin, atau tidak sepadan. "Tapi, yah, itu sekalian menunjukkan kualitas orang itu memang segitu," komentar temanku. Aku pernah baca seorang istri menggugat cerai karena suaminya ngorok; atau suami gugat cerai karena istrinya ngiler. Yah, perkawinan kan masalah personal, manusiawi, kerelaan. Apalagi kalau disebabkan oleh perkara zina, selingkuh, dan sebagainya. Tambah afdol/kuat alasan orang bisa bercerai dari pasangannya, mencari ganti yang baru.

Kalau melihat sejumlah perkawinan di keluargaku, rata-rata perkawinan mereka memang tak diwarnai perceraian. Perkawinan orangtuaku rasanya baik-baik saja, setidaknya sejauh yang aku tahu. Ayah-ibuku dianugerahi anak tiga. Bahasa Sunda menyebut anak itu sebagai 'bati', artinya keuntungan. Jadi, mungkin, perkawinan orangtuaku cukup baik. Dulu sekali, waktu aku kecil, aku pernah ngelihat ayah-ibuku bertengkar; aku dan Ubing juga kini pernah beberapa kali bertengkar hebat. Kalau bantah-bantahan sih kadang-kadang sulit dihindarkan. ...Tapi sejujurnya, aku cinta dia, dengan alasan apa pun. Perkawinan adik-adikku sejauh ini juga baik; meskipun aku jarang sekali dengar kabar dari mereka. 

Satu-satunya perkawinan yang diwarnai peceraian justru berasal dari ua, ibu angkatku, orang paling dekat dengan aku, yang memelihara aku bertahun-tahun lamanya. Ini sebenarnya membuat kaget aku banget, tapi mungkin untungnya baru aku tahu menjelang perkawinanku dengan Ubing. Alangkah lama aku tak tahu apa-apa tentang perkawinannya, menyangka dia memang sudah tak punya suami sejak aku tinggal dengannya ketika kelas 5 SD. Gila, betapa aku anak kecil yang tak diberi tahu apa-apa. Dia tak cerita apa-apa tentang perkawinannya hingga aku dewasa; mendengar bahwa suaminya kawin lagi dengan muridnya(!); sementara dia menolak dimadu, memilih pisah, pindah ke Bandung, hidup sendiri, membawa anak tunggalnya, hingga kini. Aku beranggapan bagaimanapun uaku perempuan hebat, perempuan kuat. Dia pernah cerita, beberapa lelaki juga melamarnya, tapi dia menolak menerima mereka dengan sebaik mungkin, tak mau nikah lagi. Mungkin melajang aman buat dia. Rasanya sampai sekarang dia baik-baik saja. Dan hidup sendiri (i.e. tanpa suami) tidaklah sengeri yang disangka orang. Secara pendidikan, dia berhasil menyekolahkan semua anak yang dititipkan padanya dengan baik; kecuali mungkin aku. Anaknya sendiri secara formal berhasil; dia masuk AKABRI Laut, dan sekarang entah apa pangkatnya, tapi mungkin tinggi sebab ketahuan sejumlah orang pasti berdecak kagum dengan prestasinya. Dengan kriteria apa pun, aku yakin sebagai orangtua dia berhasil, bahkan dengan segala kebengalan yang aku miliki (atau sedikit apa pun keberhasilanku). 

Keluarga Ua Sum juga baik-baik. Dulu, seingatku, hanya perkawinan Teh Tini-Kang Asep yang kerap diancam perceraian, tapi hingga akhir hidupnya, perkawinan mereka selamat. Dari keluarga ibuku, mungkin ada satu perkawinan yang rusak, yakni perkawinan pamanku, ayah Andi & Suprih. Bahkan entah siapa nama pamanku itu, karena tak pernah ketemu. Dia kabur entah ke mana (mungkin ke Singapura), begitu juga dengan ibunya. Aneh sekali ada orangtua seperti itu. Andi dan Suprih akhirnya diasuh nenek kami, sampai mereka dewasa.

Perkawinan dari keluarga Ubing aku pikir lebih variatif, berwarna. Kakaknya persis di atas dia janda tanpa anak; sekarang menikah dengan lajang. Kakak sulungnya sudah menikah dua kali; yang pertama tanpa anak, yang kedua sudah punya anak; semua suaminya bule. Kakak keduanya jadi istri kedua(!) seorang manajer perusahaan besar, dan aku kerap dengar cerita karena perkawinan itu keluarga Ubing kerap jadi sasaran kemarahan istri pertama sang manajer. Kalau kebetulan aku ada di sana dan keluarga istri pertama itu marah-marah, aku janji akan menghadapi mereka sebisa mungkin. Bukan karena aku ingin membela kakak ipar (apa hubunganku?), tapi aku hanya ingin beri pelajaran agar orang jangan sembarangan berperi laku buruk di rumah orang lain, apalagi itu rumah mertuaku. Agar orang itu tahu konteks, bukan mengancam atau menakut-nakuti istri kedua, tapi suaminya juga harus diberi tahu risiko apa artinya beristri dua. Sementara itu adik Ubing persis di bawahnya, menikah dengan mantan pacar kakaknya; nah, tentu saja ini masa lalu yang kompleks. Adik bungsu Ubing sudah pernah cerai dengan suaminya, tapi rujuk lagi, meski akhirnya talak tiga dengan buntut seorang anak perempuan. Tante Ubing menikah dengan seorang bule, yang konon womanizer (dan dia sendiri mengakuinya.)

Aku dari dulu berpendapat perkawinan itu sederhana saja. Inti perkawinan ialah kerelaan. Pendapat ini agak lain dengan keyakinan banyak orang yang bilang bahwa inti perkawinan itu cinta atau kecocokan. Seorang yang cinta atau cocok belum tentu rela. Kalau rela, kamu bisa kawin dengan janda tua dengan anak lima, meski kamu mahasiswa favorit dengan masa depan gemilang. Kamu bisa jadi mencintai seseorang, tapi ternyata dia tak rela jadi istri kedua. Bagaimana, coba? Kalau begitu kamu gagal menikahinya. Kerelaan bisa membuat suami perokok berat menghentikan kebiasaan itu demi memenuhi kebutuhan susu anaknya. 

Karena sederhana, jika sudah tak rela, sebaiknya pasangan itu cerai. Jika masih ingin bersatu, rujuk. Jika ada yang masih berharga untuk dipertahankan, teruskan. Jika ingin nikah, tinggal cari pasangan. Jika malas punya anak, tinggal hati-hati dan cari caranya. Jika ingin punya anak tinggal siapkan mental dan bekal. Menyenangkan kok prosesnya. Jika mau punya istri baru, cari saja yang mau. Kalau sulit, mungkin dengan sembunyi-sembunyi juga bisa, apalagi kalau baik. (Tapi rasanya aku belum pernah dengar ada contoh perkawinan sembunyi-sembunyi yang diajarkan orang dahulu.) Jika mau suami baru, ajukan cerai. Di novel Rumah Cinta Kelana, Sofie Dewayani cerita ada seorang suami (i.e. bapak beberapa anak) ternyata punya istri baru, dan kehidupan keluarga mereka baik-baik saja. Si istri muda itu rela jadi istri simpanan yang betul-betul rahasia, bahkan istri tua tak pernah tahu suaminya nikah lagi, dan rumah tangga mereka berjalan sempurna. Barangkali itu soal manajemen dan sistem informasi saja.

Sementara itu tipe perkawinan juga macam-macam. Bahkan di Friendster ada opsi "open marriage." Nah, apa itu bukan semacam alternatif bahwa di dalam perkawinan pun masih terbuka kemungkinan mencari pasangan baru? Kadang-kadang aku merasa konyol dengan perkawinan hancur atau buruk yang ingin terus dipertahankan, dengan alasan apa pun, padahal iktikad baik masih sulit mengobati luka. Realistik saja, kalau perceraian bisa membuat orang bebas, bisa membuat orang berkembang, aku pikir lebih baik pisah saja. Sejarah mengajarkan, ternyata manusia itu terlalu mudah khawatir tentang hal yang belum terjadi, dan mudah panik terhadap masalah yang sebenarnya familiar.[]

Anwar Holid, perkawinannya dengan Septina Ferniati pada 1999 kini membuahkan anak dua.

Friday, June 13, 2008



JEDA AGAK LAMA TENTANG KEHIDUPAN
---Anwar Holid



Rasanya aneh punya adik mendadak jadi janda. Tapi kalau kehidupan menghendaki, semua bakal terjadi. Hidup mah ada-ada saja.



Setelah menikah kira-kira 6-7 tahun (aku bahkan lupa persis tahun perkawinan mereka), adikku kehilangan suaminya awal Juni ini. Mereka punya satu anak lelaki berumur 5,5 tahun, masih TK. Anak ini diberi nama berkebalikan dengan anak sulungku. Anak mereka melayang ke angkasa---diberni nama Bintang; anakku menancap ke bumi, diberi nama Ilalang. Adik iparku meninggal karena sakit sirosis (gagal hati akut). Dia berumur 34 tahun, sama dengan aku. Adikku sendiri 30 tahun.



Karena meninggal itu aku langsung ke Purwokerto, tempat tinggal mereka. Aku sangat jarang ketemu dengan adikku, apalagi dengan suaminya. Mungkin baru ketemu 3-4 kali. Ini memperlihatkan bahwa aku kurang peduli sama keluarga dekat. Harus kuakui ini benar. Aku paling-paling kirim SMS ke adikku, itu pun kalau perlu. Dulu, waktu masih lajang, aku beberapa kali kirim surat ke dia. Dia tinggal di P. sejak kuliah hingga kini. Aku sesekali ke kosan dia waktu mahasiswa dulu; untuk pertama kalinya menikmati soto khas daerah itu yang ditaburi bubuk kacang tanah. Waktu zaman "sastra pedalaman", aku minta dibelikan buku Lingkar Tanah Lingkar Api karya Ahmad Tohari yang diterbitkan di Banyumas, kota kembarnya. Praktis adikku nggak punya sodara sedarah di kota yang datar jalannya itu. Gara-gara kematian suaminya, aku jadi ketemu lagi dengan bapak dan emak, juga bibiku. Ayah dan ibuku datang lebih awal, meski mereka berangkat dari Metro, Lampung. Sementara bibiku dari Cijulang, Ciamis. Rupanya kematian bisa mempertemukan keluarga yang jauh tinggalnya. Ayah ibuku tinggal di Lampung, sementara paman dan uaku di Cijulang, desa dekat Pangandaran. Waktu menginap di rumah mereka aku mendapati beberapa buku yang dulu aku kirim buat dia. Menarik. Kenanganku langsung tersedot ke masa silam.



Aku jelas buta tentang perkawinan adikku. Aku hanya sesekali dengar kisah mereka dari ibu atau adik bungsuku. Mereka bilang dia seorang wiraswasta. Dulu mereka sama-sama kuliah di Universtias Jenderal Soedirman (Unsoed), cuma beda jurusan dan angkatan. Setelah menikah, dia mencari nafkah dari sewa-menyewa soud system. "Obsesinya memang bikin studio musik," kata adikku di sela-sela obrolan kemarin. Tapi mungkin bisnis itu kurang sukses buat dia, sampai aku dengar dia mengelola rumah makan dan pemancingan. Tapi mungkin kerja ini juga amat berat, hingga dia katanya jadi jarang pulang karena terlalu sibuk. Baru-baru ini dia melepas bisnis rumah makan itu, dan mendirikan warnet. Aku dengar adikku, mereka pinjam dari tiga bank untuk mengelola warnet dengan jaminan rumah wasiat dari orangtua adik iparku. Total utang ke bank itu kira-kira 100 juta rupiah. Itu jumlah yang besar sekali menurutku. "Mungkin gara-gara utang itu dia kelihatan stes," kata adikku. Tapi tentu adikku pun pasti dagdigdug kalau melihat bahwa dia kini sendiri jadi penanggung jawab utang. Aku sendiri masih punya utang ke sodara dan teman, dan hingga kini kesulitan kapan bisa mencicilnya.



Dulu waktu menghadiri perkawinan mereka, iparku ini nyanyi dan main musik; aku gagal memainkan satu alat musik pun. Di panggung mereka nyanyi dangdut---"Sepiring Berdua?" aku sudah lupa. Di rumah mereka kini aku lihat puluhan majalah tentang musik dan audio juga teknologi rekaman. Ini menarik buatku, karena aku suka dengar musik. Setiap ada jeda aku selalu buka-buka majalah itu. Terus terang aku sangat bergantung pada orang lain agar bisa baca berita musik, kalau bukan sengaja aku cari di Net. Akhir-akhir ini aku sering pinjam Rolling Stone Indonesia ke Budi Warsito, kalau bukan buka-buka di Rumah Buku. BTW, Rumah Buku kemarin masuk Rolling Stone Indonesia sebagai "the coolest library in town." Hooraai!
Aku kecut dengar tentang penyakit suami adikku, sirosis. Aku jadi sadar betapa berharga arti kesehatan. Aku nggak tahu apa dalam tubuhku ini ada penyakit parah; siapa tahu. Aku yakin kepalaku merupakan bagian yang paling rawan. Dulu kepalaku terbentur keras sekali, dan sekarang aku berdoa dan berusaha agar itu tak fatal. Aku sangat hati-hati agar jangan sampai kepalaku terbentur lagi, karena kalau nggak, aku bisa demam tinggi. Mumet sedikit saja biasanya bisa membuat kepalaku sakit dan itu artinya aku harus segera mengistirahatkannya.



Hati yang kena sirosis betul-betul hancur dan rusak sama sekali; total gagal berfungsi. Kata adikku, hati suaminya boyak-boyak. Dulu waktu masih hepatitis (mungkin C), hatinya difoto. Adikku bilang, "Ini foto hati mas dan ini hati yang kena sirosis. Jangan sampai hati mas jadi yang seperti ini!" Tapi ternyata hatinya tambah rusak. Adikku cerita betapa parah sirosis mendera suaminya, sampai dia muntah darah, koma dua hari, bahkan darah keluar dari hidungnya. Belum lagi ketika di rumah, pencernaannya gagal berfungsi sama sekali. Hanya sendiri dengan anak kecil, terbayang betapa dia menjalani masa hidup paling sulit dalam perkawinan demi mengurus pasangan. Apa yang bisa aku lakukan agar kesehatanku terjaga, batinku. Aku belum tentu sehat, meski tidak merokok, mengharamkan alkohol, bebas narkoba, juga tidak pernah keluyuran. Paling aku agak sering begadang untuk mengganti jam kerja yang kacau; tapi tidurku rasanya cukup. Makananku juga cukup sehat. Ubing sangat perhatian dengan gizi yang kami konsumsi. Yang menonjol aku merasa diriku masih malas dan kurang kerja keras.



Suami adikku di kubur di samping makam eyangnya, ibunya, dan sodaranya. Ibunya juga meninggal karena sakit hati, hepatitis. Bintang, waktu kami melayat ke kuburan ayahnya yang masih merah bertabur bunga, bilang, "Ini tempat ayah sekarang, mah?"
"Iya."
Anak kecil itu sudah tahu sedikit tentang kematian ayahnya. Begitu di rumah tak ada ayahnya, dia rewel dan mencari-cari ayahnya atau menciumi foto-foto ayahnya. Tapi ketika tahu dia ada di dekat ayahnya, meski di kuburan, dia tenang.



Aku mendadak kasihan pada adikku. Semoga dia diberi ketenangan menghadapi semua yang harus dihadapi. Ayah & ibuku mungkin menemani dia sekitar 6-7 hari. Adikku tentu harus mengurus semua karena kematian itu; mulai dari harta hingga persoalan yang mungkin tak dia ketahui. Apa misalnya dia menyembunyikan deposito atau warisan. Mengurus kematian aku yakin sama repotnya mengurus kelahiran. Aku saja repot mengurus kelahiran dua anakku dulu. Bedanya, suasana mengurus kematian mungkin sedih; sementara mengurus kelahiran gembira. Bagaimana kalau ternyata suami adikku punya utang besar yang selama ini tak ketahuan? (Semoga tidak.) Aku berharap keluarga suaminya tetap baik sebagaimana mereka buktikan selama ini. Aku sendiri janji akan tambah rajin menghubungi adikku.



Dari P. aku menuju Cijulang, tanah leluhur keluargaku. Cijulang ini desa di sekitar pantai Pangandaran. Keluarga besar ayahku tinggal di sini. Aku juga sangat jarang ke sana. Istri pertama Aa Gym---Teh Ninih---berasal dari sini. Dia anak ajengan sebuah pesantren. Sekarang, di Cijulang ini tinggal paman dan dua uaku. Banyak juga sodara lainku di sini, tapi semua itu terhubung sempurna oleh ayahku dan sodara-sodaranya. Pamanku baru-baru ini dirawat 29 harian karena sakit jantung. Waktu aku ketemu, tangan kanannya masih gagal digerakkan, sementara yang kiri sudah cukup normal, bisa buat pegang hp. Yang parah kakinya, masih sakit luar biasa, meski sekarang agak mending. Mungkin ini sakit dia yang paling parah. Dari cerita bibiku, pamanku mengalami near-death experience di puncak sakit waktu dirawat. Dia berkali-kali meracau tentang ibunya (nenekku.) Terakhir kali aku mau diajak ke Cijulang ialah waktu Lebaran lalu (1428 H), oleh keluarga lengkap Kang Indra. Sayang aku nggak bisa karena masih di Serang, di keluarga mertuaku.



Pulang ke Bandung sambil mulai baca Imperium (Robert Harris). Novel ini ditulis dengan rancangan sempurna, terutama dari sisi setting dan pembentukan karakter. Aku merasakan Romawi zaman kuno, pidato khas para politikus (terutama tentu saja oleh Cicero), intrik politik, keculasan bandit politik, bahkan kuil-kuil yang berdiri di sana. Rasanya gambaran tentang Romawi kuno yang sering aku lihat di buku filsafat atau sejarah terwujud sempurna di situ. Keterbacaan terjemahan Femmy Syahrani dan editan Siska Yuanita ini juga top. Sekali buka, aku menghabiskan lebih seratus halaman. Tapi sayang kini belum bertambah lagi karena aku harus fokus lagi pada order yang belum beres.



Kematian suami adikku memberi aku jeda agak lama tentang kehidupan. Entah kenapa bareng dengan kematian adik iparku itu keluargaku banyak kena musibah. Keponakanku dari pihak istri, yang seusia Shanti (menjelang 2 tahun), baru-baru ini terguyur air mendidih; sementara uaku (ibu angkatku) sampai dirawat di rumah sakit karena shock mau diperas penjahat dengan bilang bahwa cucu dan menantunya kecelakaan parah. (Sebenarnya, ini tipuan klise.) Kematian terakhir yang bikin aku terdiam ialah wafatnya Lisa Lukman; teman dari Jakarta yang tiap ke Bandung pasti nginep di rumah. Dia sebentar lagi jadi sarjana dari Driyarkara; tapi hidup lebih cepat menghendaki kematiannya.



Suatu hari aku bakal mati. Aku hidup ini juga salah satunya menunggu mati. Betulkah? Rasanya semua kematian itu mendadak. Baru-baru ini Ubing dapat sms bahwa Wira meninggal. Wira ini anak Klab Nulis yang dulu dia fasilitasi, juga pernah mengiringi Ilalang main gitar waktu perpisahan TK. Itu mendadak sekali. Kata ibuku, dulu, waktu masih kelas 4 SD (tahun 80-an), aku juga sudah hampir mati. Aku kena muntaber bareng kakakku. Tapi aku yang akhirnya selamat dan sehat; sementara kakakku meninggal. Dia kelas 6 kalau tidak salah. Sekarang, aku rasanya masih ingat bagaimana sakit disentri, rumahku tiba-tiba penuh sesak oleh orang lain, sekilas terlihat mata ibuku sembab, juga orang bikin patok.



Boleh jadi aku bohong sedang menunggu mati, sebab aku juga tak menyiapkan apa-apa buat pergi ke sana. Aku bahkan tambah banyak menumpuk dosa. Salah satu yang bikin aku semangat menghadapi kematian ialah aku agak yakin bahwa kematian bakal menghentikan dosaku. Waaah---apatis sekali kamu, Wartax!



Seperti apa rasanya jadi janda? batinku. Mungkin terlalu dini membicarakan itu pada adikku. Sebagian temanku cerai, kawin sama janda/duda, kawin lagi dengan gadis. Uaku sendiri janda cerai, dan ia tampak bisa mengarungi hidup baik-baik saja sepengetahuanku. Kalau aku perhatikan dari reaksi orang di sekitar Panorama, aku yakin uaku dihormati banyak tetangga. Itu membuat aku lega. Tiga dari sodara kandung Ubing juga pernah jadi janda. Jelas kualitas orang tak ditentukan apa dia janda atau gadis dan sejenisnya. Kadang-kadang, dalam putus asaku menghadapi perkawinan dan rumah tangga, aku pikir mungkin menarik jadi janda/duda; sebab orang bisa bebas lagi menentukan segala sesuatu sendirian. Tapi hidup sendiri juga punya drama. Jadi hadapilah kenyataan kamu sebaik-baiknya.



Semoga adikku baik-baik saja dengan kehidupannya, termasuk diberi kekuatan dan ketabahan menghadapi segala tantangan.[]11/Juni/08



PS:
* Adikku bernama Umi Kulsum. Dia alumni Universitas Jenderal Soedirman, jurusan biologi; sementara suaminya bernama Anggoro.
* Soal betapa fatal sirosis, cek http://en.wikipedia.org/wiki/Cirrhosis dan eksternal linknya.