Friday, February 12, 2010


[BUKU INCARAN]

Ceramah Panjang Langdon tentang Freemasons
---Anwar Holid

Bentang mempertaruhkan rekor nilai kontrak yang pernah mereka buat untuk bisa mendapatkan hak terjemahan The Lost Symbol (707 hal.) karya Dan Brown ke dalam edisi Indonesia. Salah satu imprint kelompok Mizan ini menerbitkan novel yang penjualannya memecahkan rekor dalam sejarah pasar novel dewasa. Edisi Inggris The Lost Symbol diproduksi sebanyak 6,5 juta kopi untuk cetakan pertama---5 juta untuk pasar Amerika Utara, 1,5 juta untuk Inggris. Reuters melaporkan bahwa jaringan toko buku Barnes & Noble membukukan pembelian tertinggi untuk penjualan hari pertama sebuah judul buku, baik di toko maupun lewat online. Begitu terbit pada 15 September 2009, novel itu terjual lebih dari sejuta kopi di hari pertama. Jutaan penggemar Brown sudah beberapa tahun lalu menanti-nanti The Lost Symbol sejak dia dijadwalkan merilis novel baru tahun 2007 yang berjudul tentatif "The Solomon Key."

Di Indonesia The Lost Symbol terbit dengan persiapan matang. Untuk menggoda publik, penerbit mengadakan lomba komentar bertema lomba "Mengapa Saya Ingin Membaca The Lost Symbol" berhadiah novel tersebut beserta gimmick berupa gantungan kunci, tali handphone, dan kalender 2010 The Lost Symbol berbentuk piramida. Lebih serius dari itu, terasa betapa penerbit mengerjakan proses penerbitannya dengan sungguh-sungguh. Untuk buku setebal lebih dari satu rim, penyuntingan novel ini boleh dibilang sempurna. Tingkat keterbacaan buku ini tinggi dan boleh dibilang bersih dari noda salah eja. (Seingat saya hanya merasa menemukan satu salah eja di bagian akhir novel itu---yaitu 'mersusuar'---tapi tak langsung menandainya, jadi ketika memeriksa lagi malah gagal menemukan.) Kualitas editan dan terjemahan novel ini hebat. Dari segi penyajian, sisi ini patut dihargai. Edisi Indonesia novel ini terbit pada 25 Januari 2010. Untuk menambah bobot, penerbit meminta endorsement dari penulis sekaliber Radhar Panca Dahana, Tasaro, dan E.S. Ito.

Saya sendiri mula-mula bereaksi sengit begitu tahu bahwa novel ini akan diterbitkan oleh kelompok Mizan. Namun komentar sejumlah orang, disusul press release Penerbit Mizan: Mengapa Bentang Pustaka (Mizan Grup) Menerbitkan The LOST SYMBOL?, akhirnya membuat saya maklum.

Kisah The Lost Symbol fokus pada gerakan Freemasonry, berlangsung kurang-lebih kira-kira 12 jam dalam kehidupan Robert Langdon. Mulai dari sore hingga fajar hari berikutnya, Langdon kebut-kebutan dengan penjahat gila yang terobsesi oleh janji religius untuk menjadi manusia-tuhan (demigod), ditambah intimidasi CIA yang curiga atas aktivitas dan keterlibatan Langdon. Dan Brown mengintensifkan ketegangan permainan berbahaya ala anjing dan kucing di antara ketiga pihak itu di sepanjang halaman, diselang-selingi jejalan berbagai informasi, perdebatan tentang iman, tafsir terhadap karya seni dan kekayaan arsitektur, teori konspirasi, studi ilmu noetik, dan tentu saja: pemecahan simbol rahasia.

Robert Langdon secara mengejutkan mentah-mentah tertipu oleh undangan dari Peter Solomon, mentor yang ia hormati, berasal dari keluarga aristokrat Amerika Serikat, sekaligus kepala Institut Smithsonian dan seorang patron Mason dengan pangkat derajat 33---derajat tertinggi di kelompok tersebut. Awalnya Langdon antusias memenuhi permintaan Solomon untuk berceramah di institusinya. Namun begitu sampai di Capitol, ia malah "dipancing" dengan potongan tangan kanan Solomon dengan tuntutan agar Langdon memecahkan misteri kuno sebagai tebusan atas penculikan Solomon. Berbekal telunjuk yang mengarah pada lukisan fresko The Apotheosis of Washington, cincin Freemason, dan sebuah kotak tua titipan Solomon, Langdon dipaksa mengerahkan seluruh kecanggihan intelektualitasnya untuk menyelamatkan Solomon. Rupanya, informasi Langdon dan tuntutan penjahat itu menimbulkan kecurigaan pihak CIA, yang menganggap bahwa pemecahan misteri itu terkait dengan "keamanan nasional" pemerintahan Amerika Serikat. CIA yakin bahwa Langdon justru terlibat dalam gerakan makar, dan terus-menerus mencurigainya sebagai bagian dari teorisme agama.

Pemecahan misteri ini begitu rumit, penuh simbolik, sepotong-potong, berlatar belakang mitos di perkumpulan terkemuka yang melibatkan konspirasi sekte agama, ritual kuno, dan ambisi kekuasaan. Bagi orang yang tertarik pada perbincangan simbol agama, tafsir-tafsir implisit dalam kitab suci, bahwa hampir semua wahyu Tuhan itu pasti melangit lagi bersayap---dalam kasus ini terutama berasal dari Alkitab---dan makna penciptaan manusia, novel ini jelas mampu memenuhi kepenasaran mereka atas berbagai isu utama agama, misalnya siapakah Tuhan itu, mengapa dia kadang-kadang memaksa manusia melakukan hal-hal irasional? Apa gunanya iman, apa ia bisa menyelamatkan manusia dan kehidupannya? Apa isi utama kitab suci agama-agama? Kenapa ada banyak hal musykil terjadi di dalamnya? Dengan menjalankan prosesi dan ritual tertentu, penjahat dalam novel ini terobsesi oleh keyakinan bahwa manusia bisa mencapai derajat mirip tuhan, apalagi dia secara bertahap merasa mendapat pencerahan. Dia percaya kunci perubahan derajat manusia itu disembunyikan oleh kaum Freemasons, dan karena Peter Solomon menolak membuka rahasia, dia memaksa agar Langdon bekerja untuk dirinya. Puncaknya dengan membalikkan skema ritual pengorbanan Ibrahim mengorbankan anaknya.

Tertekan oleh pengawasan dan interogasi Inoue Sato---Direktur Office of Security CIA yang langsung mengepalai operasi pencegahan upaya makar terhadap pemerintahan---Langdon terpaksa bercerita panjang lebar tentang Freemasons dan pengaruhnya pada visi di awal pendirian Amerika Serikat. Para bapak bangsa negeri itu memang menganut Freemasons, antara lain George Washington, Thomas Jefferson, Benjamin Franklin, dan James Madison. Meski boleh dibilang cukup terbuka, gerakan Freemasonry tetaplah terasa misterius. Di zaman itu, Freemasons berpengaruh besar terhadap pandangan dunia mereka, dan nilai-nilai itu mereka coba warisan ke generasi selanjutnya, meski lama-lama dipenuhi mitos misterius. Gale Encyclopedia of the Unusual and Unexplained memasukkan Freemasonry dalam entri "Secret Societies and Conspiracies." Salah satunya ialah anggapan bahwa mereka menyimpan rahasia terhadap keberadaan Sang Mahatinggi. Organisasi perkawanan ini dahulu digjaya karena anggotanya orang terkemuka dan berpengaruh, namun sejak 1826-an keanggotaan dan citranya mengalami kemunduran drastik dipicu oleh kontroversi internal atas kematian William Morgan, seorang Mason yang berniat membeberkan rahasia Freemason ke dunia. Dia mati di tangan anggota Mason sendiri.

"Yang bikin excited calon pembaca Indonesia mungkin antusiasme mereka terhadap Amerika Serikat yang selalu dikaitkan dengan kekuatan 'phantom power' à la Freemasons atau zionisme. Dengan baca buku ini publik berharap bisa mendapat jawabannya," demikian komentar Nuning Hallett, seorang warga Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat. Dia mendapat novel itu sehari sebelum peluncuran di AS.

Dengan cepat Brown membuka selubung ambisi kekuasaan dengan ilusi keabadian dan pencerahan sebagaimana janji-janji agama. Lawan tangguh Langdon ialah orang telah mengalami tiga fase kehidupan, itu membuatnya jadi begitu kuat, penuh perhitungan, dengan dendam tanpa ampun. Di masa kecil, orang ini awalnya bergelimang kenikmatan duniawi, tapi perjalanan hidup mengubahnya mampu mengalahkan hasrat duniawi maupun seksual, sampai mengalami epifani bahwa dirinya bisa mencapai kesempurnaan. Dia mempelajari cara melakukannya, hanya sedikit terhadang oleh rahasia yang disembunyikan begitu rapat dan berlapis-lapis oleh persaudaraan Mason. Kali ini misterinya terasa lebih sulit bagi Langdon karena mereka menyembunyikan kunci simbol di dalam simbol.

Lepas dari kejar-kejaran dengan waktu dan ancaman baik dari sang lawan atau CIA, insiden itu sedikit-banyak bersinggungan dengan ilmu noetik, studi mengenai pikiran manusia dan upaya riset teknologi apa ruh bisa diteliti secara fisik. Di sini Langdon kembali beradu cakap panjang lebar dengan Katherine, eksponen utama ilmu noetik adik sang korban penculikan. Mungkin diskusi antara iman-ilmu pengetahuan-misteri kuno lebih menarik dibanding thrillernya, meski menurut Laura Miller---kritikus sastra pendiri Salon.com---argumen dalam novel ini dianggap pseudosains. Sebagai thriller, cerita The Lost Symbol mudah ditebak, ancamannya kurang melahirkan ketegangan puncak. Dan Brown sengaja merancang kisah ini lewat gaya bercerita serba tahu, mengisahkan secara menyeluruh, dan membiarkan pembaca mengira-ngira terus apa logika kejadiannya masuk akal atau musykil. Sangat mengherankan betapa persaudaraan yang sesama anggotanya saling menjaga ini juga bisa disusupi oleh orang yang ingin menghancurkan dari dalam.

Lepas bahwa Dan Brown merupakan penulis populer dengan rekor penjualan gila-gilaan, namanya terabaikan dalam buku rujukan bacaan semacam 1001 Books You Must Read Before You Die (2008). Reputasinya di dunia kepenulisan, apalagi di hadapan para kritikus, memang buruk---ini diperparah oleh beberapa gugatan kasus pelanggaran hak cipta terhadap dirinya, meski semua dia menangi. Namun apa pun komentar kritik dan pendapat media terhadap karyanya, puluhan juta penggemar Dan Brown pastilah benar: mereka suka tenggelam ke dalam labirin konspirasi dan penuh imajinatif berusaha menguliti lapis demi lapis misteri. Di sisi pasar, kondisi, kontroversi, serta publisitas Dan Brown bakal memudahkan Bentang untuk bisa memenangi pertaruhan selera massa.[]

Anwar Holid bekerja sebagai penulis, editor, dan publisis. Blogger @  http://halamanganjil.blogspot.com. Dia suka kesulitan memahami misteri kehidupan.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.

No comments: