Monday, November 19, 2012

Jadilah Serigala Lapar di Antara Domba yang Tersesat
---Anwar Holid

Bincang buku Lokasi Tidak Ditemukan menjadi konferensi para pemadat musik.


Taufiq Rahman, Ismail Reza, Budi Warsito (ki-ka).
"Sebenarnya alasan saya menerbitkan buku ini ialah agar bisa jalan-jalan," kata Taufiq Rahman dengan nada serius, tetapi orang-orang malah tertawa. "Waktu tur buku Like This, saya berkesempatan bertemu banyak pegiat scene musik di berbagai kota dan saya tahu ada banyak orang baik di sana." Kali ini buku debutnya Lokasi Tidak Ditemukan: Mencari Rock And Roll Sampai 15.000 Kilometer diperbincangkan secara intim dan blak-blakan pada Minggu, 18 November 2012 di Kineruku, Bandung. Di tempat yang dianggap sebagai "the coolest library in town" ini Taufiq kembali bertemu puluhan orang fans musik rock’n’roll. Salah satunya Ismail Reza, seorang penggila musik yang cukup familiar di Bandung. Dia menanggapi buku itu sekaligus mengorek lebih dalam isi kepala Taufiq. Di antara hadirin tampak Ucok Homicide, Anto Arief dari 70's Orgasm Club, juga Harlan Boer yang baru saja merilis EP Sakit Generik. Taufik mengaku, para pegiat scene musik lokal itulah yang sangat berjasa membantunya menyebarkan ide dan berbagi antusiasme musik di situs yang dia dirikan bersama Philips Vermonte, Jakartabeat.net.

Lokasi Tidak Ditemukan menarik bukan saja karena membukakan mata untuk mendengar musik-musik penting yang mungkin belum terjelajahi atau terlalu tersingkir oleh musik niaga (mainstream), melainkan juga berusaha memuat banyak pemaknaan sewaktu menikmati musik, baik lewat album, nonton konser, juga menziarahi tempat-tempat legendaris di dunia rock and roll. Taufiq menemukan dan menawarkan banyak hal dari penjelajahan itu. Bertutur ala catatan personal, dia secara jeli berusaha menyusun konteks sosial-politik suatu musik, baik merekatnya dengan penelitian musikolog, data statistik, maupun hipotesis yang kelewat berani. Sikap ini lahir dari keyakinannya bahwa “menulis musik adalah menulis tentang manusia."

Menandaskan hal itu Ismail Reza bilang bahwa menulis musik yang baik mestinya memang harus bisa membuka banyak kemungkinan. "Musik yang baik kalau bisa semakin banyak menghasilkan tafsir baru setiap kali didengar," kata dia. Dia menyatakan bahwa para pemadat musik seperti Taufiq---yang ingin menyatakan bahwa dirinya menemukan musik berharga---harus bisa menjadi serigala lapar di tengah domba-domba tersesat. Misinya ialah dengan ganas dan jujur mengabarkan musik yang bagus kepada khalayak, sebab industri musik dengan segala kepentingannya secara cerdik pula mampu menipu telinga dan otak banyak orang agar mengonsumsi produk musik yang "dianggap bagus" padahal sebenarnya busuk.


Itu membuat perdebatan seperti apa musik yang bagus dan apa kriterianya jadi sangat relatif. Buat Reza jawabannya telak, "Musik yang bagus adalah musik yang gua suka." Orang yang bilang seperti ini harus bisa menjelaskan dan meyakinkan orang lain kenapa musik yang disukainya bagus, layak diapresiasi, dan produk musik lainnya pantas dibuang. Sementara menurut Taufiq musik yang bagus ialah yang punya dampak sosial-politik kuat. Musik seperti itu tidak terbatas hanya karena laku sekian juta kopi atau mendapat habis-habisan dari berbagai media dan komentator terkemuka. Orang yang mau menulis musik selayaknya mengabarkan pada publik setiap kali menemukan musik bagus. Itu yang membuat kini Taufik mengaku sudah meninggalkan musik rock and roll umum---terutama produk Barat, bahkan yang dianggap masterpiece sekalipun---dan memilih melanjutkan penjelajahan ke ranah yang belum banyak tergali, entah dari Arab, Afrika, anak benua India, dan tentu saja Indonesia. "Menulis musik bukan lagi 5W1H, melainkan creative writing," ujarnya. "Kita harus bisa membuat agar subjeknya jadi menarik."

Meski bisa jadi cara bertutur tulisan Taufiq bagi sebagian orang terasa kurang fun, bahkan berisiko dianggap snob dan pretensius, harus diakui banyak pembaca bilang bahwa Taufiq menulis musik dengan passion, dengan gairah tinggi. Kata Ucok, "Saya tahu Taufik tidak suka hip-hop, tapi hanya dia yang mampu mereview album Homicide dengan benar." Itulah yang membuat perjalanan Taufik bersama musik rock seolah-olah tak akan pernah mau berakhir, karena ia terus menemukan "lokasi-lokasi" baru yang menawarkan hal berharga. Dia menolak membuang tinta dan kata untuk musik yang buruk, bahkan kalau perlu coba dilawan dan dihancurkan.[]

Anwar Holid, bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.

Taufiq Rahman: @rahmantaufiq
Situs terkait dan pemesanan buku: http://www.jakartabeat.net, http://www.kineruku.com