Showing posts with label rock. Show all posts
Showing posts with label rock. Show all posts

Friday, April 17, 2026

Juned, Rubin, dan Filter Informasi 

Oleh: Anwar Holid 



Juned berdiri di depan rak sebuah toko buku impor di mal dekat tempat tinggalnya. Dia sengaja ke sana karena sudah beberapa bulan tidak mampir ke toko buku, tempat favoritnya, meski sangat selektif sebelum memutuskan beli. Matanya melongo waktu melihat sebuah buku di area yang dikasih tanda 'Non-Fiction - Best Seller.' Hard cover. Desain sampulnya simpel, tapi sangat kuat. Berwarna putih pudar, hanya ada lingkaran dengan titik di tengah. Di kanan atas tertulis: The Creative Act: A Way of Being. Di kanan bawah tertulis: Rick Rubin. Gambar itu langsung mengingatkannya pada CD atau piringan hitam. Pada target atau fokus. Sementara di sampul belakang hanya ada lingkaran tanpa titik, tanpa sinopsis, tanpa endorsement.

Ia ambil buku itu. Dipegang-pegang. Perasaannya meronta-ronta. Segera ia tertarik. Kebetulan sudah tidak dibungkus plastik. Lembar-lembar halaman ia buka-buka dan matanya berusaha mencerap isi dalam sekejap. Juned terpaku sejenak, bibirnya seperti senyum-senyum tanpa ada yang meminta. Waktu di toko buku itu seakan melambat. Istri Juned yang ada di sampingnya memperhatikan tingkahnya. Ia ikut melirik buku yang dibuka-buka Juned. Ia penasaran apa yang membuat suaminya langsung tertarik pada buku itu. Lantas beberapa saat kemudian waktu pecah. Mereka bertatapan. Juned menoleh pada istrinya.

"Apa??" kata dia sambil tersenyum, "kamu tahu Rick Rubin enggak?" Telunjuknya mengarah pada tulisan nama yang tertera di sampul.

"Enggak. Emang siapa dia?" tanya istrinya dengan nada polos.

Juned tertawa kecil, lalu berkata, "Sayang kan lagi tahu banyak banget tentang Ammar Zoni, dari A sampai Z. Sementara aku cuma dengar namanya, tahu sekilas soal skandalnya. Nah, aku tahu jauh lebih banyak tentang Rick Rubin daripada kamu."  Suara Juned terdengar puas. Istrinya mesem sambil tertawa kecil. Ucapan Juned tambah bikin ia penasaran.

"Memang siapa Rick Rubin?" tanyanya lagi.

Juned tertawa lebar. Istrinya makin aneh melihat Juned. Juned gembira ada sesuatu yang dia ketahui cukup banyak, tapi istrinya tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Lantas Juned menyadari betapa topik yang menarik perhatian mereka berdua ternyata bisa sangat berbeda, meskipun mereka hidup bersama.



Juned pertama kali tahu nama Rick Rubin lebih dari 30 tahun lalu, saat ia baru dewasa dan suka membaca kredit informasi di sampul album-album musik favoritnya. Rubin adalah produser musik legendaris dengan reputasi luar biasa di industri musik dunia. Ia dikenal karena pendekatan produksinya inovatif. Ia membantu menciptakan album-album ikonik dan hebat dari berbagai genre, mulai dari rock, hip-hop, hingga heavy metal. Banyak musisi/band yang pernah bekerja sama dengan Rubin ialah favorit Juned, seperti The Cult, Slayer, Red Hot Chili Peppers, Audioslave, Metallica, Linkin Park, dan lain-lain. Daftar panjangnya silakan cek di Wikipedia. Rubin bahkan memproduksi album Adelle, penyanyi pop yang lagunya sering tak sengaja didengar Juned meski dia tak menginginkannya. Album terakhir Black Sabbath juga diproduseri Rubin.

Bagi Juned, Rubin adalah sosok yang merevolusi cara musik diciptakan. Karena itu begitu melihat
The Creative Act, Juned langsung merasa terikat. Bisa dibilang Rubin identik dengan album berkelas. Grammy Award dan ulasan critically acclaimed adalah buktinya. Meski tidak lepas dari kritik atau kontroversi, Rubin bersih dari skandal murahan. Trivia yang pernah Juned dengar tentang Rubin cuma ketika dia menahan Dave Lombardo agar tidak ke luar dari Slayer dengan memberinya bonus mobil dan melunasi kebutuhan hidupnya.

Juned heran bila seseorang jadi berita viral karena skandal, entah cekcok perkawinan, seks, kriminalitas, atau narkoba. Lebih aneh lagi ada banyak orang mengonsumsi berita itu seperti pil yang harus diminum tiga kali sehari. Padahal seseorang lain berada di luar radar perhatian berkat kerja hebat di belakang layar. Apa orang seperti Rubin sembunyi di balik studio dan membiarkan agar karyanya saja yang bicara?

Istrinya merasa penting untuk terus mengikuti berita dan komentar netizen tentang kasus yang dialami selebrita, sehingga membentuk pengetahuan 'secara utuh' dari berbagai sudut pandang. Tapi, bagi Juned itu adalah sampah, tak lebih dari informasi liar tanpa ada validasi antara yang jelas dan prasangka. Sebaliknya, pengetahuan tentang peran dan idealisme seseorang seperti Rick Rubin dinilai berharga bagi Juned, tapi tak berarti apa-apa bagi istrinya. Juned membatasi diri dari berita selebrita, sementara istrinya justru menelisik lebih dalam. Istrinya lebih suka menyerap info tentang resep, cara memasak dan membuat kerajinan, sementara Juned lebih suka membaca tulisan-tulisan panjang di WAG yang diikutinya.

Fenomena Juned dan istrinya membuktikan bahwa setiap orang memiliki minat pada informasi yang berbeda, meski mereka hidup bersama dan berbagi rutinitas. Ada informasi yang tidak beririsan dalam kehidupan mereka. Informasi yang dinilai berharga bagi seseorang bisa tidak berarti bahkan bagi orang terdekat sekalipun. Setiap individu memiliki filter informasi sendiri, memilih apa yang ingin diserap berdasarkan minat, pengalaman, atau sesuatu yang sedang dicari. Peluang inilah yang diolah dan terus diproduksi oleh penulis atau konten kreator, sementara platform berita dan media sosial memancing selera dan pilihan berdasarkan algoritma sampai muncul di beranda. Keputusan terakhir ada di tangan pemirsa.[]

 

Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis. Blog: halamanganjil.blogspot.com. IG: @anwarholid.

 

Friday, May 23, 2025



Becoming Led Zeppelin: Cerita Tiga Kakek Rocker
dan Wawancara Langka John Bonham

Oleh: Anwar Holid 


Becoming Led Zeppelin (stdr. Bernard MacMahon, 2025)  adalah film dokumenter tentang tahun-tahun awal terbentuknya sebuah band legendaris yang sangat berpengaruh di dunia rock dan heavy metal. Menghadirkan ketiga personel yang sudah sepuh, yaitu Jimmy Page, Robert Plant, John Paul Jones, sementara John Bonham yang sudah meninggal dunia dihadirkan melalui rekaman wawancara yang katanya langka dan baru kali ini disiarkan.

 

Ketiga personel Led Zeppelin dihadirkan dalam satu ruang, lantas bicara dari sudut pandang masing-masing. Dikisahkan juga latar belakang keluarga, masa kecil, dan musik-musik yang mempengaruhi dan membentuk mereka. Yang paling banyak bicara ialah Jimmy Page, gitaris sekaligus konseptor, produser dan pemimpin mereka. Jimmy membentuk Led Zeppelin setelah band dia sebelumnya, The Yardbirds, bubar. Dia ingin membentuk band yang inovatif dan eksploratif, bukan sekadar terpengaruh oleh musik blues. Jimmy adalah gitaris yang berani memainkan gitar dengan digesek atau disentak, sehingga menghasilkan suara yang kompleks, liar, dan imajinatif. Dia menggali berbagai elemen dan inspirasi dari beragam jenis musik, seperti musik Afrika, Arab, dan India.

 

Didukung ketiga temannya yang juga berbakat, harapan Jimmy disambut antusias dan ditangani serius oleh manajer mereka, Peter Grant. Peter membantu mereka mendapatkan kontrak rekaman dengan label besar dan sudah mapan (Atlantic Records), juga mengurus jadwal konser dan tur. Led Zeppelin bahkan sudah jadi incaran berita sebelum menghasilkan debut album. Mereka memang mengasah dan mematangkan lagu-lagu awalnya dari konser ke konser. Pernah band ini tampil di sebuah universitas, sebagian penontonnya adalah orangtua yang membawa anak-anak. Mungkin karena suara musiknya terlalu menggelegar dan memekakkan, banyak di antara mereka yang menutup telinga. Lucu. Rupanya publik belum siap dengan Led Zeppelin. Ini terbukti dari banyaknya review negatif atas album debut mereka. Banyak yang menyatakan bahwa album tersebut membosankan. Tapi, seiring waktu dan pengalaman, Led Zeppelin memperbaiki kualitas karya, sehingga bisa semakin banyak menarik perhatian massa. Paduan Jimmy & Robert semakin harmonis dan asyik dinikmati. Tarikan vokal Robert kerap bersahut-sahutan dan berkejaran dengan suara dari gitar jimmy, ditambah pukulan drum John Bonham yang sangat bertenaga dan atraktif, diimbangi ritme bas dari John Paul Jones yang tenang. Terlebih lagi John Paul Jones adalah seorang multi-instrumentalis yang mampu memperkaya dan memperindah ide-ide Jimmy Page.

Led Zeppelin yang masih hidup (ki-ka):
John Paul Jones, Robert Plant, Jimmy Page.

 Mungkin karena basis utama dokumenter ini ialah penuturan dari para personel, secara sinematografi penyajian film ini terasa agak membosankan dan monoton. Kita seperti menyimak tiga orang kakek menceritakan awal masuk dunia kerja, bagaimana rasanya tidak langsung diterima, namun bertekad untuk jalan terus berusaha kuat. Meski begitu kedalaman riset film ini sungguh terasa. Kita benar-benar dilempar mengarungi waktu, bahkan diperkuat oleh konteks situasi sosial, politik, dan budaya yang tepat. Kita bisa merasakan ketika musisi mencipta penuh pertimbangan, menghasilkan ekspresi yang meluap-luap namun begitu intim, ditunjang keterampilan luar biasa. Dari film ini kita saksikan Led Zeppelin selalu tampil di panggung yang simpel dan kompak (bahkan terkesan sempit), meskipun kala bermain di tempat nan megah dan lapang. Panggung tersebut memberi kesan betapa ikatan kreativitas mereka menyatu dengan kental dan saling menguatkan. Sutradara juga menyajikan konteks waktu yang relevan dengan era dan situasi sosial yang terjadi.

 

Bagi fans garis keras, dokumenter ini tentu sangat menyenangkan disaksikan, sebab menampilkan sesuatu yang baru dan detil yang langka. Sementara bagi fans rock atau heavy metal umum, film ini menambah sejarah tentang terbentuknya salah satu dinosaurus di genre musik yang keras nan gegap-gempita.[]

Note: Judul artikel ini merupakan saran dari redaksi Tinemu.com, waktu tulisan ini pertama kali terbit.

______________________________
Kredit Film Becoming Led Zeppelin 

Sutradara: Bernard MacMahon
Skenario: Bernard MacMahon, Allison McGourty
Bintang: Jimmy Page, John Paul Jones, John Bonham, Robert Plant
Sinematografi: Vern Moen
Editing: Dan Gitlin
Music: Led Zeppelin
Produksi: Big Beach, Paradise Pictures
Distribusi: Sony Pictures Classics
Rilis: 7 Februari 2025 
Durasi: 121 menit 
______________________________ 

Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis. Blog: halamanganjil.blogspot.com. IG: @anwarholid.

 

Friday, May 31, 2013

Pengantar Terbaik Mendengar
The Rolling Stones
--Anwar Holid


Big Hits (High Tide and Green Grass)
Album kompilasi karya The Rolling Stones
Label: ABKCO Records
Durasi: 36:29
Rilis: 1966
Produser: Andrew Loog Oldham
Genre: Rock, rock 'n' roll, blues rock


Big Hits (High Tide and Green Grass) adalah semacam album "greatest hits" dan merupakan kompilasi resmi pertama yang dirilis The Rolling Stones. Album ini secara brilian menempatkan lagu "(I Can't Get No) Satisfaction" sebagai track pertama. Inilah lagu kebangsaan yang bisa membuat ribuan penggemar The Stones seperti kesurupan kalau nyanyi bareng. Benar-benar anthemic dan memabukkan.

Sejak di awal karirnya The Rolling Stones kerap dibandingkan dan dianggap sebagai rival The Beatles. Bila The Beatles terkesan tertib dan sopan, The Rolling Stones jauh sangat terlihat urakan, bengal, memberontak, dan dianggap lebih mewakili kegelisahan kaum remaja zaman flower generation. Predikat sebagai pembawa sex, drugs, and rock 'n' roll jelas terwakili dengan sempurna dan bertahan hingga anggota band ini pada menua jadi kakek-kakek. Namun dalam kehidupan sehari-hari The Rolling Stones dan The Beatles sebenarnya bersahabat, terbukti pada tahun 1963 The Stones pernah membawakan lagu "I Wanna Be Your Man" ciptaan Lennon-McCartney yang sukses menjadi hit.

Big Hits menandai solidnya kerja sama Mick Jagger dan Keith Richards sebagai pencipta lagu utama The Stones, mengungguli usaha Brian Jones untuk mengontrol band ini, meski secara de facto dialah yang mendirikannya. Album ini juga menyertakan lagu-lagu hits awal mereka yang diciptakan orang lain, antara lain  "It's All Over Now" (Bobby Womack dan Shirley Jean Womack), "Not Fade Away" (Norman Petty dan Charles Hardin), "Time Is on My Side" (Norman Meade), sementara untuk edisi Amerika Serikat album ini menyertakan "Come On" karya Chuck Berry dan "Little Red Rooster" (Willie Dixon). Pilihan itu memperlihatkan pengaruh blues yang sangat kental dalam musikalitas The Stones.

Setelah rentang karir yang amat lama, konsisten, juga pencapaian mencengangkan, kita sekarang tahu betapa legendaris dan berpengaruhnya The Rolling Stones pada musik rock. Nah, Big Hits (High Tide and Green Grass) merupakan album yang secara luas diakui sebagai "pengantar" awal terbaik untuk mendengar seperti apa akar musik The Rolling Stones.[]

Ilustrasi dari Internet.
Big Hits (High Tide and Green Grass) bisa disewa di Kineruku, Bandung.

Anwar Holid, penggemar Queen.