Sunday, May 11, 2008

PERNYATAAN:
Artikel ini saya comot dari Citizen Journalism, Kompas Cyber Media. Ejaan dan kata saya edit sedikit agar lebih pas untuk konsumsi pembaca umum. (Anwar Holid)

Kompas Cyber Media, Kolom Kita, Jumat, 15 Februari 2008

ON THE QUESTION OF ORIGINALITY AND PLAGIARISM
---Rarasiwi, Midwest

Ketika saya membaca koko tentang pertanyaan Evi (saya tidak tahu Evi Irons atau Evi Jerman, atau Evi yang lain, kalau ada) apakah tulisan Ican tentang Top Five Jadul yang dimuat KoKi edisi akhir pekan merupakan ide orang lain atau ide asli Ican, saya jadi tergelitik untuk mengomentari. Kebetulan beberapa hari sebelumnya, topik ini mengemuka di kelas saya.

Saat itu kami, para mahasiswa, berdiskusi mengenai topik disertasi kami dan salah satu teman saya mempertanyakan orisinalitas topiknya. Dia bilang "I am not sure whether my topic is original or not since I have limitations when it comes to searching for relevant literature." Maksud dia, mungkin saja ada peneliti lain yang menulis tentang topik itu tapi tidak ketemu waktu dicari di database. Sang begawan (saya bilang begitu karena professor saya ini sangat pakar dalam bidangnya dan sangat bijaksana) hanya tersenyum dan seperti biasa dia malah melemparkan pertanyaan itu kepada kami. Karena sepertinya tidak ada yang mau menjawab dulu, maka saya beranikan bertanya balik, "Is there such thing as 100 % original? In any study, isn’t it common to look at previous studies and develop our topic from there? If not, why do we need Chapter 2, The Literature Review?"

Ketika saya meneruskan komentar saya, mengangguk-angguklah sang begawan. Pertanyaan teman saya mencerminkan percakapan antara Evi dan Ican. Evi mempertanyakan orisinalitas tulisan Ican karena dia membaca artikel yang hampir sama (mungkin lho, karena saya juga tidak tahu artikel yang dimaksud.) Ican, yang tidak pernah membaca artikel itu, jelas menyanggah. (Saya pun juga akan bilang hal yang sama if I were Ican). Kalau saja Evi tidak pernah membaca artikel yang dia email ke teman-temannya, mungkin dia akan memberi komentar lain. Maksudnya?

Begini argumen saya: dalam suatu tulisan akademik atau nonakademik, ide tidak pernah terlepas dari isi (content/delivery), dan bahan mentah (materials). Ide bisa saja original tapi isi tidak, atau sebaliknya isi orisinal tapi idenya milik orang lain. Jadi, orisinalitas itu relatif, tergantung viewpoints (idenya, isinya, atau bahannya yang dimaksud?), dan prior knowledge (pernah-tidaknya ketemu artikel yang mirip-mirip.) Saya kasih contoh yang dekat-dekat saja: Saya selalu kagum dengan Fire yang tidak pernah kehabisan ide menghibur. Apakah "tulisannya" (sekali lagi tulisan = ide, isi, dan materi) original? Bisa iya dan bisa tidak. Ide dan isinya orisinal tapi bahannya tidak, wong bahannya diambil dari sumber di Koki sendiri, entah komentar, entah panggilan untuk Zeverina. Salahkah itu? Jelas tidak. Malah tulisan-tulisan Fire segar dibaca karena diambil dari bahan yang akrab dengan Kokiers semua.

Astuti juga melakukan hal ini dalam tulisannya. Mensintesis (ini higher order of thinking dibandingkan dengan sekadar meringkas, jadi saya salut sekali) tulisan dan komentar menjadi tulisan yang menarik. Apakah tulisannya orisinal? Idenya iya, isinya iya, karena hasil sintesis itu, bahan mentahnya, tidak, karena sumbernya dari tulisan dan komentar yang ada di Koki. Boleh tidak seperti ini? Boleh sekali, begitu jawab saya. Semoga Kokiers tidak bingung. (Suami saya selalu bilang saya selalu mempersulit hal-hal yang mudah, yang harusnya tidak usah dipermasalahkan. Tapi bagi saya, justru orang sering take for granted hal-hal yang remeh itu tadi.)

Saya jadi teringat komentar teman diskusi saya di rumah, suami saya tercinta, yang berkata "Tahu nggak ada pakar yang bilang bahwa ilmu filsafat modern ini hanya merupakan catatan kaki Plato." Ha! Lha kalau filsafat yang merupakan payung segala macam ilmu merupakan catatan kaki Plato, kesimpulannya apa? Mungkin saja yang bilang begitu terlalu mengagungkan Plato atau meremehkan ide filsuf lain, saya tidak tahu. (Romo Flores saya yakin bisa lebih canggih kalau menjelaskan hal seperti ini). Bagi saya, yang menarik ya keterkaitan antara schools of thought, di bidang apa pun, keterkaitan satu ide dengan ide lainnya. Satu aliran muncul sebagai reaksi, atau bahkan penyempurnaan aliran lain. Postmodernism merupakan reaksi terhadap modernism, deconstructionism merupakan reaksi terhadap structuralism, begitu seterusnya. Sama seperti ide saya yang muncul sebagai reaksi terhadap percakapan di dunia maya antara dua kokiers (dalam tataran yang berbeda lho tapi, karena saya bukan filsuf). Saya tidak tahu apakah ide saya seperti ini pernah ditulis orang lain, atau bahkan ditulis kokiers di edisi yang dulu-dulu, yang mungkin saya pas kelewatan bacanya atau pas tidak sempat membuka Koki sama sekali. Kalau ada, saya yakin cara penyampaiannya berbeda. Masa orang tidak boleh punya ide yang sama?

Pertanyaan ini menggiring pikiran saya pada topik berikutnya, plagiarisme. Untuk menjelaskan plagiarisme, saya akan bercerita tentang pengalaman saya. Dalam mata kuliah yang saya ajarkan, sosiolinguistik, saya selalu memberi tugas mahasiswa saya untuk membuat makalah akhir. Pada akhir semester, salah satu mahasiswa saya mengumpulkan makalah yang topiknya tidak pernah saya bahas di kelas (karena sosiolinguistik merupakan topik yang luas dan saya harus memilah-milah mana yang doable (mungkin bisa dikerjakan atau dicapai---peny.) dan yang penting bagi mahasiswa saya). Itu satu. Yang membuat kening saya berkerut adalah bahasa Inggrisnya yang perfect. Bukannya saya meremehkan, tapi saya tahu bagi mahasiswa semester 6, tulisan itu terlalu sulit, tidak hanya bahasanya tapi juga konsepnya. Karena saya curiga, saya google judulnya. Muncullah artikel yang sama persis, tanpa ditambahi dan dikurangi. Mahasiswa itu saya panggil dan saya minta untuk menjelaskan. Karena saya punya buktinya, dia tidak bisa menyanggah. Akhirnya keluarlah nilai E.

Saya mencoba untuk menyadarkan dia bahwa yang terpenting bagi saya adalah membuat makalah sendiri. Bahasa tidak harus perfect (wong saya saja tidak perfect), ide bisa tidak orisinal (dalam penelitian dinamakan replication study) tapi bahan mentah harus original, atau ide original tapi pakai data orang lain (misalnya data UN, NCES, PISA). Dia menangis dan minta maaf, tapi itu semua tidak mengubah keputusan saya, nilai tetap E. Tahun berikutnya dia mengambil mata kuliah saya lagi, dan kali ini dia lulus dengan baik. Makalahnya pun saya nilai baik karena datanya asli dan analisa dia juga baik. Saya bahagia karena semua berakhir dengan baik juga.

Lalu apa definisi plagiarisme?

Ini saya kutipkan dari web sites University of Indiana: "Plagiarism is defined as presenting someone else’s work, including the work of other students, as one’s own. Any ideas or materials taken from another source for either written or oral use must be fully acknowledged, unless the information is common knowledge. What is considered "common knowledge" may differ from course to course." (http://www.indiana.edu/~istd/definition.html).

Kalau kasus seperti mahasiswa saya tadi, menurut definisi ini ya jelas plagiat (dan bagi saya merupakan academic misconduct). Kalau menurut suami saya mengutip perkataan profesornya, plagiat atau tidak hanya dibedakan dengan tanda kutip. Kalau saya mengutip artikel Ican, entah beberapa kalimat atau paragraf dan kemudian saya tulis di tempat lain tapi saya tidak mencantumkan nama Ican, ya saya melakukan plagiat. Kalau saya tulis lagi yang sama, pakai tanda petik, dan saya tulis nama Ican, ya itu tidak plagiat. Kalau kalimat di paragraf yang saya ambil, saya ubah sedikit sedikit dan saya klaim sebagai tulisan saya, ya tetap saja plagiat. Tapi kalau saya terinspirasi ide Fire dan melakukan hal yang sama dengan bahan yang berbeda (misalnya saya hanya memfokuskan pada komentar dengan bahasa selain bahasa Indonesia) dan membahas dari sudut pandang yang sama sekali berbeda, ya itu bukan plagiat.

Nah sekarang kalau judul saya "On the Question of Originality" bagaimana? Plagiat tidak karena kalau digoogle akan banyak results dengan frasa sama. Words are in public domain, begitu kata sang begawan saya. Kalau tidak, maka semua orang akan melakukan plagiat. Bayangkan saja frasa ini: The purpose of this article is to provide insights on the issue of …Kalau itu dianggap plagiat, ya hampir semua peneliti junior maupun senior yang menulis frasa itu melakukan plagiat. Karena itu words are in public domain, but concepts, ideas, viewpoints are not.

Kalau pada edisi yang lalu ada artikel tentang Pak Harto yang diambil dari buku dan ditulis di Koki tanpa menyebut bukunya, plagiat tidak? Ada yang protes saat itu di koko dan kemudian judul bukunya ditambahkan oleh Zev. Saya susah menjawabnya karena di dunia persuratkabaran jiplak menjiplak ini biasa-biasa saja. Berita yang dimuat di Kompas bisa saya baca di MSNBC atau CNN (dalam versi bahasa Inggrisnya) karena sumbernya dari Associated Press. Berita yang saya baca di Yahoo News bisa saya baca di Suara Merdeka dalam versi bahasa Indonesia karena sumbernya dari Reuters. Kalau Koki dianggap dunia surat kabar, ya tidak masalah kalau ada penulis yang menulis artikel bersumber dari koran atau buku lain, tapi masih dengan catatan, harus disebutkan sumbernya. Kompas saja selalu menyebutkan sumber kok, entah itu AP, Reuters, atau Antara. Kalau artikel itu dibawa ke tataran scholarly writing, lain lagi jalan ceritanya. Artikelnya pasti sudah dikategorikan academic misconduct.

Satu pertanyaan lagi, kalau identitas saja tidak asli masa tulisan diminta asli? (Weekss, saya bisa menuai protes ini… semoga tidak ada yang membaca artikel saya, dengan demikian saya tidak diprotes…) Silakan kokiers sendiri yang menjawabnya. Saya hanya melemparkan pertanyaan (bukan batu bata lho) yang bisa menjadi pemikiran untuk semua. Apakah tulisan kita di Koki harus menepati aturan-aturan penulisan pada umumnya atau tidak (yang berarti harus menyebutkan sumber, memberi tanda kutip kalau mengutip persis dari sumber lain)? Atau karena Koki bukan diskursus akademik maka ya seenaknya sajalah, mau ngutip kek, mau nyontoh kek, mau kutip satu buku atau satu halaman persis juga gak papa? Atau barangkali semua itu tidak penting? Atau EGP lah, gitu aja kok repot, wong nulis gak ada honornya? (Bagi saya ada lho.. intangible incentives tapi.) Anda semua saya persilakan menjawab pertanyaan ini.[]
Catatan:
koko = kolom komentar
KoKi = Kolom Kita
Buku Lawan Gaya Hidup
---Anwar Holid

BETULKAH GAYA HIDUP bisa menggerogoti perkembangan budaya literer?

Para pembela perbukuan kerap prihatin betapa buku ternyata diperkirakan mudah kalah oleh pesaing lain yang berusaha menjauhkan mereka dari buku. Mereka agak yakin bahwa gaya hidup merupakan biang keladi yang menggerogoti perkembangan budaya literer. Dampak terbesarnya ialah buku tersingkir sebagai favorit, membuat ia masuk dalam prioritas bawah kebutuhan hidup.

Menghadap-hadapkan buku dengan gaya hidup sebenarnya klise, termasuk dengan menilai pandangan bahwa buku lebih mulia daripada gaya hidup. Keduanya punya latar belakang panjang dan mengakar; fungsi dan kelebihan masing-masing khas. Mereka lahir karena inovasi, teknologi, dan kebutuhan massa. Tanpa ada teknologi dan budaya massa, buku mustahil bisa dicetak ribuan kopi dan langsung memenuhi hasrat haus buku dunia.

Saya boleh dibilang agak abai pada gaya hidup, tapi karena alasan tertentu, sulit juga menghindari diri dari serbuan itu, terpaksa harus menerima kehadirannya. Misal memiliki handphone (HP). HP buat saya bikin beban, karena menambah pengeluaran rutin. Dengan menghabiskan kira-kira Rp.70 ribu per bulan untuk beli pulsa, kalau mau bisa saya gunakan untuk beli buku atau langganan Writer's Digest. HP saya kelas teri, tak ada fitur mp3 player, tanpa kamera, tak bisa terima mms, tapi untuk memenuhi garis gaya hidup, rasanya cukup. Saya jelas lebih cinta buku daripada HP; saya baru beli pulsa kalau mau habis masa aktif dan sering saya biarkan kosong. Tapi dari HP saya terima order atau janjian untuk mengerjakan proyek perbukuan. Jadi HP cukup berharga buat dipertahankan.

Yang sering saya pikirkan ialah bagaimana cara kalangan industri buku bisa mempersuasi masyarakat untuk meningkatkan daya beli buku, agar mau belanja lebih banyak buku. Mungkin ini terkait dengan penghasilan. Orang sudah bisa beli pulsa dengan Rp.5000; dengan uang segitu kita hanya bisa dapat buku loak atau cuci gudang, yang baru dijual di tempat khusus dan waktu tertentu. Ini repot. Buku kalah bersaing. Orang berpenghasilan rendah dan banyak keperluan lain terpaksa menunda keinginan beli buku, semata-mata karena tak terjangkau. Padahal kalau bisa, mereka juga ingin punya buku bagus, meski harganya bisa di atas satu juta rupiah. Yang menarik, sering ada buku kuno ternyata berharga jutaan; sementara makin kuno HP, ia makin tak berharga.

Bagaimana cara menjadikan buku sebagai gaya hidup, agar orang makin mau belanja buku? Itu pertanyaan sulit. Ada faktor "kemudahan" di sana. Bawa HP ringan, fleksibel, keren; sementara bawa buku agak berat, butuh ketenangan buat mengakses, meski tetap bisa gaya dan keren. Rasanya keren kalau saya bawa-bawa Cherish Every Moment (Arvan Pradiansyah) atau Muhammad: Prophet for Our Time (Karen Armstrong) kala naik angkot. Atau tahu seseorang sudah baca Martin Amis atau Salman Rushdie. Saya selalu menyarankan judul buku kalau memungkinkan. Saya sering bertemu bookaholic, meski HP mereka bocel-bocel saking tua. Sekarang mana keren kalau orang tak tahu Laskar Pelangi atau Ayat-ayat Cinta?

SAYA TAK BERUSAHA menganggap gaya hidup jadi salah satu perusak masyarakat mau baca. Trend buku bisa berubah menggairahkan dan kadang-kadang jadi massif. Banyak orang menilai kesuksesan Pesta Buku Jakarta atau Islamic Book Fair merupakan tanda bahwa masyarakat sebenarnya punya daya beli buku besar. Haidar Bagir, CEO Mizan Publika, kemarin terpilih sebagai salah satu Top Ten The Best CEO 2008 versi SWA, itu tanda bahwa industri buku mengalami kemajuan pesat, termasuk dari segi manajerial. Digibookgallery.com menerbitkan buku digital yang bisa dibaca di HP, PDA, notebook dan PC---saya pikir itu tanda zaman sudah berubah. Bagaimana cara agar pemilik HP canggih dan perangkat gaya hidup era informasi mau beli buku digital yang harganya lebih terjangkau dari buku kertas? Dalam industri, komoditas harus mencari cara agar bisa diserap pasar sebesar mungkin, termasuk kalangan paling miskin. Rasanya malu menyalahkan gaya hidup sebagai alasan orang malas beli buku.

Keprihatinan tersingkirnya buku oleh gaya hidup mungkin malah bisa membuat buku tambah sulit dijangkau, karena kalangan perbukuan sendiri menganggap begitu. Banyak yang suka baca, tapi tak bisa beli buku. Mungkin salah satu kuncinya ialah mendekatkan buku pada massa, biar mereka bisa mengakses dan memiliki, dengan begitu barangkali bakal tercipta masyarakat yang punya keinginan kuat (demand) terhadap buku.

Keinginan saya pada buku rasanya malah tiada habis. Tapi apa daya tak terbeli semua. Saya ingin punya ensiklopedia, kamus bagus, novel kelas dunia, serial mahal yang biasa ditawarkan lewat direct selling, dan kadang-kadang penjualnya teman saya sendiri. Walhasil, saya harus ke perpustakaan. Beberapa perpustakaan di Bandung bagus dan nyaman, seperti Rumah Buku di Hegarmanah dan Bale Pustaka di Keuskupan.

Ada kala saya sedih hidup di dunia buku. Tapi setiap kali lihat kesuksesan atau inovasi di industri ini, saya senang. Kadang-kadang saya merasa terlalu rewel pada buku, namun selalu salut pada banyak orang yang berusaha memajukan dunia buku dengan berbagai cara yang lebih tulus maupun inovatif dan canggih. Ide buku dari berbagai kalangan butuh pengabdian dan kinerja lebih baik.

Tentu industri buku harus lebih halus bersiasat menghadapi zaman, lebih mau belajar cara menyelusupkan ide buku kepada banyak orang ke balik-balik gaya hidup, mengukuhkan buku sebagai bagian esensial kehidupan, tanpa perlu khawatir digerogoti gaya hidup.[]

Sunday, March 02, 2008

Selamat Jalan, Kaset dan Mantan Presiden
---Anwar Holid


Pada hari Senin, 28 Januari 2008 ketika semua koran dan televisi menyatakan selamat jalan kepada pak Harto, aku mengucapkan selamat jalan kepada 36 kaset favorit yang aku jual ke toko musik second. Honor-honor yang aku nanti datang dari beberapa pihak ternyata belum ngalir juga, sementara kami sekeluarga sudah kehabisan beras, harus beli sayur mayur, dan bayar pembantu setiap Senin. Di antara koleksi itu ialah sejumlah album Peter Gabriel, Pink Floyd, Joe Satriani, The Cult, Steve Vai, Counting Crows, Matchbox Twenty, Fates Warning, Lokua Kanza, dan album musik klasik: Wagner, Sibelius, dan lagu-lagu adagio aransemen Herbert von Karajan. Uang yang aku dapat memang di bawah harapan (sudah aku duga sejak awal), tapi alhamdulillah setidaknya aku bisa beli beras, biskuit, dan di hari-hari ke depan kami bisa makan dengan pantas.

Aku beli koran murah (Rp.1.000,-), Tribun Jabar, untuk mendapat informasi tentang kematian pak Harto. Tertulis headline: The End: 13.10 WIB. Aku membatin, ingat ungkapan sebuah lagu The Doors: This the end, my only friend. The end. Aku rasanya juga ingat sebuah lagu tentang perpisahan, tapi entah apa itu. Atau sebenarnya aku hendak bilang begini: Good bye Mr. Former President and my cassettes---sambil teringat sebuah judul cerpen Gabriel García Márquez. Kematian pak Harto hanya berdampak dua hal saja buatku, yaitu (1) berhasil membuat aku beli koran, dan (2) bisa menggerakkan aku menulis esai. Kematian pak Harto kalah menghenyakkan dibandingkan berita kematian Freddie Mercury yang dulu aku dengar via TVRI malam-malam. Ini menyiratkan betapa aku memang boleh dibilang bersih dari pengaruh maupun ketertarikan terhadap negara, presiden, dan politik.

Berita kematian pak Harto pertama kali aku simak pada hari Minggu, 27 Januari 2007, kira-kira jam 14.30-an, waktu kami sekeluarga makan siang di warung makan serba ada yang kurang enak, sehabis menemani Ilalang dapat tambahan les main perkusi di Jendela Ide. "Wah... pak Harto sudah mati tuh," kataku, langsung terpaku pada tv yang juga tengah dikerubungi semua pengunjung dan pegawai warung. Waktu itu siaran sedang meliput sekitar rumah beliau di jalan Cendana (entah di mana letak persisnya di Jakarta) yang ricuh oleh pengunjung dan petugas. Setelah beberapa menit perhatian ke tv, aku mengasuh Shanti biar istriku bisa makan dengan tenang. Setelah itu aku makan nasi + ayam goreng dengan sambal terlalu pedas. Samar-samar terdengar berita kematian dia terus disiarkan tv sampai kami pulang. Sehabis magrib, di sela-sela ngobrol segala hal, istriku tanya, "Kamu percaya nggak sih kalau Soeharto itu korupsi?" Aku rada bingung dengan pertanyaan itu, apa juntrungannya dengan kami sekeluarga. Rupanya dia ingat laporan khusus majalah Tempo tentang hal itu. "Kalau aku baca dari media, berdasar pada investigasi mereka, aku percaya dia korupsi," kataku. "Tapi kalau ditanya apa buktinya dan siapa saksinya, aku nggak tahu. Aku nggak pernah lihat dia melakukannya." Beberapa menit kemudian aku menyergah, "Eh, apa sih hubungannya ini dengan kita semua?" Rasanya lebih suka kalau kami beralih ke topik lain. Malamnya, aku tegang menyaksikan pertandingan penyisihan Piala FA antara Manchester United vs Tottenham Hotspurs; 3-1 buat MU.

Bagi orang Indonesia kelahiran 1973-an seperti aku, Soeharto jelas bakal tertatah kuat dalam memori kami. Ketika tumbuh, langit kami cuma satu, penuh berisi Soeharto. Dia Bapak Pembangunan, perancang Pelita, yang sudah jalan memasuki periode ke-5, sudah mencapai tahap 'tinggal landas', namun akhirnya ternyata kandas. Setelah itu cuaca langit kami berganti-ganti begitu drastik, mulai dari Habibie, Gus Dur, Megawati, dan sekarang Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang di foto Tribun Jabar terlihat memberi hormat dengan gaya resmi di depan keranda jenazah pak Soeharto. Wah... sinismeku langsung mendidih. Bagaimana mungkin presiden seperti itu, yang jelas kelihatan inferior bahkan di depan mayat seniornya, bakal punya iktikad mengadili kontroversi seputar status hukum Soeharto. Aku yakin harapan M. Fadjroel Rachman dan kawan-kawan agar keadilan tetap hidup bakal seperti pepesan kosong.

Aku ingat, dulu waktu SD kami bahkan sampai hapal semua menteri yang jadi pembantu Soeharto, habis bakal masuk ulangan. Apa nggak gila tuh? Kami ingat TVRI menyiarkan laporan khusus berisi kunjungan Soeharto ke daerah atau ladang pertanian dan sawah, Kelompencapir (yang namanya selalu dikritik oleh Pusat Bahasa), sidang-sidang beliau dengan para menteri, sampai akhirnya bisa meniadakan jadwal tayang film. Baru pada 1998 era itu tamat, dan siapa sangka, jelas di luar dugaanku, betapa begitu lama beliau mewarnai sebuah kanvas bernama Indonesia, sampai akhirnya boyak-boyak, sebagian rombeng dan kusam di sana-sini. Sisanya ialah sekarang; 'pembangunan' jelas ada jejaknya, dan berlanjut, dengan pola mirip... mungkin dikerjakan sembarangan, karena entah kenapa mudah sekali memicu prasangka dan sinisme. Sebagian orang yang bertentangan dengan Soeharto atau pihak yang tak punya kaitan dengan dia berani lantang bilang bahwa dia diktator, misalnya para demonstran pro demokrasi atau media massa seperti CNN dan Time. Aku sendiri takut dan tak punya dasar untuk bilang bahwa dia seorang diktator. Faktanya ialah dia mantan presiden Indonesia, negeri tempat aku terdaftar sebagai warga negara. Dulu, aku sesekali ikut demo bareng teman menuntut keadilan atau keterbukaan; tapi keadilan harus diupayakan sendiri dan keterbukaan ternyata datang sendiri. Yang paling mengasyikkan ialah jadi bagian massa waktu kami demo besar-besaran selama masa awal-awal menegakkan Reformasi di Gasibu (sebagian kawanku demo di gedung MPR/DPR), sampai akhirnya rezim dia tumbang, dan sejak itu reputasi pak Harto beserta kroni dan keluarganya melorot ke kubang terendah dan penuh masalah, namun tetap saja tetap menarik diberitakan. Yang paling akhir tentu saja skandal yang muncul dari para anak-anaknya, rebutan harta dan kuasa antara istri pertama dan madu salah satu anaknya, perempuan yang sampai rela-rela ngaku dihamili anaknya---entah dengan motif apa, atau artis yang kawin dengan cucunya. Wah... sebenarnya aku cukup sibuk dengan diri sendiri, bertahan hidup atau meningkatkan standar, dan tak peduli dengan peristiwa terkait Soeharto... toh nyatanya aku selalu samar-samar mendengar atau mendadak punya kesempatan baca informasi tentang mereka. Tadi saja, waktu menuju toko kaset bekas itu, tiga gadis mahasiswa aku dengar bicara, "Kamu sedih nggak pak Harto meninggal?" "Enggak, lebih sedih waktu kakek gue meninggal tuch." "Iyalah, coba kamu bakal dapat warisannya. Pasti sedih." Salah satu gadis itu langsung menyergah, "Dapat warisan mah senang, bukannya sedih..." Serentak mereka tertawa. "Aku mah pengen lihat upacara pemakamannya euy. Yang pakai tembak-tembakan itu." (Namanya salvo, neng, kataku dalam hati.)

Aku bukan PNS dan ketertarikan atau kepedulianku pada negara boleh dibilang nol. Aku lebih pusing memikirkan bagaimana meningkatkan karir dan pendapatan di tahun ini daripada sibuk mendengar analisis politik bila The Smiling General (ini kayaknya bukan oksimoron) meninggal dunia dan mewariskan banyak buntut persoalan. Aku lebih merasa dekat dengan kaset-kasetku daripada dengan pria berusia 87 tahun itu, meski dia pernah jadi presidenku. Begitu kondisi dia kritis di rumah sakit minggu-minggu lalu, aku dengar analisis politik bahwa Indonesia bisa-bisa bakal makar begitu dia meninggal. Wah... aku malas dengar gosip keterlaluan itu. Satu-satunya berita yang aku sukai ialah analisis ini: Bila status hukum dia ditetapkan salah, maka itu kesempatan menyeret persoalan hukum yang dilakukan keluarga, kroni, dan orang-orang sekelilingnya akan terbuka. Keadilan jadi ditegakkan. Frasa yang menarik; "Keadilan jadi ditegakkan." Keadilan seperti apa? Apa bakal berdampak buat aku? Wah... aku ragu. Apa bila "Keadilan jadi ditegakkan" aku bisa optimistik tak perlu jual kaset favorit buat beli beras? Wah Wartax, kamu jadi kekanak-kanakan! Mungkin ini akibat aku buta politik dan nggak kritis sejak remaja. Lebih baik aku menghindari persoalan yang aku sendiri nggak tahu. Biarkan itu jadi urusan orang yang memperkarakan dia, terutama bekas lawan politik dia yang masih hidup dan bersemangat menyeret dia ke pengadilan dan ingin agar harta hasil korupsi itu dikembalikan ke negara. Aku jelas lebih suka andai tetap punya kaset dan kondisi keuanganku baik-baik saja. Tapi faktanya aku harus kehilangan mereka.

Aku sangat setia pada kaset-kaset itu. Aku rawat dengan baik, menjaga jangan sampai kusut, tetap sempurna bila disetel, meski itu semua gagal menaikkan harga jual. Aku selalu suka melihat-lihat sleeve, membaca-baca segala info yang ada di sana. Mereka berisi pemusik yang aku sukai karya-karyanya. Kini kotak kasetku berisi pemusik yang jauh kurang populer dibanding album yang aku jual sekarang. Di sana masih ada Chroma, Jaduk Ferianto, Bidjeh, Ravi Shankar, Youssou N'Dour, Sinead O'Connor, The Stage Bus... Entah berapa lama aku akan tetap bisa bertahan dengan mereka; entah berapa harga jual mereka di toko kaset bekas, lepas dari betapapun mereka bagus atau legendaris. Di tangan penjual loak, semua barang pasti direndah-rendahkan. Melankoli dan legenda cuma jadi cerita. Kalah oleh kebutuhan akan uang.

Aku rela dan senang-senang saja kehilangan kaset itu, akhirnya. Apalagi dari situ aku merasa memberi bakti pada keluarga. Aku kehilangan mereka tepat di saatnya. Sudah waktunya. Bisa jadi begitu juga Indonesia terhadap pak Harto. Dia sudah tua dan sakit-sakitan. Wajar dia meninggal dunia. Jelas keterlaluan berharap dia bakal sehat wal afiat seperti sedia kala ketika masa jaya atau bisa bertahan lebih dari lima belas tahun ke depan. Nyawa bisa dicabut izin penggunaannya kapan saja, datang begitu saja tanpa perlu perjanjian lebih dulu. Sebagian orang, banyak orang, terisak-isak oleh kepergian beliau; sebagian orang mungkin bingung apalagi agenda hukum yang bisa dijalankan; orang seperti aku, yang tak terkait dengan semua itu, heran, kenapa mereka semua heboh dengan kematian satu jiwa. Mendadak aku ingat dulu ada orang di Jakarta yang menyeret-nyeret mayat karena tak punya biaya kubur. Kematian seorang mantan kepala negara sudah disiapkan dengan sempurna, mulai dari kepergian dan upacara. Dia merepotkan banyak sekali orang; dan orang entah rela, pura-pura, atau terpaksa dan karena tata krama, hirau dengan kepergiannya. Kematian ini lebih heboh dan seru dibandingkan delapan besar Liga Indonesia yang ricuh. Apa ini tanda kehebatan seseorang, bahkan dalam kematiannya pun dia bikin guncang, tetap dihormati banyak sekali orang, dihadiri sosialita paling terkemuka? Wah, entah ya.

Dari dulu aku membayangkan kematian yang sederhana. Aku ingin nanti nisanku tak ditandai apa-apa, biar lama-lama hilang dan rata dengan tanah. Aku ingat ayahku membiarkan patok tanda kuburan kakakku lama-lama hancur oleh waktu dan sebagian habis dimakan rayap. Dibersihkan bila berziarah saja. Terakhir kali kami ke sana, gundukan tanahnya sudah nyaris rata. Aku agak yakin sekarang tentu sudah rata. Aku sulit membayangkan ada semacam kompleks istana untuk mayat-mayat bekas manusia yang sudah selesai berurusan dengan dunia. Untuk apa ya semua itu dibangun?

Hari ini aku kehilangan kaset; esok hari siap-siap aku kehilangan nyawa. Dalam beberapa hari ke depan aku masih bisa menyelamatkan keluarga; pasti suatu hari nanti aku yang malah repot menyelamatkan jiwa sendiri.[]0:11 30/01/08

ANWAR HOLID, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung.