Sunday, May 25, 2008

Nol Toleran Meninggalkan Shalat
---Anwar Holid

Kamus Shalat
Penulis: Dr. Muhsin Labib
Halaman: 347
Penerbit : Arifa Publishing, 2008
ISBN : 978-979-16454-1-6


BOLEH jadi kaum Muslim tak perlu lagi dinasihati perihal shalat. Sebagai tiang agama dan kewajiban pertama setelah seseorang bersyahadat, shalat merupakan ibadah luar biasa yang tiada bandingannya. Bahkan shalat wajib haram ditinggalkan oleh seorang Muslim dalam keadaan apa pun sebelum dirinya meninggal dunia. Wajar bila kita mudah menemukan stiker berbunyi begini: dirikanlah shalat, sebelum kamu dishalatkan. Bila sesama Muslim bertemu, salah satu pertanyaan yang terucap dalam obrolan ialah, "Kamu sudah shalat belum?" Bahkan saking khas Islam, sebagian kaum Muslim menolak memadankan shalat dengan istilah ”sembahyang.”

Lepas bahwa shalat merupakan bagian utama Islam, ternyata khazanahnya lebih kaya dari yang saya sangka. Ini terbukti dari Kamus Shalat karya Dr. Muhsin Labib, MA (Arifa, 2008). Dalam kamus tersebut ragam shalat begitu banyak, bahkan boleh jadi sebagian besar di antaranya merupakan sesuatu yang baru dan mengayakan umat Islam. Penulis menghimpun 200 macam shalat, mulai dari shalat wajib dan sunah yang tentu saja sudah dihayati kaum Muslim, hingga shalat untuk berbagai keperluan, khusus (misal shalat ketika sakit atau di kendaraan), juga yang dilakukan oleh para imam Ahlul Bayt. Khazanah sumber yang digunakan pun komprehensif, mengambil kekayaan lima mazhab, ditambah berbagai kitab dan catatan rujukan.

Fikih Ja'fari mendapat perhatian besar di kamus ini, misal dengan menekankan bahwa shalat jenis tertentu hanya ada dalam fikih tersebut. Misal shalat Isti'jar, yang dilakukan untuk menunaikan shalat wajib yang ditinggalkan seseorang ketika dia masih hidup. Shalat ini dilakukan berdasar perjanjian antara pelaku shalat yang disewa dengan orang yang memberi wewenang kepadanya (hal. 83.) Sebaliknya, fikih Ja'fari tak memberlakukan shalat Muharamah, yakni waktu yang diharamkan melakukan shalat, antara lain sesudah Subuh, sesudah Ashar sampai terbenam matahari sampai waktu Magrib (hal. 179.)

Dari kamus ini kaum Muslim akan tahu betapa ajaran Islam tampak sebentar-sebentar memaklumkan shalat untuk segala macam kesempatan. Ada shalat mengharapkan kebebasan dari penjara, memohon jodoh, bahkan shalat lapar. Jelas ini menunjukkan betapa shalat mendapat keistimewaan sebagai pilihan cara beribadah. Ia lebih dari sekadar ritual dan rutinitas, dan juga mengandung hikmah yang boleh jadi berkembang terus sesuai kecenderungan zaman. Shalat bukan sekadar gerakan tertentu dengan khasiat tertentu; ia merupakan wasiat terakhir Nabi Muhammad Saw. bagi umat manusia yang memiliki banyak aspek.

Barangkali demi fokus mengeksplorasi pada jenis shalat, Kamus Shalat kurang menggali aspek seputar shalat, misal pra-shalat, azan, rukun shalat, sujud sahwi, doa kunut, termasuk bersuci (thaharah). Padahal aspek tersebut merupakan sesuatu yang menyatu dalam ibadah shalat. Boleh jadi penulis beranggapan hal-hal seperti itu sudah diketahui Muslim sejak awal, jadi diabaikan.

SAYA pernah dapat spam yang mengibaratkan shalat itu merupakan jadwal keberangkatan pesawat. Bila terlambat satu menit saja, pesawat sudah terbang meninggalkan kita. Tiada maaf bagi orang meski ia punya tiket terbang, dan tiket itu akhirnya usang, tak bisa diuangkan, sementara pemegangnya diam di tempat. Mereka malas menunggu orang yang barangkali terlambat karena menolong nenek-nenek keserempet motor ugal-ugalan. Toleransinya nol. Kesalahan ada di pihak yang terlambat. Karena itu tunaikanlah shalat tepat waktu, siapa tahu kita terlambat mengerjakan sedetik saja gara-gara didahului kedatangan malaikat Izrail. Kalau sudah begitu fatal; kita kalah selangkah mengerjakan amal baik.

Saya juga pernah menerima kiriman tentang Imam Ja`far Ash-Shaddiq yang berkata, "Bila terdapat sungai kecil di rumah seseorang di antara kalian yang dipakai untuk mandi lima kali dalam satu hari, apakah badannya akan tetap terkena kotoran? Sesungguhnya permisalan shalat adalah sama dengan permisalan sungai kecil tersebut. Orang yang mendirikan shalat wajib akan menanggalkan dosa-dosanya, selain dosa yang mengeluarkan dia dari keimanan yang dia percayai" (Bihar al-Anwar, jilid 82, hal. 236.)

Kalau begitu ceritanya, habis alasan untuk menghindari Dia: dalam keadaan sulit atau lega, seorang Muslim harus tetap bertemu Tuhan. Mau dalam keadaan babak belur atau jengkel, difitnah, dijelek-jelekkan, kalah, apalagi berdosa... Muslim harus kembali menunaikan shalat. Muslim diharamkan cari alasan menghindari shalat. Meninggalkan shalat itu toleransinya nol.

Membolak-balik Kamus Shalat, saya bukan lagi mendapat satu-dua spam tentang keutamaan shalat, melainkan khazanah yang amat luas perihal shalat dari berbagai sumber Islam. Keluasan ilmu penulisnya sungguh merupakan kekayaan yang patut dihargai sepantas mungkin.

Dengan mendirikan shalat wajib saja mestinya setiap Muslim bisa menebar kebaikan dan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Apalagi bila mendirikan berbagai shalat yang ada dalam kamus ini untuk berbagai aspek kehidupan. Terbayang betapa shalat jelas merupakan batas pembeda antara seorang Muslim dan kafir.[]

CATATAN: Di Selisik, Republika, Minggu, 4 Mei 2008, kolom ini berjudul "Hidup Penuh Shalat."

Sunday, May 11, 2008

PERNYATAAN:
Artikel ini saya comot dari Citizen Journalism, Kompas Cyber Media. Ejaan dan kata saya edit sedikit agar lebih pas untuk konsumsi pembaca umum. (Anwar Holid)

Kompas Cyber Media, Kolom Kita, Jumat, 15 Februari 2008

ON THE QUESTION OF ORIGINALITY AND PLAGIARISM
---Rarasiwi, Midwest

Ketika saya membaca koko tentang pertanyaan Evi (saya tidak tahu Evi Irons atau Evi Jerman, atau Evi yang lain, kalau ada) apakah tulisan Ican tentang Top Five Jadul yang dimuat KoKi edisi akhir pekan merupakan ide orang lain atau ide asli Ican, saya jadi tergelitik untuk mengomentari. Kebetulan beberapa hari sebelumnya, topik ini mengemuka di kelas saya.

Saat itu kami, para mahasiswa, berdiskusi mengenai topik disertasi kami dan salah satu teman saya mempertanyakan orisinalitas topiknya. Dia bilang "I am not sure whether my topic is original or not since I have limitations when it comes to searching for relevant literature." Maksud dia, mungkin saja ada peneliti lain yang menulis tentang topik itu tapi tidak ketemu waktu dicari di database. Sang begawan (saya bilang begitu karena professor saya ini sangat pakar dalam bidangnya dan sangat bijaksana) hanya tersenyum dan seperti biasa dia malah melemparkan pertanyaan itu kepada kami. Karena sepertinya tidak ada yang mau menjawab dulu, maka saya beranikan bertanya balik, "Is there such thing as 100 % original? In any study, isn’t it common to look at previous studies and develop our topic from there? If not, why do we need Chapter 2, The Literature Review?"

Ketika saya meneruskan komentar saya, mengangguk-angguklah sang begawan. Pertanyaan teman saya mencerminkan percakapan antara Evi dan Ican. Evi mempertanyakan orisinalitas tulisan Ican karena dia membaca artikel yang hampir sama (mungkin lho, karena saya juga tidak tahu artikel yang dimaksud.) Ican, yang tidak pernah membaca artikel itu, jelas menyanggah. (Saya pun juga akan bilang hal yang sama if I were Ican). Kalau saja Evi tidak pernah membaca artikel yang dia email ke teman-temannya, mungkin dia akan memberi komentar lain. Maksudnya?

Begini argumen saya: dalam suatu tulisan akademik atau nonakademik, ide tidak pernah terlepas dari isi (content/delivery), dan bahan mentah (materials). Ide bisa saja original tapi isi tidak, atau sebaliknya isi orisinal tapi idenya milik orang lain. Jadi, orisinalitas itu relatif, tergantung viewpoints (idenya, isinya, atau bahannya yang dimaksud?), dan prior knowledge (pernah-tidaknya ketemu artikel yang mirip-mirip.) Saya kasih contoh yang dekat-dekat saja: Saya selalu kagum dengan Fire yang tidak pernah kehabisan ide menghibur. Apakah "tulisannya" (sekali lagi tulisan = ide, isi, dan materi) original? Bisa iya dan bisa tidak. Ide dan isinya orisinal tapi bahannya tidak, wong bahannya diambil dari sumber di Koki sendiri, entah komentar, entah panggilan untuk Zeverina. Salahkah itu? Jelas tidak. Malah tulisan-tulisan Fire segar dibaca karena diambil dari bahan yang akrab dengan Kokiers semua.

Astuti juga melakukan hal ini dalam tulisannya. Mensintesis (ini higher order of thinking dibandingkan dengan sekadar meringkas, jadi saya salut sekali) tulisan dan komentar menjadi tulisan yang menarik. Apakah tulisannya orisinal? Idenya iya, isinya iya, karena hasil sintesis itu, bahan mentahnya, tidak, karena sumbernya dari tulisan dan komentar yang ada di Koki. Boleh tidak seperti ini? Boleh sekali, begitu jawab saya. Semoga Kokiers tidak bingung. (Suami saya selalu bilang saya selalu mempersulit hal-hal yang mudah, yang harusnya tidak usah dipermasalahkan. Tapi bagi saya, justru orang sering take for granted hal-hal yang remeh itu tadi.)

Saya jadi teringat komentar teman diskusi saya di rumah, suami saya tercinta, yang berkata "Tahu nggak ada pakar yang bilang bahwa ilmu filsafat modern ini hanya merupakan catatan kaki Plato." Ha! Lha kalau filsafat yang merupakan payung segala macam ilmu merupakan catatan kaki Plato, kesimpulannya apa? Mungkin saja yang bilang begitu terlalu mengagungkan Plato atau meremehkan ide filsuf lain, saya tidak tahu. (Romo Flores saya yakin bisa lebih canggih kalau menjelaskan hal seperti ini). Bagi saya, yang menarik ya keterkaitan antara schools of thought, di bidang apa pun, keterkaitan satu ide dengan ide lainnya. Satu aliran muncul sebagai reaksi, atau bahkan penyempurnaan aliran lain. Postmodernism merupakan reaksi terhadap modernism, deconstructionism merupakan reaksi terhadap structuralism, begitu seterusnya. Sama seperti ide saya yang muncul sebagai reaksi terhadap percakapan di dunia maya antara dua kokiers (dalam tataran yang berbeda lho tapi, karena saya bukan filsuf). Saya tidak tahu apakah ide saya seperti ini pernah ditulis orang lain, atau bahkan ditulis kokiers di edisi yang dulu-dulu, yang mungkin saya pas kelewatan bacanya atau pas tidak sempat membuka Koki sama sekali. Kalau ada, saya yakin cara penyampaiannya berbeda. Masa orang tidak boleh punya ide yang sama?

Pertanyaan ini menggiring pikiran saya pada topik berikutnya, plagiarisme. Untuk menjelaskan plagiarisme, saya akan bercerita tentang pengalaman saya. Dalam mata kuliah yang saya ajarkan, sosiolinguistik, saya selalu memberi tugas mahasiswa saya untuk membuat makalah akhir. Pada akhir semester, salah satu mahasiswa saya mengumpulkan makalah yang topiknya tidak pernah saya bahas di kelas (karena sosiolinguistik merupakan topik yang luas dan saya harus memilah-milah mana yang doable (mungkin bisa dikerjakan atau dicapai---peny.) dan yang penting bagi mahasiswa saya). Itu satu. Yang membuat kening saya berkerut adalah bahasa Inggrisnya yang perfect. Bukannya saya meremehkan, tapi saya tahu bagi mahasiswa semester 6, tulisan itu terlalu sulit, tidak hanya bahasanya tapi juga konsepnya. Karena saya curiga, saya google judulnya. Muncullah artikel yang sama persis, tanpa ditambahi dan dikurangi. Mahasiswa itu saya panggil dan saya minta untuk menjelaskan. Karena saya punya buktinya, dia tidak bisa menyanggah. Akhirnya keluarlah nilai E.

Saya mencoba untuk menyadarkan dia bahwa yang terpenting bagi saya adalah membuat makalah sendiri. Bahasa tidak harus perfect (wong saya saja tidak perfect), ide bisa tidak orisinal (dalam penelitian dinamakan replication study) tapi bahan mentah harus original, atau ide original tapi pakai data orang lain (misalnya data UN, NCES, PISA). Dia menangis dan minta maaf, tapi itu semua tidak mengubah keputusan saya, nilai tetap E. Tahun berikutnya dia mengambil mata kuliah saya lagi, dan kali ini dia lulus dengan baik. Makalahnya pun saya nilai baik karena datanya asli dan analisa dia juga baik. Saya bahagia karena semua berakhir dengan baik juga.

Lalu apa definisi plagiarisme?

Ini saya kutipkan dari web sites University of Indiana: "Plagiarism is defined as presenting someone else’s work, including the work of other students, as one’s own. Any ideas or materials taken from another source for either written or oral use must be fully acknowledged, unless the information is common knowledge. What is considered "common knowledge" may differ from course to course." (http://www.indiana.edu/~istd/definition.html).

Kalau kasus seperti mahasiswa saya tadi, menurut definisi ini ya jelas plagiat (dan bagi saya merupakan academic misconduct). Kalau menurut suami saya mengutip perkataan profesornya, plagiat atau tidak hanya dibedakan dengan tanda kutip. Kalau saya mengutip artikel Ican, entah beberapa kalimat atau paragraf dan kemudian saya tulis di tempat lain tapi saya tidak mencantumkan nama Ican, ya saya melakukan plagiat. Kalau saya tulis lagi yang sama, pakai tanda petik, dan saya tulis nama Ican, ya itu tidak plagiat. Kalau kalimat di paragraf yang saya ambil, saya ubah sedikit sedikit dan saya klaim sebagai tulisan saya, ya tetap saja plagiat. Tapi kalau saya terinspirasi ide Fire dan melakukan hal yang sama dengan bahan yang berbeda (misalnya saya hanya memfokuskan pada komentar dengan bahasa selain bahasa Indonesia) dan membahas dari sudut pandang yang sama sekali berbeda, ya itu bukan plagiat.

Nah sekarang kalau judul saya "On the Question of Originality" bagaimana? Plagiat tidak karena kalau digoogle akan banyak results dengan frasa sama. Words are in public domain, begitu kata sang begawan saya. Kalau tidak, maka semua orang akan melakukan plagiat. Bayangkan saja frasa ini: The purpose of this article is to provide insights on the issue of …Kalau itu dianggap plagiat, ya hampir semua peneliti junior maupun senior yang menulis frasa itu melakukan plagiat. Karena itu words are in public domain, but concepts, ideas, viewpoints are not.

Kalau pada edisi yang lalu ada artikel tentang Pak Harto yang diambil dari buku dan ditulis di Koki tanpa menyebut bukunya, plagiat tidak? Ada yang protes saat itu di koko dan kemudian judul bukunya ditambahkan oleh Zev. Saya susah menjawabnya karena di dunia persuratkabaran jiplak menjiplak ini biasa-biasa saja. Berita yang dimuat di Kompas bisa saya baca di MSNBC atau CNN (dalam versi bahasa Inggrisnya) karena sumbernya dari Associated Press. Berita yang saya baca di Yahoo News bisa saya baca di Suara Merdeka dalam versi bahasa Indonesia karena sumbernya dari Reuters. Kalau Koki dianggap dunia surat kabar, ya tidak masalah kalau ada penulis yang menulis artikel bersumber dari koran atau buku lain, tapi masih dengan catatan, harus disebutkan sumbernya. Kompas saja selalu menyebutkan sumber kok, entah itu AP, Reuters, atau Antara. Kalau artikel itu dibawa ke tataran scholarly writing, lain lagi jalan ceritanya. Artikelnya pasti sudah dikategorikan academic misconduct.

Satu pertanyaan lagi, kalau identitas saja tidak asli masa tulisan diminta asli? (Weekss, saya bisa menuai protes ini… semoga tidak ada yang membaca artikel saya, dengan demikian saya tidak diprotes…) Silakan kokiers sendiri yang menjawabnya. Saya hanya melemparkan pertanyaan (bukan batu bata lho) yang bisa menjadi pemikiran untuk semua. Apakah tulisan kita di Koki harus menepati aturan-aturan penulisan pada umumnya atau tidak (yang berarti harus menyebutkan sumber, memberi tanda kutip kalau mengutip persis dari sumber lain)? Atau karena Koki bukan diskursus akademik maka ya seenaknya sajalah, mau ngutip kek, mau nyontoh kek, mau kutip satu buku atau satu halaman persis juga gak papa? Atau barangkali semua itu tidak penting? Atau EGP lah, gitu aja kok repot, wong nulis gak ada honornya? (Bagi saya ada lho.. intangible incentives tapi.) Anda semua saya persilakan menjawab pertanyaan ini.[]
Catatan:
koko = kolom komentar
KoKi = Kolom Kita
Buku Lawan Gaya Hidup
---Anwar Holid

BETULKAH GAYA HIDUP bisa menggerogoti perkembangan budaya literer?

Para pembela perbukuan kerap prihatin betapa buku ternyata diperkirakan mudah kalah oleh pesaing lain yang berusaha menjauhkan mereka dari buku. Mereka agak yakin bahwa gaya hidup merupakan biang keladi yang menggerogoti perkembangan budaya literer. Dampak terbesarnya ialah buku tersingkir sebagai favorit, membuat ia masuk dalam prioritas bawah kebutuhan hidup.

Menghadap-hadapkan buku dengan gaya hidup sebenarnya klise, termasuk dengan menilai pandangan bahwa buku lebih mulia daripada gaya hidup. Keduanya punya latar belakang panjang dan mengakar; fungsi dan kelebihan masing-masing khas. Mereka lahir karena inovasi, teknologi, dan kebutuhan massa. Tanpa ada teknologi dan budaya massa, buku mustahil bisa dicetak ribuan kopi dan langsung memenuhi hasrat haus buku dunia.

Saya boleh dibilang agak abai pada gaya hidup, tapi karena alasan tertentu, sulit juga menghindari diri dari serbuan itu, terpaksa harus menerima kehadirannya. Misal memiliki handphone (HP). HP buat saya bikin beban, karena menambah pengeluaran rutin. Dengan menghabiskan kira-kira Rp.70 ribu per bulan untuk beli pulsa, kalau mau bisa saya gunakan untuk beli buku atau langganan Writer's Digest. HP saya kelas teri, tak ada fitur mp3 player, tanpa kamera, tak bisa terima mms, tapi untuk memenuhi garis gaya hidup, rasanya cukup. Saya jelas lebih cinta buku daripada HP; saya baru beli pulsa kalau mau habis masa aktif dan sering saya biarkan kosong. Tapi dari HP saya terima order atau janjian untuk mengerjakan proyek perbukuan. Jadi HP cukup berharga buat dipertahankan.

Yang sering saya pikirkan ialah bagaimana cara kalangan industri buku bisa mempersuasi masyarakat untuk meningkatkan daya beli buku, agar mau belanja lebih banyak buku. Mungkin ini terkait dengan penghasilan. Orang sudah bisa beli pulsa dengan Rp.5000; dengan uang segitu kita hanya bisa dapat buku loak atau cuci gudang, yang baru dijual di tempat khusus dan waktu tertentu. Ini repot. Buku kalah bersaing. Orang berpenghasilan rendah dan banyak keperluan lain terpaksa menunda keinginan beli buku, semata-mata karena tak terjangkau. Padahal kalau bisa, mereka juga ingin punya buku bagus, meski harganya bisa di atas satu juta rupiah. Yang menarik, sering ada buku kuno ternyata berharga jutaan; sementara makin kuno HP, ia makin tak berharga.

Bagaimana cara menjadikan buku sebagai gaya hidup, agar orang makin mau belanja buku? Itu pertanyaan sulit. Ada faktor "kemudahan" di sana. Bawa HP ringan, fleksibel, keren; sementara bawa buku agak berat, butuh ketenangan buat mengakses, meski tetap bisa gaya dan keren. Rasanya keren kalau saya bawa-bawa Cherish Every Moment (Arvan Pradiansyah) atau Muhammad: Prophet for Our Time (Karen Armstrong) kala naik angkot. Atau tahu seseorang sudah baca Martin Amis atau Salman Rushdie. Saya selalu menyarankan judul buku kalau memungkinkan. Saya sering bertemu bookaholic, meski HP mereka bocel-bocel saking tua. Sekarang mana keren kalau orang tak tahu Laskar Pelangi atau Ayat-ayat Cinta?

SAYA TAK BERUSAHA menganggap gaya hidup jadi salah satu perusak masyarakat mau baca. Trend buku bisa berubah menggairahkan dan kadang-kadang jadi massif. Banyak orang menilai kesuksesan Pesta Buku Jakarta atau Islamic Book Fair merupakan tanda bahwa masyarakat sebenarnya punya daya beli buku besar. Haidar Bagir, CEO Mizan Publika, kemarin terpilih sebagai salah satu Top Ten The Best CEO 2008 versi SWA, itu tanda bahwa industri buku mengalami kemajuan pesat, termasuk dari segi manajerial. Digibookgallery.com menerbitkan buku digital yang bisa dibaca di HP, PDA, notebook dan PC---saya pikir itu tanda zaman sudah berubah. Bagaimana cara agar pemilik HP canggih dan perangkat gaya hidup era informasi mau beli buku digital yang harganya lebih terjangkau dari buku kertas? Dalam industri, komoditas harus mencari cara agar bisa diserap pasar sebesar mungkin, termasuk kalangan paling miskin. Rasanya malu menyalahkan gaya hidup sebagai alasan orang malas beli buku.

Keprihatinan tersingkirnya buku oleh gaya hidup mungkin malah bisa membuat buku tambah sulit dijangkau, karena kalangan perbukuan sendiri menganggap begitu. Banyak yang suka baca, tapi tak bisa beli buku. Mungkin salah satu kuncinya ialah mendekatkan buku pada massa, biar mereka bisa mengakses dan memiliki, dengan begitu barangkali bakal tercipta masyarakat yang punya keinginan kuat (demand) terhadap buku.

Keinginan saya pada buku rasanya malah tiada habis. Tapi apa daya tak terbeli semua. Saya ingin punya ensiklopedia, kamus bagus, novel kelas dunia, serial mahal yang biasa ditawarkan lewat direct selling, dan kadang-kadang penjualnya teman saya sendiri. Walhasil, saya harus ke perpustakaan. Beberapa perpustakaan di Bandung bagus dan nyaman, seperti Rumah Buku di Hegarmanah dan Bale Pustaka di Keuskupan.

Ada kala saya sedih hidup di dunia buku. Tapi setiap kali lihat kesuksesan atau inovasi di industri ini, saya senang. Kadang-kadang saya merasa terlalu rewel pada buku, namun selalu salut pada banyak orang yang berusaha memajukan dunia buku dengan berbagai cara yang lebih tulus maupun inovatif dan canggih. Ide buku dari berbagai kalangan butuh pengabdian dan kinerja lebih baik.

Tentu industri buku harus lebih halus bersiasat menghadapi zaman, lebih mau belajar cara menyelusupkan ide buku kepada banyak orang ke balik-balik gaya hidup, mengukuhkan buku sebagai bagian esensial kehidupan, tanpa perlu khawatir digerogoti gaya hidup.[]