Thursday, June 05, 2008

Bertanya dan Berusaha Menjawab
---Anwar Holid


Om Wartax, kok, unsubscribe dari milis?
Just curious...

Zeb tanya seperti itu waktu aku pagi barusan memutuskan unsubscribed dari milis pei.

Rasanya Januari lalu WEY juga persis tanya hal serupa waktu aku keluar dari Je.:

Terus terang saya masih bertanya-tanya apa yang membuat Mas Wartax keluar.

:)

Aku sudah lama mikir ingin keluar dari milis pei. tapi baru pagi itu akhirnya mengklik leave this group. Aku pikir tak bakal ada orang peduli, termasuk moderator sekalipun. Ternyata aku salah.

Sejujurnya aku bosan. Awalnya aku merasa sayang karena pada dasarnya aku masih mendapat manfaat dari milis itu berkenaan dengan subjek keislaman, tapi lama-lama aku merasa mungkin bukan hal seperti itu yang aku inginkan. Lagi pula aku masih bisa mengikuti milis itu dari email u., meski jelas salah kalau aku menggunakan email itu atas namaku, misal untuk tanya atau menanggapi. Nanti kalau merasa perlu, aku akan lihat. Jadi apa yang sebenarnya aku inginkan? Aku merasa masih bisa mendapat subjek keislaman baik dari milis daaruttauhid, google, atau wikipedia. Memang boleh jadi membingungkan dan butuh keberanian untuk mengambil serakan file di Net, atau menelisik lagi arsip yang aku kumpulkan. Semoga aku bisa waras melakukannya.
Beberapa hari lalu aku tanya ke alamat konsultasi Islam yang dijawab ulama besar Jawa Barat, tapi hingga minggu ini aku belum dapat jawaban. Pertanyaanku:
-----------------
Sebagian orang berpendapat bahwa tasawuf merupakan bagian integral Islam. Kalau memang begitu, kenapa tasawuf tak pernah diperkenalkan sejak dini, misalnya oleh Departemen Agama dan orang tua dalam pendidikan agama di TPA atau SD, bahkan waktu kuliah (perguruan tinggi)? Kenapa saya selalu mendapati kesan bahwa tasawuf itu merupakan ilmu/pengetahuan tingkat lanjut dalam Islam, dan selalu ada orang Muslim sendiri yang menilai dan membuktikan bahwa tasawuf itu bidah dan menyesatkan?
-------------------

Mungkin aku lagi bingung-bingungnya dengan berbagai pertanyaan yang bakal keluar dari kepalaku, entah karena bodoh maupun penasaran. Aku sekitar sebulan lalu merencanakan bakal terus-menerus memposting seratus pertanyaan sehubungan dengan Islam, tapi hari ini aku merasa itu pikiran yang konyol dan memalukan. Aku bisa mencari dan terus menelusuri tanpa perlu bersikap kolokan seperti itu.

Di rumah aku sebentar-sebentar menggumuli beberapa buku keislaman, tapi kala mendadak aku ingat, mungkin lebih baik aku menyelesaikan tugas-tugasku yang belum kelar. Jelas karena Muslim, aku punya sejumlah buku keislaman. Sejak mahasiswa aku beli buku-buku bersubjek itu; kini banyak di antaranya merupakan hadiah penerbit. Yang paling menggangguku hari-hari ini salah satunya ialah soal Irshad Manji, penulis BERIMAN TANPA TAKUT. Dia seorang Muslim lesbian. Secara berani dia mengaku sebagai 'Muslim refusenik.' Muslim seperti apa itu? Aku malas jawab. Lebih baik orang baca langsung tulisannya, yang mudah didapat di Net. (Aku sendiri dapat terjemahan buku itu dari Erick.) Soal homoseksual ini segera dibahas media Islam, antara lain Madina dan Sabili. Fakta tentang Manji membuat aku shock. Bagaimana bila nanti ada seorang pornstar yang dengan bangga mengaku dirinya Muslim? Mungkin dia bakal segera jadi favoritku. :( Aku sudah lemas dengan berita banyaknya teroris atau penjahat Muslim. Tapi apa bedanya semua itu dengan aku, misalnya? Aku Muslim, aku kerap sinis sama agama, apatis pada sejumlah hal (nasionalisme, misalnya), dan masih saja bermasalah dengan diri sendiri, dosa, termasuk kedisiplinan. Aku bahkan belum bisa seperti Fahri bin Abdullah Shiddiq!

Kebingungan itu menggiringku untuk bersikap. Langkah pertama, yang paling sederhana ialah harus memutuskan mana yang akan aku percayai dan mana yang harus aku buang. Mana yang aku pilih dan tidak. Dari dulu aku beranggapan agama adalah debat kusir, dan hanya bisa berhenti oleh keimanan. Tahu banyak soal agama belum menjamin kamu beriman. Aku ikut milis religion-spirituality yang diisi orang penuh dengan pengetahuan soal agama, tapi mereka bisa dengan sangat berani dan kejam menggunakannya untuk menghina-hina agama lain. Aku hanya merasakan ketakutan dan kebencian di milis itu. Aku baca buku André Comte-Sponville, The Little Book of Philosophy, bab 'God' dan 'Atheism'---dan aku langsung keder menghadapi argumentasi dia yang amat canggih soal agama maupun Tuhan itu ada atau tidak. Keyakinanku pada Tuhan barangkali begitu terpencil, sendirian, amat jauh, namun sulit dengan jelas menerangkan seperti apa hakikatnya. Keyakinanku pada Tuhan masih gagal membuat aku jadi lebih heroik memandang banyak peristiwa. Keyakinanku pada Islam tak mengurangi kebingungan bagaimana sebuah kelompok Islam bisa dicap sesat atau kapan sebuah kelompok Islam bisa disebut sekte. Kemarin waktu pulang dari Bale Pustaka aku mikir-mikir, mungkin menarik kalau aku bikin rancangan buku tentang memilih Islam sebagai persoalan personal, lepas dari fakta bahwa seorang diri pasti hidup secara komunal. (Tapi mungkin lebih manfaat aku kembali menyelesaikan proyek penulisan Sulaiman-Bilqis.)

Akibatnya aku baca lagi Islam for Beginners (Ziauddin Sardar, et al), sebuah pengantar Islam buat orang Barat yang dulu banget sudah pernah aku baca. Rasanya sekarang bernuansa lain ketika aku sedang gelisah dan tengah cari-cari sesuatu. Dulu aku merasa buku itu cerita tentang Islam yang sudah aku tahu; tapi sekarang aku menganggap itu buku pengantar Islam yang bagus, pantas dijadikan model seperti apa mendekati Islam dengan cara berasahaja. Tema Pokok Al-Qur'an (Fazlur Rahman) aku comot lagi dari rak. Aku juga membongkar lagi Islam, an Introduction (Annemarie Schimmel), dan baca beberapa bab. Juga berguna memberi wawasan tentang ijtihad, bidah, perpecahan, perbedaan, dan sebagainya. Semoga berguna buat mengisi otakku yang masih kosong. Lepas aku masih dosa, sering mengotori pikiran, berimajinasi yang bukan-bukan... aku ingin menjelajahi sebenarnya seperti apa aku menjadi seorang Muslim. Mendadak aku memikirkan dosa. Kalau lihat dari kasus diriku saja, mungkin Muslim itu golongan manusia yang paling banyak dosa. Meninggalkan shalat dosa, marah dikit amalnya berkurang, tak berbuat baik... salah. Melawan perintah agama atau Tuhan apa lagi... dosa besar.

Aku juga berusaha baca lebih baik bab-bab tentang agama di buku The Road Less Travelled (M. Scott Peck.) Sangat menarik dan berani. Kata dia: Karena setiap orang punya pemahaman, setiap orang punya agama. Ini menguatkan aku. Ini seberani Robert Pirsig, penulis Zen and the Art of Motorcycle Maintenance (1974), yang bilang begini terhadap agama: When one person suffers from a delusion it is called insanity. When many people suffer from a delusion it is called religion.

Kalau aku punya waktu dan energi bikin buku Islam, fokusnya ialah 'mengislamkan diri sendiri.' Terlalu bombastik. Tentu itu upaya menaklukkan diri sendiri atau mencari ketenangan dan kepastian atas pertanyaan yang belum dapat jawaban. Selama hidup aku sudah Muslim, lahir dari keluarga Muslim, terlibat di pusat keislaman, melahirkan anak yang akan aku didik sebagai Muslim... tapi aku sendiri merasa kemuslimanku masih begitu ringkih. Apa arti keislamanku di tengah lautan informasi, zaman yang bergerak, atau lingkungan yang ada di sekitarku? Apa memasang bohlam butuh agama? (Jawabannya: Butuh. Karena pas mau pasang bohlam, orang Islam diajari untuk bilang: Bismillahi rohman nir rohim---Dengan nama Allah yang maha pengasih dan penyayang.) Apa pengaruh keislamanku terhadap kesabaran atau keramahanku pada orang? Untuk menghargai orang lain? Ada apa Fazlur Rahman menganggap bunga bank bukan riba; sementara aku baca banyak pendapat sebaliknya?

Aku merasa ada yang tengah terjadi dalam diriku, dan berharap bisa menenangkan atau menjelajahi banyak kemungkinan yang tersedia. Itu aku lakukan. Aku pinjam The Heart of Islam (Seyyed Hossein Nasr.) Aku mau baca Islam (Fazlur Rahman) dengan niat lebih baik. Mungkin idealnya menyepi atau menekuri khazanah yang belum aku jelajahi. Tapi di sisi lain aku masih khawatir harus gembira dan bersyukur memenuhi standar nafkah dan mata pencaharian. Aku bersyukur untuk semua peristiwa---lepas bahwa aku terus didera kekurangan, yang entah bagaimana idealnya harus aku sikapi.

Aku berharap sedang melangkah dan mencari, kalau bukan diseret dan dituakan waktu.[]20:34 19/05/08

Anwar Holid, penyebar [halaman ganjil]. Bukunya ialah Barack Hussein Obama (Mizania, 2007)

Thursday, May 29, 2008

LABEL ISLAM DAN AGAMA
---Anwar Holid


ISLAMIC BOOK FAIR dengan Pesta Buku Jakarta atau Indonesia Book Fair hanya beda sedikit saja. Di Islamic Book Fair pengunjung mustahil mendapati stand penerbit dari Kelompok Kompas-Gramedia (KKG) atau penerbit-penerbit yang tergolong non-Muslim, misal Kanisius dan BPK. Bahkan dulu ada pembaca di milis pasarbuku@yahoogroups.com berseloroh: Kalau mau beli jilbab atau baju Muslim, tempat terbaik memang di Pameran Buku Islam.

Di lain pihak, KKG makin mantap dan matang rutin mengadakan Kompas-Gramedia Fair (KGF) dengan gengsi dan skala ekonomi tambah besar. KGF di Bandung saja pada akhir 2007 lalu berhasil menarik pengunjung lebih dari 75 ribu orang, termasuk menghasilkan sebuah peristiwa impresif, yaitu penerbit Mizan membagikan seribu kopi novel Laskar Pelangi (Andrea Hirata) gratis kepada guru-guru di Bandung dan sekitarnya.

Dengan ciri khas dan daya tariknya, Islamic Book Fair jelas merupakan cara rutin menjual produk lebih murah, usaha mendapat keuntungan lebih cepat dan banyak, serta mengenalkan isu dan produk baru, termasuk di antaranya nonbuku, mulai dari stasioneri (ATK), mainan, dan tentu saja aksesoris untuk kaum Muslim.

Istilah "Pameran Buku Islam" atau "penerbit buku Islam" memang sedikit dilematis. Mizan Publika, sebuah holding company yang lahir dari kesuksesan penerbit Mizan, bisa dijadikan contoh. Menyandang nama besar sebagai penerbit Islam terkemuka sejak era 80-an, dua puluh lima tahun kemudian mereka juga giat menerbitkan buku non-Islam dari berbagai jenis parenting, how-to dan self-help, motivasi, manajemen, novel umum, bahkan mengejar tema-tema yang sedang hangat di masyarakat, dan sadar bahwa buku seperti itu hanya musiman. Praktis imprintnya, misal Kaifa, Bentang, dan Qanita, sulit dikategorikan sebagai penerbit Islam. Bila seluruh judul terbitan mereka dibandingkan, boleh jadi rasio antara yang bersubjek Islam dan non-Islam berimbang. Jelas Mizan ingin melampaui kategori sekadar penerbit Islam yang berkonotasi sempit, dan sudah melebarkan sayap ke buku umum, alias bertema non-Islam.

Sebaliknya, penerbit yang dulu jauh dari wacana Islam kini tanpa ragu menerbitkan buku keislaman. Selain keterbukaan publik, pasar yang menjanjikan jelas merupakan tantangan menggiurkan. Misal GPU, yang menerbitkan baik kajian keislaman kontemporer, beragam fashion Muslim, juga satu set buku kelas premium, Muslim Family Set, terdiri dari empat jilid plus satu CD-ROM. Erlangga sudah serius menggarap tema keislaman, sementara AgroMedia Group mengelola imprint QultumMedia. Kanisius, yang terang merupakan penerbit Katolik, menerbitkan buku tentang Al-Ghazali, wacana Islam, dan busana Muslim. Begitu juga penerbit Kompas. Karena sama-sama menerbitkan buku keislaman, mestinya penerbit tersebut diajak ikut Islamic Book Fair. Tapi kalau begitu, Islamic Book Fair jadi sama persis dengan Pesta Buku Jakarta ataupun Indonesia Book Fair. Bedanya hanya soal label dan adu reputasi.

Label bisa menguatkan brand image sekaligus memagari gerak dan pasar. Ia mengundang sebagian publik dan menolak sisanya.

MENARIK dicatat ternyata buku Islam banyak jadi bestseller yang begitu menjulang dan sulit sekali dikalahkan buku umum. La Tahzan (Aidh al-Qarni), Khadijah: The True Love Story of Muhammad Saw. (Abdul Mun'im Muhammad) sampai kini masih laris, melahirkan trend buku sejenis, bahkan me-too product.

Sejumlah bestseller Indonesia jelas merupakan berkah dari antusiasme mayoritas warga Muslim terhadap buku. Tentu agak sulit mengira bila ada banyak warga non-Muslim bakal tertarik pada Ayat-Ayat Cinta (Habiburahman El-Shirazy) atau ESQ (Ary Ginanjar). The Da Vinci Code (Dan Brown) edisi Indonesia malah diterbitkan Serambi, penerbit yang sejak awal hingga kini giat menghasilkan buku-buku Islam, dan wajar bila kemudian membuat pembaca terbesar novel tersebut kemungkinan Muslim. Begitu pula, di kota dengan budaya Islam amat kental, hanya 1-2 orang Muslim yang pernah baca Saman (Ayu Utami).

Sebagian kalangan pembaca Muslim menilai Saman dan sejenisnya merusakkan moral, namun karya yang lahir dari kalangan penulis Islam sering dianggap tipikal membosankan, dan akibatnya gagal menarik perhatian kritik yang mampu membuat sebuah karya jadi penting atau pantas dihargai, bersanding sebagai alternatif karya utama maupun kanon bagi bangsa Indonesia. Jarang sekali kalangan kritik menganggap karya fiksi Islam sebagai sesuatu yang penting, merupakan pencapaian estetika tertentu. Kalangan pembaca sastra umum (general literature) sering a priori terhadap kualitas karya fiksi Islam.

Hampir semua karya sastra Islam Indonesia ternyata tak ada yang masuk hitungan sebagai sastra berkualitas atau pantas dibicarakan sebagai karya kontemporer. Ia seolah-olah merupakan sebatas fiksi tentang umat Islam. Dalam pertemuan Forum Buku Goethe Institut Jakarta dengan Peter Ripken dari Litprom---yang tugas utamanya mencari buku agar bisa diterjemahkan dan dipasarkan pada publik berbahasa Jerman---jelas sekali fiksi Islam tak masuk hitungan dan pembicaraan, meski genre ini memberi sumbangan penting pada perkembangan industri buku Indonesia. Fakta ini menyedihkan. Namun kalangan pembaca Islam umum juga pasti keberatan bila ada yang mengategorikan Hubbu (Mashuri), pemenang I Sayembara Novel DKJ 2006, sebagai karya fiksi Islam, meski judulnya berbahasa Arab, bersubjek dunia pesantren dan mistik Islam Jawa.

Tapi sumbangan penerbit Islam lebih dari menghasilkan angka penjualan fantastik. Mereka juga melakukan inovasi dan sadar manfaat teknologi. Mizan pada akhir 2007 digandeng Google.com sebagai premier partner untuk proyek Google Book Search (GBS), setelah pada 1996 jadi penerbit Indonesia pertama yang punya situs dan 2002 jadi penerbit pertama Indonesia yang menerbitkan e-book. Bersama Digibookgallery.com kini mereka mengonversi banyak buku sebagai e-book untuk menghadapi pasar generasi zaman digital yang telah tumbuh.
Di lain pihak, penerbit Islam tua yang dulu terkemuka dan menghasilkan karya penting kini tampak kehabisan semangat, hanya mengandalkan cetak ulang buku-buku lama, kesulitan melakukan inovasi baru. Tantangan penerbit---baik Islam maupun umum---sama saja, ialah bagaimana terus meningkatkan kinerja, kualitas penerbitan, meluaskan pasar, menjelajahi tema yang belum tergarap, menempuh praktik bisnis baru. Mungkin menarik bila Islamic Book Fair disertai ruang atau acara khusus yang memperlihatkan napak tilas sumbangsih penerbitan Islam pada peradaban nasional, sebab selama ini citra pesta buku masih identik dengan cuci gudang atau pindah toko.


TARIK-MENARIK antara "agama" dan "bangsa" pada titik tertentu merepotkan dan bikin alergi kalangan umum. Penerbit Islam tentu riskan bila menerbitkan The God Delusion (Richard Dawkins), meski itu bestseller dunia. Namun penerbit umum pun bisa menghadapi risiko serupa, terutama dari kalangan Islam konservatif.

Bila ingin melebarkan sayap, penerbit Islam mesti berhasil menaklukkan pasar umum; sebaliknya, penerbit umum tahu bahwa pasar Islam juga cukup pantas digarap. Penerbit Islam ingin melampaui beban psikologis yang bisa menghalangi peningkatan kinerja, sementara penerbit non-Islam malas bila sampai dianggap antipati terhadap Islam, karena itu mereka membuka diri. Biar nanti penerbit Islam lebih leluasa bergerak merambah buku umum dan penerbit non-Islam juga mendapat dukungan serta kepercayaan sepantasnya dari umat Islam bahwa mereka bisa menerbitkan buku Islam dengan baik.

Meleburkan label agama demi kepentingan bersama (nasional) jelas alot dan butuh kebesaran hati, karena agama berkepentingan dengan dakwah (syiar) dan butuh keagungan tertentu. Lebih baik membiarkan tujuan agama jadi hidden agenda masing-masing penerbit, dan mencurahkan energi demi perkembangan buku nasional secara keseluruhan, alih-alih eksklusif untuk kepentingan agama tertentu. Ada banyak agenda penerbitan yang belum terjelajahi dan patut digarap lebih baik, banyak kualitas buku nasional masih menyedihkan, dan kelompok kecil literer patut mendapat dukungan baik dari penerbit dan pemerintah. Semua itu baru bisa jadi agenda kerja bila semua pihak berhasil melampaui batasan agama.

Kini penerbit tahu bahwa yang paling penting ternyata ialah pasar itu sendiri, yang anonim namun bisa diarahkan. Ia mesti digarap, ditumbuhkan, dan dipelihara semaksimal mungkin, baik dengan buku umum maupun buku Islam. Bila sudah begitu, label Islam maupun non-Islam mungkin bisa dihapus, dan pelaku bisnis perbukuan Indonesia bisa bersatu bahu-membahu berinovasi, bereksperimen, mendekati kesempurnaan, menghasilkan karya yang bisa diterima semua kalangan umum dan lebih luas.

Atau bila kelompok kerja penerbit Islam mau lebih terbuka menyertakan penerbit non-Islam (bersikap inklusif), kemungkinan hal itu bisa melahirkan sesuatu yang baru, yaitu "Pameran Buku Agama" (Religious Book Fair), yang lebih berorientasi kebangsaan. Di sana publik tak sekadar disuguhi buku-buku Islam, melainkan juga seluruh keragaman agama, termasuk perkembangan dan pengaruh mereka terhadap bangsa. Itu kelihatannya bisa membuat semua kalangan tersenyum, karena memperlihatkan Indonesia yang plural dan toleran.[]

Anwar Holid, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Bukunya ialah Barack Hussein Obama (Mizania, 2007).

Catatan: Artikel ini awalnya muncul di Madina, dengan editing yang signifikan.

Sunday, May 25, 2008

[halaman ganjil]

Kalau Kalah, Jangan Sampai Kamu Kehilangan Pelajaran
---Anwar Holid*


Pada 8 Mei 2008 ini Frank Rijkaard dipecat sebagai pelatih klub Barcelona (Barca). Pemecatan tersebut merupakan buntut dari kekalahan 4-1 dari rival besar mereka, Real Madrid, yang baru saja minggu sebelumnya jadi juara La Liga Spanyol.

Sebenarnya aku rada-rada malas mengurusi pemecatan Frank Rijkaard karena jelas itu bukan urusanku. Karena itu aku juga nggak tahu seberapa sedih dia kehilangan pekerjaan. Menurutku, menggunakan istilah Budiarto Shambazy, kalau toh dipecat, dia "tetap jatuh di kasur empuk." Dibandingkan nasibku yang hanya seorang jutawan dengan sekian utang, nasib Frank Rijkaard tentu lebih beruntung. Hanya saja pemecatan itu menyisakan pertanyaan buat aku yang kadang-kadang tegang sendirian nonton pertandingan sepak bola, termasuk ketika Barcelona kalah 0-1 di kandang Manchester United---kesebelasan favoritku.

Seberapa hebat orang harus berprestasi biar tidak dipecat, batinku sehabis baca berita itu di BBC.com

Frank Rijkaard diangkat jadi pelatih Barcelona pada 2003. Prestasi terbesarnya untuk klub itu ialah dia memenangi La Liga pada 2005 dan pada 2006 dia juara dobel: memenangi La Liga sekaligus Champions League, mengalahkan Arsenal yang waktu itu dikapteni Thierry Henry---dan kini Henry membela Barcelona. Musim lalu (2007), Barcelona adalah runner up La Liga dan di Champions League bertahan hingga perempat final. Sementara Real Madrid pada 2007 di Champions League sudah keok duluan, meski mereka juara La Liga. Menurutku, yang paling menyakitkan Barcelona---mungkin juga Frank Rijkaard---ialah kondisi pada musim 2007. Waktu itu sejak awal hingga menjelang akhir musim Barca terus memimpin klasemen, tapi di ujung-ujung musim mengalami sejumlah kekalahan, sampai akhirnya disalip Real Madrid. Jelas menyakitkan kalah di ujung pertandingan setelah kamu memperlihatkan kinerja yang hebat. Itu seperti kamu terus-terusan dapat nilai bagus saat ulangan, tapi akhirnya kamu sendirian yang nggak naik kelas.

Dengan prestasi seperti itu bersama Barca, menurutku kinerja Rijkaard masih hebat dan tak pantas dipecat. Tapi kita tahu presiden Barca Joan Laporta memecat dia dan mengumumkan Josep Guardiola sebagai pengganti. Josep Guardiola merupakan salah satu legenda klub tersebut; mitosnya barangkali seperti Robby Darwis bagi bobotoh Persib. Kata ahli sepak bola Spanyol Graham Hunter, penyebab Rijkaard dipecat ialah para direktur kehilangan kepercayaan pada dia selama beberapa bulan belakangan.

Para direktur itu menurutku mengidap sindrom "Didera Serba Kekurangan." Mereka tak puas dengan kondisi yang ada dan kehilangan kesabaran menunggu waktu agar Rijkaard bisa kembali dan berprestasi tahun depan. Graham Hunter sangat ragu bahwa Guardiola bakal bisa menyabet trofi tahun depan mengingat kurangnya pengalaman dan kemampuan manajemen yang dia miliki.

Pemecatan pelatih atau manajer klub sepakbola sungguh sangat biasa dan terjadi kapan saja. Pada musim 2007 ini di liga-liga Eropa, tercatat Jose Mourinho, Sven Goran Erikkson, Ronald Koeman, Alan Curbishley sudah dipecat. Apa ada pemecatan itu yang mengundang empati? Rasanya tidak. Pemecatan paling heboh terjadi pada Jose Mourinho, mengingat dia bisa langsung membangun Chelsea jadi juara Liga Inggris, dan gayanya juga sangat high-profile. Aku sebenarnya juga sangat suka melihat sepak terjang dan kata-kata Mourinho yang berkarakter, kecuali setiap kali dia bisa mengalahkan Man Utd. Arsene Wenger juga pelatih yang termasuk sering aku perhatikan, lepas bahwa Arsenal akhir-akhir ini sering kalah. Aku masih ingat ucapannya waktu kalah di final Liga Champions 2006 di tangan Barca: "Tapi di final, hanya klub yang menanglah yang diingat."

Memang agak sulit menghitung seberapa hebat orang harus berprestasi agar bisa terus dihormati atau sulit dijadikan kambing hitam. Ada kalanya orang harus menerima kopi pahit dan menaruh itu sebagai bagian dari drama kehidupan. Kata Arvan Pradiansyah: kalau kamu kalah, jangan sampai kamu kehilangan pelajaran. Di zaman yang haus prestasi ini, para pecundang memang kehilangan tempat. Orang butuh kemenangan, kesuksesan, kebesaran, pencapaian besar, melebihi target, rekor, dan segala yang berbau hasil. Aku cukup yakin bahwa selama dunia belum kiamat, manusia bakal terus haus oleh prestasi. Kaum beragama pun, yang suka bicara tentang kesalehan atau menenangkan hawa nafsu, juga haus oleh prestasi, misal oleh perolehan jumlah jamaah atau keberhasilan dakwah juga perolehan hasil sumbangan/amal yang lebih besar, dan hal-hal badaniyah sejenisnya.

Aku sendiri dari dulu mengakui memang didera kekurangan---lepas bahwa aku berusaha bersyukur seikhlas-ikhlasnya. Dan entah bagaimana aku memenuhi kekurangan itu. Aku pernah bilang ke seorang teman bahwa targetku tahun ini meningkatkan penghasilan dan kinerja, tapi aku kelimpungan dengan disiplin dan didera banyak kesulitan. Aku jelas khawatir bila suatu hari nanti kehilangan kepercayaan para klien. Kalau sudah begitu, aku bisa mampus.

Tapi agak aneh juga bahwa aku ternyata termasuk orang yang mudah jengkel kalau mendengar ada orang suka membangga-banggakan prestasi, meski tahu bahwa prestasi itu selalu ingin dicatat di CV---termasuk yang kecil-kecil sekalipun. Bahkan dengar orang mengulang-ulang prestasi lamanya pun aku malas. Untuk ukuran duniawi, apa ada di urutan ke-3 La Liga adalah prestasi kecil? Jelas bukan kalau dibandingkan dengan kesebelasan yang degradasi. Tapi rupanya orang malas bersabar dan memilih perubahan. Siapa tahu ada angin segar. Kadang-kadang aku merasa nelangsa dengan nasibku yang nyaris tak punya banyak harta benda ini; tapi kalau diingat-ingat aku nggak harus antre minyak tanah, nggak sampai putus asa nenggak racun karena takut miskin, baru-baru ini bisa ke Pizza Hut bareng anak-istri, dihadiahi CD mp3 Pink Floyd oleh orang yang bersimpati karena baca tulisanku, bisa dengar Explosions in the Sky sambil sedikit demi sedikit mencangkul menyelesaikan order, atau bolak-balik baca buku menarik, dan terus membuntuti berita Obama... jelaslah aku masih pantas bersyukur dan optimistik bisa meningkatkan prestasi.

Jelas prestasi dihukumi dengan pengharapan, target, juga biaya dan fasilitas. Tapi boleh jadi prestasi merupakan sebuah sukses kebetulan dengan bonus yang mustahil terulang. Mungkin kamu menulis sebuah buku dan secara mengejutkan ia best seller gila-gilaan, sampai orang-orang berharap agar buku kamu selanjutnya sesukses yang pertama. Namun sukses itu ternyata tak kunjung tiba, meski kamu menulis lima buku setelahnya. Wah, apa pun itu, tetap saja prestasi kamu patut disyukuri. Tahun lalu Rijkaard kalah secara menyakitkan, tahun ini pun kurang-lebih sama. "Lebihnya" ialah Barca berhasil mencapai semi final Liga Champions. "Kurangnya" tentu saja Barca ada di urutan ke-3 La Liga dan gagal masuk final Liga Champions. Apa itu bukan sebuah "prestasi"? Ternyata bukan. Itu hanya statistik. Jadi prestasi itu apa? Tentunya harus menang La Liga dan juara Liga Champions. Seberat itu ternyata yang namanya prestasi.

Jadi kalau presiden SBY bilang bahwa program pengentasan kemiskinannya belum memuaskan; itu artinya dia gagal. Kalau aku bilang nggak bisa nyetor tulisan sesuai janji; aku juga gagal. Bila seorang striker tak memasukkan gol maupun menyumbang umpan, jelas dia gagal. Kalau seorang tentara luput menembak musuh atau target, tentulah dia pun gagal. Sangat mudah bilang bahwa seseorang gagal, tanpa perlu cari alasan sekalipun. Mungkin ini penilaian terlalu kaku atas prestasi, sebab terlalu mengabaikan proses maupun nol toleransi terhadap apa pun yang berkonotasi kegagalan. Tapi bukankah dunia begitu? Untuk kegagalan, penghargaan yang tersedia ialah Razzie Award atau sebutan "the worst" di edisi-edisi pilihan majalah Time dan sejenisnya. Aku ingat, album musik Jenderal Wiranto pernah masuk kategori "The Worst Album" di majalah itu.

Siapa bisa memandang kegagalan dengan senyum, kecuali orang tua yang tengah menenangkan anak karena nilai ulangan turun dan rangkingnya anjlok? Orangtua itu mungkin akan bilang, "Ibu tahu kok kamu belajar keras tahun ini. Gak apa-apa nilaimu jelek. Kamu tetap anak ibu tersayang. Tahun depan kamu pasti bisa juara satu lagi, kalau berusaha." Coba itu terjadi pada Rijkaard! Tapi sayang, dunia butuh drama.[]10/5/08

---Anwar Holid, suka merayakan prestasi kecilnya di Rumah Buku sambil minum espresso. Penulis Barack Hussein Obama (Mizania, 2007).