Thursday, June 19, 2008


Kuliah Sinclair Lewis tentang Penulisan


Suatu hari Sinclair Lewis, sastrawan AS pertama yang menerima anugerah Nobel Sastra, menerima undangan Universitas Harvard agar memberi kuliah tentang penulisan. Dia memenuhi panggilan itu, meski kelihatan agak kacau.

Ketika sampai di podium dia berteriak kepada para mahasiswa, "Ayo angkat tangan, siapa di antara kalian yang ingin jadi penulis?"

Tentu saja semua orang mengacungkan tangan.

"Kalau begitu kenapa kalian semua tak ada di rumah dan terus menulis?" tanya dia mendelik dan meninggalkan podium.

Kuliah selesai![]

Dicomot oleh Anwar Holid dari The Writer's Book of Wisdom (Steven Taylor Goldsberry.)


[HALAMAN GANJIL]

QUEEN SEBAGAI TEMAN TERBAIKKU
--Anwar Holid


Agak aneh tiba-tiba aku mendengar beberapa album Queen di akhir minggu ini. Barangkali karena aku pernah menemukan file berisi seluruh lirik lagu mereka dari sebuah warnet. Aku terutama mendengar album awal mereka, kecuali 'A Night at the Opera' yang sudah begitu terkenal.

Queen adalah satu-satunya band yang aku sukai terus-menerus; band beranggotakan Freddie Mercury (vokal, piano, keyboard), Brian May (gitar, vokal), John Deacon (bass), Roger Taylor (drum, vokal). Mereka inaktif ketika Freddie meninggal karena AIDS. Aku ingat waktu malam-malam sendirian di depan tv, mendengarkan berita kematiannya di TVRI; rasanya ada sesuatu yang lenyap, sekejap saja, yaitu pengakuan bahwa aku menyukai mereka sebagai band, musik yang mereka mainkan, lirik yang mereka nyanyikan (bila aku baca liriknya). Ada pengakuan, 'Mereka adalah bagian dari aspek mentalku, dan sekarang salah satunya hilang.' Apa yang tersisa dari sebuah rasa suka? Barangkali kenikmatan; kenikmatan yang mungkin imaterial, kadang-kadang sulit dijelaskan.

Waktu dulu di SMP awal-awal menyukai Queen, aku merasa itu adalah pilihan yang aneh. Hampir semua temanku favoritnya adalah The Beatles, The Rolling Stones, atau Iwan Fals. Kalau aku bilang bahwa aku suka Queen mereka tertawa seolah-olah hendak bilang bahwa itu adalah pilihan ganjil. Tapi rupanya hingga sekarang pun rasanya Queen tetap ada di urutan teratas kalau aku ditanya, 'Apa band favoritmu?' Kalau diingat-ingat, salah satu sebab kenapa aku bertahan suka Queen adalah kesan bahwa mereka adalah band yang sopan dan baik-baik saja. The Rolling Stones rasanya terlalu liar; sementara The Beatles rasanya terlalu kuno (kesan salah yang aku sadari beberapa tahun belakangan). Kalau dibandingkan dengan band sekarang, mungkin Queen mirip Coldplay atau Dave Matthews Band yang nyaris tak pernah diberitakan buruk. (Kesan ini juga rasanya terlalu naif; sebab aku toh berjarak sangat jauh dengan mereka dalam kenyataan.) 'Noda hitam' yang kerap membuat Queen tidak populer adalah fakta bahwa Freddie mati karena AIDS, tambah kecenderungan biseksualnya.

Karena suka, dulu aku pernah punya semua album (kaset) mereka. Tapi karena Uaku sering sebal oleh orientasi musik rock itu, dia sering bilang 'apa artinya itu buat kamu?' Sampai aku ketemu seorang guru praktik di SMP yang juga suka Queen; akhirnya semua kaset itu berikan pada dia. Rasanya aku memberikan sesuatu yang sangat berharga, dan aku tak menyesal sama sekali. Sekarang aku masih punya beberapa kaset Queen; yang paling 'berharga' adalah album Flash Gordon, soundtrack film tersebut, produksi tahun jebot. Gantinya aku punya satu disk CDROM mp3 penuh dengan album Queen. Bahkan dulu aku punya kliping sisipan Queen dari Hai, yang mungkin masih ada kalau aku selisik seluruh simpanan klipingku. Tapi kadang-kadang muncul pertanyaan yang pernah dilontarkan Uaku dulu, 'apa artinya itu buat kamu?' hingga akhirnya aku cukup biasa saja suka pada Queen, tidak sampai tergila-gila, yang menganggap seolah-olah itu adalah sesuatu yang begitu berharga.

Favorit orang memang beda-beda, dan cenderung bisa berubah. Aku dulu heran ada teman sekelas suka Bob Dylan, Joan Baez, Astrud Gilberto; waktu karena penjelajahan aku bisa beralih ke musik-musik yang cenderung aneh, termasuk jazz, eksperimental, etnik, aku tahu bahwa kesukaan itu tentu biasa saja. Sekarang ini rasanya aku bisa mendengar semua musik, termasuk lagu-lagu Pance Pondaag kalau terpaksa. Buatku sendiri, Queen sekarang seolah-olah sesuatu yang ada dalam bawah sadar; aku tahu rasanya mustahil bagian lenyap dari diriku, meskipun kalau hilang, aku yakin juga akan baik-baik saja. Queen sekarang hanya salah satu dari sekian banyak band atau penyanyi yang aku sukai. Aku sekarang suka Coldplay, Dave Matthews Band, juga Pat Metheny, Michel Portal, Peter Gabriel, belum A Perfect Circle atau Opeth (khusus album Damnation), dan Explosion in the Sky.

Banyak yang suka Queen; karena itu favoritku bukan lagi big hit mereka seperti Bohemian Rhapsody, Another One Bites the Dust, atau Love of My Life dan We Will Rock You, melainkan lagu-lagu minor seperti '39, Don't Try Suicide, Soul Brother, Seven Seas of Rhye dan Brighton Rock. Kecenderungan ini ternyata ada penjelasannya dalam kajian popular culture, yaitu orang cenderung resisten terhadap selera massa, ingin jadi elite, ingin beda, eksklusif. Jadi, sadar ada jutaan orang suka Queen, aku mencari (dan menemukan) sesuatu yang bukan selera pasar, pada lagu-lagu yang orang jarang tahu. Padahal harus diakui, selera seperti itu manusiawi banget sebenarnya, sekadar agar seseorang merasa mudah dikenal, tampak khusus.

Setelah Freddie mati aku pernah baca Queen berusaha mencari penyanyi utama; konon, kandidat utamanya adalah George Michael atau Paul Rodgers. George Michael pernah nyanyi bareng sisa anggota Queen di 'The Freddie Mercury Tribute Concert', membawakan Somebody To Love, yang menurutku sangat bagus dan mengesankan. Aku sendiri sangat mengejutkan ternyata suka sekali satu album George Michael, Listen Without Prejudice Vol. I; bagiku itu album pop pertama yang bisa aku nikmati secara maksimal, bahkan sampai beli CD-nya. Semua lagunya top. Tapi akhirnya berita bahwa Michael bakal menggantikan posisi Mercury tak jadi kenyataan. Paul Rodgers adalah mantan vokalis Free, Bad Company, The Firm, dan sudah biasa bekerja sama dengan Brian May.

Barangkali memang sudah demikian seharusnya, bahwa Queen adalah satu dalam empat orang. Setelah inaktif, mereka meninggalkan kesan tak ada yang harus menggantikan Freddie; persis seperti Led Zeppelin yang langsung bubar setelah Bonzo mati, Nirvana setelah Cobain bunuh diri. Rasanya hanya beberapa band yang bisa bertahan begitu lama tanpa perubahan formasi sekalipun, salah satunya adalah Queen. Moral keutuhan grup seperti ini dijalani band lebih muda seperti U2, Dave Matthews Band, dan Coldplay. Lebih banyak band yang berubah formasi; atau terus jalan meski ditinggalkan unsur utamanya, seperti kasus Pink Floyd yang ditinggal Roger Waters, Genesis oleh Peter Gabriel, Marillion oleh Fish, atau Van Halen oleh David Lee Roth.

Waktu SMP gara-gara suka Queen aku ingin bisa main gitar. Kebetulan kakak teman sekelasku sudah bisa dan aku berusaha belajar dari dia. Tapi gagal. Aku kerap mengeluh, kenapa suaranya nggak sebagus di kaset? Dia ngakak betapa naif aku menyangka musik itu terdengar sebagaimana adanya tanpa bantuan peralatan dan teknologi untuk mendapatkan bunyi yang merdu. Tapi salah satu hasil dari kebiasaan mendengar musik adalah aku rasanya bisa mudah menyimpulkan memutuskan mana musik yang cocok atau tidak buat aku.

Persis sekarang ini bagiku Queen telah menjadi relik. Aku senantiasa tergerak bila kembali mendengar musik mereka; tapi cukup begitu. Dia pernah ada di dalam diriku, dan aku biarkan hidup, belum ditolak atau dilenyapkan; bahkan mungkin sebagian unsur itu membatu. Seberapa banyak yang telah aku lupakan dalam diriku? Barangkali rasa sebal, pengalaman buruk, trauma (kalau ada), borok-borok hidup. Aku masih menyimpan beberapa kaset Queen, di antaranya yang aku anggap paling langka ialah soundtrack Flash Gordon produksi tahun jebot. Tentu saja Queen bukan segala-galanya buatku; tapi setidaknya ia adalah "sesuatu" yang bisa menemaniku hidup, dengan musik dan sisi indahnya. Aku ingin menghargai sesuatu sebagaimana adanya; mengambil yang baik, mensyukuri kenikmatan yang aku ambil dari hidup. Barangkali harus aku akui, bisa jadi Queen adalah salah satu hal terbaik yang pernah aku dapat dari menyukai
musik.[]5:42 AM 8/22/05


NB: Esai ini merupakan revisi dari artikel yang pernah ditanggapi/diralat oleh Akmal Nasery Basral dan beberapa orang lain.

Tentang Buku Pak Muh
---Agus Kurniawan

Mencari Nama Allah yang Keseratus
Penulis: Muhammad Zuhri
Penerbit: Serambi Jakarta
Cetakan: Pertama, Juli 2007
Tebal: 215 halaman



Tentang buku Pak Muh (
Mencari Nama Allah yang Keseratus) mending baca sendiri atau tanya orang lain saja deh. Gak berani menjelaskannya, takut tidak tepat. Tapi, sedikit yang saya bisa cerna —maklumlah "pencernaan" saya jelek banget untuk urusan dunia pemikiran — mungkin begini:

Allah telah menawarkan nilai-nilai, yang secara artikulatif disimbolkan melalui asma-Nya yang berjumlah 99 (asma'ul husna, nama-nama yang agung). Tapi, sumber itu tidak akan berarti apa-apa bagi seseorang bila tidak direalisasikan dalam bentuk tindakan, gerak, amal, atau keterlibatan diri, yang memberi manfaat bagi kehidupan. Ketika sudah direalisasikan dan menginternal dalam diri seseorang, maka seseorang itu akan menemukan/dianugrahi suatu "cara" atau metode yang efektivitasnya sangat tinggi dalam menjalankan amanatnya sebagai khalifah Allah. "Cara" tadi benar-benar khas milik orang itu sendiri, yang berbeda masing-masing orang. Sama-sama nabi, sama-sama ulama, sama-sama sufi, sama-sama pejuang, tapi perannya masing-masing khas dan berlainan. Atau setidak-tidaknya apa yang dihayatinya berbeda-beda. Pada saat itulah dia dikatakan telah menemukan asma Allah yang keseratus. Mungkin maksudnya begitu ya.

Dalam pemahaman saya, istilah yang digunakan Pak Muh itu merupakan elaborasi imajinatif (dalam konteks positif lho) terhadap konsep literal yang sudah baku. Tujuannya adalah untuk meneguhkan tentang perlunya keterlibatan sang subjek dalam merealisasikan nilai atau konsep sehingga menjadi aktual. Dalam tradisi Jawa, sejauh yang saya tahu, terdapat model pemaparan serupa itu. Misalnya sedulur papat kelima pancer, atau empat bersaudara dan yang kelimanya adalah sang pelengkap—sebuah elaborasi simbolik dari "kehadiran" Pandawa Lima. Puntodewo, si sulung, adalah simbol keikhlasan. Werkudoro/Bimo simbol kejujuran (bahkan dia ditakdirkan tidak bisa berbasa-basi). Arjuno simbol ilmu pengetahuan atau kemampuan mengelola kehidupan duniawi. Nakulo simbol kerendah- hatian dan refleksi diri (na = tidak ada, kulo = aku atau ego). Sedangkan pelengkapnya adalah si bungsu Sadewo (yang arti harfiahnya adalah berkemampuan layaknya dewa). Awalan "sa" atau "se" dalam bahasa Jawa artinya bisa "satu", tapi bisa juga "serupa". Misalnya, dalam kalimat isinku segunung, yang artinya "rasa maluku sebesar gunung". Jadi "Sadewo" bisa diartikan satu dewa, bisa juga berarti berkemampuan serupa dewa. Tapi, saya lebih sepakat yang kedua karena konteksnya lebih pas.

Sadewo adalah simbol keterlibatan si subjek dalam mengamalkan nilai-nilai sehingga menjadi aktual. Begitu empat nilai itu menginternal dalam diri si subjek, maka dia akan memiliki efektivitas yang tinggi dalam manajemen semesta, dan layak menjadi wakil Tuhan di Bumi, atau bisa dikatakan mewarisi kemampuan ilahiyah. Sadewo, seperti kita tahu dalam cerita pewayangan, secara simbolik memiliki kemampuan seperti itu. Salah satu yang terkenal adalah kemampuanya mengetahui masa depan. Dalam cerita wayang, ada dua sosok yang memiliki kemampuan seperti itu, yakni Kresno dan Sadewo. Tetapi, kemampuan Kresno lebih disebabkan karena dia memiliki senjata pemberian dewa, yaitu koco paesan (cermin penerawang masa depan = simbol perkakas analisis). Sedangkan kemampuan Sadewo adalah natural, berasal dari dirinya sendiri.

Konsep itu juga analog dengan istilah Jawa yang lain, yakni ilmu lan laku. Ilmu tentu saja artinya adalah pengetahuan atau kebijaksanaan. Tetapi, ilmu tidak akan berarti apa-apa bila tidak disertai dengan laku atau keterlibatan si subjek. Oleh karena itu dalam tradisi Jawa dikenal istilah ngelakoni, atau melibatkan diri dalam berbuat kebaikan kepada masyarakat. Salah satu bentuk laku atau ngelakoni adalah poso ngrame. Poso hampir sama artinya dengan kata puasa dalam bahasa Indonesia, tapi maknanya lebih luas. Poso lebih tepat diartikan memaksa diri atau berkomitmen untuk melakukan sesuatu. Ngrame dari kata "rame" yang makna konotatifnya adalah meramaikan kehidupan dengan berbuat kebaikan. Memang bentuk poso ngrame adalah menolong siapapun yang membutuhkan pertolongan, seperti dilakukan Raden Rama saat mencari Shinta, yaitu ketika dia menolong kera Sugriwo (dalam cerita wayang Jawa lho) yang dianiaya oleh kakak kandungnya Subali.

Jadi, ringkasnya, dalam pemahaman saya, Pak Muh lewat bukunya ingin menyampaikan bahwa nilai-nilai (sebaik apa pun) belum sempurna bila belum direalisasikan ke dalam kehidupan faktual. Mungkin begitu maksudnya. Sehingga apa pun harus digenapkan atau disempurnakan, bukan oleh siapa-siapa, tapi oleh diri si pelaku. Seperti dalam lakon populer Roro Jonggrang: seluruh patung yang diminta oleh Roro Jonggrang sebagai punagi (mas kawin) ternyata belum lengkap kecuali digenapi oleh diri Roro Jonggrang sendiri. Dan syahdan, Jonggrang pun akhirnya menjadi patung. Lengkaplah sudah, sempurnalah sudah.[]

Awalnya tulisan ini diposting di cyberaki@yahoogroups.com.

Diedit oleh Anwar Holid.