Thursday, June 19, 2008


Tentang Buku Pak Muh
---Agus Kurniawan

Mencari Nama Allah yang Keseratus
Penulis : Muhammad Zuhri
Penerbit : Serambi Jakarta
Cetakan : Pertama, Juli 2007
Tebal : 215 halaman



Tentang buku Pak Muh (
Mencari Nama Allah yang Keseratus) mending baca sendiri atau tanya orang lain saja deh. Gak berani menjelaskannya, takut tidak tepat. Tapi sedikit yang saya bisa cerna (maklumlah "pencernaanku" jelek banget untuk urusan dunia pemikiran) mungkin begini:

Allah telah menawarkan nilai- nilai, yang secara artikulatif disimbolkan melalui asmaNya yang jumlahnya 99 (asma'ul husna, nama-nama yang agung). Tapi sumber itu tidak akan berarti apa-apa bagi seseorang bila tidak direalisasi dalam bentuk tindakan, gerak, amal, atau keterlibatan diri, yang memberi manfaat bagi kehidupan. Ketika sudah direalisasikan dan menginternal dalam diri seseorang, maka seseorang itu akan menemukan/dianugrah i suatu "cara" atau metode yang efektifitasnya sangat tinggi dalam menjalankan amanatnya sebagai khalifah Allah. "Cara" tadi benar-benar khas milik orang itu sendiri, yang berbeda masing- masing orang. Sama-sama nabi, sama-sama ulama, sama-sama sufi, sama-sama pejuang, tapi perannya masing-masing khas dan berlainan. Atau setidak-tidaknya apa yang dihayatinya berbeda-beda. Pada saat itulah dia dikatakan telah menemukan asma Allah yang keseratus. Mungkin maksudnya begitu ya.

Dalam pemahamanku, istilah yang digunakan Pak Muh itu merupakan elaborasi imajinatif (dalam konteks positif lho) terhadap konsep literal yang sudah baku. Tujuannya adalah untuk meneguhkan tentang perlunya keterlibatan sang subjek dalam merealisasikan nilai atau konsep sehingga menjadi aktual. Dalam tradisi Jawa, sejauh yang saya tahu, terdapat model pemaparan serupa itu. Misalnya "sedulur papat kelima pancer", atau empat bersaudara dan yang kelimanya adalah sang pelengkap, sebuah elaborasi simbolik dari "kehadiran" Pandawa Lima. Puntodewo, si sulung, adalah simbol keikhlasan. Werkudoro/bimo simbol kejujuran (bahkan dia ditakdirkan tidak bisa berbasa-basi) . Arjuno simbol ilmu pengetahuan atau kemampuan mengelola kehidupan duniawi. Nakulo simbol kerendah hatian dan refleksi diri (na=tidak ada, kulo=aku atau ego). Sedangkan pelengkapnya adalah si bungsu sadewo (yang arti harfiahnya adalah berkemampuan layaknya dewa). Awalan "sa" atau "se" dalam bahasa Jawa artinya bisa "satu" tapi bisa juga "serupa" . Misalnya dalam kalimat "isinku segunung", yang artinya "rasa maluku sebesar gunung". Jadi "Sadewo" bisa diartikan satu dewa, bisa juga berarti berkemampuan serupa dewa. Tapi aku lebih sepakat yang kedua karena konteksnya lebih pas.

Sadewo adalah simbol keterlibatan si subjek dalam mengamalkan nilai-nilai sehingga menjadi aktual. Begitu empat nilai itu menginternal dalam diri si subjek, maka dia akan memiliki efektifitas yang tinggi dalam manajemen semesta, dan layak menjadi wakil Tuhan di bumi, atau bisa dikatakan mewarisi kemampuan ilahiyah. Sadewo, seperti kita tahu dalam cerita pewayangan, secara simbolik memiliki kemampuan seperti itu. Salah satu yang terkenal adalah kemampuanya mengetahui masa depan. Dalam cerita wayang, ada dua sosok yang memiliki kemampuan seperti itu, yakni Kresno dan Sadewo. Tetapi kemampuan Kresno lebih disebabkan karena dia memiliki senjata pemberian dewa, yaitu koco paesan (cermin penerawang masa depan = simbol perkakas analisis) . Sedangkan kemampuan Sadewo adalah natural, berasal dari dirinya sendiri.

Konsep itu juga analog dengan istilah Jawa yang lain, yakni "ilmu lan laku". Ilmu tentu saja artinya adalah pengetahuan atau kebijaksanaan. Tetapi ilmu tidak akan berarti apa-apa bila tidak disertai dengan laku atau keterlibatan si subjek. Oleh karena itu dalam tradisi Jawa dikenal istilah "nglakoni", atau melibatkan diri dalam berbuat kebaikan kepada masyarakat. Salah satu bentuk "laku atau nglakoni" adalah "poso ngrame". Poso hampir sama artinya dengan kata puasa dalam bahasa Indonesia, tapi maknanya lebih luas. "Poso" lebih tepat diartikan memaksa diri atau berkomitmen untuk melakukan sesuatu. "Ngrame" dari kata "rame" yang makna konotatifnya adalah meramaikan kehidupan dengan berbuat kebaikan. Memang bentuk "poso ngrame" adalah menolong siapapun yang membutuhkan pertolongans, seperti dilakukan Raden Rama saat mencari Shinta, dimana dia menolong kera Sugriwo (dalam cerita wayang Jawa Lho) yang dianiaya oleh kakak kandungnya Subali.

Jadi, ringkasnya, dalam pemahaman saya, Pak Muh lewat bukunya ingin menyampaikan bahwa: nilai-nilai (sebaik apapun) belum sempurna bila belum direalisasikan kedalam kehidupan faktual. Mungkin begitu maksudnya. Sehingga apapun harus digenapkan atau disempurnakan, bukan oleh siapa-siapa, tapi oleh diri si pelaku. Seperti dalam lakon Roro Jonggrang yang populer, seluruh patung yang diminta oleh Roro Jonggrang sebagai punagi (mas kawin) ternyata belum lengkap kecuali dilengkapi oleh diri Roro Jonggrang sendiri. Dan syahdan, Jonggrang pun akhirnya menjadi patung. Lengkaplah sudah, sempurnalah sudah.[]

Diedit oleh Anwar Holid

Awalnya tulisan ini diposting di cyberaki@yahoogroups.com

1 comment:

Rumah Sanjiwani said...

well, pendapat yang cukup menarik hanya saja sekarang bila kita melihat jeruk dari kulitnya kita tidak pernah tahu bagaimana rasanya, bentuk isinya, yang kita tahu hanyalah warna kulitnya.
Begitu pun dalam pengkajian cerita yang berfilosofis seperti wayang jawa kuna, sebenarnya apa sih yang diceritakan? Hanya sekedar dongengkah?
Terkadang saya kepengen tertawa bila ada orang yang mencoba menterjemahkan suatu filosofis hidup dengan pemikiran logika exact, apalagi mencoba menterjemahkan arti ngelakoni urip, dan mungkin saya koreksi sedikit yang anda maksud bukan poso ngrame tapi topo ngrame, lalu sedulur papat lima pancer yang anda katakan yang kelima adalah hanya "pelengkap" justru yang kelima adalah intinya.
Saya bukanlah orang yang pintar tapi yang saya tahu dalam hidup ini yang anda tahu adalah penduplikasian, anda mengatakan rasa gula itu manis karena anda diajarkan seperti itu. Seandainya anda diduplikasikan bila gula rasanya asam, apakah saat ini anda akan tetap mengatakan gula itu manis?
Disinilah menurut saya pengkajian tentang hidup itu, leluhur kita sudah menemukan kajian luhur ini jauh sebelum kita ada. Tentang kebenaran yang sejati manusi yang mereka coba hantarkan lewat cerita wayang,tentang tujuan hidup manusia, "Manunggaling Kawula Gusti". Setiap orang memiliki Tuhannya sendiri, tinggal bagaimana cara kita mengenalnya