Thursday, November 10, 2005

ODE KAMPUNG 2006: Temu Penyair se-kampung Nusantara
-------------------------------------------------------------------

>> Gola Gong heri.hendrayana@rcti.tv


Saya mendengar cerita tentang komunitas Mendut pimpinan Sutanto, pada sekitar 1995 mengadakan hajat besar dengan tema refleksi emas negeri ini, yang saat itu berulangtahun ke-50. Para seniman dan budayawan di seantero negeri berdatangan ke Mendut, Yogyakarta. Mereka bertebaran di rumah-rumah penduduk. Untuk urusan MCK, mereka memanfaatkan sungai. Toto ST Radik yang hadir di perhelatan akbar itu mengenang, "Tidak perlu dana besar untuk pergi ke pesta seniman dan budayawan di Mendut.

Sutanto membuat denah kampung Mendut, dimana kami bisa menginap yang murah-meriah, makan alakadarnya, dan beli rokok." Tambah Toto, semua penyair diberi kesempatan berorasi, mengeluarkan uneg-uneg, bahkan sumpah serapahnya. Lalah-lahan terbuka di perkampungan dijadikan tempat berdiskusi dan berekspresi.

KOTA MODERN
Sepuluh tahun kemudian. Apa yang digemakan oleh para penyair di komunitas Mendut, terkikis zaman dan perubahan waktu. Kampung tak lagi jadi idaman. Kampung disimpan dalam toples kaca atau album foto.

Negeri ini tidak mengalami perubahan apa pun. Soeharto lengser, Habibi naik tidak merubah apa-apa. Gusur naik dan dilengserkan, giliran Megawati berkuasa, juga tidak merubah apa-apa. Kini SBY belum genap setahun, koruptor banyak yang terbongkar tapi uang tidak bisa kembali.

Tumbalnya lagi-lagi rakyat. Harga-harga membumbung. BBM dinaikkan, agar si kaya mensubsidi si miskin. Semua dibebankan ke rakyat. Sementara para petinggi negara dan anggota dewan ongkang-ongkang kaki di restoran sambil mencari-cari slilit di antara gigi.

Semua orang di negeri ini - siapapun dia - terseret arus globalisasi; hedonis dan konsumtif. Revolusi fashion, food, dan film menghajar semua kalangan. Semua orang silau dengan yang berbau modernisasi. Kampung ditinggalkan. Kota jadi acuan. Pulau jadi loncatan, negeri seberang jadi harapan. Padahal orang-orang kampung yang menyerbu kota itu belum juga bisa meninggalkan budaya kampungnya. Di rumah-rumah yang sempit di perumahan menengah ataupun sederhana, mereka masih saja memelihara kambing, ayam, atau burung. Mereka bersembunyi dalam status sosial, bahwa burung atau ayam bukan untuk diternakkan, tapi sekedar dikoleksi untuk melepas kepenatan. Di ruang-ruang resepsi yang wah, mereka masih saja membuang abu rokok sembarangan dan menyisakan makan malam padahal di jalanan banyak yang kelaparan. Sementara orang-orang kampung miskin yang berjejalan di gang-gang kumuh, di kolong jembatan, mengotori sungai dan selokan dengan sampah atau air kencing mereka.

Ya, semua orang lupa pada kampung kelahiran mereka sendiri. Atau orang yang mengaku kota, juga mengabaikan saudara-saudara mereka di kampung. Mereka lebih suka belanja dengan merek palsu yang penting gaya dan seminar dengan bahasa yang aneh-aneh atau bersilaturahim di kota dengan tema intelektual, bahkan berkunjung ke luar negeri adalah maha segala. Segala macam kegiatan dirancang, untuk mengelabui saudara sendiri yang tersisa di kampung. Studi banding ke luar negeri. Kongres ini-itu. Semua kalangan jadi genit dan kebarat-baratan. Siapa yang tidak bersinggungan dengan liberalisme, maka dia bukan manusia.

PRO-KONTRA
Tidak terkecuali para seniman dan budayawan. Mereka tidak percaya satu sama lainnya, sehingga merasa perlu membuat organisasi untuk mengatur sesama teman sendiri dengan alasan agar bisa terkontrol dan saling mengontrol. Dewan-dewan dibentuk dan prilakunya jadi seperti anggota dewan sungguhan, karena selalu minta disubsidi. Ya tidak apa. Minta disubsidi, itu bukan sesuatu yang hina.

Tapi tiba-tiba saja...

Di media massa para seniman dan budayawan mencuri perhatian di tengah krisis multidimensi negeri ini. Kasus-kasus korupsi belum lagi terselesaikan, masyarakat yang tercekik kemiskinan di kampung disuguhkan fenomena seniman dan budayawan yang imejnya tidak mau diatur itu, kini ricuh sendiri. Saling usung poster dan rame-rame bikin konprensi pers.

Kubu-kubuan mencuat. Kubu barat, kubu timur. Kubu utara, kubu selatan. Siapa yang tak berkubu, maka tak mendapat giliran atau bagian. Kongres Dewan Kesenian Daerah di Papua yang merekomendasikan DKI (Dewan Kesenian Indonesia) diprotes oleh mereka juga. Ada pro dan kontra. Semua sepakat, bahwa perbedaan pendapat adalah berkah. Keberagaman adalah bagian dari demokratisasi. Semoga juga dalam kekaryaan, mereka tidak memaksa yang lain untuk mengikuti satu ganre saja, karena dalam kekaryaan juga terjadi keberagaman. Ya, semoga pro dan kontra soal organisasi, terbawa juga dalam hal kekaryaan mereka. Ada karya kota, karya kampung, karya pinggiran, karya tengahan, karya atas, karya bawah, dan karya samping.

Tapi Iman Soleh, raja monolog dari Bandung, yang pro DKI berpesan, "Sebaiknya seniman harus bersatu. Jika bersatu, tidak ada yang bisa mengalahkan!" Iman memang menginginkan seniman bersatu padu. Kini Kongres Kesenian Indonesia (KKI) 2 yang baru saja usai akhir September lalu, merekomendasikan kerja kesenian harus disubsidi pemerintah lewat APBN atau APBD. Apakah itu berarti, jika seniman bersatu maka pemerintah akan mengongkosi kerja kesenian? Kalau tidak bersatu, apakah seniman bisa mensubsidi sendiri kegiatannya?

TEMA
Adalah Rumah Dunia, komunitas nirlaba di Komplek Hegar Alam 40, kampung Ciloang Serang, yang mencoba meneruskan semangat komunitas Mendut. Mencoba menembus batas. Mencoba membentuk kembali kebersamaan antara seniman dan masyarakat, yang jadi sumber inspirasi bagi karya-karyanya. Menjadikan kembali masyarakat yang tinggal di kampung sebagai saudara sekandung, yang sudah lama ditinggalkan, dengan cara menghapuskan lagi jarak.

Bukankah penyair juga adalah manusia?

Bermula dari obrolan santai antara saya, Toto ST Radik dan teman- teman sukarelawan di Rumah Dunia. Bermula dari harga beras yang menaik, karena Toto selain penyair, jurkam KB, juga juragan beras. Kemudian menukik ke peta kepenyairan di Banten, yang carut-marut.
Lalu diskusi menembus batas, lewat SMS dengan Gus tf Sakai di Payakumbuh, Chavcay Saefullah di Ciputat, Firman Venayaksa (PJ Program Rumah Dunia) yang sedang jadi pembicara di KKI 2, Wan Anwar di Serang dan Soni Farid Maulana di Bandung. Maka tercetuslah ide membuat kegiatan "Ode Kampung: Temu Seniman se-Kampung Nusantara", yang insya Allah akan digelar pada Februari 2006. Titik utamanya adalah pada para penyair.

Tapi, para pembicaranya bisa lintas seni; perupa, pemusik, pelakon....

Ini masih bisa didikusikan. Haya penamaan "Ode Kampung" adalah mengibaratkan kampung yang bersenandung sedih menunggu kematiannya. Tapi yang lebih penting sebagai stimulus bagi para pelajar dan mahasiswa di Banten. Juga bagi para penyair se-kampung nusantara yang selama ini terpinggirkan. Semangat yang diusung sejalan dengan Rumah Dunia; mencerdaskan dan membentuk generasi baru yang kritis serta mandiri. Yang siap memerangi kebatilan dengan pena.

Kegiatan Ode Kampung mengangkat tema besar "Sastra(wan) di tengah persoalan kampungnya". Atau "Seniman di tengah persoalan kampungya.

Beberapa topik diskusi akan digelar pada Sabtu dan Minggu. Topik-topik yang diusung adalah:
1) Pembelajaran Sastra di Sekolah,
2) Kontekstualisme Sastra Masih Perlukah?,
3) Sastra Kanon dan Sastra Kampung, dan
4) Mencari sastra kampung yang mendunia.


Keempat topik diskusi itu akan digelar masing-masing dua sesi setiap harinya; Sabtu pagi dan siang, serta keesokan harinya, Minggu. Tapi, Ode Kampung tidak hanya diisi diskusi antar penyair saja. Pelajar, mahasiswa, guru, dosen, bahkan orang kampung boleh ikut. Juga ada pembacaan puisi dan proses kreatif para penyair, serta pelatihan puisi.

Para volunteer Rumah dunia sudah bersiap-siap menyebarkan undangan kepada para pelajar dan mahasiswa, serta guru bahasa dan sastra Indonesia di Banten.

"Ini anggap saja kegiatan klab diskusi atau kelas menulis Rumah Dunia, yang sudah rutin diadakan setiap Sabtu dan Minggu," kata Rimba Alangalang, PJ Sekretariat Rumah Dunia. Andi Suhud Sentra Utama, donatur tetap Rumah Dunia, siap mencetak poster sebanyak 500 eksemplar seusai lebaran untuk sosialisasi kegiatan.

Bahkan Gus tf Sakai lewat SMS menanggapi dengan serius, "Saya siap jadi pemandu pembelajaran puisi!"

Begitu pula Soni Farid Maulana, "Saya akan datang!"

Firman Venayaksa tidak tinggal diam. Firman menyebarkan informasi Ode Kampung dari mulut ke kuping di KKI 2. Hasilnya dia sampaikan lewat SMS, "Jamal D Rahman, Dyah Hadaning, Sihar Ramses, dan komunitas Mnemonic di Badung siap menyerbu Rumah Dunia!"

DANA PESERTA
Darimana datangnya dana? Apakah dari mata turun ke dompet? Sementara ini Rumah Dunia sudah menyiapkan dana awal sebesar Rp. 2 juta. Itu dari uang kas, hasil keuntungan "Gramedia Book Fair". Selebihnya, kami akan meminta dukungan dari Gramedia, Mizan, Gema Insani, Mujahid Press, Senayan badi, Akoer. Tidak akan banyak, paling sekitar Rp. 500 ribu saja. Konpensasi buat mereka adalah pemuatan logo di leaflet dan spanduk. Juga kami akan bergerilya secara perseorangan. Galang seratus ribu pasti akan moncer.

Uangnya untuk apa? Tentu bukan untuk kami. Uang itu nanti dipakai untuk konsumsi dan promosi/publikasi. Menyewa sound system dan tenda perlu, karena Februari pas musim hujan mencapai puncaknya. Juga untuk pembuatan antoloji puisi "Ode Kampung Nusantara".

Lantas siapa boleh ikut di kegiatan Ode Kampung? Siapa saja boleh ikut. Ini terbuka. Dari Banten dan luar Banten. Bahkan luar Jawa. Penyair pemula, penyair bukan pemula, pintu kami buka lebar-lebar. Silahkan datang. Hanya saja, perlu mengongkosi sendiri. Karena kegiatan Sabtu dan Minggu, berarti harus menginap 1 atau dua malam.

Tentang penginapan, ternyata warga kampung Ciloang dan Komplek Hegar Alam menyambut gembira kegiatan Rumah Dunia. Mereka dengan suka cita siap menyewakan kamar-kamar di rumahnya.

"Pokoknya, kami akan mendukung setiap kegiatan Rumah Dunia," Ayubi, pengojek, mengomentari. Dia bercerita, saat "Gramedia Book Fair" Agustus 2005 lalu panen besar. Banyak penumpang hilir-mudik menyewa mootrnya.

Pak RT dan Pak RW kampung Ciloang serta Pak RT Komplek Hegar Alam seia sekata, menyambut baik kegiatan Ode Kampung. "Di rumah saya ada 3 kamar," Pak Mutholib, Ketua RW Ciloang bersemangat.

Juga Mang Romli, pengojek Ciloang, "Saya juga ada 3 kamar." "Di saya 2 kamar," Bik Piah, rumahnya yang bersebelahan dengan Rumah Dunia, nimbrung.
"Saya satu rumah," kata Pak Pendi, warga komplek Hegar Alam. "Saya sekeluarga ngungsi dulu ke orangtua."

Satu kamar bisa diisi rame-rame. Paling banyak 3 atau empat orang. Seorang kena ongkos menginap Rp. 25 ribu/malam. Jika Minggu malam masih betah, tambah 25 ribu rupiah lagi. Konon, akan ada minuman teh atau kopi panas saat sarapan. Kalau makan, banyak warung nasi bertebaran. Ada nasi uduk, ketupat sayur, nasi pecel, mie ayam, dan jajanan kampung lainnya.
Jadi, siapkn untuk menabung dari sekarang.

PUISI-PEMBICARA
Tentu antoloji puisi tidak akan dilewatkan. Kepada semua yang berkeinginan mengikuti Ode Kampung, mengirimkan 5 puisi terbaiknya, yang bertemakan kampung halaman. Rumah Dunia akan bekreja keras dengan segala kekurangan, menyaring puisi untuk diikutkan di antoloji puisi "Ode Kampung Nusantara". Pada malam Minggu, mulai dari jam 19.30 hingga 22.00 ada pemutaran film, pertunjukan seni, dan peluncuran antoloji puisi.

Siapa saja boleh mementaskan karya seninya.

Hal lainnya adalah mendatangkan pembicara para penyair kampung dengan reputasi karya intenasional, diyakini akan memberi semangat baru bagi perkembangan kepenyairan di Banten khususnya dan Indonesia umumnya. Ini sangat penting. Kami sedang mengupayakan mendatangkan penyair lainnya seperti Isbedy (Lampung), Halim HD (Solo), Saut Situmorang (Yogya), Acep Zamzam Noor (Tasik), Alwy (Cirebon), dan Wayan Sunarta. Nama-nama itu sudah melanglan buana dari kota ke kota di Nusantara. Diharapkan kehadiran mereka bisa memberi wawasan bagi para penyair se-kampung nusantara.

Topik-topik diskusi Ode Kampung diusung mereka. Ini baru wacana dan akan terus didikusikan. Semoga rekan sesama penyair memberi masukan dan terus menggulirkan Ode Kampung ini. Semuanya tentu dengan harapan, mimpi, dan doa bersama.

Saya jadi teringat omongan Garin Nugroho, bahwa orang gunung (kampung) lebih peka dan lebih canggih menangkap fenomena seni dan budaya yang terjadi di sekelilingnya. Mereka dapat langsung merespon dan menggabungkannya dengan khazanah kesenian yang telah dimilikinya." Garin mencontohkan Ismanto, seniman dari komunitas Merapi, yang merespons kesenian modern dan memadukan dengan tradisional." Siapa tahu warga kampung Ciloang yang agamis, setelah mengikuti kegiatan Ode Kampung, melihat dan mnedengarkan para pnyair berdiskusi dan membacakan sajak-sajaknya, jadi terinspirasi membuat karya yang dinamis dan baru.

Setidak-tidaknya akan suasana perubahan di sini.

Maka mari kita segerakan saja niat bersama ini!

Jangan tunda-tunda lagi!

Serang, 30 September 2005
Salam dari Rumah Dunia


Gola Gong
---------------------
Komplek Hegar Alam 40
Kampung Ciloang, Serang 42118
Tlp: 0254 - 202861
Email: rumahdunia@yahoo.com
http://www.rumahdunia.net

4 comments:

kebatinan said...

Nice post. Good job.

Anonymous said...

I found this site using [url=http://google.com]google.com[/url] And i want to thank you for your work. You have done really very good site. Great work, great site! Thank you!

Sorry for offtopic

Anonymous said...

Who knows where to download XRumer 5.0 Palladium?
Help, please. All recommend this program to effectively advertise on the Internet, this is the best program!

Anonymous said...

[url=http://www.hugalliance.com/wp-content/themes/vispa/]Buy Generic Cialis[/url]