Monday, November 03, 2008




Celana pendek sejengkal
-----------------------
--Anwar Holid


Setelah beberapa tahun berlalu, sebagian perempuan kini bosan mengenakan t-shirt ketat-pendek yang panjangnya hanya sepusar dan jins yang hanya sampai bawah pinggang, membuat belahan pantat dan celana dalam mereka kelihatan, sementara perut mereka mudah terbuka ke mana-mana, bisa dilihat siapa pun, apalagi oleh lelaki berlibido normal.

Ganti mode itu kini ialah celana pendek. Ukuran celana ini bervariasi. Ada yang sedengkul, di atas dengkul, setengah paha, atau lebih pendek lagi, dan ketat. Saking pendek, menurut pandangan saya, mungkin tingginya hanya sejengkal, lengkap dengan saku persis di bokong. Itu perkiraan dari lirikan saya yang sering menyaksikan para perempuan mengenakan celana seperti itu. Boleh jadi akurat, sebab konon mata bisa mengukur dengan tepat. Yang paling sering, saya melihat mereka bila sedang ke supermarket harus belanja kebutuhan rumah tangga. Boleh jadi saya membeli buah, sayur, jamur, daun, susu, yang hanya ada di supermarket, tak ada di pasar biasa. Kecenderungannya, menurut saya, orang memang berhias dulu kalau mau ke supermarket. Sekalian wara-wiri.

Kalau menyaksikan perempuan bercelana pendek sejengkal, saya suka malu sendiri. Malu karena sebenarnya saya senang, tapi kalau terang-terang memperlihatkannya, kelakuan saya jadi benar-benar memalukan. Mau dilihat terus takut ada masalah, sementara saya terus terang kesulitan melepaskan pandangan. Susah. Sama dulu waktu setiap kali melihat perempuan dengan belahan pantat terbuka atau menyembulkan tato di bagian bawah punggungnya... kalau boleh iseng, saya pengen memasukkan kecoak atau cecak ke dalamnya. Biar heboh. Dalam hati saya bertanya-tanya, sebenarnya apa sih yang mereka inginkan dari berpenampilan seperti itu di tempat umum? Biar kelihatan seksi? Cantik? OK. Tampilan seperti itu memang seksi dan cantik. Bolehkah saya terus melihatnya? Ini masalahnya... ternyata menurut standar etiket, itu norak, mengganggu, dan imoral.

Tapi yang paling mengganggu waktu bulan Ramadhan lalu, waktu saya mau taraweh ke masjid Al-Furqan di UPI. Di jalan saya melihat seorang gadis juga menuju ke sana, tangannya mendekap mukena dan perangkat shalat, sambil mengenakan celana pendek sejengkal itu! Waduh, apa nggak salah nih mata saya? batin saya mengumpat. Kayaknya sih memang boleh-boleh saja pergi ke masjid dengan dandanan begitu. Siapa boleh melarang orang mau beribadah? Tapi saya yang jadinya gelisah, terus terpikir sampai sekarang. Bingung dengan pemandangan seperti itu. Mungkin benar bahwa masjid sekarang juga jadi ajang trend mode.

Saya pernah bilang ke seorang teman, gara-gara perempuan sekarang banyak yang suka pakai celana pendek sejengkal begitu, jelas mustahil zaman sekarang bakal melahirkan lelaki seperti Ken Arok. Apa pasal? Menurut legenda, Ken Arok terpesona oleh pancaran betis mulus Ken Dedes yang tersingkap. Lantas dari situ dia obsesif terhadap perempuan itu, membunuh suaminya---seorang raja---lantas memperistri Ken Dedes, dan menobatkan dirinya jadi raja. Di tahun awal 2000-an ini yang tersingkap bukan lagi betis, melainkan hampir seluruh bagian kaki, diambah perut atau dada. Betis tersingkap sudah tidak menggetarkan lelaki lagi. Bila yang tersingkap lebih lebar, barulah bisa menggetarkan.

Kalau ditelusuri jauh ke masa silam, dulu saya pernah melihat iklan HP SonyEricsson dengan gambar gadis molek menggantungkan HP persis di belahan dadanya, sementara tagnya begini: Lagi ngeliatin apa sih? Saking terkesan, saya menyimpan iklan itu. Dengan gugup saya harus jujur bilang bahwa saya tidak melihat HPnya.

Suatu saat nanti, kalau para perempuan sudah bosan dengan mode celana pendek sejengkal itu, saya membayangkan mereka beramai-ramai berganti mode mengenakan bikini. Ah... terlalu kasar tampaknya. Kalau iya itu yang terjadi, semoga saya tidak jantungan menghadapinya. Sisi optimismenya ialah saya merasa bahwa perempuan yang sadar aurat juga tambah banyak---rasanya. Mereka menutup tubuh rapat-rapat, yang saking rapat, biasanya malah jadi ketat seperti ketupat. Mereka mengenakan legging, manset, atau kaos yang mengikuti bentuk tubuh, dan bila tertekuk, jadi melar memperlihatkan warna kulit. Dalam hati saya suka bingung, apa mereka ini nggak bisa membedakan jilbab dari lingerie?

Memang susah jadi laki-laki. Di satu sisi harus menjaga pandangan, di sisi lain yang terlihat banyak menggoda kelelakian.[]

Anwar Holid, pernah dengan heroik menghapus banyak file porno di sebuah warnet.

2 comments:

M.Iqbal Dawami said...

Iya kang ternyata susah juga jadi laki-laki ya hehe.. padahal aku sering bersyukur menjadi laki-laki karena tidak melahirkan dan datang bulan. Hmmm..saya tahu sekarang mengapa Kang Wartax susah jadi Fahri ha-ha-ha.

[HALAMAN GANJIL] & TEXTOUR said...

Bener banget! Ha ha ha... Coba deh kita bikin tulisan tentang Fahri sebagai role model bagi lelaki. Kayaknya menarik!

BTW, soal memilah tulisan, itu sudah aku lakukan. Yang lebih susah aku lakukan ialah mendapatkan benang merah, misalnya: sebenarnya aku ngomongin apa sih lewat tulisan-tulisan itu? Itu yang sedang aku coba gali. Kalau ada ide, mangga kasih tahu aku.

Wasalam,

Wartax