Sunday, January 25, 2009



Bekal Hidup Bahagia


DI PENGHUJUNG 2008, persisnya bulan September, Arvan Pradiansyah menerbitkan buku ke empatnya, The 7 Laws of Happiness (Kaifa, 423 h.) Di buku ini Arvan berusaha menguraikan panjang lebar sebuah benang merah yang senantiasa terpancar dalam tiga buku dia sebelumnya, yaitu hubungan manusia dengan kebahagiaan.


Bila kita perhatikan, kebahagiaan memang merupakan persoalan sangat mendasar dan universal bagi umat manusia, yakni betapa kita semua menginginkan kebahagiaan, lahir dan batin. Kita berusaha mendapat bahagia di setiap unsur kehidupan. Sering kita dengar seseorang berkata, "Aku sengsara di sini, makanya aku pindah saja. Aku ingin bahagia." Asal bisa bahagia, rasanya di dunia ini sudah cukup bagi kita semua.


Mengambil risiko bahwa semua orang bisa merasa seakan-akan sudah tahu kebahagiaan dan karena itu abai akan esensinya, Arvan mencoba menemukan makna intinya. Dia bukan saja mendapat wawasan nan melimpah ruah dari bacaan, tradisi agama dan ajaran moral, studi psikologi dan perilaku terbaru, bahkan melengkapinya dengan kisah, ucapan, kasus faktual, bahkan tes yang langsung bisa dipraktikkan.


Boleh jadi Arvan berhasil mengolah pelajaran sebesar itu berkat perjalanan karirnya di bidang human resource development (HRD) dan konsultan manajemen yang sudah panjang. Dia berinteraksi dengan banyak jenis manusia dan menemukan hal menarik dari sifat manusia.
"Saya memang banyak merujuk pemikiran dari psikologi, agama, atau ilmu-ilmu sosial. Namun saya senantiasa menggunakan pendekatan berpikir yang logis, terbuka, dan inklusif; saya tidak suka dengan pendekatan yang irasional dan dogmatis. Saya sadar bahwa setiap agama senantiasa mengandung pencerahan yang luar biasa karena itu saya mengambil kebaikan dari manapun, dari siapapun, dari agama manapun," kata Arvan pada saya.


Karena itu The 7 Laws of Happiness menawarkan universalitas yang kaya. Arvan mengambil sari-sari pemikiran tentang kebahagiaan dan menggunakannya untuk mengungkap sebuah konsep yang komprehensif mengenai model kebahagiaan. Dalam pandangan Arvan, kebahagiaan itu mirip rumah, yang dibangun dengan berbagai unsur. Fondasinya ialah sabar, syukur, dan sederhana---yakni kemampuan menangkap esensi. Bangunannya berupa kasih, memberi, dan memaafkan. Puncaknya ialah pasrah, kemampuan berserah diri dan percaya seratus persen kepada Tuhan. Ketiga tahap tersebut mencakup hubungan seorang individu dengan diri sendiri, orang lain, dan Tuhan.


Yang menarik, sejak awal Arvan secara konsisten menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk meraih semua itu ialah dengan memilih pikiran. "Kebahagiaan itu pilihan pikiran. Hanya orang yang dapat mengelola pikirannya yang akan mencapai kebahagiaan. Saya suka dengan ucapan Charles Darwin, 'Tahap tertinggi dalam budaya moral ialah ketika kita sadar bahwa kita seharusnya yang mengendalikan pikiran sendiri.'"


Meski begitu Arvan menolak pendapat yang mengatakan bahwa orang bisa bahagia tanpa membutuhkan benda sama sekali. "Saya kira itu tidak realistis, mengawang-awang, dan tidak membumi. Itu pasti sulit diterapkan. Kebahagiaan itu membutuhkan kepemilikan minimal. Maksudnya, untuk bisa bahagia, kita perlu cukup makan, punya pakaian secukupnya, dan punya tempat bernaung yang sederhana.


BAGAIMANA Arvan mendapat energi menulis kali ini? "Buku tentang cara meraih kesuksesan sudah banyak, tapi buku tentang mencapai kebahagiaan masih sedikit; padahal banyak orang yang sukses ternyata tidak bahagia." Ini memang gejala yang terjadi di mana-mana, apalagi bila kita kaitkan itu dengan situasi krisis dan kesejahteraan.


Apa Arvan berusaha meneorikan kebahagiaan yang sangat kualitatif? "Kebahagiaan itu misteri, ia seperti agama. Sebaiknya jangan pernah dirasionalisasi," begitu kata G.K. Chesterton, penyair Inggris. Pendapat ini boleh ditandingkan dengan komentar Audifax, seorang penulis dari Surabaya, setelah membaca buku Arvan, "The 7 Laws of Happiness sebenarnya merupakan sebuah buku yang serius dan bukan sekadar buku motivasi biasa. Gagasan Arvan memiliki fondasi kuat untuk tumbuh dan berkembang menjadi sebuah pemikiran yang brilian. Bahkan, saya melihat pemikiran Arvan ini bisa dikembangkan lebih jauh ke hal-hal yang aplikatif dan berguna bagi banyak orang. Terlepas dari kelemahan yang ada, buku ini merupakan sebuah buku yang menarik untuk dibaca bukan karena menjual mimpi, melainkan mengajak orang untuk melihat secara mendalam melalui sebuah kajian teoretis yang dibangun secara serius."


Saya yakin buku ini pantas direkomendasikan pada banyak orang, terutama ketika orang sedang dirundung kegelisahan, kesulitan menemukan orientasi hidup, atau merasa hidupnya hampa. Dari sana kita bisa mendapat spirit sikap positif, termasuk semangat berusaha dan mendapat esensi kehidupan. Boleh jadi buku ini merupakan bekal sangat berharga untuk menyegarkan pikiran agar kita senantiasa waras mengarungi waktu dan kehidupan di tahun-tahun mendatang.[]


Anwar Holid, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com/


KONTAK: wartax@yahoo.com (022) 2037348 Panorama II No. 26 B, Bandung 40141


Situs terkait:
http://www.ilm.co.id/
http://www.mizan.com/
http://www.republika.co.id/


Hubungi Arvan Pradiansyah via http://www.facebook.com/


Awalnya kolom ini dipublikasi REPUBLIKA, Minggu, 14 Desember 2008, kolom Selisik.