Tuesday, April 21, 2009



[HALAMAN GANJIL]
Jujur Saja, Kejujuran Itu Bukan Simon Cowell
--Anwar Holid

Jujur Saja ialah nama rubrik di halaman terakhir Femina, majalah perempuan kota asli Indonesia. Saya baru sadar rubrik ini menarik setelah lama-lama setiap kali buka Femina, ternyata sering sekali tergelitik dan senyam-senyum oleh pertanyaan dan jawaban yang mereka lontarkan khusus kepada perempuan. Rubrik itu tampaknya menguji seberapa jujur mereka terhadap sesuatu.

Pertanyaan di rubrik itu masih biasa saja, termasuk umum, belum menyangkut hal-hal yang sangat sensitif. Jadi jawabannya pun sebenarnya masih yang bisa kita bayangkan. Di salah satu edisinya, Femina bertanya: "Buku yang menginspirasi saya?" Jawaban semua orang beda. Salah satunya: Laskar Pelangi (Andrea Hirata). "Buku itu memberi semangat pada saya yang bersekolah di kota kecil untuk tak perlu merasa rendah diri jika dibandingkan lulusan kota besar," kata seorang gadis di Mojokerto.

Di edisi lain pertanyaannya mungkin bisa bikin malu: Angka merah waktu SMU? Atau waktu sedang heboh (Film) Ayat-Ayat Cinta, pertanyaannya ialah: "Ayat-Ayat Cinta, Suka Atau Tidak?" Alternatifnya memang cuma dua. Salah satunya: Tidak, kata seorang istri di Jakarta. Kata dia, "Mana ada wanita berpendidikan tinggi dan berpikiran modern yang rela diduakan? Itu sih maunya pria agar ada di atas angin." Yang suka bilang begini: "Banget, banget! Saya sampai nonton dua kali. Disuruh nonton sekali lagi, jawabannya: Dengan senang hati!" Jangan bayangkan yang jawab gadis berjilbab, yang jawab itu seorang gadis ayu berlesung pipi dari Bogor.

Rubrik itu membuat saya mengira-ngira, dalam hal apa saja kita jujur. Terhadap semua hal? Dulu, waktu mahasiswa, sedang asyik-asyiknya boys talk di kamar kost teman, seorang kawan mendadak melontarkan pertanyaan: "Berapa kali kamu masturbasi dalam seminggu?" JELEGER! Pertanyaan itu membuat saya mental. Rasanya saya ingin mati. Itu rahasia besar saya. Tapi bagaimana lagi? Toh mereka kawan-kawan akrab saya. Berterus-terang juga kayaknya baik-baik saja. Tapi ternyata saya masih takut jujur. Buktinya, jawaban saya justru mengelak, "Nggak tentu. Kalau lagi terdesak saja." Bagaimana kalau setiap hari saya terdesak oleh tekanan seksual, sementara saya sulit menyalurkan gejolak lewat cara lain? Jelas, saya gagal jujur bahkan kepada teman-teman akrab. Mungkin saya khawatir reputasi saya hancur di mata mereka.

Suatu hari saya ditanya seorang teman non-Muslim: Apa kamu pernah makan babi? Jawabannya: tidak. Bahkan sepotong kecil pun? Kayaknya iya. Di Lampung, waktu kecil, teman akrab saya waktu SD ialah orang Hindu. Rumahnya persis di samping saya. Mereka punya ternak babi. Tapi kalau mereka memberi berkat/sedekah makanan, mereka memberi ayam dan makanan yang dihalalkan Islam.

Teman saya meneruskan: Apa kamu pernah minum alkohol? Jawabannya: pernah. Mungkin dulu waktu SMP, waktu kumpul-kumpul malam minggu dengan teman-teman. Tapi setelah itu nggak pernah lagi. Saya bisa dibilang murni seorang teetotaler, orang yang benar-benar bersih dari alkohol.

Pernah merokok? Pernah. Tapi mungkin jumlah total yang pernah saya isap tak lebih dari 12 batang. Untuk beberapa hal, saya memang tidak melakukan apa pun. Saya tidak berzina, tidak merokok, tidak poligami, tidak korupsi, tidak pernah minum obat terlarang, tidak mengonsumsi narkoba. Untuk ini, saya jujur.

Pernah ngeganja? Pernah, dulu waktu mahasiswa, beberapa kali. Menurut saya harum asap ganja itu menggoda sekali.

Pernah mencuri? Pernah. Pencurian paling gila yang pernah saya lakukan ialah mengutil kaset album Superunknown (Soundgarden). Waktu itu saya sudah kuliah. Padahal waktu itu saya bawa uang, dan niatnya memang benar-benar mau beli album itu. Entah kejahatan apa yang mendesak pikiran saya waktu itu, tiba-tiba setelah perang batin dan dilanda ketakutan, pada satu kesempatan, saya memasukkan kaset itu ke saku pinggir celana. Yah, Tuhan masih melindungi saya dengan tidak langsung membuka aib itu di depan penjaga toko. Entah apa jadinya kalau saya kepergok penjaga toko. Boleh jadi saya bukan Anwar yang sekarang. Saya merasa berdosa sekali dan kapok. Album itu pun kini sudah saya jual dengan harga murah, tak sebanding dengan risiko yang saya hadapi. Gila, saya bisa senekat itu. Sulit membayangkan bahwa saya pernah bisa melakukan kehinaan seperti itu.

Apa kejujuran seperti itu akan membuat saya lebih baik?

Dalam hal apa kita berani jujur? Untuk hal-hal remeh yang tidak berbahaya? Untuk perbuatan yang kira-kira bisa meningkatkan citra diri? Apa jujur itu sejenis uji nyali? Kejujuran memang menakutkan. Coba tuding diri sendiri dan ajukan pertanyaan paling berani, pertanyaan yang membuat kita tersudut harus jujur. Beranikah kita jujur pada diri sendiri?

Coba uji kejujuran sendiri: Apa kamu menyimpan film atau gambar porno di komputer? Di Femina, gara-gara itu seorang istri memutuskan pulang ke orangtua setelah memergoki suaminya menyimpan banyak gambar porno perempuan gendut, padahal dia sendiri lagi diet.

Jujur saja: Apa kamu pernah selingkuh? Pernah menyuap? Pernah mencoba pelacur? Mencoba membohongi atasan? Berani menentang boss yang sok? Melawan pemerintah? Pernah menyediakan perempuan kepada klien sebagai bagian dari entertainment? Mengecewakan klien? Gagal berkarir? Pernah menampar pasangan?

Konon, tanda orang masih waras ialah dia berani jujur pada diri sendiri. Bila orang berani membohongi diri sendiri, dia "sakit." Tapi jujur pada diri sendiri pun sulit dan butuh keberanian untuk melakukannya. Mungkin beda aspeknya kalau seseorang masih perang batin apa perbuatannya baik atau buruk. Banyak gejala memperlihatkan orang suka menutup-nutupi kejujuran, berusaha mencari dalih. Misal dengan bersikap defensif atau marah. Orang mengenakan topeng untuk menyembunyikan kejujuran. Bila seperti itu, orang lain harus bisa membaca yang tersirat.

Ada kalanya orang baru bisa jujur karena terdesak dan terancam. Saya pernah menyaksikan seorang maling ampun-ampunan mengakui segala perbuatannya setelah dihajar oleh pegawai warnet. Dia kehabisan cara lain untuk menghindari hal yang lebih fatal, misal kematian. Saya membayangkan wajah yang bengap-bengap itu saya sendiri karena ketahuan mencuri kaset. Harus seperti itukah ketika orang dipaksa jujur?

Mungkin harus ditegaskan, orang harus jujur, entah dengan rela, terpaksa, atau karena takut. Agama menyatakan nanti di akhirat kejujuran orang akan dihitung satu demi satu untuk menentukan keadilan Tuhan. Jujur saja, saya takut menghadapi momen itu, membayangkan betapa banyak kejujuran yang masih saya sembunyikan di dunia ini.

Bila sudah begini, apa Anda masih akan menganggap kejujuran itu seperti Simon Cowell--juri American Idol--yang berlidah tajam dan tega terhadap semua peserta? Lebih dari itu, saudara-saudara.[]

Gambar dari Internet.

Anwar Holid, jujur saja, masih kurang jujur terhadap orang lain.

KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141

2 comments:

Bahtiar Baihaqi said...

Ini rada gila/seru dengan tetap memberikan pancingan untuk merenung. Mudah2an komenku ini jujur.

dian said...

Sampai detik ini, kalau jujur tentang hal-hal kecil, kayaknya bisa-bisa aja. Tapi kalau mulai menyangkut hal besar, biasanya masih mikir.
*ikut merenung ah*