Wednesday, November 04, 2009


[HALAMAN GANJIL]


Nasi Goreng à la Wartax atau Upaya Jadi Ayah yang Baik
---Anwar Holid


Setiap anak normal pastilah punya kenang-kenangan mengesankan dengan orangtuanya. Aku, kini berumur 36 tahun, masih ingat ibuku yang kadang-kadang suka membuatkan pisang goreng kalau aku habis hujan-hujanan waktu aku masih SD. Rasanya, itulah pisang goreng paling nikmat yang pernah aku makan. Ayahku juga suka membakarkan singkong atau ubi jalar di tungku kami. Ya, sampai di zaman Facebook sekarang orangtuaku masih memasak dengan kayu bakar atau kompor minyak tanah. "Takut meledak," kata ibuku waktu aku tanya kenapa dia tak punya kompor gas. Lagian, seingatku di kampung dia belum ada subsidi pemberian kompor gas gratis.

Ayahku juga biasanya selalu mau bila aku minta diambilkan kelapa muda. Aku memang kurang lancar memanjat pohon kelapa, apalagi setelah jadi "anak kota" yang tinggal di Bandung. Aku sudah lupa kapan terakhir kali benar-benar memanjat untuk mengambil kelapa sendiri.

Kini aku punya dua anak. Sang sulung kelahiran tahun 2000, adiknya kelahiran 2006. Tinggal di Bandung yang kini dianggap sudah tercemar, membuat ibu mereka melarang hujan-hujanan. Takut pilek atau sakit. Menurutku ketakutan itu berlebihan, tapi mungkin beralasan. Memang, kalau hujan lebat dan air meluap-luap sampai ke jalan, baru terasa betapa busuk dan kotor air umum di Bandung. Itu lain sekali waktu aku masih kecil dan justru terbiasa hujan-hujanan di kampung.

Si sulung kini sudah kelas 4 SD. Kadang-kadang, kami enggak punya makanan yang siap dia santap buat sarapan sebelum berangkat sekolah. Roti, yang sesekali kami beli, sudah habis, sementara makanan kemarin juga sudah ludes malamnya. Yang tersisa hanya sedikit nasi di rice cooker. Ilalang---anak sulung kami---suka berinisiatif bikin telur ceplok sebagai lauk. Dia sudah cukup lancar bikin telur ceplok atau dadar. Kadang-kadang bumbunya suka aneh-aneh, pokoknya yang dia anggap menarik, suka dia gunakan, padahal bisa jadi malah bikin enek. Misalnya dia pernah pakai kecap asin buat telur ceplok.

Kalau lagi rajin, biasanya aku suka segera membuatkan nasi goreng buat sarapan Ilalang dan Shanti. Aku sudah lama terbiasa bikin nasi goreng, mungkin sejak SMA. Biasanya aku paling suka mencampur resepnya dengan teri, tapi ternyata tidak setiap saat kami punya teri. Dulu aku bikin semacam resep yang dijadikan sambal dulu sebelum aku goreng dan akhirnya dicampur nasi. Resep ini menurutku agak merepotkan, karena aku harus mengulek bumbu-bumbunya dulu sampai jadi saus. Ada resep yang jauh lebih sederhana, dengan hasil masih cukup mantap---setidaknya menurut anak-anakku. Resep ini aku dapat dari Fenfen, setelah kami nikah.

Aku cukup mengiris-iris setipis mungkin bawang merah sesuai banyaknya nasi yang akan digoreng. Sementara bawang putih dimemarkan dulu sampai hancur, lantas dicacah-cacah sekecil mungkin. Setelah itu digoreng dan diaduk-aduk sampai harum dan kelihatan menguning. Begitu siap, campur ia dengan garam, penyedap (favorit Fenfen ialah Knorr), dan kecap Bango, terus diaduk-aduk sampai menyatu. Terakhir, masukkan nasi, lantas digoreng sampai bumbu itu merata ke seluruh nasi. Bila sukses, semuanya akan berwarna merah tua. Dengan begitu, perut kedua anakku cukup terisi sampai siang.

Ini foto nasi goreng, ngambil dari internet, via Google.

Ilalang suka rada pedas, sementara Shanti jangan terasa cabai sedikit pun. Jadi buat Shanti didahulukan, baru dicampur cabai buat Ilalang. Satu hal, aku tak pernah lagi mencampur telur untuk nasi goreng. Ini jelas ajaran Fenfen. Kata dia, telur itu bikin anyir nasi goreng. Bikin selera makan hilang. Kalau mau bikin harus dipisah.

Kenapa harus kecap Bango? Yah, ini kelihatannya seperti iklan yang dipaksakan. Menurut Fenfen, itulah satu-satunya kecap yang dia yakini rasa dan kualitasnya. Keyakinan itu dia dapat dari ibunya. Jadi lidahnya lidah kecap Bango. Bahkan dia punya cerita lucu tentang itu. Ceritanya, dulu suatu hari ibunya minta ayahnya beli kecap. Ayahnya ternyata malah beli kecap ABC. Ibu mertuaku itu langsung menyergah, "Ceuk enong geh kecap Bango, Aa..." (Kata aku juga kecap Bango, Aa...) dengan gerakan tertentu. Bagi dia, selain kecap Bango itu bukan kecap. Jadi, sejak nikah, merek itulah yang tersedia di rumah kami sekarang. Saking fanatik, Fenfen bisa minta bumbu sate pesanannya jangan dikasih kecap. Biar nanti saja di rumah dicampur dengan kecap Bango.

Aku sendiri enggak punya fanatisme, apalagi bila cuma soal kecap. Kecap adalah kecap, mau ia Bango, ABC, Noni, Merak, atau merek lain. Tapi diingat-ingat, memang iklan kecap Bango yang paling aku ingat di radio dulu, ketika mereka mengklaim jangan khawatir ada perang dunia, selama ada kecap Bango. Waktu itu memang zaman perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Sovyet.

Aku cukup menikmati bikin nasi goreng sederhana itu. Pamrihnya ialah semoga di hati mereka aku cukup melekat jadi ayah yang baik dan menyenangkan buat anak-anakku. Biar mereka nanti bisa mengenang aku sebagai ayah yang baik, lepas dari segala kekurangan dan ketidaksabaranku setiap kali terdesak. Aku terharu setiap kali Shanti menghabiskan sepiring nasi goreng buatanku itu. Berbeda dengan Ilalang yang cukup bisa makan semua, Shanti pilih-pilih banget. Kadang-kadang agak lama setelah bangun, pagi-pagi dia sudah teriak, "Ayaaah, Kati minta nasyi goweng..." Dia masih cadel. Tapi aku yakin dia cukup antusias dengan masakanku.

Pelan-pelan aku menghidupkan lagi kenangan mesra masa kecil, ketika aku dibikinkan makanan oleh orangtuaku. Mungkin, itulah berkah jadi anak dan orangtua sekaligus.[]

Anwar Holid, suami beristri satu, ayah beranak dua. Bekerja sebagai editor dan penulis, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

3 comments:

M.Iqbal Dawami said...

kayaknya nasgor buatan kang wartax, maknyuss nih. kapan ya aku bisa nyicipin :)

Anwar Holid said...

ha ha... boleh juga, asal pake kecap bango kayaknya dijamin enak nih. he he he...

kang iqbal harus ke rumahku atau nanti kalau kita ketemu, baru bisa bikin nasgor.

divan semesta said...

Ini yang saya suka Mas: ketika mereka mengklaim jangan khawatir ada perang dunia, selama ada kecap Bango.

Perumpamaan yang segar.
Sy pun pernah bertanya tentang umur seorang kawan.

Karena kebetulan kawan dia adalah kawan saya juga, maka ia berteka-teki...
"Yah, kalau diibaratkan saya itu ibaratnya Mastodon, sementara si Jarwo itu meong congkok!"

Seru! Segar sekali, mendengarkan perumpamaan yang mencong mencong kemana-mana. Mantap.

Semantap nasi goreng mas Anwar.