Friday, August 13, 2010


Kreatiflah dengan Alasan Kuat
---Anwar Holid

Oh My Goodness, Buku Pintar Seorang Creative Junkies
Penulis: Yoris Sebastian
Penerbit: GPU, 2010
Ukuran: 14 x 21 cm
Harga: Rp 68.000,-
ISBN: 978-979-22-5526-3


Yoris Sebastian menggabungkan pengetahuan dan pengalaman kreatifnya dengan berbagai contoh bahwa kreativitas bisa berupa apa saja yang memungkinkan; baik berupa pengembangan dari hal yang sudah ada maupun berawal dari sesuatu yang dianggap mustahil karena aneh dan menentang arus---antara lain berupa penemuan, buah dari penelitian. Kita bisa belajar banyak tentang berpikir dan bertindak kreatif maupun menemukan ide-ide segar baik untuk bekerja dan menambah wawasan dari buku ini.

Landasan isi buku ialah pengalaman kerja dan kehidupan penulisnya sebagai orang kreatif. Yoris menerima penghargaan tahunan International Young Creative Entrepreneur of the Year (2006) dari British Council. Dia menjadi berita karena merupakan General Manager Hard Rock Cafe termuda di Asia saat berusia 26 tahun (GM termuda kedua di Dunia). Di sini dia sukses menyelenggarakan acara yang secara umum diakui sebagai mahakaryanya, yaitu I Like Monday. Yoris menerima berbagai penghargaan terutama di bidang advertising dan entertainment. Kini dia adalah CEO OMG Consulting, yang kerap mampu memaksa mulut para klien menganga dan berkata 'oh my goodness' atas usulan-usulan mereka.

Buku ini mula-mula menerangkan kreativitas itu apa, seperti apa, bagaimana ia berperan dalam kehidupan maupun karir seseorang, cara menggali dan memanfaatkannya, mengasah maupun menambahnya, mengadopsi kreativitas pihak lain dan mengolah untuk kepentingan sendiri, lantas mengambil keputusan kreatif secara terkontrol tanpa lupa mempertimbangkan risiko. Dia banyak mengajukan contoh betapa kreativitas itu sangat luas dan mengejutkan, mulai dari pesulap hingga pebisnis sukses kelas nasional dan dunia.

Yoris menyebut dirinya sebagai 'creative junkie' (kecanduan oleh hal kreatif). Dia menerapkan kreativitas dalam banyak detail kehidupan, misal sengaja mengenakan arloji di tangan kanan, berlawanan dengan kebiasaan umum yang mengenakan di tangan kiri. Buku ini pun menanggung akibat salah satu keputusan kreatifnya, yaitu sengaja tanpa nomor halaman. Kalau tanpa nomor halaman, lantas kenapa buku ini sampai perlu dibagi tiga 'part' dalam sembilan 'chapter'? Bukankah pembaca bakal kesulitan langsung menuju masing-masing topik? Ini memberi peluang bahwa pembaca bisa membaca buku dari mana saja tanpa perlu khawatir akan kehilangan keutuhan dan kepaduan akan pemikirannya.

Yoris merupakan contoh sempurna orang Indonesia yang gemar mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris secara bersamaan baik lewat kosakata, istilah, maupun kalimat. Jangankan untuk ekspresi, dia sengaja menggunakan or untuk ganti atau. Isi buku ini pun sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris, begitu juga babnya. Dia menggunakan 'chapter' alih-alih bab. Atau menulis begini: as easy as follow someone kreatif di twitter! Kenapa dia tidak sekalian menulis dengan ungkapan inggris? Oh my goodness, what a decision! Jadi jangan berharap banyak pada mode penyuntingan buku ini, terutama menyangkut copyediting. Buku ini sembarangan dan inkonsisten menggunakannya, misal penggunaan huruf kapital, italic, dan bold yang suka-suka. Dia menulis “Singapore” dan “tau” alih-alih “Singapura” dan “tahu.” Ada poin-poin yang ditulis italic, tapi di tempat lain normal. Di satu tempat nama majalah italic, di lain tempat tegak, sementara judul film dibiarkan tegak. Di halaman tertentu waffle ditulis tegak, di halaman lain italic---meski hanya penulis yang tahu apa itu artinya. Sementara sejumlah kosakata asing yang rasanya telah biasa kita dengar dan tahu artinya malah dicetak italic, seperti workshop, style, fresh, skill. Namun toh dia masih selip menulis "Project Manhattan" dan "Dead Poet's Society", bukan "Manhattan Project" atau "Dead Poets Society." Salah eja di halaman copyright buku ini pasti terjadi karena teledor dan tetap sulit diterima bila dinilai sebagai keputusan kreatif.

Dengan tegas Yoris mengesankan bahwa kreativitas merupakan alat untuk mencapai keberhasilan. Kreatif idealnya berbanding lurus dengan kesuksesan dan kemakmuran. Semakin kreatif seseorang, akan semakin sukses dia. Anggapan ini jelas merupakan buah dari pandangan umum bahwa semua orang sekarang memang ingin tambah sukses dan makmur. Yoris mengingatkan jangan sampai kreatif semata-mata karena ingin beda. Kreatiflah dengan alasan kuat. Jangan sampai kita rugi hanya karena ingin disebut kreatif. Maka menurut Yoris kreatif yang gagal dijual itu sia-sia. Di sinilah pentingnya memperhatikan pemikiran dia mengenai thinking outside the box, execute inside the box---yakni agar orang tidak semata-mata aneh dan nyeleneh, tapi juga sungguh-sungguh mengantisipasi dan memperkirakan risiko seteliti mungkin dari kreativitasnya. Itu pentingnya memulai kreativitas dari hal kecil. Bila hanya bikin heboh tapi tak berdampak pada penjualan dan pendapatan, itu kreativitas yang buruk dan merugikan. Dia pernah mengalami hal semacam itu. Karena itu dia berprinsip execute inside the box, artinya bertindak sesuai keterbatasan di dalam ruang kreatif yang relevan. Intinya, bermain aman. Tapi kalau yakin berani ambil risiko lebih besar dengan harapan ledakan hasil yang jauh lebih besar lagi, dia mengajukan prinsip perbandingan 70:20:10 sebagai landasan untuk memaksimalkan hasil.

Kita bisa salut dan bertanya tentang kreativitas pada Yoris. Misal apa yang akan terjadi bila kreativitas sama sekali tak didukung dana, perusahaan, atau lingkaran terdekat pencetusnya. Akan sia-siakah kreativitas itu? Kasus Vincent van Gogh mungkin menarik kita renungkan. Semasa hidup, dia melukis terutama menggunakan warna-warna cerah dan sapuan kuas yang tebal, kuat, dan kasar. Ini bertentangan dengan kebiasaan perupa di zamannya, meski jelas inovatif dan berani. Hasilnya? Karyanya gagal total menarik perhatian masyarakat umum semasa dirinya hidup---terutama kalangan patron seniman. Lukisannya hanya laku 1-2. Hidupnya hina dina, disepelekan, ricuh dengan teman, dan karyanya diabaikan. Karya kreatifnya gagal memberi efek positif baik pada dirinya, kesuksesan, maupun masyarakat di zaman itu. Kondisi itu membuatnya frustrasi. Namun bertahun-tahun kemudian setelah kematiannya yang tragis, karyanya baru dinilai hebat dan dunia mengakui dirinya sebagai pelopor aliran ekspresionisme. Karya-karyanya kemudian bernilai luar biasa mahal dan diburu banyak orang. Tapi semua sudah terlalu terlambat bermanfaat untuk dirinya sendiri. Ini paradoks mengerikan.

Orang seperti van Gogh lebih mudah dianggap sebagai misfit (salah tempat) daripada kreatif. Ini membuktikan bahwa sebagian dari kreativitas gagal dan berpotensi merugi secara besar-besaran. Fakta tersingkirnya laserdisk, kamera Polaroid, disket, video Betamax, juga Netscape Navigator yang awalnya dinilai lebih inovatif dan berkualitas namun akhirnya tersingkir baik karena ketinggalan zaman, ribet, atau kalah oleh penemuan baru yang lebih massif dan diterima orang kebanyakan menunjukkan ada sejumlah faktor kenapa suatu produk kreativitas bisa sukses dan lainnya gagal, selain semata-mata soal persaingan bisnis yang kejam. Sayang aspek ini tak dibahas Yoris.

Lepas dari itu, Oh My Goodness tetap menarik karena bisa membangkitkan saraf kreatif pembacanya. Penyajiannya yang informal, berbagai teknik mewujudkan kreativitas, juga ajakan untuk tetap semangat belajar menimba ilmu pengetahuan dari berbagai sumber agar lebih menyuburkan kreativitas merupakan sisi menarik buku ini yang pantas dihargai, apalagi Indonesia sekarang tengah menggalakkan jargon “industri kreatif.”[]

Anwar Holid, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Buku barunya ialah Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.

1 comment:

Anonymous said...

Genial dispatch and this fill someone in on helped me alot in my college assignement. Thank you seeking your information.