Friday, August 20, 2010



Limpahan Energi Seorang Dewa Gitar
---Anwar Holid

Slash (album)
Artis: Slash
Rilis: Maret 2010
Genre: Hard rock, Blues rock, Heavy metal
Track: 14 (edisi standar), tambah variasi versi lain
Durasi: 60:29 
Label: EMI (Amerika Serikat), Universal Music (Jepang), Roadrunner Records (Eropa), Sony Music (Australia)
Produser: Eric Valentine, Kevin Churko, Kid Rock
Rating: ****


Di zaman hard rock/heavy metal memasuki era ketika aksi solo gitar dinilai usang, dianggap membosankan, dan bisa diabaikan, maka sebutan "dewa gitar" (guitar god) sebenarnya jadi irelevan. Apalagi bila dewa tersebut turun gunung untuk melemparkan album. Akankah publik bakal melihat dia masih sebagai ksatria bergitar, atau justru lebih menghendaki dan memperhatikan musik maupun komposisi yang dia tawarkan di dalamnya? Ketika itulah sang dewa sendiri mustahil bisa terus jalan bila cuma mengandalkan sayatan atau cara mengayunkan kampak. Dia harus menawarkan cara mencipta lagu yang wajib hebat dan bisa dikenang.

Slash merupakan salah satu ikon dewa gitar yang paling mudah dikenali di era 90-an, yakni ketika dia bersama Guns N' Roses---yang dijuluki "Band Paling Berbahaya di Dunia"---merajai dunia persilatan baik dengan sepak terjang musikalitas maupun berita-berita rusuh yang mereka hasilkan. Penampilan Slash sederhana: terkesan sangar, cool, jaket kulit, rambut kriwil, topi tinggi, kacamata hitam, rokok menggantung di bibir, dan gitar Gibson Les Paul. Sempurna untuk sosok seorang rock star. Apalagi sayatannya dalam "Sweet Child O'Mine", "Welcome to the Jungle", maupun "November Rain" dan "Estranged" kini telah menjadi klasik. Setelah itu, diawali munculnya grunge, lahirlah era ketika solo gitar perlahan-lahan ditinggalkan dan harus membagi ruang setara dalam band. Maka sebuah band hard rock kini mustahil mengandalkan gitaris sebagai sajian utama, melainkan seluruh individu. Bahkan dalam genre post-rock yang sebenarnya memberi peluang seorang gitaris utama (lead guitarist) untuk tampil gila-gilaan berkat kebiasaan melahirkan lagu instrumental, solo gitar sudah benar-benar teredam dan menelusup ke dalam komposisi secara keseluruhan. Ketika pada Agustus 2005 Rolling Stone mengeluarkan daftar 100 Gitaris Terhebat Sedunia, mungkin wajar bila nama Slash lenyap. Dia tersalip oleh gitaris yang bisa jadi lebih stylish atau secara musikalitas lebih mumpuni, seperti John Frusciante (Red Hot Chili Peppers), The Edge (U2), Kim Thayil (Soundgarden), bahkan oleh Joni Mitchell---seorang singer-songwriter folk-rock yang melahirkan lagu legendaris "Big Yellow Taxi."

Namun meski zaman berganti dan kecenderungan kurang berpihak padanya, Slash tetap menjalankan misi mesiahnya. Terbukti dia mampu kembali ke jalur sukses dengan membentuk Velvet Revolver. Setelah Velvet Revolver bubar, dia mengeluarkan album solo pertamanya, berjudul namanya sendiri. Sebagian orang berpendapat bahwa album ini hadir untuk membungkam Chinese Democracy yang kerap diolok-olok sebagai album solo Axl Rose dengan label Guns N' Roses. Jika Chinese Democracy memperlihatkan Guns N' Roses yang sudah berantakan, Slash justru mengerahkan kekuatan untuk menyatukan misi dengan memanggil semua kolaborator terbaik yang dia inginkan. Di album ini Slash mampu menghadirkan lagi semua kawan dalam Guns N' Roses era Appetite for Destruction, kecuali Axl Rose tentu saja. Dari sini kita bisa melihat betapa permusuhan Slash vs Axl Rose sudah mirip dengan persaingan Roger Waters vs David Gilmour atau John Lennon vs Paul McCartney. Terlebih-lebih kehadiran vokalis seperti Fergie mampu secara sempurna menggantikan posisi Axl Rose, baik dari cara nyanyi, cengkok, suara sengau, maupun powernya.

Di album ini, sisi paling menariknya mungkin memperhatikan bagaimana Slash menampilkan dan memilih vokalis. Ini sangat berharga mengingat setiap lagu harus diisi vokalis berkarakter dan jangan sampai album tersebut tampak memiliki cacat atau gagal hanya gara-gara kesalahan memilih penyanyi, apalagi dia bukan gitaris skillful seperti Steve Vai atau sangat ngulik seperti Tom Morello. Dari sisi ini, pilihan Slash sangat hebat dan jeli. Vokalis tamu di album ini rata-rata ikon hard rock/heavy metal segenerasi dengannya, antara lain Ian Astbury (The Cult), Chris Cornell (Soundgarden), Kid Rock; veteran seperti Ozzy Osbourne, Iggy Pop, Alice Cooper, Lemmy Kilmeister (Motorhead); maupun junior seperti M. Shadows (Avenged Sevenfold), Adam Levine (Maroon 5), Myles Kennedy (Alter Bridge), dan Andrew Stockdale (Wolfmother). Pilihan ini memperlihatkan cara Slash betapa dia tega mencampakkan Axl Rose. Menariknya lagi, dia mampu menghasilkan lagu yang sesuai dengan karakter para vokalis itu. Duet dengan M. Shadows menghasilkan lagu bertenaga sampai berbalut thrash metal, dengan Adam Levine menciptakan balada manis dan easy listening, bareng Ozzy lahirlah rock bernuansa gothic yang hebat, bersama Myles Kennedy mampu melantunkan "Starlight", sebuah slow rock tipikal yang kuat. Untuk menonjolkan ego diri sendiri, Slash menampilkan nomor instrumental bersama Dave Grohl (drum) dan Duff McKagan (bass) yang megah, ritmis, dan tentu saja penuh oleh raungan dan sayatan suara gitar.


Slash pas banget buat semua penggemar musik hard rock, terlebih mereka yang tergila-gila dengan karakter era akhir 80-an dan dekade 1990-an. Album ini total digerakkan oleh gitar, penuh limpahan energi; ia menampilkan kualitas Slash secara utuh. Sebuah album hard rock/heavy metal sejati, bisa memesona penggemar tua karena ada pionir heavy metal dan mampu menarik minat pendengar muda karena sukses berkolaborasi dengan para rocker terkemuka masa sekarang, termasuk kemulusan memadukan dengan sedikit unsur hiphop dan orkestra. Wajar bila review profesional yang berafiliasi dengan klasik rock atau gitar memuji-muji album ini, sementara media umum memberi nilai cukup. Kompas menilai album ini sebagai "album rock yang megah" menjelang rombongan Slash mengunjungi Indonesia untuk manggung di Surabaya dan Jakarta. Di album ini kita akan kembali menyaksikan dan menyimak betapa seorang dewa gitar tetaplah sakti apalagi dia terus konsisten menelurkan album lepas dari berbagai impitan masalah dalam karirnya. Lagu di sini rata-rata catchy, mampu memuaskan dahaga pemuja musik rock. Meski bisa jadi dinilai kurang inovatif, ini merupakan album dengan standar tinggi yang penuh selera.

Best track:
01 - Ghost (feat. Ian Astbury)
14 - We're All Gonna Die (feat. Iggy Pop)
09 - Watch This Dave (feat. Dave Grohl and Duff McKagan)
02 - Crucify The Dead (feat. Ozzy Osbourne)
11 - Nothing To Say (feat. M. Shadows)
12 - Starlight (feat. Myles Kennedy)
[]

Anwar Holid menyetel musik untuk menemaninya kerja. Blogger @  http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.

Situs terkait:
http://www.slashonline.com
http://slash.ultimate-guitar.com/tours/?awesm=53DAm
http://en.wikipedia.org/wiki/Slash_(album) --> info album

2 comments:

Hilmy Nugraha said...

saya suka gayanya di video clip november rain.

jalan ke padang pasir, n maen sendirian 30 detikan,

wow!

semenjak itu saya tersihir. semenjak SMP.

[HALAMAN GANJIL] and TEXTOUR said...

kalau begitu kamu patut mendengarkan album ini hilmy. enggak bakal nyesel.