Wednesday, May 02, 2012


SEBELUM LALAT TERBANG DAN EMBUN MENETES
--Anwar Holid

Sehabis subuhan, aku bilang ke Fifi, 'Aku jalan-jalan dulu ya,' sambil bawa kamera saku digital Olympus Stylus 400. Di luar langit masih biru gelap, lampu-lampu di luar rumah belum dipadamkan. Rumput basah, apalagi semalam hujan deras cukup lama.

Sebenarnya tujuanku ke rumah Fifi dan Acia hari itu adalah untuk membasmi virus yang memapar laptopku. Acia jago komputer dan dia punya banyak antivirus. Setelah didiagnosis dengan berbagai program, komputerku ternyata sudah terserang parah, dan akhirnya jebol. Crash. Akibatnya aku harus memformat dan menginstall ulang. Setelah rada capek berjam-jam memulihkan laptop, aku rehat untuk refreshing. Latihan memotret.

Pagi hari setelah subuh adalah waktu paling hebat untuk latihan memfoto. Alam bisa menghasilkan warna-warna dramatis. Apalagi di Lembang yang di sekitarnya masih banyak kebun dan daerah berbukit. Untuk seorang amatir, latihan siluet, menangkap cahaya yang tampak menakjubkan, atau sesuatu yang menarik sudah cukup menyenangkan. Ketika sampai di ujung sebuah tebing, aku mendapati segerombolan semak dengan bunga warna kuning yang tak aku ketahui namanya. Warna-warni kuningnya amat kontras dengan latar hijau, semak-semak, juga suasana pagi yang mulai agak terang karena matahari sudah muncul meski masih terhalang kabut.

"Waduh, gimana motretnya ya?" batinku melihat posisi semak-semak yang ada di bibir tebing. Padahal justru di situ bunga-bunganya mekar dengan amat segar. Mendadak, batinku berkata lagi, 'Ah, latihan fokus aja lagi! Coba-coba teknik makro.' Jadi alih-alih memotret banyakan, aku memutuskan memotret bunga kuning itu satu-satu.

Pas lagi berusaha fokus, eh seekor belalang meloncat hinggap ke batang rumput di dekatku. Ternyata ia cukup besar. Cepat-cepat aku jepret. Tapi hasilnya mengecewakan. Cuma satu yang rasanya cukup pantas disimpan, itu pun badannya terhalang rumput.
Akhirnya aku balik lagi ke bunga kuning. Yang mengagetkan, kini ada seekor lalat dan nyamuk hingga di situ. Aku heran, kok ada lalat terbang ke tempat ini pagi-pagi di suhu sedingin ini? Apa ini tempat mainnya? Kalau nyamuk kayaknya wajar. Mereka bertengger persis di kelopak bunga yang mau aku potret. Aku senang sekali dapat objek itu. Lalat itu diam saja meski beberapa kali dijepret sangat dekat---mengingat spesifikasinya, aku menghindari fitur zoom. Yang hasilnya bagus cuma dua foto ternyata, itu pun nyamuknya tampak kabur. Lalat baru terbang setelah aku menggunakan blitz, sementara nyamuk terbang setelah tangkai bunga bergoyang. Begitu serangga itu pergi, mataku menyadari bahwa sinar matahari sudah menembus ke sela-sela semak, menghasilkan efek cahaya warna-warni cantik, apalagi yang menyoroti embun. EMBUN! Wahhh, aku menyadari sesuatu. Embun itu menggelembung di ujung kelopak dan perlahan-lahan menggantung mau jatuh. Ia mirip air mata yang merembes ke pipi, cuma jauh lebih jernih. Aku berusaha menangkap momen itu, meski hasilnya jelek. Tapi aku menyaksikan sendiri betapa setetes embun yang jatuh di pagi itu jadi semacam peristiwa spiritual yang lebih menggetarkan dari shalat subuh barusan.

Latihan fotografi itu membuatku membatin: barangkali aku jarang memperhatikan detil-detil kehidupan yang simpel. Ah, bukankah aku merasa seorang penganut kesederhanaan, meski termehek-mehek oleh keinginan dan materialisme? Detil kehidupan dan alam, ternyata kerap simpel. Anak-anak rewel, laki-laki kehabisan uang, perempuan merajuk, istri minta dibelikan apel, orang sakit perut atau kehilangan barang, bisa juga dalam sekejap divonis hidup di penjara. Semua butuh perhatian, sampai kadang-kadang kita seperti kehabisan energi buat menyediakan sedikit saja demi keperluan-keperluan yang dianggap remeh itu.

Lalat, nyamuk, embun, cahaya, entah bagaimana caranya membuatku memikirkan tentang Tuhan. Sebenarnya, ini rada ironik karena beberapa orang menilai aku berpendapat sinis-sarkastik mengenai zat yang dinilai maha kuasa itu. Meski maha kuasa, Tuhan toh tidak bisa membuat rekeningku jadi gendut, misalnya. Kerja keras, kekayaan, dan iman menurutku juga tidak berkorelasi. Sebagian orang beriman sangat miskin dan hidupnya terhina, tapi banyak penjahat dan orang yang abai pada Tuhan punya kekayaan lebih hebat---bahkan mengaku diri sebagai Tuhan. Jadi Tuhan itu berperan seperti apa dalam kehidupan? Ini yang kerap membuatku tertegun, atau malah bingung. Aku pernah bereksperimen dengan kemalasan dan Tuhan tidak lantas jadi kasihan dengan menyelesaikan pekerjaanku. Akibatnya, aku kekurangan penghasilan. Tuhan di sana mungkin tertawa. "Ha ha ha... sebaiknya kamu memotivasi diri lebih hebat lagi, Wartax!" Dan dengan susah payah aku mengalahkan kemalasan agar bisa menyelesaikan pekerjaan.

Tuhan barangkali mengurus hal yang tidak bisa ditangani manusia. Untuk semua yang bisa dibereskan manusia, silakan coba selesaikan sendiri. Mau menambah digit di rekening? Coba usaha lebih lihai dan cerdik lagi. Mungkin urusan itu terlalu simpel buat Tuhan, hingga Dia memilih urusan yang lebih esensial. Misalnya mengatur kapan embun jatuh, hujan harus berhenti, kapan minyak bumi terbentuk, di mana gempa harus terbelah, juga mempertahankan alam teratur sampai suatu ketika digebah dan kiamat.

Aneh banget. Kok bisa-bisanya aku menghubungkan hal-hal simpel tadi dengan sesuatu yang di luar jangkauan pemahamanku, hanya dari latihan memotret bunga dan menyaksikan lalat terbang dan embun menetes.[]
Anwar Holid, bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.


[ini hasil latihan motretnya]



2 comments:

wawan said...

mas wartax,

makasih sekali tulisannya. saya benar-benar sangat menikmati tulisan ini. nggak tahu ya, kayaknya senang melihat foto dan mengetahui yang terjadi di balik kamera. mungkin, karena saya sendiri juga secara amatiran (dan dengan tanpa dslr :D) suka fotografi dan menikmati proses motonya (sambil terus memperingatkan diri agar jangan terlalu pingin beli DSLR kalau gak benar-benar butuh, itu syirik, wan! hahaha).

mas, saya baru dapat update dari tumblr, ada tulisan pengalaman fotografi yang menarik di the new yorker:

http://www.newyorker.com/online/blogs/photobooth/2012/05/rena-effendi-ahmed-khalil-khairallah.html

terakhir, makasih share-nya

HALAMAN GANJIL dan TEXTOUR said...

:) makasih banget komentarnya mas wawan! aku langsung cek juga link sampean. fotografi memang membuka minat baru untukku di tahun 2012 ini.