Wednesday, May 16, 2012

Kaya belum tentu disayang Tuhan, miskin belum tentu disengsarakan Tuhan
---Anwar Holid

"Tahu enggak, Tuhan lebih sayang ke aku daripada ke pembantuku," begitu klaim orang kaya pada temannya yang jauh lebih miskin.
"Gimana kamu bisa segitu yakin?" sangsi si orang miskin.
"Karena Tuhan lebih sering mengabulkan doaku daripada permintaan pembantuku," tegas si orang kaya.
"Buktinya apa?"
"Loh, aku dulu berdoa minta rumah, sekarang aku punya rumah bagus. Aku minta mobil, Tuhan mengabulkan permintaanku. Sementara pembantuku untuk memperbaiki rumahnya yang kecil aja sampai sekarang tidak bisa!" jelas orang ini tenang.
"Anjrit!" semprot si orang miskin, "jadi kamu menyamakan Tuhan sama dengan bank? Yang hanya mau ramah melayani orang karena tahu mereka bisa membuat dirinya juga kaya? Enggak lagi. Tuhan bukan rentenir yang akan menggunakan debt collector kalau kamu enggak bisa bayar utang!"
"Hei, aku dan pembantuku sama-sama berdoa, tapi hasilnya beda. Jelas Tuhan lebih sayang ke aku."
"Kamu kira Tuhan pilih kasih?" sengit si orang miskin. "Tahu enggak, pembantumu lebih miskin bukan karena Tuhan mengabaikan atau tidak menyayangi dia. Dia miskin karena GAJI DARI KAMU enggak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk memperbaiki rumahnya! Kamu terlalu pelit menambah sebagian rezeki untuk dia, sementara yang kamu simpan dan belanjakan sendiri terlalu banyak dengan alasan itu adalah hak kamu."

Si orang miskin ini rupanya masih sedikit lebih kaya daripada pembantu si orang kaya, karena itu barangkali dia bisa membantah ucapan lawan bicaranya.

"Kalau kamu yakin Tuhan lebih sayang ke kamu hanya karena kamu kaya, gimana dengan banyak orang yang jauh lebih beriman dari kita tapi hidupnya melarat dan dianggap hina dina?"
"Misalnya siapa?"
"Banyak. Kamu pikir Isa Almasih lebih kaya dan makmur dari kamu hanya gara-gara dia lebih beriman kepada Tuhan? Enggak. Dia tidur berbantal batu, enggak punya kekayaan. Dia melayani tanpa ada yang bayar. Dia tergerak bukan karena dipanggil perusahaan untuk ngasih motivasi. Dia melakukan itu demi melaksanakan panggilan saja. Yahya, yang membaptis Isa, lebih parah. Kepalanya dipenggal. Hidup Ayub morat-marit, lebih buruk kondisinya dari pembantu kamu. Dia penyakitan dan ampun-ampunan kere. Yunus kalah taruhan dan dilempar ke laut, terus dicaplok ikan paus."
"Ha ha... gimana dengan Sulaiman? Dia hamba Tuhan yang taat, beriman, dan dia juga raja, jadi orang paling kaya di dunia yang pernah ada. Bukankah itu bukti Tuhan sangat sayang sama dia?"
"Bukan. Sulaiman kaya karena dia anak Daud, jenderal perang sekaligus seorang raja. Dia kaya sejak orok. Mencretnya aja mungkin bijih emas. Coba kalau dia anak petani, aku yakin dia jadi penggembala. Isa Almasih berasal dari keluarga tukang kayu. Enggak ada cerita dia pernah punya cawan emas. Tapi dengan kepapaannya dia bisa ngasih roti kepada umatnya. Kamu dengan kekayaanmu tidak bisa menyejahterakan pegawaimu!"
"Jadi kamu yakin orang bisa kaya karena keturunan, bukan oleh usahanya sendiri?"
"Itu cuma salah satu faktor. Aku cuma ingin bilang, kasih sayang Tuhan, kekayaan, atau dan iman itu bisa jadi enggak ada korelasinya . Sebagian orang beriman ternyata sangat miskin dan hidupnya terhina. Banyak penjahat, tidak beriman, dan abai pada Tuhan punya kekayaan lebih hebat dan hidupnya terhormat---bahkan ada yang berani mengaku diri sebagai Tuhan. Jangan menghakimi iman orang atau kasih sayang Tuhan dari kekayaannya."
"He he he.. kamu bilang begitu karena frustrasi kesulitan menambah pendapatan."
"Mungkin," aku si orang miskin. "Tapi aku tidak geer merasa lebih dicintai Tuhan hanya karena aku lebih kaya dari tukan antar atau tukang sampah di RT-ku. Aku juga tidak merasa lebih disengsarakan Tuhan hanya karena kondisi ekonomiku lebih parah dari kamu. Aku lebih yakin kamu bisa kaya karena kamu lebih pintar cari uang dan orang mau bayar lebih besar dari aku. Aku belum bisa seperti itu dan aku mau dibayar sekadarnya. Kamu enggak mau seperti itu."
"Halah, bilang aja tarif kamu murah! Enggak ada orang yang mau bayar kamu lebih besar, karena kamu memang enggak punya nilai lebih."
"Kadang-kadang aku dibayar cukup mahal, tapi menurutku itu bukan tanda bahwa Tuhan lagi sayang atau kasihan sama aku. Itu cuman karena orang mau mengeluarkan uang lebih besar daripada yang kamu lakukan ke pembantu kamu. Itu cuman menunjukkan kebaikan seseorang ke aku, bukan membuktikan kasih sayang Tuhan."
"Aku memberi gaji sesuai pekerjaan pembantuku, bukan berarti aku tidak mampu atau tidak mau. Uang ada. Tapi aku mendidik orang biar mendapat sesuai yang diusahakannya. Biar adil."
"Ha ha... justru di situ persoalannya, bung! Apa kamu pikir adil seperti itu yang dipraktikkan Tuhan? Tuhan bukan manajer yang rewel soal gaji dan uang! Tuhan bisa memberi kekayaan gilai-gilaan kepada diktator paling jahanam yang pernah ada di dunia, meski diktator itu pasti gengsi mengakuinya. Itu kalau kamu tetap menganggap bahwa kekayaan memang benar-benar dipengaruhi sentimen Tuhan atau ada hubungannya dengan iman. Kalau kamu mau memberi rezeki kepada orang tanpa perhitungan, orang lain bisa semakmur kamu. Tuhan tidak mencelakai ciptaannya hanya gara-gara dia tidak beriman. Tuhan tidak sependendam itu."
"Buat apa aku memberi orang sesuatu yang bukan haknya?"
"Biar dia bisa memperbaiki rumah seperti cerita kamu, misalnya. Biar kamu bisa bilang bahwa Tuhan juga sayang sama orang itu, meski dia tidak punya akses atau kemampuan sehebat kamu."
"Nanti orang itu tidak tahu terima kasih dan rasa bersyukur dong?"
"Apa urusan kamu dengan beryukur atau beriman? Bukannya itu urusan orang dengan Tuhannya? Kenapa kamu merasa perlu menghakimi orang? Kamu belum pernah jatuh segitu miskin sampai melihat semua orang lebih kaya dari kamu dan merasa pantas dikasihani. Begitu kesulitan ingin mendapat sesuatu. Kamu belum pernah segitu terhina sampai semua orang melihat kamu sebagai pesakitan yang pantas untuk disingkirkan dan kamu berdoa agar orang-orang itu dibinasakan Tuhan."
"Jangan keterlaluan bung! Buat apa aku minta Tuhan membinasakan orang lain yang menghina aku?"
"Untuk membuktikan bahwa Dia sayang kamu. Bukankah kamu yakin kalau seseorang dekat atau disayang Tuhan dia bisa minta apa saja, termasuk yang gila-gilaan atau kata orang ajaib? Dan Tuhan tidak akan keberatan dengan permohonannya, apa pun itu."
"

Obrolan berakhir menggantung. Si orang kaya aneh kenapa ada orang sesengit ini bisa yakin bahwa Tuhan tidak punya pengaruh pada kehidupan seseorang. Pikirannya mendadak melantur kapan dia terakhir kali merasa kelaparan. Waktu puasa? Atau waktu diet karena dokter memerintahkannya waspada terhadap asam urat di tubuhnya? Sementara itu pikiran si orang miskin mengawang-awang atas keinginannya yang kandas. Tapi ada doanya yang lebih besar, dia ingin Tuhan membuatnya berhenti menginginkan sesuatu yang tidak dia butuhkan atau tidak dimiliki, dan mencukupi sesuatu yang menurutnya pantas diterima.

Apa kekayaan adalah bukti bahwa seseorang disayang Tuhan?[]

Anwar Holid, bersyukur atas kesederhanaan, berusaha tabah atas rasa nelangsa.

1 comment:

Ratih Soe said...

Muhasabah yg menggelitik...