Tuesday, May 01, 2012


Penerbitan adalah Bisnis, Begitu Juga dengan Buku Puisi
--Anwar Holid

Penerbitan buku puisi punya tantangan sendiri, terutama karena ada anggapan umum bahwa ceruk ini sama dengan proyek rugi. Benarkah? Bagaimana dong dengan penyair yang ingin menerbitkan puisinya?

Pertama-tama, pastikan dulu: buku puisi itu mau diterbitkan atas biaya sendiri atau akan ditawarkan ke penerbit. Mode penerbitan keduanya bisa sangat lain, denga konsekuensi masing-masing. Kalau akan diterbitkan sendiri, mau isinya dibilang mentah, belum pantas, enggak ikut selera pasar, aneh... cuek aja. Yang penting proses penerbitannya disiapkan dengan baik, antara lain lewat penyuntingan, jangan sampai salah eja, rapi, konsisten, dan padu. Ini pun boleh ada pengecualian, misal sengaja mengabaikan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

Kalau akan ditawarkan ke penerbit, urusannya bisa kompleks. Karena melibatkan kepentingan penerbit, buku harus: (1) menarik perhatian editor; (2) punya nilai jual. Makin besar kemungkinan daya jualnya, makin bagus. Kuncinya memang ada pada cara meyakinkan editor bahwa puisi kamu berpotensi menguntungkan mereka---baik secara finansial maupun reputasi---dan karena itu layak terbit. Cara meyakinkannya bisa lewat presentasi, diskusi, juga mengajukan proposal penerbitan.

Kalau akan menawarkan puisi ke penerbit, perhatikan puisi itu keunggulannya seperti apa, daya jualnya bagaimana, kalau perlu bayangkan segmen pembaca dan pasarnya siapa. Mintalah pendapat teman dekat jujur yang mau mengkritik paling pahit (jangan hanya bisa kasih pandangan menyenangkan, karena itu bisa berat sebelah) atau menyewa orang yang dianggap kompeten menilai karya kamu. Atau kamu punya standar puisi yang pantas ditawarkan ke publik itu seperti apa.

Naskah seperti apa yang bisa terbit?
Penerbit tertarik pada naskah karena berbagai hal. Bisa jadi karena penyampaiannya segar, ungkapannya dalam, pendapatnya thought provoking dan kontroversial, atau pendekatannya lebih kena. Intinya: naskah harus punya kelebihan, ada sesuatu yang bisa dijual, diangkat ke permukaan. Isi bisa tentang apa saja. Persoalannya penyair mampu tidak menyampaikannya secara lain, menggunakan cara baru yang menarik, sehingga menarik buat penerbit. Kalau tertarik, penerbit bisa membayangkan naskah itu akan jadi buku seperti apa, dan marketing tahu cara menjualnya, memperlakukannya sebagai komoditas. Biasanya naskah ditolak karena penerbit takut bertaruh atau kesulitan membayangkan bahwa naskah itu bisa menguntungkan atau susah dijual.

Penerbit punya berbagai pertimbangan untuk menolak atau menerbitkan naskah. Mereka selektif, apa pun alasannya. Terkadang ada kisah aneh bagaimana sebuah buku bisa diterbitkan. Sebaliknya, ada fakta buku yang sudah dijanjikan akan diterbitkan, bahkan ada dummynya, akhirnya ternyata enggak terbit karena berbagai alasan. Penerbit menilai produknya sebagai komoditas yang harus bisa dijual. Nah, dengan isi seperti itu, apa yang kira-kira bisa dijual dari karya kamu? Ini tentu bisa bareng dengan kemasannya. Kemasan memang tidak menjamin buku bisa laku, tapi minimal desainer bisa menampilkan buku biar indah dan elegan buat dipajang.

Kita tahu, ada buku bagus dan yang jelek. Kalau isinya jelek, kita bisa mengira-ngira kenapa naskah seperti itu tetap bisa terbit, malah kemudian laris. Mungkin yang penting asal terbit, atau sebaliknya: segitu saja sudah bisa menguntungkan penerbit... apalagi kalau disiapkan dengan lebih baik. Tapi kalau benar-benar jelek, ya bilang saja itu produk gagal.

Selama proses penerbitannya disiapkan dengan baik, itu cukup. Artinya, penulis dan penerbit sungguh-sungguh menanganinya, ingin menghasilkan produk yang baik. Soal nanti ditanggapi bagaimana oleh pasar, tidak masalah; orang bisa komentar apa saja, baik atau buruk. Salah satu aspek naskah yang sangat penting untuk diperhatikan ialah kepaduan dan kelengkapan isi. Kalau isinya sudah dinilai padu, naskah siap diterbitkan. Kalau belum, ya isilah bolong-bolong di naskah tersebut.

Penerbitan adalah bisnis 
 Sebagian penulis suka sedih atau merasa sombong kalo karyanya dinilai sebagai komoditas. Mereka anggap itu rendah. Tapi sadarilah, buku harus bisa dijual. Karena membuatnya mengeluarkan modal. Sebagian penulis bilang peduli amat bukunya seret penjualannya, tapi aku yakin kalau bukunya laris---atau mendapat kritik besar-besaran---dia akan lebih seneng lagi, karena bukunya punya pengaruh ke publik luas. Buat apa buku kalau cuma numpuk di gudang?

Kalau penjualan buku seret, semua orang yang terlibat dalam proses penerbitannya bisa sedih dan sebel. Memang selalu ada buku puisi bagus yang gagal terbit ketika penulisnya masih hidup dan baru terbit setelah dia meninggal. Emily Dickinson contoh klisenya. Dia penyair yang baru terkemuka dan dianggap penting setelah meninggal. Selama hidupnya dia belum pernah menerbitkan buku dan hanya beberapa saja dari puisinya yang pernah dipublikasi, dan sayang disayang dia tidak sempat ngeblog..

Karena itu, percaya diri saja menawarkan naskah. Bekalnya ialah kamu tahu persis kekuatan dan kualitas puisimu. Cara paling aman untuk memulainya ialah dengan kenal editor di penerbit yang kita tawari naskah. Nanti kita bisa tanya perkembangan naskah itu pada dia. Tapi jangan terlalu sering bertanya, bisa-bisa kita dianggap rewel. Editor itu sibuk. Tuntutan kerjanya banyak. Mereka mengurus beragam naskah. Kalau perlu, kamu presentasi soal naskah kamu ke editor. Di mana-mana penerbit mau yakin soal pasar dan penjualan dagangannya. Mungkin dengan berargumen bahwa kemasan yang bagus bakal punya nilai jual lebih. Isinya sudah diakui lingkaran dekat dan reputasi penyair juga bisa menjadi pertimbangan penerbit untuk menerima naskah.

Diterbitkan ke mana?
Bentang, Gramedia Pustaka Utama (GPU), Grasindo, menerbitkan puisi. Dari kuantitas, Grasindo tampak unggul. Buku puisi terbitan Grasindo sepertinya wajib koleksi. Kebanyakan berupa kumpulan puisi yang diambil dari beberapa buku yang terbit sebelumnya, semacam 'the best' puisi penyair tersebut. Tapi kemasan buku Grasindo biasa banget. Dari segi kemasan, Bentang kayaknya paling bagus. Buku puisi mereka mayoritas hardcover, pakai jaket, membuatnya terlihat indah dan kolektibel. Tampilan buku puisi terbitan GPU juga bagus, meski sering softcover. Coba lihat Jantung Lebah Ratu (Nirwan Dewanto). Dari segi cover, pewarnaan, tipografi, lay out, ilustrasi, indah banget. Tampilan buku puisi Joko Pinurbo terbitan GPU juga bagus.

Ketiga penerbit besar ini selektif. Aku dengar, Bentang hanya menerbitkan satu-dua buku puisi setahun. Ini gila. Gramedia juga jarang, seolah penerbit ini merilis buku puisi hanya demi keragaman dan kelengkapan katalog, syaratnya pun tampak harus dari penyair mapan.

Di Jakarta ada penerbit yang cukup fokus menerbitkan buku puisi, namanya Buku Pop, dari penerbit Wedatama Widya Sastra. Tapi tampilannya cenderung sekadarnya. Penerbit Banan juga pernah menerbitkan beberapa buku puisi. Tampilannya cukup bagus, terutama dari segi cover. Di Bandung, kita harus menyebut Ultimus yang konsisten menerbitkan buku puisi hingga sekarang.

Soal percetakan
Karena pasarnya kerap terbatas dan penjualannya biasa, sebagian penerbit menganggap buku puisi cuma untuk formalitas. Atau baru mau menerbitkan atas biaya produksi dari penyair. Cara ini tidak direkomendasikan, kecuali kamu mau mengorbankan uang untuk itu. Karena kerap tipis, bisa dibilang biaya penerbitan buku puisi biasanya lebih murah dibanding novel. Bila memilih mode ini, kita perlu membicarakan percetakan.

Percetakan adalah soal harga dan permintaan. Kalau ada biaya, semua bisa dipenuhi. Semua bergantung pada jumlah halaman, ukuran, jenis kertas isi dan cover, kualitas cetakan, dan detail-detail lain yang bisa diurai satu-satu. Makin bagus kualitas cetakan, biasanya akan makin mahal, dengan hasil maksimal dan makin memuaskan penulis dan penerbit. Makin murah, biasanya makin turun kualitas cetaknya, termasuk hingga ke soal tinta. Jadi wajar kalau tintanya blobor, tembus, kelihatan kotor, dan seterusnya.

Sebagai pemanis maupun nilai tambah, buku puisi memuat biasa ilustrasi, baik berupa vignette, sketsa, gambar pensil, juga foto. Penataannya bisa satu puisi satu foto, atau tiap beberapa halaman. Tentu ini bisa memberi kesan lain. 'Puisinya menggetarkan, lay outnya enak, ilustrasinya juga keren-keren.' Ilustrasi yang bagus butuh mutu percetakan berkualitas. Tapi lebih penting lagi: terbitkan buku dengan unik dan tonjolkan kelebihannya. Kalau perlu, pertahankan idealitas bahwa buku itu akan dicetak sesuai cita-cita penyair. Jangan dikurangi kualitasnya. Mungkin harganya jadi lebih mahal, tapi akan tetap berharga dalam waktu lama, dengan begitu peluang dijual tetap terus ada.

Endorsement
Ada dua pendapat soal endorsement atas buku yang baru terbit. Sebagian orang rada anti dengan endorsement. Mereka anggap itu cuma pujian basa-basi, apalagi bila pemberinya dianggap irelevan. Kita perlu hati-hati soal ini. Aku sendiri moderat soal endorsement. Kalau irelevan, lupakan saja. Tapi kalau dinilai tepat, bagus. Untuk endorsement, carilah tokoh yang dinilai kompeten menanggapi soal puisi.


Baik, sekarang, apa puisimu siap diterbitkan? Memang banyak pihak bilang buku puisi jarang ada yang sangat laris. Tapi percayalah buku puisi bukan proyek rugi. Kalau merugikan, manusia sudah lama menghapus puisi sebagai salah satu pencapaian budi tertinggi. Tetap saja ada penerbit yang mau merilis buku puisi, apa pun mode produksinya. Puisi adalah bagian dari pencapaian budaya dan industri kita. Karena itu sampai kapanpun ia akan ada.[]

Anwar Holid, bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

1 comment:

Alim Al Ayubi Syam said...

Assalamu alaikum, Kak saya mau menerbitkan buku puisi, di Makassar penerbit yang mana yang mau menerbitkan puisi saya? mohon bantuannya.