Wednesday, January 15, 2014


Cerita Pendek

Air Mata Debu
--Utomo Priyambodo

Alkisah di suatu zaman, terdapatlah sebuah negeri yang alamnya kaya raya. Segala macam ikan hidup di perairannya. Segala macam tumbuhan tumbuh subur di tanahnya. Namun, sayangnya rakyat di negeri itu tidaklah merasa bahagia hidup di sana. Bahkan sebaliknya, rakyat yang tinggal di sana justru sering bersedih dan bersusah hati.

Konon, di  negeri  tersebut, ada suatu pasukan militer tersendiri yang dibuat oleh jajaran petinggi pemerintah, khusus untuk menangani kesedihan dan kesusahan hati rakyatnya. Pasukan ini terbentuk diawali dengan munculnya fenomena unik pada rakyat yang tinggal di negeri tersebut. Rakyat yang tinggal di sana tiba-tiba saja mulai memiliki kebiasaan janggal ketika mengalami kesedihan dan kesusahan hati. Yakni, apabila mereka menangis akibat kesedihan dan kesusahan hati yang mereka alami, maka akan keluarlah dari mata mereka butir-butir debu, bukan lagi bulir-bulir air mata.

Awalnya, kejadian janggal ini tak menjadi persoalan sama sekali bagi petinggi-petinggi pemerintah berikut para menteri dan rajanya. Akan tetapi, karena kejadian ini merupakan hal yang unik, beritanya kemudian tersebar kepada dunia internasional. Lalu para petinggi pemerintah di negeri itu pun mulai merasa gusar dan malu ketika negeri-negeri lain semakin banyak yang mengetahui bahwat rakyat di negerinya sering menangis, sering bersedih dan bersusah hati. Tentu hal ini akan menjadi sebuah wacana besar yang memalukan apabila media-media massa internasional mulai banyak memberitakan bahwa rakyat di negerinya tidak bahagia. Itu akan menimbulkan anggapan bahwa pemerintahannya tidak cakap dan bijaksana.

Seorang kuli tinta dari negeri tetangga, sebut saja namanya Tarmujo, mencoba memasuki negeri yang terkenal kaya akan sumber daya alamnya itu. Ia berusaha mengumpulkan berita sebanyak-banyaknya dengan menemui langsung rakyat di negeri tersebut.

Tibalah Tarmujo di sebuah dusun yang indah tetapi terasa sendu. Dusun itu dikenal dengan nama dusun Alamsia. Entah mengapa namanya Alamsia, Tarmujo sendiri belum sempat untuk mendalami filosofi dan sejarah dusun tersebut. Ia hanya bisa menebak-nebak, barangkali dinamakan Alamsia karena kekayaan alam yang indah dan melimpah di dusun itu terasa sia-sia saja karena tidak bisa membuat penduduknya bahagia. Tapi itu barulah hipotesis seorang Tarmujo.

Di hari pertamanya tiba di dusun Alamsia itu Tarmujo segera mencoba untuk memawancarai warga penduduk dusun sebanyak-banyaknya. Setiap orang yang ia wawancarai akhirnya secara alami membeberkan berbagai keluhannya terhadap pemerintahan negerinya sendiri ketika itu. Seorang ibu paro baya bahkan sampai menangis tersedu-sedu ketika ia dengan penuh emosional menyebutkan berderet kejengkelannya terhadap pejabat-pejabat pemerintah negerinya. Dan benar saja apa yang tengah menjadi trending topic berita internasional! Ketika ibu itu menangis, keluarlah butiran-butiran debu dari kelopak matanya. Tarmujo benar-benar terkejut, tapi juga iba mendengar keluhan si ibu.

“Coba ya mas, bayangkan! Kok bisa sih ada pejabat di teve yang malah nyuruh rakyat seperti saya ini untuk hidup lebih sederhana lagi?! Hiks...” deru ibu paro baya itu. “Lha wong gak usah disuruh gitu selama ini kami juga udah hidup secara sangat sederhana, bahkan kekurangan. Mana bisa orang kayak saya ini berhura-hura. Lha wong untuk makan saja susah. Ini malah disuruh hidup sederhana lagi. Mbok yo orang susah kayak saya ini dibantu, bukan malah disuruh hidup lebih susah lagi. Kami ini udah biasa hidup prihatin, lebih daripada sederhana. Tanpa disuruh pejabat itu pun hidup kami sudah prihatin.”

Tarmujo melihat butiran debu bergulir dari mata ibu itu. Ia terkesima.

“Gini nih mas kalau kita salah pilih pejabat. Tapi rasa-rasanya saya juga nggak pernah pilih pejabat kayak gitu kok. Pejabat yang saya pilih itu sih yang pernah janjiin kepada penduduk dusun ini untuk selalu memperhatikan dan menolong rakyat kecil seperti saya ini. Tapi saya juga lupa siapa ya kemarin yang saya pilih. Semuanya sama, waktu kampanye semua berjanji akan memperhatikan dan menolong rakyat kecil.”
Tarmujo menawarkan selembar tisu basah untuk si ibu. Itu untuk membasuh butiran-butiran debu yang keluar dari matanya dan yang tersisa di pipinya.
“Ya kalau pejabat itu itu benar-benar pejabat wakil rakyat, seharusnya dia dong yang berkorban untuk kami. Kenapa nggak dia kasih gajinya untuk kamisaja yang rakyat kecil ini?! Setelah itu, seharunya dialah yang mesti belajar hidup sederhana menemani kami.”
Tarmujo mengangguk-anggukkan kepalanya. Benar juga logika ibu itu, pikir Tarmujo. Secara penuh ia sepakat dengan si ibu.
“Begini ya, mas, saya bukannya kepingin banyak ngeluh, tapi keadaannya emang susah hati buat kami di sini. Mas bisa tanya deh penduduk yang lain, pasti nggak jauh beda sama saya. Kami ini udah gemes banget, selalu dikecewakan oleh janji-janji wakil rakyat sejak dulu-dulu!”

Tarmujo mengulurkan sebuah tisu basah lagi kepada ibu paro baya itu. Butir-butir debu masih melekat di bawah matanya. Alamak, berapapun tisu basah tak akan berguna jika si ibu masih saja menangis.

Berselang tujuh menit, akhirnya tangis si ibu mulai mereda. Berbagai caci maki untuk pemerintah terlontar begitu saja dari lidah si ibu. Lidah yang memiliki saraf motorik yang terhubung oleh otak yang telah mengumpulkan berbagai data dari saraf-saraf sensorik di berbagai bagian tubuh.

Tarmujo cukup senang dengan hari pertamanya di dusun Alamsia itu karena ia telah mendapatkan banyak data hasil wawancaranya dengan sejumlah penduduk desa. Namun, di sisi lain Tarmujo juga merasa sedih dengan keadaan warga dusun yang tidak bahagia di atas tanah yang kaya dengan sumber daya alam melimpah ruah dan indah.

Pada hari kedua, Tarmujo kembali mewawancarai penduduk desa lainnya. Bahkan, ia juga sempat mewawancarai sang kepala desa. Dan alangkah terkejutnya Tarmujo ketika kepala desa di dusun Alamsia ini ternyata buta.
“Maaf pak, apakah Bapak tahu apa saja yang tengah dirasakan oleh penduduk desa bapak?” tanya Tarmujo to the point.
Sang kepala desa yang tunanetra itu tersenyum, “Tentu saja saya tahu, dik. Meskipun saya buta tapi saya masih punya hati untuk bisa merasakan keadaan warga penduduk saya.”
“Kalau saya boleh tahu, sejak kapan Bapak menjadi kepala desa ini? Dan, maaf, sejak kapan bapak tidak bisa melihat?”
Sang kepala desa menghela napasnya beberapa kali. Kemudian beliau mendongakkan kepalanya. Meskipun matanya tak berfungsi lagi, mata beliau terlihat seolah-olah menerawang ke atas dan tampak berkaca-kaca.
“Begini, dik Tarmujo, ketika saya terpilih menjadi kepala desa ini, mata saya masih normal. Hingga kemudian…”

***

Pak kepala desa bimbang menimbang apa keputusan yang akan diambilnya besok. Titah dari pak bupati sudah jelas dan terang. Bukan lagi abu-abu, tapi adalah hitam menurut hati nurani pak kepala desa. Pak kepala desa tidak mau melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan kebenaran yang diyakini oleh hatinya. Tapi itu adalah titah pak bupati, atasannya, kepadanya dan juga kepada kepala desa lainnya. Mesti bagaimana? Apa bisa ia menolaknya?

Pak kepala desa akhirnya menolak melaksanakan perintah pak bupati. Pak bupati geram. Tak lama akhirnya pak bupati menon-aktifkan pak kades. Tapi pak kades protes. Beliau justru melaporkan segala penyelewengan yang dilakukan oleh pak bupati kepada pihak penyidik. Beliau  membeberkan semua kebusukan pak bupati yang telah dilihatnya, semua kebusukan yang diketahuinya. Pak bupati pun semakin geram. Namun untuk menjaga nama baiknya, pak bupati mengiming-imingi pak kades agar menarik kembali laporannya kepada pihak penyidik dengan imbalan pak kades tak jadi dinon-aktifkan. Pak kepala desa akhirnya kembali menjadi kepala desa. Namun, ternyata, meski tak jadi dinon-aktifkan, pak kades tidak menarik kembali laporannya. Pak bupati tak punya pilihan lain. Di suatu malam ketika pak kades tengah beri’tikaf di sebuah masjid desa, ia didatangi oleh beberapa pria berjubah hitam. Pak kepala desa ditarik ke luar dan kemudian matanya pun ditarik ke luar juga.

“Kau tak bisa jadi saksi mata apa pun sekarang!” gema beberapa pria berjubah itu.

***

“Lalu Bapak melaporkan kejahatan yang dialami bapak malam itu?”
“Tidak bisa, dik. Percuma saja saya melapor, sedang tak ada saksi mata satu pun saat kejadian di malam itu. Dan saya sudah tak bisa lagi menjadi saksi mata untuk kejahatan yang saya alami sendiri.” Pak kades terlihat murung. Meski kelopak matanya tertutup kaca mata hitam, Tarmujo bisa merasakan kegelapan dan kesedihan yang begitu mendalam dari dirinya.

Tiba-tiba dari balik kaca mata hitamnya keluarlah butiran-butiran debu.

“Sayalah orang pertama di dusun ini, bahkan mungkin di negeri ini, yang mengeluarkan debu ketika menangis. Mungkin itu karena saya tak bisa menghasilkan air mata lagi sebab mata saya telah tercerabut, jadilah Tuhan menggantikannya dengan debu-debu.”
Tarmujo sangat kaget mendengar hal itu.
“Sangat perih, dik. Menangis dengan mengeluarkan butiran debu itu sangat perih rasanya. Gesekan butiran debu pada kelopak mata itu sangat perih. Apalagi kalau saya masih punya bola mata yang bergesekan dengan butiran debu-debu kasar yang memaksa keluar. Tak sehalus air mata, dik. Pasti warga saya sangat perih merasakannya.”

Tarmujo kembali tercengang. Ia baru saja menyadari tentang keperihan yang lebih besar yang ditimbulkan oleh butiran debu dari mata itu.

“Kalau saya bisa mengendalikan mata saya ini, tentu saya memilih untuk tidak menangis saja karena rasanya sangat perih. Begitupun dengan warga saya, pasti mereka juga memilih seperti itu. Tapi sering manusia seperti kita ini tak bisa lagi menahan kesedihan yang berat dalam hati. Terkadang kita perlu melepaskannya. Kita perlu meluapkannya juga seperti anak kecil cengeng minta permen atau bayi kecil yang lapar.”

Tarmujo mengangguk-angguk, tanda dapat memahami maksud pak kepala desa.
Hari semakin senja. Langit semakin gelap, mungkin juga segelap dengan apa yang dilihat oleh pak kades di setiap waktu dalam hari-harinya saat ini.

Tarmujo pamit pulang. Besok ia akan berangkat ke dusun lain atau bahkan ke pusat kota. Wawancara dengan penduduk dusun ini sangatlah mengharukan dan membuatnya sendu. Semalaman ia tak bisa tidur terngiang-ngiang oleh cerita pak kepala desa kepadanya.

Apa jadinya bila penduduk di negeriku sana, termasuk aku, juga menangis mengeluarkan butiran debu seperti penduduk di negeri ini? Syukurlah air mata kami masih normal dan masih bisa berbahagia, batin Tarmujo sendu.

Pagi menguning, matahari mulai ke luar dari selimutnya. Tarmujo telah siap dengan ransel perjalanannya. Ia akan segera pergi meninggalkan dusun Alamsia itu. Ia pamit kepada setiap penduduk desa yang dijumpainya. Bus menuju kota ia naiki dan hening kemudian menggelayuti perjalanannya. Hanya deru mesin dan sesekali klakson kendaraan yang mengiringi senyap pikirannya.

Keadaan kota di negeri itu ternyata sangat berbeda dengan keadaan desanya. Di kota Tarmujo melihat segala sesuatunya serba cepat, kecuali macet kendaraan di jalannya. Setiap orang terlihat bagai diburu waktu. Semua tergesa-gesa. Semua terburu-buru. Seolah-olah setiap orang ingin melakukan semua hal dalam satu hari itu. Tarmujo kemudian melihat sebuah gedung tinggi yang seolah berpuncak emas. Apakah itu emas sungguhan? Mubazir sekali kalau emas sebesar itu justru dijadikan bahan bangunan, pikir Tarmujo. Lebih baik kalau emas itu dijual saja dan diberikan untuk kesejahteraan desa Alamsia, pikir Tarmujo lagi. Ah, gedung-gedung dan rumah-rumah bertingkat yang lain di kota ini juga terlalu mewah menurut Tarmujo. Menurutnya, seharusnya dibuat sederhana saja, dan sisa uangnya disumbangkan untuk penduduk Alamsia. Mereka lebih membutuhkan.

Tarmujo membeli sebuah surat kabar di pinggir jalan. Ia membaca: "Mulai hari ini pemerintah melarang setiap penduduk untuk menangis, terutama bagi yang berusia di atas 17 tahun.” Apa-apaan ini? Menangis itu kan manusiawi. Peraturan yang tak masuk akal! Hujat Tarmujo dalam hati.

Di halaman lain di koran yang dibelinya, Tarmujo membaca: “Pasukan khusus anti tangis mulai memasuki desa-desa.” Dan di halaman lain tertulis: “Sidak tangis butiran debu mulai diberlakukan hari ini. Yang tertangkap muka telah menangis akan dihukum.” Apa lagi ini? Negeri macam apa yang melarang dan menghukum orang yang menangis?

Tarmujo mengeleng-gelengkan kepalanya semakin sering. Ia melihat seorang bapak di sebelahnya juga menggeleng-gelengkan kepalanya ketika membaca koran yang sama.
“Pemerintah guoblok! Kok orang nangis yang kena hukum? Harusnya orang korup yang dihukum!” hujat bapak itu dengan suara yang cukup keras hingga membuat orang-orang di sampingnya, termasuk Tarmujo, menoleh kepadanya. “Edan! Edan!” cerca bapak itu lagi.
Tarmujo tersenyum geli. Namun selain itu ia pun tersenyum senang karena menemukan seorang penduduk negeri ini yang memiliki permikiran serupa dengannya. Tarmujo kemudian bertanya kepada loper koran di hadapannya, di mana lokasi gedung istana kerajaan maupun gedung parlemen kerajaan berada. 

Kedua tempat itu kemudian Tarmujo datangi. Namun sayang, ia tak bisa memasuki satu pun gedung yang telah didatanginya. Kedua gedung itu sama-sama dijaga ketat oleh penjaga-penjaga bersenjata berwajah kaku. Layaknya robot tentara yang tak kenal negosiasi dengan siapapun. Bahkan mungkin tak kenal kompromi dengan apa pun.
Tarmujo agak kecewa. Progres tugas kewartawanannya hari ini dapat dibilang hampir nol. Hanya sepotong berita koran yang ia dapatkan. Ia tak bisa mewawancarai narasumber satu pun secara langsung. Ia benar-benar ingin menemui salah seorang pejabat tinggi negeri itu.

Senja telah berganti. Malam mulai menyelimuti. Tarmujo rindu pada negeri asalnya. Negeri yang sederhana, tapi suasananya menenteramkan hati. Tidak kaya raya, tapi tak ada kesenjangan sosial yang tinggi. Semua orang bisa merasa damai dan mengekspresikan perasaannya secara bebas juga bertanggung jawab.

Malam itu ia menginap di sebuah losmen melati yang dari kamarnya ia tak sengaja mendengar desahan dan erangan sepasang muda-mudi di kamar sebelah. Di sisi satunya ia mendengar gema tawa dan dentingan botol yang menyelinginya. Ah, betapa tak damai hidup di antara kemaksiatan seperti ini. Pantas saja kalau negeri ini jadi tak tenteram.

Tarmujo jadi banyak membandingkan negerinya dengan negeri yang sedang dikunjunginya itu. Negeri yang ia kunjungi sebenarnya sangatlah kaya raya. Namun, kekayaan yang dimilikinya hanya dapat dinikmati oleh sebagian orang, bahkan mungkin sangat segelintir.

Malam itu Tarmujo jadi banyak merenung dan berpikir. Ia sudah tak pedulikan lagi suara-suara kemaksiatan yang terdengar dari kamar-kamar sebelah. Ia banyak bersyukur dengan negeri yang dimilikinya di seberang sana. Sederhana saja, tapi bersahaja. Toh buktinya tidak selamanya kaya raya itu berarti bahagia. Yang lebih penting ternyata adalah nilai-nilai kesahajaan. Tak lama kemudian akhirnya mata Tarmujo benar-benar terpenjam oleh cahaya bulan. Lampu kamar telah lama padam. Cahaya bulan yang menembus jendela kamarnya yang terbuka pun akhirnya justru membantu mata Tarmujo lebih cepat terpejam.

***

“Berita besar! Berita besar! Ada kabar bahwa semalam sang raja menangis!”
Tarmujo secara refleks langsung menoleh ke arah sumber suara.
“Berita besar hari ini! Raja menangis!” teriak loper koran itu lagi.
“Mas, saya mau satu,” ujar Tarmujo yang kemudian dilanjutkan dengan transaksi jual-beli surat kabar tersebut.

Loper koran itu tidak berdusta. Koran memberitakan dan memperlihatkan sebuah foto bahwa raja negeri ini kedapatan sedang menangis. Tidak disebutkan dari mana sumber foto tersebut. Hanya dituliskan bahwa sang pemotret adalah fotografer rahasia yang menyamar dalam kerajaan.

Semangat jurnalisme Tarmujo kembali membara. Ia bertekad harus dapat mewawancari salah satu penghuni istana, siapapun orangnya. Langkah kaki Tarmujo mulai mengayun ke arah istana kerajaan.

Namun, seperti biasa pengawal istana menjaga ketat gerbang dan melarang masuk siapapun orang tanpa janji dengan raja, termasuk Tarmujo. Tarmujo tidak lantas putus asa. Bila tidak bisa masuk istana, berarti ia harus menunggu raja ke luar dari istana. Tarmujo menunggu dan mengawasi istana dari sebuah kedai kopi pinggir jalan dekat istana. Lama berselang masih juga tak ada perubahan lanskap dari gerbang depan istana tersebut, kecuali matahari digantikan bulan dan penjaga istana yang berganti orang.
Tarmujo mulai merasa bosan dan mengantuk meski kopi bergelas-gelas telah ia minum. Hampir saja Tarmujo tertidur hingga kantuknya seketika hilang ketika ada berita dari radio di kedai kopi tersebut.

“Paduka raja bukan menangis biasa. Adalah sebuah anugerah dari tangisan paduka raja dapat ke luar berbutir-butir mutiara.”
Tarmujo menganga.
“Demikianlah kilas berita kali kini. Selamat menikmati kembali tembang-tembang plihan kami.”
Orang lain yang berada di kedai kopi tersebut juga dibuat heboh oleh berita barusan. Mereka langsung membahasnya. Satu per satu pengunjung menambah pesanan kopi. Tampaknya mereka memutuskan singgah lebih lama lagi di situ. Lebih lama lagi mengobrol, sebab tiba-tiba muncul topik yang sangat menarik untuk dibahas. Tarmujo ikut mendengarkan saja. Ia merasa kurang sopan jika ikut nimbrung dan memotong pembicaraan orang lain, sebab ia bukan penduduk asli. Mengapa paduka raja mengeluarkan butiran mutiara ketika menangis, sedangkan rakyatnya mengerluarkan butiran debu? Pertanyaan menjalar dalam dada Tarmujo. Ia semakin penasaran untuk bisa memasuki areal istana dan mewawancarari salah satu penghuninya, bahkan kalau bisa sang paduka raja.

“Walah dalah, ajaib sekali raja bisa nangis mutiara.”
“Iya, ya. Coba kalau kita juga bisa nangis mutiara, bisa kaya mendadak kita semua!”
“Mudah-mudahan mutiara yang ke luar tidak dinikmati sendiri ya.”
“Iya banget lah. Setuju!”
“Eh tapi kalau raja nangis, beliau kena hukuman juga enggak? Kan beliau sendiri yang buat peraturan dilarang menangis bagi orang dewasa.”
“Iya, ya. Kecuali kalau beliau kebal hukum.”
“Eh sampeyan bukan warga sini ya?” tanya seorang bapak paro baya kepada Tarmujo. Bapak tambun itu agak curiga melihat gerak-gerik Tarmujo yang mendekati kerumunannya dan menguping obrolan mereka.
“Eh, iya, pak. Saya dari negeri seberang. Perkenalkan nama saya Tarmujo,” jawabnya ramah.
“Oh, begitu. Sampeyan kalau mau gabung nimbrung aja sini jangan malu-malu.”
“Oh iya, pak. Makasih.” Tarmujio segera memindahkan posisi duduknya.
“Sampeyan lagi ngapain ke sini?”
“Tugas reportase, pak.”
“Ohhh... wartawan?”
“Begitulah, pak.”
“Mau liput berita apa?”
“Tentang air mata debu, pak.”
“Yah sekarang sih sudah enggak zaman berita soal air mata debu. Udah heboh air mata mutira, boy!”
“Iya, pak. Saya juga barusan dengar beritanya.”
“Oh, terus sampeyan sampai daerah sini mau pergi masuk istana?”
“Rencananya begitu, tapi enggak diperbolehkan oleh penjaga istananya.”
“Ya memang begitu. Ha ha ha...”

Malam itu Tarmujo begadang di kedai kopi dan ketika subuh ia tertidur hingga jarum jam pendek dan panjang membentuk siku-siku pada angka 9 dan 12.
“Sampeyan sudah bangun toh mas?” tanya bapak tua pemilik kedai.
“Bapak-bapak yang lain mana, pak?”
“Ya, sudah balik, mas. Mereka kan punya keluarga dan mesti kerja juga pagi-pagi gini.”
“Lha semalam kan mereka begadang bareng saya juga, pak?”
“Ya tapi kalau enggak kerja keluarganya mau dikasih makan apa? Kata orang bule mah play hard work harder.”
“Oh iya, pak, kantor polisi dekat sini di mana ya?”
“Ada apa, mas? Kehilangan barang?”
“Oh enggak, saya mau mewawancarai polisi saja.”
Si bapak tua kemudian menunjuk-nunjukkan jarinya ke arah jalan panjang yang membentang di depan kedai, dan membelok-belokkan tangannya beberapa kali. Tarmujo cepat mengerti penjelasan lokasi darinya. Ia pun pamit dan bayar kopi yang dia pesan beberapa kali dan kacang yang bertali-tali.
“Terima kasih ya pak kopi dan kacangnya.”
Baru saja Tarmujo ingin melangkahkan kaki ke luar, sebuah berita berkumandang dengan merdu. “Kilas berita pagi ini. Beberapa pejabat istana kedapatan menangis di ruang kerja. Tidak diketahui penyebabnya. Seorang pejabat mengaku dirinya sendiri tak mengerti kenapa menangis. Beliau hanya merasa tiba-tiba ingin menangis. Demikian kilas berita kali ini, terima kasih.” Berita itu membuatnya berdiri diam terpaku di depan pintu tak berdaun ke luar kedai. Hanya ada rangkaian bambu memanjang di kedua sisi, memberi celah yang membuatnya layak dianggap sebagai pintu ke luar-masuk.

Berita selesai berkumandang; Tarmujo segera melenggang. Akhirnya pintu keluar itu ia lewati. Tarmujo tampak begitu bersemangat; si bapak tua pemilik kedai hanya tersenyum dan menggangguk.

***

“Selamat siang, pak. Saya Tarmujo dari Daily Newspaper. Dapatkah saya mewawancarai salah seorang pejabat kepolisian di sini terkait dengan aturan larangan menangis?” tanya Tarmujo kepada seorang berseragam polisi.
“Oh, saya bukan petugas kepolisian di sini, mas.”
“Tapi bapak pakai seragam polisi?”
“Apa orang yang pakai seragam timnas sepakbola lantas disimpulkan pasti seorang pemain timnas?”
“Ehm. Ya, belum tentu, pak.”
“Ya, begitu pun seragam polisi.”
Bapak itu kemudian segera berlalu. Tarmujo menemui seorang bapak lain yang berseragam polisi juga.
“Selamat siang, pak. Saya Tarmujo dari Daily Newspaper. Dapatkah saya mewawancarai salah seorang pejabat kepolisian di sini terkait dengan aturan larangan menangis?”
“Oh, saya sekarang tidak sedang bertugas, mas. Saya sedang cuti.”
“Tapi bapak pakai seragam polisi?”
“Iya, saya belum melepasnya. Sebab baru tadi saya ambil surat cutinya.”
“Bapak bisa memberi rekomendasi siapa yang sebaiknya dapat saya temui?”
“Wah, rekan saya yang sedang bertugas di kantor ini sepertinya sedang sibuk semua. Lebih baik mas buat janji dulu.”
“Bagaimana saya bisa membuat janji kalau tak bisa menemui satu pun polisi di sini?”
“Ya, kalau mas mau janjian dengan saya, saya mau kok diwawancarai setelah cuti saya selesai.”
“Kapan itu pak?”
“Tiga bulan lagi.”
“Tidak, pak. Terima kasih,” jawab Tarmujo dan kini ialah yang berlalu.

Dua anggota polisi atau tepatnya dua orang berseragam polisi yang Tarmujo temui barusan benar-benar telah membuat hatinya jengkel. Di negaranya, polisi sangat ramah dan sangat melayani. Entahlah, ia kembali merasa rindu pada kampung halaman di negeri seberang darinya sekarang.

Hampir saja ia menjauh pergi dari kantor polisi, namun teringat akan tugasnya. Ia harus menyelesaikan tugas ini dengan segera agar dapat segera pula pulang kampung, ke negeri halaman tercinta.

Ia berbalik lagi. Sepatu tracking-nya mendecit. Kantor polisi kembali ia masuki. Di sana ada beberapa polisi. Dengan sedikit memilih berdasarkan perasaan, Tarmujo menghampiri petugas berkaca mata dan berkumis tipis, serta tampak sedikit sudah tua.
“Selamat siang, pak. Saya Tarmujo dari Daily Newspaper. Dapatkah saya mewawancarai salah seorang pejabat kepolisian di sini terkait dengan aturan larangan menangis?”
“Kebetulan komandan saya tidak sedang di tempat. Tapi kemungkinan jam satu nanti beliau akan datang. Kalau mas mau menunggu, silakan duduk-duduk dulu di sini,” jawab bapak itu ramah. Tarmujo senang melihat keramahan senyum dan suaranya. Namun, ia kurang senang harus menunggu tiga jam lebih hingga pukul satu nanti.
“Baik, pak. Saya akan menunggu di sini. Kalau boleh tahu siapa nama bapak?”
“Saya Muhaimin.”
“Mungkin bapak tahu kenapa tiba-tiba ada peraturan larangan menangis di negeri ini?”
“Saya tidak berani menjawab, mas. Saya bukan petinggi kepolisian. Tidak pantas.”
“Oh, baik pak. Mungkin kita ngobrol yang lain saja.”
“Ya, itu lebih baik, mas. Terkadang kita perlu ngobrol di luar hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan toh. Biar bisa bikin pikiran lebih awet muda.”
“Ha ha ha, bapak bisa saja.”
Tarmujo tersenyum menyeringai, sedikit merasa tersindir juga. “Ngomong-ngomong bapak sudah punya anak berapa nih?”
“Wah, saya malah udah punya dua cucu, mas. Tahun depan saya sudah mesti pensiun juga.”
Pantas kelihatan sudah sedikit tua, pikir Tarmujo. Namun, masih termasuk lebih awet muda juga untuk ukuran orang berusia yang tahun depan sudah harus pensiun kerja, 54 tahun.

Tanpa terasa sudah dua jam Tarmujo mengobrol dengan si bapak. Memang benar kata temannya yang seorang psikolog, bahwa orang yang usianya telah menginjak masa tua akan senang sekali bicara dan bercerita. Mereka yang menginjak masa tua sangat senang bila ada seseorang mau mendengarkan obrolannya, mendengarkan ceritanya.

“Kilas berita kali ini. Gelombang massa yang cukup banyak memadati depan gedung istana. Menurut pengakuan salah seorang di antara massa tersebut, mereka berniat untuk berunjuk rasa menuntut kesamaan hak dan kedudukan dalam hukum.”
Percakapan antara Tarmujo dengan pak polisi yang agak tua tadi terhenti.
“Hal ini dipicu oleh berita tentang banyaknya pejabat istana kedapatan menangis, namun tak satu pun dari mereka mendapat hukuman. Demikianlah kilas berita kali ini.”
“Itu juga yang ingin saya tanyakan dalam wawancara saya, pak,” ungkap Tarmujo.
“Huss! Jangan bicara soal pekerjaan lagi, mas,” potong pak polisi tersebut.
“O iya, maaf pak.”
“Mas Tarmujo sudah menikah?”
“Belum, pak.”
“Saya dulu tuh ketika seusia mas Tarmujo sudah menikah lho. Waktu dulu...”
Si bapak polisi itu pun mulai kembali menceritakan kisah hidupnya. Tarmujo kembali menyimak, meski terkadang ada yang diulang-ulang. Mungkin cerita itu memang demikian sangat berkesan dalam ingatan si bapak, atau mungkin ia lupa pernah bercerita sebelumnya. Tarmujo tertawa dalam hati apabila hipotesis kedualah yang benar.

Jam dinding di ruangan itu sudah menunjukkan pukul satu lebih lima menit. Tarmujo menanyakan kegusarannya.
“Pak, komandan bapak belum juga datang ya? Padahal sudah jam satu ini.”
“Ah, iya mas. Tadi sih kabarnya jam satu beliau sudah akan datang ke sini lagi.”
“Memangnnya beliau sedang apa pak?”
“Tadi ada rapat koordinasi kepolisian pusat. Seluruh jajaran petinggi kepolisian dikumpulkan oleh panglima satu.”
“Wah, pasti ada sesuatu yang sangat besar untuk dibahas dalam skala rapat demikian besar itu ya, pak?”
“Ya, begitulah. Mas kan sudah dengar sendiri juga masalah yang sedang in di negeri ini.”
“Oh terkait berita tadi, pak?”
“Ya begitulah,” kata si bapak pelan. “Eh, kok jadi ngomong pekerjaan lagi ya?” ungkitnya sendiri.
“Sepertinya manusia seperti kita memang enggak bisa, dan sebaiknya memang tidak, saling membatasi bahan obrolan, pak. Mengalir saja, ikuti naluri lidah dan pikiran kita. He he he,” ujar Tarmujo.
Gantian. Kali ini polisi itulah yang terperangah.
“Mengungkapkan apa yang ingin kita ungkapkan, menceritakan apa yang ada di pikiran itu, tanpa dibatas-batasi, bisa membuat kita lebih awet muda toh, pak?” tandas Tarmujo lagi.
Si bapak akhirnya menangguk-angguk.

Hingga petang, komandan polisi yang ditunggui Tarmujo tidak kunjung datang. Tarmujo pun memilih beranjak pergi. Pak polisi itu merasa rikuh kepadanya yang menunggu selama itu namun tak mendapatkan apa yang ditungguinya. Tarmujo juga merasa sungkan mesti pergi, padahal pak polisi itu terlihat masih ingin mengobrol lebih banyak lagi dengannya. Orang baik memang sering sama-sama merasa tidak enak kepada orang lain.

Malam itu Tarmujo kembali menginap di losmen melati semula. Tak ada pilihan lain karena itu losmen termurah yang ia temui sepanjang perjalanannya. Malam itu ia kembali mendengar desahan muda-mudi dan dentingan botol berkali-kali. Cukup bersikap tuli dan pejamkan mata hingga seluruh tubuh terlelap sendiri, itulah yang dilakukan Tarmujo.

Matahari kembali bersinar dan hari berganti pagi dengan sendirinya seperti biasa. Mata Tarmujo terbuka sendiri pula. Ia tak pernah mengatur sendiri kapan matanya harus terbuka setelah tidur. Bisa saja dini hari, pagi, siang, atau bahkan tidak akan terbuka lagi. Ada hal-hal yang memang senantiasa terjadi sendiri, tanpa manusia bisa menguasainya.

Hari ini Tarmujo pergi ke depan area istana. Berita mengabarkan akan ada demo lebih besar dibanding kemarin di sana. Tarmujo tidak akan menyia-nyiakan kesempatan meliput gelombang unjuk rasa itu. Kemarin hanya ia habiskan untuk menunggu komandan polisi yang tak jelas siapa dan tak kunjung datang pula. Kali ini ia memilih melakukan sesuatu yang bisa ia kontrol sendiri variabel kepastiannya. Komandan polisi yang akan datang atau tidak bukanlah variabel yang bisa ia kontrol sendiri. Itu variabel bebas. Hari ini Tarmujo memilih melakukan hal yang masih ada dalam variabel terkontrolnya sendiri, bukan variabel terkontrol orang lain. Ia akan meliput hal-hal yang memang bisa diliput segera di hari itu.

Pepatah lama memang sering benar. Hal terbaik dalam hidup seseorang adalah ketika ia secara pribadi mampu menentukan nasib sendiri. Mampu mengontrol hidup sendiri. Tidak dikontrol orang lain.

Tarmujo sudah sampai di depan gerbang istana kerajaan. Ternyata pendemo masih sepi. Tapi di ujung jalan seberang istana sudah berkumpul beberapa orang yang tampaknya bakal jadi peserta demo. Mungkin mereka sedang menunggu teman-teman mereka. Di balik gerbang sudah berkumpul sekitar seratus aparat kepolisian yang siap mengamankan istana. Di seberang jalan ada juga beberapa orang yang siap dengan kamera besar maupun kecil beserta mikrofon dan buku catatan kecil lengkap dengan pena atau pensil. Mereka orang seprofesi Tarmujo.

Tarmujo merasa lapar. Tadi ia buru-buru berangkat hingga melewatkan sarapan. Sambil menunggu gelombang demonstran datang, Tarmujo pergi agak menjauh dari depan istana menuju warung gerobak ketoprak.
“Mau ikut demo juga, mas?” tanya si bapak penjaja ketoprak.
“Ah, enggak kok pak,” bantah Tarmujo.
“Oh berarti mas ini pasti wartawan.”
“Kok bapak bisa langsung menebak seperti itu?” tanya tarmujo heran.
“Di negeri ini kalau sedang ada demonstrasi, hanya ada dua kelompok orang yang akan berada di areal demo selain aparat keamanan. Pertama, ya para pendemo yang memang punya kepentingan dalam demonya. Kedua, orang-orang yang biasa mengambil keuntungan dari aksi demo itu, yang tidak lain tidak bukan adalah para pencari berita. Hi hi hi. Orang-orang biasa lainnya enggak akan peduli, mas, sama demo yang mereka rasa memang bukan urusan mereka. Palingan sekiranya masih peduli, mereka akan lebih memilih memperhatikan dari layar kaca rumah masing-masing.”
Tarmujo termenung. Ia begitu tertohok hingga diam begitu saja.
“Eh, beneran ya mas ini wartawan?” tanya bapak itu tersenyum tanpa menyadari bahwa ia telah membuat Tarmujo mati kutu.
“I, iya, pak, benar.”
“Jadi ketopraknya mau pedas atau sedang?”
“Sedang saja, pak.”

Tarmujo duduk dengan lesu. Ia masih merenungi perkataan si bapak penjual ketoprak barusan. Seandainya ia bukan seorang wartawan, apa mungkin ia masih akan peduli dengan urusan demostrasi seperti ini sampai menyempatkan diri datang ke tempatnya?
Perkataan si bapak tadi memang sangat masuk akal. Kebanyakan, bahkan mungkin semua orang biasa lainnya, pasti akan lebih memilih berada di rumah saja. Buat apa ikut memikirkan demo yang dianggap bukan urusan mereka? Apalagi sampai datang ke tempat demo yang sering menimbulkan kerusuhan dan konflik serta bisa saja melukai orang-orang yang berada di sekitar tempat demo tersebut.

Pukul 10.00.

Dari kejauhan Tarmujo mulai melihat gelombang manusia berjalan ke arahnya. Jumlahnya mencapai ribuan. Ini rupanya demo susulan yang sungguh besar-besaran!
Tarmujo bergegas melunasi ketoprak dan segera mencari posisi strategis untuk meliput.
Aparat kepolisian yang berdiri berkumpul di depan gerbang istana tampaknya juga mencapai ratusan. Mereka kemudian membuat barisan berlapis seketika melihat gelombang demonstran mulai mendekat.

Tanpa prosesi peresmian demo mulai berlangsung secara hikmat. Teriakan-teriakan tuntutan mengalir deras. Beberapa kali dorong-mendorong terjadi tanpa aba-aba yang memang  disengajai. Tuntutan demo semakin beragam. Namun, semua itu berawal pada tujuan serupa: tuntutan keadilan hukum dan sosial.

Seperti telah diketahui publik, beberapa pejabat negeri ini ketahuan menangis. Padahal ada peraturan yang melarang siapapun menangis. Namun, sampai saat ini belum ada satu pun di antara mereka diadili, apalagi dikenai hukuman. Masyarakat tak bisa menerima. Mereka sudah terlanjur dilarang menangis oleh peraturan aneh itu; sudah seharusnya pejabat yang membuat peraturan itu pun merasakan efek dari peraturan itu sendiri. Bukan itu saja. Masyarakat biasa juga sulit menerima kesenjangan sosial dibanding para pejabat beserta keluarga mereka yang begitu banyak mendapat hak khusus dalam berbagai bidang kehidupan.

Hingga senja berganti, teriakan demo masih juga belum berhenti. Tuntutan-tuntutan agar para pejabat yang menangis segera diadili terus diulang-ulang hingga malam hari. Hingga akhirnya seorang kepala kepolisian negeri itu berinisiatif mengadakan diskusi dengan beberapa perwakilan pendemo. Setelah itu, gerombolan massa pendemo pun akhirnya membubarkan diri. Jalanan kembali lengang. Kendaraan yang bergerak saat malam sudah jarang. Manusia-manusia yang berdemo sudah pulang. Tarmujo pun kembali ke losmen.

Beberapa hari kemudian kerajaan memutuskan bahwa peraturan larangan menangis dicabut. Namun masyarakat, pejabat kerajaan, dan kepolisian negeri malah sepakat menghasilkan peraturan baru, masih mengatur perihal menangis seluruh warga negara negeri ini. Peraturan ini mengharuskan bahwa apabila pejabat menangis dan tangisannya mengeluarkan mutiara, mutiara-mutiara tersebut harus diserahkan kepada Badan Pengatur Keuangan Negeri untuk membayar utang negara dan tambahan anggaran kesejahteraan rakyat. Sedangkan apabila rakyat biasa menangis dan tangisannya mengeluarkan debu, debu itu harus ditampung untuk kemudian dibawa ke istana kerajaan ataupun gedung parlemen untuk digunakan sebagai pasir pengisi taman ataupun halaman istana dan gedung parlemen. Ini menjadi tanda bagi para pejabat istana dan parlemen kerajaan tentang betapa banyak rakyat masih merasakan susah hati di negeri yang alamnya kaya raya ini.

Tarmujo masih berada di negeri itu untuk terus mengumpulkan berita demi berita. Ia sebenarnya bisa saja segera menyimpulkan yang bakal terjadi di kemudian hari di negeri tersebut. Namun, Tarmujo ingin melihat dengan mata kepala sendiri perubahan demi perubahan di negeri tersebut yang ia rasa akan happy ending.[]

Utomo Priyambodo, mahasiswa Institut Teknologi Bandung, bergiat di unit literasi Aksara Salman ITB.

Ilustrasi dari Internet.

Link terkait:
* https://www.facebook.com/utomo.priyambodo
* https://twitter.com/utomo_pr
* http://aksara.salmanitb.com/

2 comments:

Upik said...

Numpang lewat, pak...

HALAMAN GANJIL dan TEXTOUR said...

halo upik, terima kasih sudah numpang lewat, apalagi kalo baca-baca isi blog yang sederhana ini.

moga-moga kamu mampir lagi.

salam!