Thursday, January 16, 2014


[HALAMAN GANJIL]

R1 2014
--Anwar Holid

2014 adalah tahun panas bagi politik Indonesia. Karena itu harap lupakan Piala Dunia 2014 di Brasil. Selain karena kesebelasan nasional kita tak berlaga di sana, barangkali memikirkan persoalan bangsa sendiri lebih penting daripada cuma merasa ikutan pesta di luar lapangan sebagai penonton yang keminter dan suka jajan.

Ayo kita pilih baik-baik siapa yang sebaiknya jadi R1.

Calonnya sudah pada mengemuka. Bahkan dengan percaya diri---kalau bukan bermuka badak---mereka mengiklankan diri, berkampanye, entah secara terang-terangan atau terselubung lewat berbagai taktik dan kesempatan, apa pun istilahnya. Berikut ini barangkali yang sangat kentara:
Wiranto
Prabowo Subianto
Aburizal Bakrie
Surya Paloh
Megawati 
Hatta Rajasa
Rhoma Irama

Dari generasi lebih muda muncul nama seperti:
Sri Mulyani
Gita Wirjawan
Dahlan Iskan
Anies Baswedan
Jokowi

Nama-nama itu membuatku bertanya keras:
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Prabowo Subianto jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Wiranto jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Aburizal Bakrie jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Surya Paloh jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Megawati jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Hatta Rajasa jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Rhoma Irama jadi presiden?

Memang kenapa kalau salah satu di antara mereka jadi presiden?
Apa militerisme akan mencengkeram lagi kalau Wiranto atau Prabowo jadi presiden?
Apa radikalisme Islam bakal meraja dan makin intoleran kalau Rhoma Irama jadi presiden?
Apa ekonomi Indonesia bakal langsung moncer kalau Hatta Rajasa atau Gita Wirjawan jadi presiden?
Apa rakyat Indonesia langsung bakal pinter dan pada meraih Hadiah Nobel kalau Anies Baswedan jadi presiden?
Apa kesebelasan nasional Indonesia bakal tembus ke Piala Dunia 2018 kalau Jokowi jadi presiden?

Seorang teman bilang, untuk jadi presiden Indonesia orang harus punya prestasi yang patut dibanggakan dan diandalkan. Aku sangsi dengan pernyataan itu. Ratu Atut yang katanya bodoh saja bisa jadi gubernur Banten dan petinggi Golkar. Megawati yang terlihat lebih suka mesam-mesem dan pemalu aja pernah mencicipi kursi presiden dan kini dia tetap enggak mau ketinggalan kereta.

Katanya untuk jadi pemimpin orang harus punya pengalaman politik yang hebat. Di Bandung entah bagaimana caranya Ridwan Kamil bisa memenangi pilkada, jadi walikota, mengalahkan Ayi Vivananda yang jauh lebih ahli dan senior di pemerintahan, yang sudah tahunan mengurus birokrasi dan masyarakat. Ini membuktikan pendapat itu invalid. Apa Ridwan Kamil menang karena disokong Prabowo Subianto, Gerindra, ormas-ormas, para relawan, dan PKS?

Di luar negeri, penyair, buruh, aktor, penulis, atau pastor bisa menjadi presiden. Apa hal seperti itu bisa terjadi pula di Indonesia? Kalau seperti itu, aku berharap Yusi Avianto Pareanom jadi presiden, semoga dengan begitu dunia literasi kita lebih menjanjikan.

Sebenarnya bukan itu yang benar-benar jadi perhatianku. Siapapun presiden Indonesia, terbukti kurang pengaruh buat kemaslahatan bersama. Mungkin di sini poinnya: pemilihan presiden nanti akan membawa perbaikan atau keterpurukan? Makanya kita perlu hati-hati, lepas dari semua janji para kandidat. Contoh simpel: meski suka bilang prihatin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono malah terbukti berkali-kali mencederai hati masyarakat, entah dengan menaikkan harga BBM, kasus korupsi yang menyerempet partai dan anaknya, juga sikapnya yang dinilai lamban dan lembek.

Jujur saja aku lebih kuatir tahun panas politik Indonesia demi mencari seorang presiden malah menghabiskan energi, pikiran, konsumsi, dana, sehingga membuat kita hilang akal dan jadi mengabaikan banyak agenda penting dan utama yang mestinya lebih dulu dibereskan. Contoh:
* Persiapan Indonesia jadi Guest Of Honor Frankfurt Book Fair 2015 yang menurut berbagai pihak masih berantakan, enggak jelas, termasuk soal dana dan belum ketahuan Indonesia mau ngapain di peristiwa paling besar industri perbukuan dunia itu.

* Persoalan korupsi parah yang malah kerap berubah jadi komoditas politik berlarut-larut, bukan dibereskan tanpa tedeng aling-aling, mendasar, dan tuntas.

* Kesejahteraan sosial. Kalau tukang becak enggak bisa beli jas hujan, lapak kaki lima bikin kumuh jalanan, gerobak jualan berserakan di pinggir jalan, kondisi bus kota dan angkot mengkhawatirkan, sampah numpuk di mana-mana, pencemaran lingkungan, itu artinya kita masih punya masalah sosial parah. Jangankan tingkat nasional, di tingkat lingkungan sekitar rumah dan kota saja terlalu kentara.

Bisakah hal-hal seperti itu beres sebelum SBY mengakhiri masa kepresidenannya? Aku sangsi. Soalnya aku tahu manusia terbukti mudah berkelit dari prasangka dan gampang menghindar dari prediksi. Itu sebabnya kontes mencari seseorang jadi R1 2014 jadi penting, lebih penting dari Piala Dunia.[]

Anwar Holid, berprofesi sebagai editor, penulis, dan publisis.

2 comments:

Pista Simamora said...

Gimana kalo Pak Jokowi atau om Farhat Abbas yang jadi Presiden, kak?

HALAMAN GANJIL dan TEXTOUR said...

halo pista. makasih udah baca.

kalo pak jokowi jadi presiden mungkin bagus. tapi lebih bagus beliau selesaikan tugasnya sebagai gubernur jakarta sampai selesai, baru setelah itu mencalonkan diri.

farhat abbas mah ke laut aja. gak usah ditanya lagi heheheh...