Showing posts with label The Ninth. Show all posts
Showing posts with label The Ninth. Show all posts

Monday, May 17, 2010

Wawancara dengan Ferenc Barnas, Penulis The Ninth
---Anwar Holid

"Barnas itu nama yang familiar bagi orang Sunda," demikian kata Ahda Imran, wartawan Pikiran Rakyat waktu mengantarkan diskusi The Ninth di Rumah Buku/Kineruku, Bandung pada Maret lalu. Sebagian orang bisa menggunakan variasi nama itu, misalnya Subarnas. Tapi memang asosiasi orang Indonesia terhadap nama "Ferenc" biasanya menyatu dengan "Puskas"---seorang pemain sepakbola legendaris.

Ferenc Barnas datang ke Indonesia pada 5 hingga 24 Maret 2010. Dia berencana menghadiri publisitas bukunya di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Namun ternyata acara di Jakarta akhirnya batal, jadi dia bisa lebih lama tinggal di Yogyakarta. Di sana dia sempat ke pantai Kukup, sebuah pantai yang kurang terkenal dan lokasinya lebih jauh lagi dibandingkan Parangtritis. Dari Yogya, dia ke Bandung bersama Katalin B. Nagy yang menyelaraskan terjemahan novelnya pada bahasa Hongaria. Ini merupakan kunjungan pertama Barnas ke Bandung, sementara bagi Katalin yang kedua.

"Saya suka cuaca Bandung," kata Ferenc. "Lebih sejuk dari Yogyakarta." Benar, apalagi Bandung hari-hari itu sering disergap hujan. Kami berharap pada Sabtu pagi cuaca cerah, jadi bisa ke PRFM dengan lebih segar. Benar, esoknya cuaca cerah, dan talkshow berjalan lancar. Waktu pulang menjelang waktu makan siang, kami lewat jalan Pasirkaliki, yang lurus mengarah ke gunung Tangkuban Parahu di daerah Lembang.

"Itu gunung apa?" tanya Ferenc menunjuk gunung yang puncaknya datar. Saya berusaha memberi tahu kenapa gunung itu bernama Tangkuban Parahu dan dongeng Sangkuriang-Dayang Sumbi yang mengawalinya, sampai merasa betapa pengetahuan saya pada local wisdom ternyata kurang.

Dari Bandung, Ferenc ke Jogja untuk melanjutkan publisitas di The Ninth di Lembaga Indonesia-Prancis. Wawancara berlangsung setelah dia kembali ke Hongaria.
_____________________________________
Detail Buku

Judul: The Ninth (Anak Kesembilan)
Penulis: Ferenc Barnás
Penerjemah: Saphira Zoelfikar
Penerbit: GPU, Februari 2010
Tebal: 296 hal.; 13.5 x 20 cm; soft cover
ISBN 978-979-22-5459-4
______________________________________

* Apa komentar Anda terhadap Indonesia setelah hampir sebulan berada di sini?

Indonesia adalah sebuah negeri yang sangat mengasyikkan (exciting). Saya berani menyatakan itu walaupun kali ini saya hanya berkunjung ke Bandung dan Yogyakarta. Saya sangat terkesan oleh kebaikan hati, kesopanan orang, dan keeleganan yang saya temui di mana-mana. Dunia, yaitu dunia "luas," sebenarnya sangat memerlukan sifat-sifat seperti itu terhadap segala hal, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Seandainya saya bisa sering mendapatkan tawa dan senyum di Eropa juga, saya pasti menjadi senang. Tingkat budaya bisa diukur dengan berbagai cara: yang saya sebut tadi merupakan salah satu yang saya nilai penting, bahkan mungkin paling penting.

* Apa Anda puas dengan respons publik Indonesia terhadap The Ninth maupun rasa penasaran mereka terhadap Anda sebagai pribadi?

Respons publik Indonesia di luar dugaan saya, dan bukan hanya karena saya melihat buku Anak Kesembilan muncul di antara buku "bestseller" di beberapa toko buku Yogyakarta misalnya. Di sini saya perlu menegaskan peran Gramedia Pustaka Utama: pendekatan profesional dan teliti terhadap novel saya. Saya sangat menghargai sikap para pegiat Rumah Buku di Bandung---mereka menyelenggarakan acara diskusi buku yang serius sekali, dan syukur menarik perhatian banyak orang. Di Bandung juga, wartawan dan penyiar PR FM Intan Puspita, pernah mengajukan pertanyaan-pertanyaan hebat kepada Anda, sebagai penyunting naskah, Katalin B. Nagy, sebagai penyelaras pada naskah asli, dan kepada saya sepanjang satu setengah jam.

Acara diskusi buku yang sama asyiknya pernah diadakan di Lembaga Indonesia-Prancis (LIP) di Yogyakarta, di mana penerjemah ulung (excellent), Saphira Zoelfikar juga hadir. Pada acara tersebut Anda juga berbicara mengenai tantangan dan masalah yang dihadapi selama proses penyuntingan buku Anak Kesembilan. Di sini juga hadir beberapa wartawan, di antaranya Francisca Purnawijayanti, wakil redaktur majalah Basis, yang pada kemudian hari mewawancarai saya dengan saksama. Dan tentu masih bisa menyebutkan beberapa nama lain, misalnya Pak Guru (J. Sumardianta), salah satu kritikus buku terkemuka di Indonesia. Saya sempat berdialog dengan dia secara menarik sebelum acara di LIP. Rasa simpati yang telah diarahkan kepada saya lebih dari mengharukan.

* Apa Anda punya harapan khusus terhadap penerbitan The Ninth di Indonesia?

Kenyataan bahwa novel Anak Kesembilan bisa terbit di Indonesia sudah sebuah pemenuhan harapan khusus. Semua yang akan terjadi pada selanjutnya adalah sesuatu tambahan yang istimewa (extra).
  
* Secara umum, Aspek apa yang menurut Anda paling menarik dari tanggapan publik Indonesia terhadap The Ninth?

Pertanyaan yang tertuju pada makna dan unsur spiritual, komentar berhubungan dengan batin manusia yang kompleks bisa dikatakan paling khas. Bisa saya akui bahwa karakter tanggapan serupa sangat menyenangkan.

* Selama acara publisitas The Ninth di Indonesia, apa rasa ingin tahu (penasaran) publik Indonesia berbeda dengan publik Hongaria dan pembaca edisi Inggris?

Komentar publik pada acara diskusi buku alamiah (natural) sekali. Berarti bukan berbau ilmiah, dan itu biasanya bermanfaat pada karya sastra. Dan menarik juga bahwa para komentator menjelaskan pikiran dan pendekatan orisinil dengan cara yang sering sangat orisinil juga. Seorang sastrawan profesional di Hongaria mungkin akan menghabiskan banyak waktu dengan memposisikan novel Anak Kesembilan ke dalam konteks sejarah sastra dan sejarah resepsi, dan aspek itu sendiri memang penting... Penilaian terhadap publik Amerika Serikat secara umum sulit dilakukan karena sangat anekaragam: ada yang mirip Indonesia, ada yang mirip Hongaria, dan mirip lainnya...

* Pernahkah ada review buruk (bad review) terhadap The Ninth? Bagaimana tanggapan Anda?

Menarik juga bahwa walaupun sudah lebih dari tiga puluh resensi buku pernah diterbitkan berhubungan dengan A kilencedik (dalam bahasa Hongaria, Inggris, Indonesia, Vietnam), tak ada di antaranya yang berkesimpulan negatif terhadapnya. Tentu saja ada beberapa kritikus yang pernah mengutarakan pendapat bermacam-macam, dan sebagian di antaranya tak saya setujui, tetapi itu hal biasa. Pendapat berbeda pun tak mengandung penilaian negatif yang mungkin beralasan pada dunia novel Anak Kesembilan.

* Hampir semua orang Indonesia penasaran kenapa novel ini berjudul The Ninth (Anak Kesembilan). Anda juga bersikukuh tidak ada alasan khusus terhadap angka sembilan, termasuk bagi masyarakat Hongaria. Anda malah menunjukkan pentingnya Simfoni Ke-9 (The Symphony No. 9) karya Beethoven. Seberapa besar pengaruh Beethoven pada Anda?

Simfoni ke-9 oleh Beethoven sampai hari ini sangat berpengaruh pada kehidupan saya. Tetapi karya ini hanya berhubungan sangat jauh dengan novel saya, yaitu melalui ide "persahabatan"---itu pun cenderung merupakan penyimpangan daripada kenyataan. Waktu saya mencari judul, saya tak pernah memikirkan karya Beethoven yang hebat itu. Mungkin perkataan saya sebelumnya pernah melahirkan kesalahpahaman, karena angka sembilan dalam novel Anak Kesembilan memang punya makna penting, walaupun---seperti pernah saya sebut---saya baru menemukan judul ini setelah proses penulisan sudah selesai. Jadi, saya pilih judul A kilencedik ('kesembilan')  karena narator berusia 9 tahun, narator adalah anak ke-9 di antara saudaranya, novel terdiri dari 9 bab, janin berada dalam rahim ibunya selama 9 bulan, karena kalau angka 9 dikalikan dengan angka apa saja, kemudian hasil angka tersebut dijumlahkan, hasilnya selalu angka 9 (misalnya 5x9=45: 4+5=9, dsb.); karena dalam budaya Yunani, Tionghoa, Buddha, Yahudi angka 9 punya makna penting: karena narator punya 9 jari utuh (yang ke-10 cacat); karena pengambaran karakter si narator berumur 9 tahun terjadi di antaranya melalui angka (lihat misalnya: "Aku sangat mencintai angka," kata narator tentang dirinya).      

* Seberapa penting peran editor bagi karir kepenulisan Anda? Apa Anda sering diskusi dengan editor naskah Anda?

Peran penyunting sangat penting dalam proses pembuatan buku. Beberapa hal hanya dilihat atau bisa dilihat olehnya, karena penyunting adalah seorang luar (outsider). Tetapi saya hanya menunjukkan karya kepadanya setelah saya merasa sudah selesai menulis karya. Baru setelah itu kami mulai melakukan "penyiangan" dan koreksi.

* Ada sejumlah novel dengan sudut pandang anak kecil. Novel dengan subjek anak kecil apa yang paling mengesankan buat Anda? Mengapa?

Seorang narator kanak-kanak dapat membantu kita untuk melihat berbagai hal seolah memandang dunia di sekitar untuk pertama kali; dan jika penulis berhasil, juga memungkinkan menangkap dunia yang baru pertama kali dilihat itu secara mental dengan "kata-kata pertama". Maksudnya, perspektif kanak (kekanak-kanakan) memungkinkan lahirnya sebuah cerita asal (story of origin) dengan cara orisinil. Biarkan pembaca untuk menilai sejauh mana maksud penulis berhasil.

* Apa Anda juga akan mengusahakan agar dua novel Anda diterbitkan dalam bahasa Indonesia?

Mungkin novel kedua yang berjudul Bagatell bisa diupayakan. Tetapi untuk memikirkan saja masih belum waktunya...
* Dari segi musik selama dalam acara publisitas The Ninth, mana yang lebih Anda sukai: Ryan Tracy, Yopi dan kawan-kawan, atau Michael Asmara?

Karya Michael Asmara sebagai komposisi musik sangat dekat pada hati saya, dia mengikuti jalur tradisi musik kontemporer yang buat saya, sebagai pendengar, sangat menentukan. Tentu saya berusaha berpikir mengenai itu sebagai penulis juga. Karya Ryan Tracy adalah sebuah adaptasi alinea pertama dari The Ninth untuk piano dan vokal, yaitu transformasi teks menjadi karya musik. Oleh karena itu buat saya lebih daripada sebuah komposisi musik, tetapi lepas dari kenyataan itu, saya sangat menyukainya. Sebagai interpretasi, musik dalam performance Yopi Setia Umbara juga mempunyai pesona misterius sendiri.

* Secara teknis, bagaimana cara Anda menyelesaikan proyek penulisan novel?

Saya memikir-mikirkan sesuatu yang saya berusaha atau mencoba catat terus, dan yang sangat lama---lima sampai enam tahun---kemudian baru menjadi jelas apa sebenarnya.

* Apa Anda pernah secara khusus mengikuti program 'creative writing'?

Tidak, apalagi di Eropa program 'creative writing' tidak atau belum selazim seperti di Amerika Serikat atau mungkin di Indonesia...

* Apa Anda sudah memulai proyek penulisan novel keempat? Tentang apa subjeknya?

Ya, saya sudah memulai. Mengenai temanya mungkin kita dapat bicarakan lain kali saja, setelah karya tersebut sudah selesai ditulis.[]

ANWAR HOLID bekerja sebagai editor, penulis, publisis. Blogger @  http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Monday, March 22, 2010


Mengomentari Editan The Ninth
---Anwar Holid

Beberapa hari sebelum acara publisitas The Ninth (Anak Kesembilan) karya Ferenc Barnás (GPU, 2010, 296 hal.) di Rumah Buku/Kineruku, Bandung, saya menerima email dari Andika, seorang peresensi. Dia bertanya, "Seberapa puas kamu dengan The Ninth edisi bahasa Indonesia? Adakah kesulitan dalam penyuntingannya?"

Saya jawab: Secara pribadi, saya sangat puas dengan proses penerbitan buku ini. Vira (penerjemah) mengerjakan buku ini dengan baik dan luwes. Mbak Katalin B. Nagy menyelaraskan terjemahan itu pada edisi asli berbahasa Hongaria, meski Vira menerjemahkan dari edisi Inggris karya Paul Olchváry. Jadi menurut saya proses editingnya ketat, sungguh-sungguh, dan mestinya memang begitu bila hendak menerbitkan buku dengan baik.

Kepuasan ini nanti bisa dikonfrontasikan dengan komentar awal Ari Jogaiswara, dosen Jurusan Sastra Inggris Universitas Padjadjaran yang mengomentari The Ninth. Ari bilang fungsi Vira mirip Transtool. Saya cukup terkejut dengan pernyataan itu, menyimpan dalam hati, tapi belum bisa mengonfirmasi lebih jauh.  Mbak Katalin sendiri menyatakan betapa Ari menyampaikan pendapat yang berbeda sekali soal terjemahan itu waktu dia dan Ferenc bertemu di Rumah Buku.

Selama proses editing, saya, mbak Katalin, dan mbak Anastasia (pihak GPU) cukup intens berdiskusi, mulai dari soal diksi, struktur penulisan, sampai pilihan terhadap kemasan buku. Pekerjaan utama saya ialah berusaha membuat kalimat agar lebih efektif dan mudah dipahami. Misal mengurangi kata 'yang' karena penggunaannya terlalu ekstensif, juga penggunaan 'tidak' untuk menyatakan negasi. Contoh:

tak berperasaan --> keterlaluan

Sebagian besar penggunaan 'tidak' untuk menyatakan negasi saya ubah. Yang saya biarkan ialah untuk menegaskan atau bila padanan lebih kuatnya terlalu sulit saya temukan.

Karena berpihak pada kemudahan pembacaan (readability), saya sempat mengganti beberapa diksi yang tampak cukup asing dan sulit, meski kalau digunakan berpeluang mengayakan kosakata buat pembaca.

Contoh diksi pilihan mbak Katalin, 'hoskut.' Kata ini terdengar sulit dan asing; saya agak yakin pembaca harus buka kamus untuk memastikan artinya. Saya tanya istri, apa dia tahu 'hoskut' (baju yang dipakai perempuan), ternyata tidak. Saya usul agar diganti dengan 'daster' atau 'jubah.' Akhirnya kami sepakat memilih 'jubah', dengan komentar mbak Katalin sebagai berikut: 'Jubah' dalam (seluruh) teks dipakai untuk menyebut pakaian pastor, maka mudah-mudahan jelas bahwa yang dipakai Mama adalah 'jubah' lain. Sebenarnya pakaian Mama berbentuk seperti mantel tanpa lengan. Pokoknya pakaian wanita yang biasa dipakai di dalam rumah. (Di internet saya temukan hoskut n: a loose hoskut bagi perempuan [syn: pakaian rumah untuk wanita], gaun tidur atas). Tetapi jelas, kalau istilah ini tak dipakai dalam bahasa sehari-hari, sebaiknya dibatalkan.

Awalnya saya juga sengaja cukup sering memecah paragraf terlalu panjang dan mengubah struktur penuturan yang menurut saya sulit dipahami. Tujuannya betul-betul untuk memudahkan pembaca.

Perubahan drastik misalnya saya lakukan di bagian akhir bab sembilan, yaitu di bagian percakapan waktu anak ke sembilan diinterogasi. Saya membuat percakapan itu ke bawah (jadi paragraf baru), padahal teks aslinya terus bersambung tanpa paragraf. Pertimbangannya, selain demi memudahkan pembacaan, saya kira tindakan itu akan bisa menguatkan situasi. Sebaliknya, mbak Katalin ingin mempertahankan teks sebagaimana aslinya. Setelah mendapat masukan dari mbak Anas, kami memecah bagian itu hanya jadi tiga paragraf---jadi bentuk aslinya hanya berubah sedikit, namun keinginan memudahkan pembaca juga tercapai. Pada akhirnya struktur edisi Indonesia lebih setia pada edisi Hongaria.

Salah satu kesulitan yang saya hadapi waktu menyunting naskah ini justru di detail. Misal soal istilah bangunan dan soal "rasa bahasa." Bisa jadi ini karena jam terbang penyuntingan saya masih sedikit.

Ejaan juga begitu. Di buku ini kami memilih Moskow dengan pertimbangan GPU, Tempo, dan Kompas lebih memilih itu daripada Moskva ataupun Moscow (b. Hongaria: Moszkva). Menurut kami, pilihan itu lebih banyak disepakati umum.

Walhasil, pembaca bebas menanggapi dan menerima upaya penerbitan The Ninth dari segala aspek, terlebih-lebih dari sisi penyuntingan. Secara keseluruhan saya ingin sekali lagi menegaskan betapa edisi Indonesia ini berutang banyak pada kerja keras mbak Katalin. Kita pantas memberikan kredit kepadanya. Saya sendiri sering merasa rewel (bawel) terhadap buku yang jelek penyuntingannya. Sekarang giliran saya menerima kritik, apa buku yang ikut saya kerjakan ini memuaskan atau mengecewakan.[]3/19/2010

Anwar Holid, editor, penulis, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.

Link terkait:
http://www.gramedia.com
http://www.ferencbarnas.com

Monday, March 01, 2010


[BUKU INCARAN]
Luapan Emosi Terpendam Jiwa Manusia
---Anwar Holid


The Ninth (GPU, 2010, 296 hal.) berkisah tentang seorang anak kesembilan dari sebelas bersaudara. Dia berumur sembilan tahun, kira-kira kelas 4 SD. Dia bukan anak bungsu, melainkan punya dua adik, anak ketiga terakhir. Seorang saudaranya sudah meninggal waktu kecil, satu saudara sulungnya sudah menikah, tinggal di kota lain, di Debrecen. Di novel ini angka sembilan terasa mencolok, sengaja dipilih, mungkin punya mitos tertentu. Pilihan judul The Ninth tampak menekankan sesuatu. Apalagi novel ini terdiri dari sembilan bab.

Keluarga si anak ini miskin. Rumah sementara mereka sempit dan umpel-umpelan, tidur seranjang bertiga. Untuk menunjang ekonomi, keluarganya bisnis kecil-kecilan benda-benda religius Katolik seperti rosario dan salib, dijual ke gereja di sekitar kota mereka tinggal di Hongaria, dipasarkan oleh ayahnya. Mereka tinggal di kota kecil tanpa nama, kemungkinan di sekitar Debrecen, karena seluruh anak itu lahir di sana. Kalau tidak, mereka tinggal di dekat perbatasan Romania, sekitar tahun 1960-an, ketika negeri itu di bawah rezim komunis. Ayahnya pekerja keras, rewel, kaku. Ibunya bekerja paro waktu di pabrik pulpen, religius, tadinya ingin jadi pianis, mencintai sastra, dekat dengan pengurus gereja, bahkan mengarahkan anak-anaknya untuk beraktivitas di sana, misal dengan menjadi anak altar, penyanyi gereja, dan pembantu pastor bila ada orang meninggal.

Karena terlalu tertekan oleh kebutuhan ekonomi, anak-anak dalam keluarga ini terabaikan. Sampai-sampai secara ironik anak kesembilan ini bilang bahwa kebanyakan saudaranya punya kelainan, entah cacat fisik atau kesulitan belajar. Kecelakaan terakhir yang dia saksikan ialah jemari seorang saudaranya putus karena terjepit oleh hentakan ranjang lipat. Meski begitu mereka suka gotong royong dan sama-sama kerja keras waktu mengerjakan kerajinan, termasuk kakak-kakaknya harus ikut membangun rumah idaman yang akan mereka tinggali kelak.

Untuk mencari kesenangan di tengah kegaduhan keluarga, anak ini suka kelayapan sehabis pulang sekolah, baik ke stasiun tempat ayahnya pernah bekerja, juga ke rumah orang dan toko-toko yang ada di sana sekadar untuk melihat-lihat barang yang gagal dia dapat atau membaui aroma roti dan daging panggang di sebuah toko kue. Di sekolah, dia juga mengalami penindasan (bullying), mulai dari berupa celaan sampai secara fisik oleh kakak kelasnya. Saat kelayapan itu dia menemukan banyak hal. Dia tahu ada ayah teman sekelasnya tiap hari mabuk sampai harus dibopong ke luar dari bar oleh anak-anaknya. Dia suka mengintip rumah lain karena tampak sangat berbeda dengan rumahnya yang sumpek dan selalu ribut. Untuk mendapat uang saku, dia menjadi anak altar. Dia tambah senang bila ada orang meninggal, karena itu berarti uangnya bisa tambah banyak, membuat dirinya bisa jajan berbagai makanan di toko-toko dekat stasiun.

Suara anak kecil dalam The Ninth muncul dengan intensitas tinggi. Anak ini juga pengamat sosial yang tajam. Dia penasaran kenapa gaji ayahnya gagal memenuhi kebutuhan keluarga, seorang kawannya menyembunyikan foto perempuan telanjang, dan di sela-sela main sepak bola bersama saudara dan kawan-kawannya, pikirannya kerap khawatir soal hari esok, sampai dia sendiri akhirnya nekat melakukan dosa pertama, meskipun ia pernah menjadi putra altar dan ibunya senantiasa mengajak doa bersama sebelum tidur. Dosa itu membuatnya trauma, sangat bersalah, dan takut---tergambar dengan hebat di bab delapan dan sembilan---karena ia lakukan pada guru yang dia cintai. Guru inilah yang pernah memberinya tugas mengarang---dan secara implisit karya ini mungkin bisa dianggap sebagai perwujudan dari rasa bersalah ketika mengerjakan tugas tersebut.

Ferenc Barnás menyajikan novelnya sebagai luapan emosi terpendam jiwa manusia. Ingatan anak kecil ini luar biasa. Dia lebih dari sekadar jujur menceritakan rahasia paling kelam, mimpi paling brutal karena tekanan hasrat terpendam ingin menyalurkan dendam, iri dengan bekal milik kawannya, bertahan dan sesekali membalas dari kekerasan kakak kelas, kesenangan setiap kali ada orang yang meninggal, juga bersaing dengan kawan sekelas untuk menarik perhatian gurunya. Dia teliti membongkar kehidupan masa kecilnya yang sarat dengan tekanan dan persoalan. Dia juga berusaha meraba-raba persoalan samar, mulai dari bahasa tubuh ibunya, keunikan saudara kandung, sampai perilaku keras ayahnya terhadap aparat negara yang dianggapnya mau korupsi.
______________________________________
Detail Produk:
Judul: The Ninth (Anak Kesembilan)
Penulis: Ferenc Barnás
Penerjemah: Saphira Zoelfikar
Penerbit: GPU, Februari 2010
Tebal: 296 hal.; 13.5 x 20 cm; soft cover
ISBN 978-979-22-5459-4
______________________________________

Soal relevansi dengan Indonesia, Katalin B. Nagy yang memprakarsai penerbitan The Ninth berkomentar, "Rasanya hubungan budaya di antara Indonesia dan Hongaria belum seerat semestinya, karena kita belum sadar pengalaman kita sepanjang masa banyak miripnya. Saya berusaha 'membangkitkan' kesadaran ini melalui sastra terjemahan. Karya Ferenc bisa berarti karena aspek universalnya: seorang 'anak' berjuang melawan gereja, negara, dan diri sendiri melalui hasrat dan kebingungan."

Sekitar tahun 1960-an, Partai Komunis Hongaria yang berkuasa merupakan boneka Uni Soviet, sementara di Indonesia Partai Komunis Indonesia juga berpengaruh kuat. Apa dengan begitu membuat The Ninth bernuansa politik? Jawab Katalin, "Karya tersebut tak berpolitik atau mengkritik rezim komunis, melainkan hanya menggambarkan latar belakang sosial budaya. Rezim otoriter yang digambarkan dalam novel oleh seorang anak bisa saja di mana-mana."

Dulu Fuad Hassan---mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan---menerjemahkan Sang Mahasiswa dan Sang Wanita, berisi 10 cerpen Hongaria, dan Pulang, kumpulan cerpen karya Árpád Göncz. Bentang Pustaka pernah menerbitkan Fateless (Imre Kertész) dan The Last Window Giraffe (Péter Zilahy). Semua buku lama itu kini sudah tak dicetak ulang.

Ferenc Barnás mendapat pengakuan internasional setelah memenangi dua anugerah sastra Hongaria paling terkemuka: Sándor Márai Prize (2001) dan Tibor Déry Prize (2006). The Ninth mendapat grant penerjemahan dari PEN America, dikerjakan oleh Paul Olchváry. Barnás menerima sejumlah undangan residensi penulisan di Amerika Serikat, antara lain di Yaddo, MacDowell Colony, Edward Albee's The Barn, Virginia Center for the Creative Arts, dan Espy Foundation; pada tahun 2001 berceramah di Lahti International Writers Reunion, Finlandia.[]

Anwar Holid, editor, penulis, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.

Link terkait:
http://www.gramedia.com
http://www.ferencbarnas.com

===========================
KOMENTAR PEMBACA

The Ninth is a testament to the still-unplumbed depths of contemporary Hungarian literature, and a departure from the alienated fever dreams and horrors to which we've grown so accustomed to reading.
---Jeff Waxman, dari Three Percent Review

Kebanyakan kritikus menilai The Ninth sebagai novel terbaik karya Ferenc Barnás---merupakan pencapaian luar biasa dilihat dari segi gaya, bentuk, dan isi sekaligus.
---Paul Olchváry

The Ninth adalah novel perenungan pribadi yang lebih memberikan dasar untuk eksplorasi daripada yang muncul di permukaan, dan merupakan novel yang berhasil memunculkan suara anak kecil dengan baik.
---Josh Maday

For me, The Ninth is all the more provocative because it depicts, through a nimble exploration of a child's stream-of-consciousness, the vicissitudes of his imagination, and the tee-tottering state of his soul amid the village's sickening perfidy, corruption, and stupidity.
---Chad W. Post

The Ninth is an elegant book, and a ruthless one. It is a courageous book, one that knows fear. As is always the case with good literature, it is about us, wherever we may live in the world.
---Anonim

Tuesday, February 23, 2010


[BUKU INCARAN]

Butuh Berapa Orang untuk Menerbitkan Sebuah Buku?
---Anwar Holid


Sekitar Agustus 2007 Anwar Holid mendapat surat dari Katalin Nagy bahwa dia ingin mengakrabkan sastra Hongaria ke pembaca Indonesia. Dia mencari penerjemah untuk mengerjakan proyek The Ninth (A kilencedik) karya Ferenc Barnás, sekaligus mencari penerbit untuk novel tersebut. Ferenc telah memenangi dua anugerah sastra paling terkemuka di tanah airnya: Sándor Márai Prize (2001) dan Tibor Déry Prize (2006). Edisi Inggris A kilencedik memenangi grant penerjemahan PEN America, terbit dalam seri Writings from an Unbound Europe. Katalin berkomitmen besar terhadap proyek tersebut. Dia menanggung biaya penerjemahan dan siap membeli sekitar seratus kopi begitu novel itu terbit dalam bahasa Indonesia, sementara Ferenc menggratiskan hak terjemahannya.

Waktu itu Anwar sedang kerja di penerbit J_, jadi dia usul agar penerbit itu menerima tawaran tersebut. Tawaran ini menurutnya cukup menggiurkan, meski bukannya tanpa beban. Dia menilai penerbit bisa mendapat prestise maupun publisitas dengan menerbitkan novel dari bangsa yang jauh. Hongaria---negeri seperti apakah itu, selain konon terkenal berkat Kubus Rubik, Ferenc Puskas, dan para pemenang Hadiah Nobel? Katalin ingin cetakan pertama novel itu minimal antara 3000 - 5000 kopi. Itu cukup berat bagi penerbit J_, apalagi bagian pemasaran ragu bisa menjualnya dengan mudah. Jadi mereka menolak. 

Anwar punya 4-5 kenalan editor di beberapa penerbit lain. Dia menyurati yang kira-kira tertarik proyek tersebut, menceritakan maksud dan kondisinya, berharap bisa mudah mendapat penerbit. Sementara itu Katalin mengontak penerjemah agar mengerjakan bab pertama dari edisi Inggris terjemahan Paul Olchváry. Terpilihlah Saphira Zoelfikar. Tidak langsung menerjemahkan dari bahasa Magyar? Susah mendapat penerjemah Indonesia yang bisa bahasa mayoritas di Hongaria itu.

Ternyata keinginan Katalin dan upaya Anwar agak sulit segera terwujud. Beberapa editor mengabaikan surat itu. Ada editor di penerbit tua menyatakan berminat. Ia mengusahakan menerbitkan novel itu. Beberapa waktu kemudian dia bilang bahwa manajemen mau memproduksi novel itu dengan syarat ada yang menanggung biaya produksi---jadi harus ada pendonor tambahan lagi. Ini sulit buat Katalin, karena di luar pilihannya. "Mau berkomitmen" itu bukannya berarti bahwa penerbit ikut menanggung biaya produksi, sebab mereka juga yang akan menikmati keuntungan---bila buku itu nanti ternyata cukup mudah dijual ke pembaca target, tak sesulit prakiraan awal. Secara implisit kawan ini berhenti berjanji mengusahakan penerbitan di perusahaannya.

Setahun berlalu dan harapan menerbitkan novel itu masih kabur. Pada kesempatan lain, Anwar menulis surat lagi ke editor lain---kali ini termasuk ke kenalan jauh yang kadang-kadang terasa spekulatif. Kawan-kawannya yang kerja di bagian pemasaran atau distribusi pun dia kontak, dengan harapan bisa meneruskan ke editor akuisisi atau para pengambil keputusan. Dia pikir mungkin ada yang salah dengan usaha pertama dulu, hingga proposal ini kurang menggerakkan. Di saat bersamaan, proyek penerjemahan Saphira terus berjalan. Meski belum mendapat kepastian penerbit, komitmen Katalin rupanya mulai benar-benar terwujud. Dia sejak awal secara menyeluruh memeriksa terjemahan itu, meski lebih suka menyebut dirinya sebagai "penyelaras pada naskah asli" alih-alih sebagai "editor."

Usaha kedua ini segera berhasil. Anastasia Mustika, editor GPU, langsung menyanggupi menerbitkan The Ninth, sambil bertanya, "Bagaimana proses selanjutnya?" Proses selanjutnya merupakan detil usaha penerbitan yang lebih merepotkan, banyak urusannya, dan melibatkan orang lain lagi. Siapa akan mendesain covernya? Bagaimana pembayarannya? Bagaimana publisitasnya? Dan seterusnya. Detail ini menambah deretan orang yang terlibat dalam penerbitan sebuah judul buku jadi makin panjang, dan menguak bahwa biaya penerbitan harus dijabarkan lebih pasti. Pilihan pertama desainer covernya ialah Ariani Darmawan, seorang desainer-sutradara, pemilik Rumah Buku. Dia membuat lima alternatif cover, salah satunya menggunakan foto karya Paulo Costa, orang Brasil. Cover ini jadi favorit orang yang terlibat di awal proses penerbitan. Ariani mengontak Paulo menanyakan izin dan copyright foto tersebut, yang di luar dugaan malah dia berikan gratis untuk cover The Ninth. Ini kejutan menyenangkan!
____________________________
ENDORSEMENT

The Ninth adalah novel perenungan pribadi yang lebih memberikan dasar untuk eksplorasi daripada yang muncul di permukaan, dan merupakan novel yang berhasil memunculkan suara anak kecil dengan baik.
---Josh Maday
____________________________

Begitu penyuntingan selesai, muncul rencana publisitas. Makin besar lingkaran orang terlibat untuk mengenalkan novel ini ke publik Indonesia. Siapa mau mengurus? GPU mengajukan Ade Trimarga. Sementara di Jogja Katalin berhubungan dengan Marie Le Sourd (Direktur LIP) membuat Festival Budaya Hongaria untuk meramaikan publisitas, juga mengajak Saphira dan Raudal Tanjung Banua untuk mengisi acara. Dia juga mengundang pianis Michael Asmara yang menciptakan komposisi berdasarkan novel itu.

Di Bandung, Budi Warsito terlibat mengurus publisitas ini. Rencana publisitas merupakan wujud dari obrolan dengan dia. Siapa kira-kira yang bakal cukup asyik membicarakan topik relevan dengan ini? Nama Ari Jogaiswara muncul. Kami pernah 1-2 kali melihat dia jadi host talkshow buku di QB Setiabudi Bandung. Kami menghubungi dua orang agar bisa mengontaknya, dari rekanan dan mantan mahasiswanya. Ahda Imran kami tawari untuk jadi moderator acara nanti, yang baru ia konfirmasi beberapa minggu kemudian. Untuk menggugah kesan pada isi buku, terbetik membacakan cuplikannya. Yopi Setia Umbara bertugas mengisahkannya, bareng kawannya (Riksa) yang akan memberi ilustrasi musik. Anwar menghubungi 3-4 penyiar yang memiliki program buku, dengan respons beda-beda. Sebagian acara ternyata sudah tutup buku atau kini harus bayar. Theoresia Rumthe dari SKY FM antusias siap membicarakan The Ninth, termasuk sekalian dengan mengundang penulisnya.

Ternyata butuh lebih dari selusin orang untuk berpartisipasi dalam penerbitan sebuah judul. Kata Joyce Wycoff, buku merupakan cerminan usaha, cinta, dan dukungan begitu banyak orang. Ada banyak utang budi di setiap upaya penerbitan---sebagiannya langsung lunas dibayar secara profesional. Tanpa pengaruh atau jerih payah bantuan sejumlah pihak, sebuah buku belum tentu bisa terbit. Ini belum melibatkan pembaca lebih luas yang nanti diharapkan merespons, mengkritik, mengomentari, atau menikmati karya itu. Ari Jogaiswara bilang, "Apa arti The Ninth diterbitkan bagi publik Indonesia? Kira-kira harapan penulisnya sendiri seperti apa? Siapa kira-kira pembaca The Ninth? Kalau dia baca The Ninth, buku macam apa lagi yang ada di rak bukunya? Apa masih kurang mendapat pembaca lebih luas dari masyarakat berbahasa Inggris?" Ari berpendapat bahwa diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sudah merupakan 'award' tersendiri bagi penulis nonbahasa Inggris, terutama untuk mendapat perhatian lebih besar.

Di Indonesia, The Ninth terbit 23 Februari 2010. Pada Sabtu, 13 Maret ada acara publisitasnya di Rumah Buku Bandung, dilanjutkan Jumat, 19 Maret di LIP Jogjakarta. Ferenc Barnás akan hadir di acara tersebut.[]

Anwar Holid bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Blogger @  http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.

Situs terkait:
http://www.gramedia.com
http://www.ferencbarnas.com
http://www.rukukineruku.com
http://www.nupress.northwestern.edu/ue