Monday, July 16, 2007

Simpatik, tapi Tidak Kritis
--------------------------------------------
Penulis: Anwar Holid


JALALUDDIN RAKHMAT (Kang Jalal) memberi kata pengantar amat menyengat di buku Muhammad: Prophet For Our Time karya Karen Armstrong (Mizan, 2007), judulnya: ‘Karen Armstrong, Simpatik tapi Tidak Kritis.’ Kata pengantar tersebut merupakan 'hadiah' sangat berarti untuk menemani pembaca selama menikmati buku biografi Nabi Muhammad dari sudut pandang seorang komentator agama. Bagi sebagian Muslim pun, pendapat Kang Jalal tentang sirah nabawiyah itu boleh jadi tetap bakal mengguncang, apalagi bagi Muslim yang kurang terbiasa dengan khazanah non-Sunni. Muhammad: Prophet For Our Time sendiri disiapkan nyaris sempurna, mulai dari penerjemahan dan editing, didesain amat cantik, hingga menambah bobot buku lebih dari sekadar benda cetak atau sumber pengetahuan. Karen Armstrong menulis dengan sangat luwes, lincah, jernih, dan menyajikan wacana seperti bila kita meluncur di permukaan licin, tanpa kesukaran pemahaman sama sekali.

Saya sudah menamatkan beberapa buku Karen Armstrong, membaca-baca berbagai file profil dia, wawancara, artikel mengenai dirinya, pikiran dia dari berbagai sumber, termasuk menulis profil dia di Matabaca, tapi tak terlintas sedikit pun kesimpulan bahwa dia tidak kritis. Bahwa Armstrong simpatik tentu semua pembaca buku-buku dia sepakat. Tapi disebut tidak kritis? Baru Kang Jalal berani berpendapat demikian. Walhasil, kata pengantar dia sangat berguna mengimbangii isi buku. Sebuah kata pengantar yang sangat tajam dan menunjukkan betapa keyakinan (iman) lain dengan penelusuran sejarah atau interpretasi terhadap teks dan riset dari berbagai sumber rujukan. Padahal, berkat pengabdian Armstrong dalam membangun jembatan memajukan pemahaman antaragama pada 1998 Islamic Center California Selatan menganugerahi dia penghargaan. Pada 1999 dia menerima anugerah dari Muslim Public Affairs Council Media.

Bagaimana Karen Armstrong jadi tidak kritis di mata Kang Jalal?

Salah satu yang paling mencolok, Armstrong ternyata lolos memperhatikan dan tak merujuk sejumlah biografi Nabi Muhammad karya penulis Muslim terkemuka, misalnya Sejarah Hidup Muhammad (Muhammad Husain Haekal). Padahal buku Haekal tersebut sangat bermanfaat dalam menjelaskan soal kisah gharaniq (ayat-ayat setan). Kelemahan Armstrong itu terutama disebabkan karena dia mengutip buku 'tarikh dalam terjemahan Inggris. Itu pun terbatas pada sumber Ahli Sunnah, yang diterimanya tanpa kritik.' Kang Jalal mengambil satu kisah peristiwa vital yang dia jadikan bukti bahwa Armstrong tidak kritis, yaitu ketika Muhammad menerima wahyu pertama, dan setelah itu beliau menggigil ketakutan, disertai kecemasan, kebingungan, dan kesedihan. Begitu pulang beliau berkata kepada Khadijah, "Selimuti aku! Selimuti aku!" sampai hilang rasa takut itu.

Tulis Kang Jalal: Tidak pernah wahyu datang dengan cara yang 'mengerikan' seperti ketika ia datang kepadaa Nabi Saw. Bukankah beliau adalah kekasih Rabbul `Alamin, yang tanpa Dia, seluruh alam semesta tidak akan diciptakan. Atas dasar apa Jibril menakut-nakuti Nabi dan menyakitinya? Kisah itu menunjukkan bahwa peristiwa menerima wahyu yang seharusnya mencerahkan, malah menggelisahkan. Kisah itu bertentangan dengan gambaran Al-Quran Surah Al-An`am ayat 125: Barang siapa yang Allah kehendaki untuk memberikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (H. 28 - 30). Karena itu, tegas Kang Jalal, riwayat turunnya wahyu seperti itu harus kita tolak karena bertentangan dengan Al-Quran.

SAYA terperangah dengan argumen Kang Jalal. Betapa berbeda cara dia membaca, menilai, dan menyimpulkan suatu informasi sangat lain dibandingkan pendapat umum selama ini. Dia memadukan pengetahuan itu dengan keyakinan kuat, memanfaatkan khazanah yang luas lagi dalam, dan siap sedia andai keteguhan itu diguncang. Saya lemas, ternyata selama ini pun tidak kritis. Kenapa tidak kritis? Karena menerima keterangan begitu saja. Maka wajar bila sudah baca beberapa buku Karen Armstrong, tak pernah terbetik pendapat lain terhadap dia, yaitu mengamini bahwa dia seorang komentator agama yang simpatik. Saya gagal menemukan atau meraba betapa ada yang salah dalam keterangan maupun keyakinan selama ini, mirip keyakinan mayoritas orang tak kritis lain. Sikap tak kritis ketika membaca amat riskan mengeraskan pendapat salah yang dianggap sebagai kebenaran umum. Sesuai kapasitas sebagai cendekiawan, Kang Jalal mengajak pembaca agar lain kali lebih kritis saat membaca, sebab dengan itu kita bisa jelas-jelas membedakan mana pendusta, kaum munafik, penipu, suka riya, mau untung sendiri, dengan orang beriman. Kita mudah menemukan Muslim yang memegang teguh kisah tentang proses penerimaan wahyu pertama itu begitu saja, menganggap itu sebagai kebenaran, dan sulit sekali menghapusnya,

Pembaca, penulis, sarjana, memang bagus bila bekerja keras melakukan riset dari berbagai rujukan; tapi bila tidak kritis, dia bakal salah menyisipkan detil itu ke dalam rangkaian tulisan yang sedang dikerjakan, lebih parah lagi, bisa ikut berkubang dalam kesalahan, melestarikan kebodohan, dan malah menyebarkannya pada publik. Wah, mengerikan jadinya![]

Note: Esai ini dipublikasikan di harian Republika, rubrik Selisik, Minggu, 15 Juli 2007.


KONTAK: Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B, Bandung 40141, Telp. (022) 2037348 – SMS: 08156140621

Saturday, July 14, 2007

TIRAMISU
---Adilla Anggraeni


Semua selalu sama. Rasa lezat, adonan lumer, dan lembut di lidah. Semua terbungkus lembut. Dan Rania terbuai.

Selalu sama. Kafe yang sama, tempat duduk di sudut yang sama; percakapan lain. Tapi tumpukan kertas di hadapannya seolah tak perduli. Mereka mencampur semua, meramu semua.

Tua, muda. Kenapa kedua kata sifat itu seolah bukan hanya bertentangan, tetapi juga mencerminkan dua sisi berlainan? Mengapa semua orang mengucapkan kata "tua" dengan rasa jijik, takut, dan antisipasi berlebihan? Mengapa wajah mereka memucat, seolah tengah melihat sendiri lubang kuburan mereka digali? Tak bisakah kata "tua" dan "muda" diucapkan seolah mengucapkan kata merah dan hijau? Tanpa tendensi dan makna terselubung?

Dan Raina kembali tersenyum. Menggoyangkan pena di tengah kedua jemari, mencoba menerka apalagi yang akan ia tulis di helaian kertas di hadapannya. Hidup. Tentu, tiada yang lebih bernyawa dan menginspirasi dari hidup itu sendiri. Bahkan lebih dari cinta yang diagung-agungkan banyak orang sebagai sumber inspirasi terbesar. Bukankah cinta itu sendiri hadiah kehidupan?

Kening Raina berkerut. Pandangannya kembali terlempar pada sosok-sosok sekitar, yang menghirup kopi atau cairan apa pun yang ada di gelas mereka dengan kepuasan tersendiri. Seorang lelaki duduk tepat di hadapannya, pakaian sedikit lusuh, tapi dengan raut wajah bersinar ketika ia membolak-balik koran di tangannya. Kebahagiaan itu! Manusia macam apa yang bisa begitu bahagia hanya dengan menikmati secangkir kopi, di udara membekuka tulang seperti ini?

Manusia yang tahu cara mensyukuri hidup. Raina memutuskan. Dan kembali tertunduk mencoretkan sesuatu di atas kertas. Bibirnya membentuk seutas senyum. Jikalau aku bisa merekam adegan di hadapanku ini seperti pelukis pada kanvasnya! Raina iri, sangat iri karena ia perlu menggoreskan seribu kata sebelum akhirnya mampu menandingi kelancaran bahasa seorang pelukis.

Raina begitu iri, sehingga pikirannya kacau saat itu. Dosis kafein yang ia tenggak sebelumnya gagal meredakan kekalutan. Raina meremas kertas di hadapannya keras-keras. Selalu sama, selalu sama. Kejadian ini berulang lagi, hingga ia ingin berteriak begitu keras dan melupakan segala, kecuali rasa tiramisu yang masih menari-nari di lidah.

Kenapa adonan di depannya ini bahkan bisa berbicara lebih banyak daripada kertas naskah ini? Bisa cerita lebih banyak dari kerutan yang menghiasi wajah seseorang? Bukankah kerutan itu menandai setiap peristiwa besar kehidupan? Garis kegembiraan yang terbentuk setelah bertahun-tahun menjadi satu kerutan. Lalu ada garis tangis. Garis terkejut. Garis lengkung tanpa arti yang terbentuk karena keheranan. Itu saja. Tapi ia telah kalah berbicara.

Setiap ada di café ini Raina selalu membandingkan dua hal: kopi pahit dan tiramisu manis menggigit. Taplak meja bersih dan serbet kotor. Kakinya yang bersepatu hak tinggi dan pengemis telanjang kaki di luar. Lembar uang di meja yang pasti cukup untuk hidup selama seminggu dan recehan dalam kaleng di muka pengemis itu.

Lucu begitu rasa dan aroma yang selama ini diacuhkan banyak orang bisa menjadi alat pengenang masa lalu. Mereka seperti menyekap dan membelenggu, memaksa menoleh masa lalu yang ingin dikubur oleh orang bersangkutan. Mereka hantu berwujud, diam-diam mencengkeram dari belakang.

Raina menghirup kopi. Entah saraf apa yang dihidupkan kopi ini ketika ia tersentak dan dipaksa bangun untuk merangkai jaring-jaring kehidupan di atas kertasnya. Raina tidak melukis. Ia merangkai dan memutus jaring-jaring kehidupan, membingkai dan menempelkan di tempat yang cocok.

Dalam dunianya Raina merasa menjadi Tuhan. Ia menulis nasibnya dalam versi lain, dengan boneka-boneka takdir tanpa daya yang akan menuruti segala kehendaknya. Ia menjungkirkan fakta, membolak-balikkan kenyataan dan mengguncang sekaligus. Lalu ada tiramisu, yang rasanya bagai ambrosia, minuman para dewa.

Raina mungkin perwujudan Prometheus, yang dihukum karena melanggar kekuasaan sendiri. Prometheus yang terjebak keabsurdan hidup, dalam ketragisan heroik. Apa semua pahlawan tragis sebenarnya bodoh? Mungkin akan ada sebuah literatur Jawa mengatakan bahwa Kurawa sebenarnya pintar karena mereka mampu mengatur strategi untuk merebut sesuatu dan menjadikan hal itu milik, bukan nrimo tanpa perlawanan!

Ketragisan heroik dan hukum rimba setali tiga uang. Siapa bilang hukum rimba dalam pergaulan manusia itu hanya ada di kota besar, atau lebih spesifik, di ibu kota? Raina tersenyum sinis. Hukum rimba sudah ada saat manusia pertama kali diciptakan! Telah ada saat Qabil membunuh Habil. Saat jerapah berleher pendek sia-sia beradaptasi dan harus punah karena kandas menjangkau daun di pepohonan tinggi.

Mungkin pengemis itu hasil hukum rimba, seleksi alam maha luas yang membuat dia asing akan manis dan lembut tiramisu; matahari dan hujan lebih meresap dalam tulang-tulangnya, sehingga senyum puas dan terima kasih dia lebih indah daripada milik lelaki setengah baya di hadapan Raina yang dari tadi mengaduk-ngaduk cangkir kopi pekat dengan wajah orang yang bisa melihat seisi dunia lewat cupu manik Astagina.

Raina ingin lari ke luar dan minta pengemis itu bertutur, memohon mencicipi sesuap tiramisu dan mendengar tawanya. Mungkin tawa dia akan terdengar merdu dan jernih seperti mata air yang telah menembus peradaban, bergema membius hutan-hutan dengan gemericikannya.
Raina ingin bicara tentang patriotisme, nasionalisme, merah dan putih, darah dan tulang, tanah dan air dalam buku-bukunya. Ia ingin mengejawantahkan tawa pengemis yang tak kunjung terdengar, mendeskripsikan rasa tiramisu, menurunkan hujan di gurun selebat di pegunungan. Kata-kata saja kurang, kadang-kadang menggagalkan, menyeret ekspresi hingga ke titik nadir, bukan melambungkannya ke titik zenith.

Inspirasi dan bukan sesuap nasi. Pilihan sulit. Segala yang tabrakan bisa berakibat seperti asteroid yang menimbulkan hujan meteor, meski hasilnya bisa tak seindah itu. Raina sudah memanfaatkan kesepuluh jemari untuk meraih keinginan sejauh ia ingat. Jika tidak, air mata jadi senjata pamungkas. Pada dasarnya manusia mustahil benar-benar tumbuh sejak bayi. Kepolosan tangisan bayi bahkan telah digugurkan oleh sejenis tangis lain dengan tujuan sama, mendapatkan keinginan.

Adegan yang sama. Raina, tiramisu, kopi. Bahkan adegan serupa masih terulang ketika sebuah suara memanggilnya mengajak pulang, memutus adegan yang tengah berkejaran.Adegan berisi Raina, tiramisu, dan kopi.[]

Adilla Anggraeni lahir di Jakarta 16 Februari 1988. Saat ini mahasiswi tahun terakhir Nanyang Business School, NTU, Singapura. Telah menerbitkan Contra Veritas (kumpulan cerpen, 2006).
Kontak: HP: +6598823890/+62 852 15 666 908 E-mail: lunar_gaia@yahoo.com - forthingdale@hotmail.com.

Thursday, July 12, 2007

PERESENSI BERBAGI RAHASIA
---------------------------------------------------
>> Anwar Holid


Pertemuan Peresensi Pustakaloka-Kompas yang berlangsung pada Jumat, 4 Mei 2007 di Ruang Kenanga I, Istora Senayan Jakarta, persis seperti harapanku berlangsung menarik dan menyenangkan. Semua kursi tampak penuh, meski beberapa orang yang aku harapkan ternyata mangkir. Ignatius Haryanto (IGNH), J. Sumardianta, tak tampak, padahal aku ingin ketemu lagi setelah lama nggak kontak. Kang Hernadi Tanzil bahkan sejak awal sudah bilang nggak bisa datang karena ada tugas kantor yang harus dia selesaikan. Dia bilang, 'Nanti cerita-cerita tentang hasil gathering ya mas...'

Yang juga mengejutkanku, di antara hadirin ternyata ada Endah Sulwesi, seorang peresensi yang juga sangat produktif, terutama untuk fiksi. 'Yang mana orangnya?' tanyaku pada Chus, waktu kami dengan teman-teman dari Penerbit Koekoesan mampir makan di Nando's Cilandak Town Square. 'Itu, cewek kecil-kecil yang duduk di depan.' O, baru ingat. Sosoknya pernah muncul di Koran Tempo, Femina, dan Tempo. 'Coba tadi ada yang ngenalin aku ke dia,' kataku. 'Oh, belum kenal toh?' 'Sudah sih, lewat email. Tapi kan belum pernah ketemu.' Aku juga bertemu dengan Mumu_Aloha, penulis dan editor, yang bertahun-tahun lalu sempat chat dengan aku. 'Mereka-mereka' ini teman main sekomunitas yang relatif sering ketemu, meski kalau bertemu bareng sekaligus malah jarang dan relatif sulit karena terhalang aktivitas masing-masing. 'Jadi kita mesti berterima kasih pada gahtering ini karena bisa membuat kita ketemu bareng,' begitu aku dengar salah seorang bilang di belakang mobil, entah Chus atau Mumu. Muhidin M. Dahlan, kawan lama dari Jogja juga datang. Dia kini justru sering tinggal di Jakarta.

Dalam perjalanan ke Nando's yang tersendat-sendat karena macet Damhuri Muhammad terus-menerus ngomong soal sumbangan dan pengaruh Sriti.com bagi perkembangan karir penulis muda. 'Aduh, hati gue rasanya berpasir deh denger komentar seperti ini,' begitu balas Chus. Ternyata Chus, Sjaiful, dan Win dari Salju Bogor (Salbo), yang menggerakkan Sriti.com, ialah alumni IPB. 'Wah, aku beberapa bulan lalu kenalan sama mas Siba (Dwi Setyo Irawanto). Dia keluaran Kehutanan loh.' Ternyata dia senior Sjaiful.

H. Witdarmono sebelum menyampaikan topik standar cara meresensi dan hakikat meresensi, dia membaca langsung contoh resensi dia atas To Kill a Mocking Bird (Harper Lee), yang dia tulis bertahun-tahun lalu sebelum novel itu barusan diterjemahkan Femmy Syahrani dan diterbitkan Qanita. Waktu mendengar resensi itu dibacakan, aku langsung bisa merasakan bahwa itu contoh resensi yang bagus. 'Saya berani bilang bahwa meresensi itu mungkin puncak dari menulis,' begitu yang aku ingat dari salah satu ucapannya. Di antara standar resensi yang dia tetapkan ialah sejarah penulis, latar situasi sosial-budaya, relevansi penerbitan, dan cara menyajikan, di samping tentu saja menceritakan tentang isi buku tersebut. Terasa pertimbangannya sebelum meresensi mencakup banyak hal. Dia mengaku rata-rata menghabiskan sepuluh hari untuk menuntaskan resensi yang betul-betul siap dipublikasi. Pernah waktu tinggal di New York (?), dia ingin sekali menulis tentang The Satanic Verses (Salman Rushdie) yang persis sedang heboh karena penulisnya difatwa mati oleh Imam Khomeini. 'Tapi kalau saya meresensi buku ini, mungkin justru Kompas yang kena hujat di Indonesia,' kata dia. Alternatifnya, dia menulis esai tentang realisme magis (magic realism) dengan menyebut novel itu sebagai contoh utama. Peresensi juga mesti punya strategi tertentu untuk membaca situasi yang sedang berkembang, termasuk pada sensitivitas publik.

Mungkin karena H. Witdarmono menyampaikan materi dengan berdiri di depan forum, tidak duduk di podium, suasana jadi santai. Ketika bicara, aku pun akhirnya memutuskan berdiri di depan forum juga, setelah ikut menyimak penuturan H. Witdarmono di barisan paling depan. Yang paling aku fokuskan dalam pertemuan itu ialah harapan agar resensi di Indonesia terus berkembang, mengalami kemajuan, seiring industri buku yang tengah pasang naik. Fungsi resensi bagi perkembangan industri buku pastilah signifikan, perkembangannya mesti dicermati bukan saja di media massa biasa, melainkan juga termasuk resensi yang ada di blog dan milis (mailing list). Resensi di media itu justru berseliweran dan perkembangannya mungkin di luar dugaan banyak pihak. Aku termasuk yang suka membaca banyak posting resensi dari milis, dan selalu salut betapa mereka bisa mencerap buku dengan cepat begitu terbit/beredar di pasar. Kata Tanzil, 'Mereka umumnya rajin memposting resensi baru, biasanya seminggu sekali, namun ada juga yang seminggu bisa dua atau tiga buku! Mereka memang tak pernah masuk media cetak tapi bagi para pecinta buku dan punya akses internet, blog mereka selalu menjadi blog yang wajib dikunjungi.'

Sebagian orang yang hadir dalam pertemuan itu termasuk mereka yang rajin meresensi, meski belum pernah dimuat di media seperti Kompas. Baik-baik saja sebenarnya. Cuma memang redaksi punya standar tertentu yang harus dipenuhi agar sebuah artikel layak muat. H. Witdarmono menegaskan kriteria ini dengan sangat tepat, yaitu 'Setiap surat kabar adalah sebuah pribadi.' Tarik-menarik antara kontributor dan media ini merupakan ranah yang amat lentur dan dipengaruhi banyak faktor, dan kita bisa bisa belajar banyak dari situ. Dari resensi yang dimuat, kita bisa belajar tentang keluasan dan ketajaman analisis, kelenturan berbahasa, kelincahan menulis, diksi yang sangat banyak, juga ketulusan dan idealisme. Resensi di blog dan milis juga punya kekuatan sendiri. Posting mereka bisa mengundang komentar puluhan orang sehari dan langsung bisa memancing reaksi banyak orang. 'Kadang-kadang mereka juga suka janjian membaca dan mereseni buku yang sama,' tambah Tanzil.

Meresensi di media massa dan blog/milis punya daya tarik dan kekhasan masing-masing. Yang paling penting barangkali kesungguhan menulis. Aku sendiri sadar kelemahanku yang paling besar justru kurang produktif meresensi, bahkan suka gagal menemukan inti buku setelah baca, atau kesulitan menentukan akan berangkat dari mana resensi itu. 'Betul, meresensi itu kan nggak bisa dipaksa,' kata Damhuri Muhammad. Aku setuju poin itu, tapi sebenarnya aku juga yakin bahwa usahaku kurang keras untuk menghasilkan resensi atas buku tertentu, apalagi bila buku itu benar-benar bagus dan punya keunggulan. Aku sampai sekarang selalu menyesal setiap kali gagal meresensi.

Selain bisa silaturahim dan saling kenal, di pertemuan itu kami sekaligus bisa berbagi banyak hal, baik tentang buku dan penulis favorit, jenis yang sama-sama disukai, dan tentu saja: cara menulis resensi sebaik dan seantusias mungkin. Para hadirin sama-sama mau saling membagi rahasia. Bahkan Aria (?), yang sering meresensi buku ekonomi mengaku tak bisa menerangkan cara meresensi; dia hanya melakukannya, dengan berusaha fokus pada buku yang dikritik. Kecenderungan ini agak lain dengan saran pendekatan resensi umum yang suka membandingkan dengan buku lain yang relevan. Sementara Kasiyanto, sejarahwan dari UI, jelas sekali keunggulannya mengulas buku kuno. Memperhatikan kekhasan, kekuatan, gairah, dan kemampuan peresensi sendiri tampaknya jadi faktor penting agar bisa menghasilkan tulisan yang bagus, bernunsa, kuat. Donny Gahral Adian menyatakan, biasanya dia berangkat meresensi justru dari adanya perasaan gelisah, gelo, bahkan jijik terhadap buku yang dia baca. Dia yakin dari situ akan lahir dialog antara pembaca dengan penulis yang kritik, sebab ada sesuatu yang dipertanyakan, digugat, dipertentangkan dengan pendapat peresensi. 'Kalau ingin memuja buku itu, mendingan Anda menulis endorsement saja.' Wah, keras juga pendapatnya tentang resensi.

Di pertemuan itu peresensi berbagi rahasia, dari yang meresensi secara tertib, kesulitan mengungkapkan cara menulis, hingga tiada lelah berusaha mencari strategi agar dimuat media massa. Poin dari situ ialah: yang paling penting justru menulis, meningkatkan produktivitas, dan ketangguhan mengetuk tuts keyboard. Mode orang menulis beda-beda, khas, saling mengayakan.

Di pertemuan itu aku menyinggung sedikit perbandingan kondisi peresensi di luar negeri dengan Indonesia, meski mungkin kurang relevan dan di luar konteks. Tapi sekadar mengungkap dan mungkin bisa jadi obrolan menarik, ternyata jadi peresensi enak dan menjanjikan juga. Di Indonesia, jadi peresensi sudah cukup enak dan menyenangkan, tapi mungkin masih jauh dari menjanjikan---terutama sebagai pilihan karir. Kalau kita sebut nama peresensi (kritik buku) ternama di luar negeri, seperti Michiko Kakutani, Martin Amis (dia juga seorang novelis sangat terkemuka di Inggris), Sara Nelson, Anthony Lane, ternyata menjadi peresensi selain merupakan pilihan yang prestisus, juga menjanjikan secara finansial. Memang kita di sini punya kekurangan yang membuat meresensi masih merupakan semacam hobi atau demi memenuhi idealisme, tapi ternyata perkembangan akhir-akhir ini menarik juga kita perhatikan, terutama resensi di blog atau yang diposting di milis. Resensi di situ ternyata berpengaruh besar juga bagi komunitas maya, dan kini kiprah mereka juga sangat diperhatikan penerbit.

Isu sindikasi media yang cukup ramai di milis jurnalisme@yahoogroups.com juga sempat aku lontarkan. Terbayang kan bila seorang peresensi mendapat bayaran berlipat-lipat dari setiap media yang bersedia membeli tulisannya. Tapi isu ini pasti berat, mengingat sistem sindikasi belum diterima di Indonesia. Di milis jurnalisme@yahoogroups.com sejumlah penulis freelance sedang berencana membangun daya tawar agar bisa menjalankan sistem ini.

Demi menjaring pasar lebih luas, sejumlah penerbit kini juga makin terbiasa mengadakan lomba resensi, terutama untuk buku yang diperkirakan bakal laku dan promosinya dianggarkan. Hadiahnya kira-kira sebesar honor pemuatan artikel opini/essay di media massa. Peserta lomba sering banyak, dan yang menang resensinya disebar ke milis atau diposting. Dampak dari lomba ini tentu saja buku tersebut mesti dibeli dulu oleh para peserta.

Pulangnya dong... semua peserta dibekali 'berkat' pertemuan, yaitu sekantong buku dari penerbit KKG. Isinya beda-beda, bergantung rezeki masing-masing. Ada yang senang dengan kebetulan itu, ada juga yang jadi ledek-ledekan. 'Wah, buku ini bukan gue banget gitu...' kata Chus waktu memeriksa sebuah judul dari kantongnya. Waktu aku periksa, tasku berisi enam judul, salah satunya kumpulan cerpen Emha Ainun Nadjib dan buku tentang kesehatan gigi (yang amat menarik minatku). Sementara Damhuri bilang, 'Wah, nyesel gue beli buku tadi...' Pertemuan peresensi itu memang diadakan dalam acara Kompas-Gramedia Fair. Pastilah ada di antara buku yang dibagi-bagi itu suatu saat akan diresensi. Aku yakin.

Wah... sudahlah. Sekarang ambil buku, baca, selami, tulis resensinya. Kirim atau bagikan ke khalayak; dari situ semoga ada yang tumbuh, baik pro dan kontra, termasuk penghargaan, atau setidak-tidaknya rasa syukur bahwa kita telah menikmati pengetahuan, buah kehidupan.[] 17:55 07/05/2007