Friday, March 06, 2009


Perampokan yang Gagal

--Anwar Holid

Seorang manajer perusahaan asuransi suatu hari ingin membeli anggur. Dia sukses, kaya, berselera. Waktu menerima botol anggur dari penjual, dia lihat label anggur itu tergores merusakkan merknya. Dia menolak dan minta ganti yang baru. Penjual dengan senang hati melayani, meminta pelayan mengambil botol baru yang ada di gudang. Waktu mereka ngobrol sambil menunggu pelayan kembali, saat itulah seorang perampok bersenjata masuk.

Perampok mendorong manajer itu sampai jatuh ke lantai, segera menyanderanya dan menodong pemilik toko untuk segera mengumpulkan uang dan menyerahkan kepadanya. Pemilik toko tak melawan, lebih aman menyerahkan harta daripada nyawanya. Ketika uang hendak dia serahkan, sang pelayan muncul dari pintu belakang, memegang botol anggur baru. Terkejut karena menyangka hendak diserang, seketika perampok menembak pelayan itu kena persis di perut, dan seketika juga tumbang, tapi tangannya tetap menggenggam botol. Perampok langsung panik. Dia tahu kecelakaan itu bisa membuat hidupnya terancam. Maka perampok itu segera kabur tanpa sempat membawa uang yang sudah di hadapannya.

Pemilik toko berusah mengejar perampok di luar toko; sedangkan manajer asuransi itu langsung menolong dan memegang pelayan yang roboh. Berusaha membantu menenangkannya, meskipun panik karena nyawa pelayan itu kritis. Pikirannya berkecamuk, bagaimana mungkin keinginan mendapat anggur dengan label sempurna sampai harus ditebus oleh sebuah nyawa, disertai insiden, kecelakaan, dan kejadian tragis seperti itu?

Meski menurut kita itu sebuah kebetulan, peristiwa itu terjadi, dan semua jadi guncang. Peristiwa berbahaya itu membuat sang manajer berpikir:


  • Apa kejadian ini hanya kebetulan?

  • Apa perampok itu betul-betul ingin menganiaya, bukan semata-mata ingin merampok uang? Perampok ini betul-betul nekat, sampai dia gagal mencari alternatif untuk mendapatkan nafkah buat hidupnya.

  • Kenapa yang jadi korban malah pelayan toko, orang yang mau membantu dan melakukan kebaikan mengambilkan botol anggur yang sempurna untuk dirinya?

Pikir manajer perusahaan asuransi itu: "Andai aku menerima botol dengan merk cacat itu, tentu tak seperti ini kejadiannya. Tak perlu sampai ada yang tewas. Kenapa aku begitu terganggu oleh gores kecil itu? Tapi sebaliknya, kalau semua ini tak terjadi, aku tak mengalami peristiwa dramatik ini, terlibat dalam peristiwa yang bersentuhan dengan nasib orang lain, kapan lagi aku tambah sedikit bijak, atau muncul kemungkinan perubahan jalur hidupku?"

Manajer itu jadi sadar betapa manusia kerap mudah bertindak dengan pandangan picik. Entah karena terdesak oleh kebutuhan hidup atau memang seorang kriminal, perampok itu sampai membunuh orang lain demi mendapat uang. Pikir manajer itu: Dia pasti kesulitan mendapat perspektif hidup yang lain, pandangannya terhalang oleh sejumlah hal, terpaksa menggunakan kekerasan. Tapi manajer itu juga mengira-ngira: bila perampok itu minta uangnya, apa dia tetap mau kasih?

Memang sulit mengira yang bakal terjadi sedetik kemudian. Kerap manusia kurang sabar menanti keutuhan cerita agar bisa menyaksikan lebih utuh. Padahal orang baru bisa paham setelah mengalami banyak hal, ujian, pengorbanan, termasuk waktu. Wawasan dan kebajikan tidak datang begitu saja, dia perlu tempaan. Untuk mengerti secara utuh kadang-kadang orang harus hancur dulu, egonya perlu dikalahkan.

Renungilah diri sendiri, betapa sering kita terlalu cepat menyimpulkan, terburu-buru ingin 'menyelesaikan' atau bereaksi, kemudian baru sadar ternyata kita hanya kurang sabar menunggu satu detik lebih lama agar semua berjalan sempurna.[]

Aku menulis kisah ini setelah nonton film Auggie Rose.

1 comment:

Bahtiar Baihaqi said...

Maaf Mas Wartax (gak enak klo gak pake "Mas" atau Aa, pilih mana), aku langsung kasih komen begitu baca postingan ini. Gak dipikir-pikir dulu. Habisnya emang bagus sih, mulai terasa ke-wartax-annya. Jadi penasaran ma dua bukumu Mas. Aku bayangkan di dalamnya tetap ada ungkapan2 mutiara khasmu. Insya Allah ini jenis pujian yang tulus. Tapi dirimu tetap bisa memilih, menjadikan pujian ini sebagai ujian atau apalah.
Maaf, moga gak bosen aku kunjungi dan komentari ya.