Wednesday, December 30, 2009



[HALAMAN GANJIL]

Kegagalan Mencolok Tahun 2009
---Anwar Holid

Bila sebagian orang mengumumkan sejumlah keberhasilan di tahun 2009 kepada publik, biarlah aku melakukan kebalikannya: menyimpan keberhasilan, dan malah "membagi" kegagalan, syukur-syukur ada pembelajaran dari sana. Arvan Pradiansyah pernah menulis: Kalau kamu kalah, jangan sampai kamu kehilangan pelajaran. Dulu, Steven Spielberg pernah bilang: Failure is inevitable. Success is elusive. Gagal pasti terjadi; sementara sukses sulit dicari dan susah dipahami. Lepas dari sana, aku teringat pada kawan yang menanggapi betapa nasib manusia itu beda-beda: "Aku malas mengomentari kondisi orang, karena orang menghadapi hidup dan dunianya sendiri-sendiri. Yang menurut seseorang berat, ternyata mudah bagi orang lain. Hidup mah ada-ada saja."

Keberhasilanku biasanya langsung habis dibagi buat keluarga. Atau kalau menyangkut keuangan, biasanya langsung dialokasikan ke utang, meski ini sangat sulit aku lakukan akhir-akhir ini. Misal di pengujung 2009; aku pikir akan sedikit berjaya, ternyata aku sudah harus minta bantuan seorang kawan. Shhh...

Aku mencatat tujuh jenis kegagalan mencolok yang semoga jadi pelajaran.

(1) Gagal bekerja kantoran lagi. Buatku ini sangat mengesankan dan pantas mendapat perhatian khusus. Sampai dua kali aku gagal kerja di lembaga baru. Pertama di sebuah majalah politik berbasis di Jakarta. Awalnya aku antusias dan sudah menyiapkan segala sesuatu untuk bergabung dengan mereka, karena secara finansial aku merasa imbalan mereka menjanjikan. Tapi begitu datang ke sana, dua hari itu kepalaku sakit secara keterlaluan, sampai aku sangat terganggu. Ini aneh. Biasanya wajar aku rada pening dalam perjalanan luar kota. Setelah istirahat, aku segera pulih. Tapi kali ini tidak, meski aku berusaha rileks. Aku tetap sakit sampai esoknya. Padahal krunya juga ramah-ramah. Apa karena mereka perokok semua? Alasan ini rasanya keterlaluan. Waktu aku langsung minta pulang dan berhenti, sang pemimpin redaksi sampai tanya, "Apa ini kamu pertama kalinya pisah dari keluarga? Enggak mau coba sampai satu minggu?" Aku merasa ini mungkin semacam "blink" bahwa aku harus berhenti.

Lepas dari sana, seorang kawan menyarankan agar aku melamar jadi staf di sebuah lsm yang terkenal karena kinerja mereka di bidang "bisnis sosial" atau "wirausaha sosial." Dengan keyakinan bahwa aku cukup memenuhi syarat, aku menyiapkan segala sesuatu, termasuk mendapatkan rekomendasi dari tiga orang yang aku anggap tepat. Dalam wawancara, salah satu pertanyaan tersulit ialah: "Apa motivasi kamu ingin bekerja di sini?" Wah, apa ya? Apa aku ingin dapat bonus tahunan dan thr? Apa aku punya idealisme yang patut diwujudkan atau ingin dapat gaji bulanan? Aku pikir rekomendasi dan cv bisa sedikit menjelaskan reputasi, kemampuan, dan kinerjaku. Ternyata tidak. Menariknya, dalam surat penolakannya, lsm itu bilang: "Pengalaman Anda impressive, tapi kami mohon maaf, mas Anwar belum cocok untuk kebutuhan saat ini atau barangkali kita belum jodoh ya...?!" Belum jodoh katanya! Ha ha ha... Lumayan, surat penolakan itu menghibur aku.

Walhasil aku kerja sendiri lagi. Aku bukan pengangguran. Kerjaanku ada saja, sebagian belum tuntas. Untung, seorang kawan bilang ke aku: "Dalam kepalaku tuh, kalau ingat kamu, pasti tertera bahwa kamu sudah betah jadi tenaga outsource. Kerja freelance. Masak kamu ingin ngantor lagi?" Ha ha ha... belum tahu dia, aku kemarin melayangkan surat lamaran lagi.

(2) Gagal menerbitkan buku. Sebenarnya ini naskah seputar dunia perbukuan yang menjadi inti perhatian karirku. Aku berusaha menjadikannya komprehensif. Dulu naskah ini siap diterbitkan imprint penerbit yang terkenal karena buku-buku kepenulisannya. Tapi sayang imprint itu gulung tikar, dan akibatnya naskahku gagal terbit. Naskah ini bahkan sudah disusun oleh editor kesohor---dan aku bangga karena itu. Lantas penerbit lain dari kelompok yang sama menerimanya, bahkan sudah menyentuhnya, setelah naskah itu membengkak karena sumbernya memang bertambah. Draft covernya pun sudah siap. Cerita-cerita punya cerita, di rapat tingkat tinggi, para pengambil keputusan penerbit itu menilai naskahku terlalu tebal, terlalu serius, dan kurang populer. Jadi ditunda entah sampai kapan. Aku sendiri sudah menyerahkan keputusannya pada manajer bersangkutan, termasuk untuk mengurangi ketebalannya. Aku bilang, aku lebih suka kompromi pasar saja. Daripada terbit tapi seret dan menyulitkan penerbit. Tapi kalau enggak terbit-terbit juga? Ah, santai saja. Nanti bisa masuk arsip sebagai "Unpublished Work of Anwar Holid." Siapa tahu jadi warisan magnum opus. (Emm, berlebihan.)

Optimisnya: di akhir tahun ini ada editor yang menyetujui proposal buku baruku. Semoga bisa terbit tahun 2010.

(3) Gagal jadi juara 1 lomba penulisan. Pertama lomba resensi Dreams from My Father (Barack Obama) penerbit Mizan. Aku juara ke-4 (dapat hadiah buku senilai 500 ribu rupiah). Nada resensiku santai sekali, mengambil angle yang menurutku jarang diambil peresensi lain. Tapi memang resensi juara 1-nya sangat bagus dan komprehensif. Salut. Aku mendedikasikan hadiah itu untuk anak-anakku, dengan memilih buku anak semua.

Kedua gagal masuk 20 besar lomba Kisah 2009 Penerbit Erlangga. Aku menyiapkan tulisan ini dengan sangat serius dan awalnya optimistik minimal masuk 10 besar. Tapi ketika lihat pengumuman karyaku ke laut dan malah punya Fenfen yang terjaring, aku langsung lemas. (Fenfen adalah juara 1 pada periode 2007.) Apa yang salah dengan tulisanku? Terlalu dingin dan kering mungkin atau terlalu panjang untuk lomba suatu kisah? Memang awalnya aku meniatkan tulisan itu sebagai memoar. Nanti akan aku posting tulisan itu di blog atau Facebook.

(4) Gagal bekerja sama dengan orang lagi. Kegagalan ini sangat menyesakkan, apalagi mereka editor. Tadinya aku berharap bisa mendapat keuntungan dengan menjalin hubungan dengan orang-orang seprofesiku, tapi hasilnya di luar dugaanku. Tentu ada yang salah dengan cara pendekatanku, atau mereka terlalu mudah tersinggung, kurang humor, kurang jujur, dan kurang tahan kritik. Aku sudah minta maaf, tapi salah seorang malah bertanya retorik: "Untuk apa minta maaf mas?" Astaga, apa orang ini kehabisan empati dan sulit menilai integritas seseorang? Dari insiden ini aku belajar sekali lagi bahwa kejujuran itu dampaknya memang luar biasa.

(5) Gagal meresensi buku-buku bagus. Ini klise, jelas terkait dengan kemampuanku menalar sebuah buku, atau gagal mengaitkan buku itu dalam konteks yang lebih hebat. Atau sebaliknya: jangan-jangan aku terlalu rewel terhadap sebuah buku? Jadi editor di satu sisi malah membuatku bisa sangat tersiksa kala membaca buku, sebab aku gagal mematikan radar idealitas terhadap buku. Aku harus lebih ikhlas terhadap buku, menerima buku sebagaimana adanya, dan menulisnya secara lebih sederhana.

Buku bagus yang gagal aku resensi antara lain:
* Three Signs of a Miserable Job (Patrick Lencioni, Elexmedia, 298 hal.). Novel sangat mengesankan bernada motivasional-inspirasional tentang kepuasan kerja/karir, di ujungnya ada satu studi kasus betapa kepuasan kerja itu ternyata saling terkait. Sangat kena baik buat manajer maupun pekerja.
* Membongkar Manipulasi Sejarah (Asvi Warman Adam, Penerbit Kompas, 257 hal.) Buku sejarah dengan berbagai topik, cukup ekstensif membahas kontroversi seputar G30S. Aku memilih buku ini sebagai salah satu dari sepuluh buku tahun 2009 karya penulis Indonesia yang pantas diperhatikan.
* The Second Plane (Martin Amis, Vintage, 204 hal.) Buku ini membuat Martin Amis dicap menderita Islamofobia. Fokus pada kontroversi peristiwa 9/11 dari tahun 2001-2007. Tapi aku kesulitan menyimpulkan mau dia apa dengan argumen-argumen itu. Buku yang tampak terlalu serius bagi penulis yang terlalu mudah sinis. (Dugaanku ini sulit dipertanggungjawabkan.)
* Bocah Muslim di Negeri James Bond (Imran Ahmad, Mizan). Memoar lucu tentang bagaimana rasanya menjadi seorang Muslim sejak kecil di Inggris Raya khususnya, dan di Dunia pada umumnya. Seberapa universal Islam itu sebenarnya? Meskipun tidak taat-taat amat, Imran Ahmad terus berusaha menjadi Muslim dan manusia yang lebih baik, dia juga sekuat tenaga menghindari dosa sebisa mungkin.

(6) Gagal menulis novel. Mungkin ini bisa diabaikan karena merasa bukan bidangku, meskipun aku punya niat. Imajinasiku kayaknya terlalu kering dan kaku, sementara aku juga tidak meluangkan waktu untuk menuliskannya secuil demi secuil. Padahal storyline sudah aku siapkan dan ide kayaknya sudah terbayang di dalam kepala. Mungkin harus jadi proyek tahun 2010 (sebelum peringatan kiamat dua tahun lagi benar-benar terbukti.)

(7) Gagal menulis di Korantempo atau Tempo. Ini sedikit aneh dan menyedihkan. Aku terus berusaha menawarkan tulisan ke media ini, tapi masih gagal hingga detik ini. Apa tulisanku tidak cocok? Tidak. Sudah jelas: Jika tulisanku tak dimuat, pasti karena masalah kelayakan penulisan. Kata redaksinya: "Dalam soal penolakan, kami punya banyak alasan: rata-rata karena penulisannya buruk. Meski sebuah ide menarik, jika penulisannya tidak bagus dan tidak mulus, kami langsung menolaknya."

Baiklah. Aku dapat pelajaran dari sini, yaitu: Non illegitimi te carborundum. Janganlah kegagalan membuat kamu kendor.

Aku menghadapi fajar 2010 dengan semangat dan optimistik. Sejumlah rencana telah aku siapkan, ada janji yang sudah aku sepakati, sebagian kerja juga belum beres dan harus dilanjutkan. Minimal sampai tri wulan pertama aku pasti sibuk. Kalau umurku sampai, pada Maret 2010 aku akan berbagi ilmu penulisan lagi, kali ini di sebuah perusahaan di Bogor, terus ada kerja publisitas yang ingin aku libati dengan baik. Life is worth living. Semoga sukses. Semoga tetap waras, Wartax! [] 24/12/2009


Anwar Holid, editor, penulis, dan publisis. Blogger @  http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.

No comments: