Wednesday, December 30, 2009


Sebuah sisi Universitas Bengkulu. (Foto dari Internet)

Pengajar Iya, Penulis Juga

BNI-Kompas Gramedia Goes to Campus di Universitas Bengkulu mengundang Frans Parera dan Anwar Holid untuk mengisi sesi penulisan buku untuk para dosen universitas itu pada Rabu, 2 Desember 2009.

BENGKULU - "Kalau ada ilmu tentang menulis kreatif yang benar-benar efektif, saya pasti bersemangat jadi orang pertama yang mempraktikkannya, biar karya saya juga cepat bertambah banyak," kata Anwar di hadapan sekitar empat puluhan dosen yang hadir.

"Roy Peter Clark bilang, 'Penulisan itu kemampuan yang bisa Anda pelajari.' Saya menyimpulkan pada dasarnya menulis itu merupakan kerja personal yang butuh pendekatan tertentu, namun tetap bisa dipelajari. Artinya, penulis harus menemukan sendiri cara terbaiknya ketika berkarya. Seorang penulis bisa saja hidup di tengah kerumunan komunitas, mendapat masukan,  dukungan, atau kritik dari kawan dan koleganya, tapi begitu mulai duduk menulis, dia harus melakukannya sendirian. Dalam kasus tertentu menulis memang merupakan kerja sama dua orang atau lebih maupun orang lain mengetikkan dikte seseorang, sesuai isi kepala atau cerita dirinya."

Biasanya menulis mengenal dua cara: pertama, menulis 'otomatis' (menulis bebas, free writing). Penulis melakukannya secara langsung, mengandalkan intuisi, mengalir begitu saja, asumsinya segala ide (gagasan) sudah terbayang dalam kepala. Dengan menulis otomatis, penulis diharapkan lebih bisa ekspresif menumpahkan atau melampiaskan perasaan. Penulis fiksi tidak hanya kerap menggunakan cara ini, penulis nonfiksi pun---ketika menggarap biografi, melakukan investigasi, atau mengisahkan ekspedisi---suka meminjam teknik ini. Penulis seolah-olah telah punya bayangan akan bercerita apa, dan itulah yang dia kejar dan terus dia tuangkan ke dalam kertas atau komputer.

Kedua, menulis dengan menyusun outline (garis besar) atau storyline lebih dulu; biasanya para jurnalis menggunakan teknik ini. Mula-mula penulis menentukan poin per poin subjek yang ingin dijelajahi, dan sambil berusaha menuntaskan paragraf demi paragraf, mereka mengolah data (bahan, informasi, wawancara, temuan lapangan) yang sebelumnya dikumpulkan. Dari sana juga dia menentukan alur tulisan, termasuk sudut pandang maupun keberpihakan (kecenderungan) penulis. Setelah jadi, kemudian mengolah sekali lagi agar menjadi artikel yang mantap dan memuaskan. Bagi penulis, outline bermanfaat untuk membimbing penulisan agar tetap dalam jalur benang merah yang padu; bagi sebagian orang, cara ini memudahkan, karena segala kebutuhan menulis sudah tersedia.

Di dalam Writing Tools (2006) Roy Peter Clark menyarankan agar penulis memecah proyek penulisan yang besar dan menyita energi jadi bagian-bagian kecil agar lebih mudah diselesaikan. Di awal penulisan draft, tulislah sebebas mungkin, kendurkan kritik terhadap diri sendiri, jelajahi segala kemungkinan terhadap subjek yang ingin dikejar. Jauh lebih penting disiplin menyelesaikan draft dulu daripada mengejar kesempurnaan  teks. Memoles dan mengedit tulisan merupakan urusan belakangan setelah seluruh isi kepala tercurahkan sederas-derasnya. Baru setelah merasa puas dan tuntas, periksalah hasilnya---kalau bisa bersama orang lain, lebih khusus lagi dengan editor.

Agar target penulisan lebih segera tercapai, amat penting untuk menulis sedikit demi sedikit secara rutin setiap hari. Konsistenlah dengan kebiasaan itu. Misal Anda hanya bisa menulis selama satu jam setiap hari setelah shalat subuh, lakukanlah. Kasarnya: bila Anda bisa menulis satu halaman bersih setiap hari, pada hari ke-365 minimal Anda punya sebuah draft naskah yang sudah cukup untuk dibaca ulang atau ditilik-tilik lagi kemungkinan penerbitannya.

BILA sudah siap menawarkan naskah pada penerbit, carilah penerbit yang kira-kira cocok untuk naskah Anda. Bila Anda menulis buku ajar (textbook), penerbit perguruan tinggi lebih cocok buat Anda. Perguruan tinggi di Indonesia sudah banyak yang memiliki unit penerbit. Kalau naskah Anda lebih pantas dikonsumsi publik luas, jangan sungkan menawarkannya pada penerbit umum atau penerbit dengan kecenderungan khusus.

Frans Parera sangat menekankan pentingnya perkembangan penerbit universitas (university press). Dia memprovokasi para pengajar agar menjadi penulis saintifik (scientific writer). Universitas Bengkulu sendiri telah memiliki unit penerbit, yaitu UNIB Press, aktif sejak 2008, dan telah menerbitkan sejumlah judul. Sebagian pengajar pernah menerbitkan buku, menulis naskah buku ajar, tembus di jurnal ilmiah internasional, juga menjadi blogger. Namun masih ada yang rancu membedakan penerbit dan percetakan, sampai bertanya, "Kalau saya mau menerbitkan buku, berapa biaya yang harus saya keluarkan?"

"Berhubunganlah baik-baik dengan editor," saran Anwar. "Editor itu mewakili penerbit, bertugas menilai kelayakan naskah, memberi masukan baik terhadap isi naskah maupun bahasa, termasuk apa naskah itu punya peluang pasar atau tidak. Editor yang baik pasti sangat bermanfaat untuk mematangkan naskah. Sepengalaman saya bekerja sama dengan para editor, mereka berdedikasi betul untuk menghasilkan naskah yang berisi, memberi masukan cara menjelaskan sesuatu dan seterusnya sampai naskah itu pantas dikonsumsi khalayak."

Penerbit biasanya punya dua cara untuk mendapatkan naskah. Pertama menyeleksi tawaran naskah yang masuk ke kantor mereka; kedua mencari penulis yang mau mengerjakan tema-tema usulan mereka---karena bermaksud mengisi pasar dan sudah yakin pertimbangan pasarnya. Penulis bisa memilih mana yang cocok dengan keyakinan dan kebutuhannya. Sebagian orang memilih menerima order karena merasa dengan begitu naskahnya lebih punya kepastian terbit. Tapi sebagian penulis menolak bekerja seperti itu karena merasa subjeknya tak mereka sukai atau isinya bukan yang benar-benar mereka ingin tulis (tidak sesuai dengan hati nurani). Jika demikian, menulislah yang murni ke luar dari pikiran dan nurani Anda. Jika naskah itu bagus dan berbobot, kemungkinan besar ia bisa mendapat penerbit.

Satu hal yang juga harus juga kita sadari ialah bahwa penerbit dan buku punya tabiat dan nasib masing-masing. Langsung sukses itu jarang-jarang terjadi. Brian Hill dan Dee Power dalam The Making of a Bestseller meneliti bahwa kegigihan menjadi kunci utama keberhasilan para penulis sukses. Mereka gigih untuk terus berusaha menghasilkan karya bermutu.

Kadang-kadang, di luar keyakinan dan kerja keras semua pihak yang ikut terlibat, buku Anda ternyata gagal di pasar, diabaikan sama sekali oleh pembaca, terlalu cepat diretur oleh toko buku, atau sebaliknya malah dikecam habis-habisan oleh pembaca dan kritikus. Jangan berkecil hati. Lihat sisi baiknya. Tidak semua barang dagangan itu laku. Kadang-kadang petani gagal panen. Klien bisa mengeluh atas pekerjaan kita. Kegagalan bisa terjadi kapan saja. Pasti ada sejumlah faktor kenapa sebuah buku gagal, meskipun di awal-awal penerbitan semua pihak merasa yakin bahwa ia akan sukses. Bisa jadi buku itu tak mendapat publikasi sepantasnya dari penerbit, barangkali isunya sudah "lewat" dari perhatian massa, terbit di waktu yang salah, atau pembaca ternyata sukar memahami cara penulisan Anda. Meski awalnya selalu membuat sakit hati dan sulit diterima, semua buku penulisan dan teknik kreativitas selalu mengajarkan belajarlah dari kegagalan. Ambil masukan dari kritik paling pahit yang pernah Anda terima. Bertanyalah kepada editor, pembaca kritis, para ahli, atau bagian marketing kenapa kira-kira buku Anda sampai gagal.

"Jangan terlalu percaya pada jargon publish or perish (kalau tidak menerbitkan  buku, Anda akan hancur)," kata Anwar. "Saya hanya menyarankan Anda untuk menerbitkan naskah terbaik. Kalau tidak, lupakan dulu keinginan menerbitkan buku secara serampangan. Lebih baik kita rujuk atau gunakan dulu buku-buku bermutu karya orang lain. Jangan menambah sampah pikiran pada buku kita. Saya lebih setuju pada anjuran agar kalangan akademik mendayagunakan ilmu dan kemampuannya untuk mencerahkan publik---yang oleh Budhiana, seorang wartawan di Bandung, dinamai 'intelektual publik.'"

Kalangan akademik memang berpeluang besar memberi sumbangan kecerdasan kepada masyarakat luas. Cuma kendalanya pun cukup berat. Misal kalangan akademik kerap dituduh sulit mengubah cara penulisan yang terkenal kaku, kering, dan kurang imajinatif, sehingga gagal menarik perhatian kalangan pembaca lebih luas. Apa yang bisa kita lakukan? Bekerja samalah dengan editor, penerbit, atau penulis profesional yang bisa menyampaikan maksud dengan lebih jernih, lentur, dan imajinatif. Sebagian kalangan akademik beranggapan mereka memiliki standar istilah teknis tertentu yang bila diubah maka akan menurunkan kadar keilmiahan subjek tersebut. Benarkah tulisan ilmiah harus disampaikan lewat kalimat pasif yang  melelahkan, mempertahankan "objektivitas" kaku dan sama sekali mengabaikan subjektivitas? Anggapan ini mungkin perlu dibongkar lagi. Ada banyak cara segar untuk mengungkapkan gagasan.

Kalau tidak, belajarlah menulis secara populer, yaitu menulis dalam bahasa baku yang lebih bisa dipahami umum. Kuasailah bahasa dan seluruh perangkat komunikasinya. Bahasa punya standar tertentu yang membuatnya tetap berwibawa meskipun ia ditujukan pada khalayak umum. Hampir setiap media massa memiliki ruang untuk interaksi bagi kalangan terpelajar, misal ruang opini, dengan keterbacaan yang tetap tinggi. Kuasailah alat ungkap yang menarik, gunakan kalimat bertenaga, berani, bahkan kalau perlu provokatif, manfaatkan visualisasi, berdayakan imajinasi, eksplorasilah berbagai kemungkinan baru cara komunikasi efektif, biar maksud kita sampai dengan lebih baik lagi. Buku-buku otoritatif tentang upaya menulis lebih baik, membuat pembaca terpesona dan terlibat dalam tulisan sekarang cukup banyak tersedia di toko buku. Kalau tidak, berlatih dan belajarlah dari karya-karya yang  bagus atau penulis favorit kita masing-masing. Biasanya dari sana kita juga bisa menemukan seperti apa ciri tulisan  yang bagus itu.

Seberapa penting menulis buku bagi seorang dosen, peneliti, maupun akademikus? Yustikasari, seorang pengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, Bandung, menyatakan: "Menulis buku penting sebagai salah satu media untuk transfer ilmu. Dengan menulis, baik artikel dan buku sesuai dengan bidang ilmunya, penghargaan dari perguruan tinggi biasanya berupa tambahan kum (nilai) untuk naik pangkat." Bila semata-mata untuk kum dan naik pangkat, Frans Parera menilai alasan itu "sangat egoistik" karena mengabaikan perasaan dan aksesibilitas pihak lain terhadap bacaan.[]12/3/09

Anwar Holid, editor, penulis, dan publisis. Blogger @  http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.

Copyright © 2009 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid

Situs terkait:
http://www.gramedia.com

No comments: