Monday, September 06, 2010

[BUKU INCARAN]

Percayalah Padaku, Aku Seorang Detektif Ekonomi
---Norman Satya

Detektif Ekonomi - Kisah Tersembunyi di Balik Harga Produk, Pasar Saham, Perdagangan Bebas, dan Ekonomi Sehari-hari
Penulis: Tim Harford
Penerjemah: Alex Tri Kantjono Widodo
Penerbit: GPU, Juli 2009 
Tebal: 416 hal.; 13.5 x 20 cm 
ISBN : 978-979-22-4784-8
Kategori: Nonfiksi; Bisnis-Ekonomi, Manajemen, dan Investasi
Harga: Rp 60.000,-


Mari menjelajahi dunia ekonomi yang biasa kita sentuh sehari-hari. Tim Harford mengajak kita untuk menemukan jawaban atas sejumlah pertanyaan yang ada di dalam benak. Bahkan sangat mungkin Anda pun akan mengajukan beberapa pertanyaan kritis setelah membaca buku ini. Sang penulis buku ini akan membawa Anda bepergian masuk ke pedesaan hingga perkotaan modern. Dari negara paling miskin menuju negara yang saat ini berpeluang melangkahi Amerika Serikat di bidang keberdayaan ekonomi.

Mari kita mulai dari pertanyaan: mengapa harga cabai yang Anda beli pada minggu-minggu awal menuju bulan puasa bisa menjadi begitu mahal? Mengapa harga sebidang tanah di kota bisa lebih mahal daripada harga satu hektar tanah di desa? Atau mungkin juga mengapa orang-orang berotak brilian dihargai dengan gaji selangit?

Satu hal yang dapat kita temukan dari penjelasan Tim ialah bahwa kelangkaan memiliki kuasa - the power of scarcity. Semakin langka suatu barang, maka semakin mahal harga barang tersebut. Apakah selalu seperti itu? Tidak. Harus kita lihat dulu apa barang tersebut berharga, dan untuk siapa barang tersebut dianggap berharga. Contoh sebidang tanah yang subur.  Bagi sebagian orang sebidang tanah subur mungkin hanya tampak seperti kotak, tetapi bagi seorang petani sebidang tanah itu selayaknya emas.

Lalu berapa harga yang pas untuk tanah tersebut? Menentukan harga bisa menjadi faktor paling krusial yang bisa mendatangkan kerugian apabila harganya gagal bersaing dengan harga pasaran. Saat seorang memiliki kekuasaan atas kelangkaan suatu komoditas, bolehlah dia bebas menentukan harga. Orang-orang akan rebutan merayu sang pemilik untuk mendapatkan barang langka tersebut. Hei, tapi tunggu, pestanya tak akan bertahan lama karena orang lain ternyata meniru tindakan orang pertama. Kemudian diikuti orang kedua, ketiga, dan seterusnya hingga kejadiannya ialah barang yang awalnya langka sekarang jumlahnya menjadi terlalu banyak. Harganya? Tentu akan mengalami depresiasi hingga ke tingkat yang dapat diterima pasar. Saat inilah persaingan dimulai.

Sekarang mari kita pergi menuju kota metropolitian yang padat. Silakan mampir ke salah satu kedai kopi dan menikmati secangkir kopi di sana. Tim menganalogikan pikiran melalui kebiasaan membeli kopi di stasiun kereta bawah tanah di London. Kebiasaan ini melahirkan pertanyaan: mengapa harga kopi di satu stasiun dan stasiun lainnya berbeda? Kasus serupa terjadi pada convenience store (warung serba ada) yang terletak di dekat stasiun dan satunya lagi berada agak jauh dari stasiun.

Hasil investigasi dari sang ekonom yang sedang menyamar (the undercover economist) ini ternyata membuktikan bahwa lokasi pun memiliki nilai sendiri. Apa semata-mata tergantung lokasi? Tidak. Produk yang dijual pun harus memiliki daya saing. Sang ekonom menemukan fakta bawah harga secangkir kopi dengan rasa sama dari penjual yang berbeda di lokasi tertentu sanggup membuat Anda berpikir dua atau tiga kali sebelum membelinya. Tetapi gerai kopi itu nyatanya tetap bertahan dengan harga yang selangit itu. Mengapa? Sekali lagi, dia memiliki kuasa atas kelangkaan.

Jadi suatu kelangkaan akan menjadi kekuatan Anda dalam menjalankan usaha? Tidak juga. Konsumen saat ini sudah sadar atau lebih tepatnya disadarkan. Mereka kini bisa menolak membeli produk dari sebuah pabrik yang tidak membayar tenaga kerja (buruh) sesuai ketentuan atau kedapatan mempekerjakan anak-anak di bawah umur. Kejadian ini nyata, sudah menimpa salah satu produsen aparel (baju dan asesoris) olahraga ternama. Jadi apalagi yang penting? Kejujuran.

Tim kemudian mengajak kita merasakan kemacetan di kota besar. Kita di Indonesia dapat merasakan juga di Jakarta, Bandung, atau kota-kota besar lainnya. Cara Tim membeberkan masalah kemacetan ini agaknya sudah menyinggung kemacetan yang terjadi di mana sana. Berapa kerugian yang harus kita tanggung dari suatu kemacetan? Anda yang mengalami dapat menghitung. Namun siapa yang harus bertanggung jawab? Entahlah. Ada baiknya kita mengamati diri sendiri. Bagi orang-orang yang rutin setiap hari harus menempuh berkilometer aspal menuju tempat kerja dan kembali lagi, masalah ini sangat sensitif. Tapi apa kita tetap mau peduli bila kenyataannya ternyata kita sendiri yang menyebabkan kemacetan itu? Hanya Anda dan juga saya yang dapat menjawabnya. Dengan jujur.

Penulis yang jadi anggota dewan editor Financial Times ini menyodorkan solusi untuk mengatasi kemacetan sebagaimana pernah diterapkan pemerintah Inggris, yaitu dengan membebankan pajak amat tinggi terhadap kendaraan bermotor, hingga hanya sejumlah orang kaya yang dapat membayarnya. Kemudian menerapkan tarif harga bahan bakar yang mahal. Apa kebijakan ini efektif? Tidak juga. Hingga pada satu saat dunia disadarkan tentang pentingnya mengelola efek negatif dari kemajuan industrialisasi, yaitu emisi karbon.

Dari masalah kuasa kelangkaan, persaingan, penentuan harga, kejujuran, dan kemacetan yang entah itu tanggung jawab siapa, kita berlanjut ke masalah kemiskinan. Kita juga akan membahas lawan dari kemiskinan. Kamerun dijadikan contoh sebagai negara miskin yang hingga saat ini masih berenang dalam kemiskinan. Sebaliknya Republik Rakyat Cina sudah mampu melewati arus dan berenang ke daratan untuk dapat mendaki hingga ke puncak gunung tertinggi.

Membandingkan Kamerun dan Cina sungguh tepat mengingat kondisi Kamerun ternyata tetap begitu-begitu saja selama tiga dasawarsa terakhir, sedangkan Cina sudah jauh meninggalkan Kamerun dalam hal kemiskinan. Cina mampu memanfaatkan kondisi tertutup negara itu. Selayaknya sebuah dam, akhirnya tampungan air itu mendobrak dan menguasai dataran kering di sekelilingnya. Kesejahteraan rakyat Cina di bawah pemerintahan Ketua Mao tidak lebih baik dari kondisi rakyat di Kamerun. Pemerintahan pun bertransisi saat Deng Xiao Ping mulai memimpin. Melalui evolusi dan perbaikan sistem, Cina secara bertahap akhirnya mampu mengentaskan korupsi yang menggerogoti negaranya dan menciptakan sistem produksi dan administrasi yang jauh lebih efisien dari sebelumnya. Dari hanya ber-evolusi, Cina mampu membawa dirinya dan dunia ke tingkat revolusi. Agaknya wajar bila sejak dulu ada ungkapan, "belajarlah hingga ke negeri Cina."

Detektif Ekonomi mampu mengungkap dan menyajikan berbagai informasi penting yang selama ini tertutup bagi banyak orang demi kejujuran dan tanggung jawab sosial perusahaan. Tim Harford tidak hanya menyajikan pandangan dari kacamata ekonom, tetapi juga pandangan pebisnis. Pebisnis ialah pelaku perekonomian. Para ekonom dapat dikatakan mengelola situasi makro perekonomian. Pemerintah memainkan peran sesuai kebijakan sistem ekonomi yang diterapkan di negaranya masing-masing. Pemerintah pun mustahil melepaskan tanggung jawab demi menyejahterakan rakyat, memberlakukan tata cara untuk membatasi bisnis dari praktik yang dapat merugikan warga negaranya.

Mungkin setelah membaca buku ini Anda akan bertanya-tanya penasaran, mengapa sebuah negara yang kaya sumber daya alam malah gagal memperkaya diri sendiri untuk kesejahteraan masyarakatnya. Mengapa sebuah negara yang mampu menghasilkan kopi dan tembakau terbaik di dunia tidak mengatur harga kopi dan tembakaunya sendiri? Kemudian secara kritis Anda akan bertekad: apa yang dapat saya perbuat untuk negara saya.[]

Norman Satya ialah mahasiswa Jurusan Manajemen Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Situs terkait:
http://www.gramedia.com

No comments: