Wednesday, September 01, 2010



[PUBLISITAS]

Merasakan Kehadiran Tuhan Demi Meraih Kebahagiaan
---Anwar Holid


JAKARTA - Sekelompok wanita memasuki ruang tempat Ngabuburit Bersama Arvan Pradiansyah diadakan di toko buku Gramedia Matraman, Sabtu, 28 Agustus 2010. Beberapa di antara mereka memperlihatkan simbol agama yang jelas. Seorang perempuan berkalung salib, lainnya mengenakan jilbab. Di ruang itu tampak Budiman Sujatmiko tengah diwawancarai; terdengar sekilas ceritanya di masa-masa menjelang Reformasi. Sebelum acara dimulai, Arvan Pradiansyah berkali-kali disapa sejumlah orang, termasuk dimintai tanda tangan pada buku-buku karya Arvan yang mereka miliki.

Ruangan sudah penuh ketika ngabuburit berisi acara launching dan talkshow buku terbaru Arvan Pradiansyah You Are Not Alone (Elexmedia, 252 hal., Rp.52.800,00) dimulai. Riri Artakusuma, sang pemandu acara, mengawali hajatan dengan menanyakan maksud Arvan menulis  buku tersebut. "Buku ini bicara tentang perubahan," demikian kata penulis yang juga dikenal sebagai ahli SDM dan pembicara publik ini. "Saya ingin menulis buku yang dapat mengirimkan pesan kuat untuk memprovokasi pikiran orang agar dapat berubah menjadi lebih baik," tegas Arvan. Akhir-akhir ini dia rupanya prihatin dengan Indonesia yang digelari sebagai negeri mafia. Tidak ada satu pun lembaga penegakan hukum di negeri ini yang bersih dari korupsi.

Apa gagasan tentang Tuhan dan kebahagiaan akan mampu mengubah orang? Kita bisa simak dari komentar para hadirin. Mereka mayoritas telah familiar dengan Arvan Pradiansyah, baik dari radio maupun buku-bukunya. Seorang manajer cerita bagaimana dia suatu mendengar penuturan Arvan di radio dan penasaran dengan karyanya. Waktu itu buku terakhir Arvan ialah The 7 Laws of Happiness (Kaifa, 2008). Dia membeli buku itu, membacanya, terkesan, dan akhirnya menghadiahkan buku itu kepada rekannya. Dia bilang, "Ini buku bagus. Baca deh." Rekan dia rupanya jauh lebih terkesan lagi oleh buku itu dan kemudian malah menyebarkan ide isi buku itu pada sejumlah rekan lain, sampai membuat manajer tersebut akhirnya merasa kehilangan buku itu dan akhirnya terpaksa beli untuk kedua kali. Kali ini dia melangkah lebih jauh: dia menerapkan sejumlah workshop yang bisa dipraktikkan dari buku itu di dalam perusahaan dan anak buahnya.

Secara konseptual, Arvan memang telah menuangkan ide mengenai spiritualitas dan kebahagiaan di dalam The 7 Laws of Happiness. Syarat utama kebahagiaan yaitu sabar, syukur, sederhana (kemampuan menangkap esensi), kasih, memberi, memaafkan, dan puncaknya kemampuan berserah diri dan percaya seratus persen kepada Tuhan (pasrah) sudah mengandung esensi spiritualitas yang kental. Tema ini telah dia eksplorasi. You Are Not Alone makin menegaskan betapa spiritualitas menjadi prasyarat untuk merasakan kehadiran Tuhan maupun demi meraih kebahagiaan. Untuk memudahkan penelusupan ide-idenya, Arvan mengawali setiap bab dalam buku ini dengan kisah. "Saya menyarankan Anda baca satu artikel per hari. Jangan langsung semua, biar tidak mabuk. Agar Anda lebih bisa meresapi makna isinya," demikian ucap Arvan.

Arvan menyebut ada lima poin yang ingin dia nyatakan dalam buku ini, yaitu:
1. Tuhan itu dekat, dia ada bersama kita setiap saat.
2. Percaya Tuhan itu tidak sama dengan beriman, buktiknya ada banyak orang mengaku percaya pada Tuhan tapi perilakunya justru kontradiktif dengan keimanan.
3. Melakukan kejahatan itu sama dengan kafir.
4. Mengajak agar pembaca cerdas secara spiritual (memiliki spiritual quotient).
5. Puncak dari penghayatan manusia kepada Tuhan ialah cinta (kasih sayang).

Dalam You Are Not Alone, Arvan berkali-kali menjelajahi topik sensitif, misal dia menyatakan bahwa religius saja belum cukup, orang beragama belum tentu baik, memilih antara orang beragama atau orang baik, sampai pertanyaan apa agama itu merupakan keharusan atau kebutuhan? Spiritualitas pasti membicarakan Tuhan, sumber kebahagiaan itu sendiri. Tuhan yang dimaksud bersifat universal, tidak mengacu pada definisi ajaran agama tertentu. Itu sebabnya para hadirin dalam acara ini sangat beragam, datang dari berbagai latar belakang. Dalam konteks ini, spiritualitas tampak lebih luas dan mampu menampung banyak orang daripada agama formal tertentu. Bila pendekatannya sempit, hitam-putih, hanya berupa larangan dan perintah agama bahkan telah berkali-kali memperlihatkan sisi wajahnya yang mengerikan. Orang bisa atas nama Tuhan menghancurkan agama yang berbeda.

Arvan berpendapat idealnya spiritualitas mampu mengubah paradigma seseorang dan melahirkan kebaikan baru kepada orang lain. Pendapat ini sesuai dengan pernyataan Viktor Frankl (1905-1997) bahwa orang yang berhasil menemukan makna kehidupan memiliki niat lebih mulia untuk bertahan hidup; ia merasa bahwa dirinya "penuh."

Respons publik terhadap You Are Not Alone terbukti antusias. Seorang staf sales Elex menyatakan penjualan buku-buku Arvan di Gramedia Matraman saja sangat bagus; dalam seminggu bukunya rata-rata terjual 6-7 eksemplar. Menjelang akhir Agustus 2010 buku tersebut sudah cetak ulang.[]

Copyright © 2009 oleh Anwar Holid

Situs terkait:
http://www.elexmedia.co.id
http://www.ilm.co.id
Arvan Pradiansyah juga berinteraksi di http://www.facebook.com

No comments: