Tuesday, December 28, 2010


[RESENSI]
Spiritualitas, Esensi Beragama
---M. Iqbal Dawami
Seputar Indonesia, Sabtu, 25 Desember 2010

KETIKA manusia mengalami peristiwa dahsyat yang bakal merenggut nyawanya,seketika itu pula dia membutuhkan kekuatan di luar  dirinya,yaitu Tuhan, yang bisa menyelamatkannya.

"Benar gak sih masih ada Tuhan dalam diri kita? Coba Anda tes dengan mengunjungi Gunung Merapi...Pasti Ada Tuhan!" Begitu bunyi status  Facebook seorang teman saat kejadian erupsi Gunung Merapi yang memakan korban jiwa. Status tersebut mengindikasikan ketika seseorang  dihadapkan pada musibah, biasanya manusia sadar bahwa mereka membutuhkan pertolongan Tuhan. Stalin, seorang tokoh komunis  Rusia, secara tidak langsung mengakui juga adanya Tuhan. Arvan Pradiansyah dalam buku You Are Not Alone mengisahkannya. Waktu itu Stalin bersama  rombongannya tengah berada di dalam pesawat, tiba-tiba pesawatnya mengalami kerusakan parah tepat di atas pegunungan.

Tak ayal, Stalin merasakan ketakutan yang luar biasa dan secara spontan dia berkata, "Tuhan, tolonglah aku!" Kisah Stalin itu menandakan  bahwa di dalam bawah sadar seorang ateis sekalipun terdapat kesadaran mengenai keberadaan Tuhan. Peristiwa dahsyat yang merenggut nyawa bisa menghentakkan kesadaran manusia akan keberadaan dan kekuatan Tuhan.

Lewat buku ini Arvan memberikan pesan bahwa  manusia senantiasa diperhatikan Tuhan.Tuhan selalu ada dalam kancah kehidupan manusia. Kehadiran Tuhan itu terejawantahkan lewat  agama. Hanya saja kemudian Arvan merenungkan, mengapa sebagian manusia beragama yang notabene memercayai adanya Tuhan tidak kunjung berkelakuan baik?

Mengapa agama seolah tidak berhasil membuat penganutnya menjadi orang yang baik? Mengapa Indonesia yang dikenal sangat religius  sekaligus juga dikenal sebagai negeri terkorup di dunia? Mengapa kita juga memperoleh predikat nomor dua untuk pornografi dan nomor tiga  untuk masalah narkoba?
___________________________________________
DETAIL BUKU

You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan KebahagiaanPenulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Elex Media Komputindo, 2010
Halaman: 252 hal., soft cover
ISBN: 978-979-27-7918-9      
Harga: Rp.52.800,-
___________________________________________

Agama Minus Spiritualitas

Arvan mencoba mencari akar penyebab perihal pertanyaan-pertanyaan di atas. Salah satu penyebabnya adalah manusia kerap kali  beragama,tapi minus spiritualitas. Padahal, esensi beragama sejatinya adalah spiritualitas. Inti spiritualitas adalah bagaimana menjadi orang  baik. Adapun landasan kecerdasan spiritualitas adalah kesadaran akan kehadiran Tuhan: dalam setiap situasi merasa selalu dilihat Tuhan dan  merasakan kebersatuan dirinya dengan Tuhan [hal. 7-8]. Kesadaran spiritual di atas membuat Arvan yakin bahwa masalah yang terjadi dalam hidup kita bisa selesai dengan sendirinya.

Betapa tidak, ketika seseorang demikian dihadapkan pada persoalan, dia akan langsung ingat Tuhan. Jika melakukan perbuatan buruk, dia  sadar bahwa dia akan mengecewakan Tuhannya yang senantiasa memperhatikannya dari waktu ke waktu. Sayangnya, kata Arvan, agama  sering kali terpisah dari spiritualitas. Sembari mengutip pendapat John Naisbitt, Arvan mengatakan pada abad ke-21 ini agama semakin kurang  diminati orang, sebaliknya orang semakin berminat terhadap spiritualitas. Minat ini tentu saja didorong kebutuhan untuk mengisi spiritualitas  kita yang semakin lama semakin kering karena percepatan kehidupan. Di sinilah terletak masalahnya: agama semakin terpisah dari  spiritualitas, padahal sebenarnya spiritualitas itulah inti dari keberagamaan seseorang [hal. 112].

Melalui buku ini Arvan mengajak pembaca untuk beragama secara spiritualitas. Spiritualitas merupakan kebutuhan manusia yang sangat  mendesak sekarang ini. Kita butuh tempat yang kokoh untuk bersandar, sesuatu yang memberikan ketenangan, kepastian, dan ketenteraman  yang sejati. Adapun efek dari beragama plus spiritualitas adalah rasa cintanya kepada sesama manusia. Manusia beragama seperti itu akan  senantiasa menghadirkan Tuhan dalam kesehariannya seperti pada saat bekerja dan berinteraksi dengan orang lain. Tuhan selalu hadir dalam  dirinya, dalam gerak langkahnya, dan dalam segala hal yang dilakukannya.

"Agama spiritualis" yang digagas Arvan ini sejatinya mirip dengan konsep tasawuf Ibnu Arabi, sufi-filsuf Andalusia, yaitu "tajalli." Kata "tajalli"  berarti "penampakan diri Tuhan" yang bersifat absolut dalam bentuk alam yang bersifat terbatas. Dengan kata lain, Tuhan seolah-olah telah  menyatu kepada orang yang telah mengalami mukasyafah (merasakan kehadiran Tuhan). Karakter dan kepribadian mereka dipenuhi sifat-sifat  Tuhan, seperti mencintai, menyayangi, menolong, dan sebagainya. Tampaknya buku ini tepat sekali untuk menjadi obat dari tiga penyakit jiwa  masyarakat modern, sebagaimana dikatakan Sayyid Hossein Nasr, yaitu kehilangan orientasi ilahiah, kehampaan spiritual, dan degradasi  moral. Setiap pembahasan dalam buku ini dibuka dengan kisah-kisah yang segar, menarik, kadang berhumor, tapi sarat hikmah dan nilai-nilai  kebajikan.

Bentuk kisahnya pun beraneka ragam dalam pelbagai macam gaya. Namun,semuanya menarik pembaca kepada renungan-renungan soal  ketuhanan dan kebahagiaan. Terdapat kekuatan besar dari pelbagai kisahnya. Jika kita membaca buku ini dengan penuh penghayatan  mendalam kemudian mengamalkan pesan-pesannya, kita akan mendapatkan perubahan pikiran dan perilaku yang positif. Buku ini sangat  relevan dengan situasi yang ada sekarang.(*)

M. Iqbal Dawami, bergiat di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Yogyakarta.