Kaya belum tentu disayang Tuhan, miskin belum tentu disengsarakan Tuhan
---Anwar Holid
"Tahu enggak, Tuhan lebih sayang ke aku daripada ke pembantuku," begitu klaim orang kaya pada temannya yang jauh lebih miskin.
"Gimana kamu bisa segitu yakin?" sangsi si orang miskin.
"Karena Tuhan lebih sering mengabulkan doaku daripada permintaan pembantuku," tegas si orang kaya.
"Buktinya apa?"
"Loh, aku dulu berdoa minta rumah, sekarang aku punya rumah bagus. Aku minta mobil, Tuhan mengabulkan permintaanku. Sementara pembantuku untuk memperbaiki rumahnya yang kecil aja sampai sekarang tidak bisa!" jelas orang ini tenang.
"Anjrit!" semprot si orang miskin, "jadi kamu menyamakan Tuhan sama dengan bank? Yang hanya mau ramah melayani orang karena tahu mereka bisa membuat dirinya juga kaya? Enggak lagi. Tuhan bukan rentenir yang akan menggunakan debt collector kalau kamu enggak bisa bayar utang!"
"Hei, aku dan pembantuku sama-sama berdoa, tapi hasilnya beda. Jelas Tuhan lebih sayang ke aku."
"Kamu kira Tuhan pilih kasih?" sengit si orang miskin. "Tahu enggak, pembantumu lebih miskin bukan karena Tuhan mengabaikan atau tidak menyayangi dia. Dia miskin karena GAJI DARI KAMU enggak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk memperbaiki rumahnya! Kamu terlalu pelit menambah sebagian rezeki untuk dia, sementara yang kamu simpan dan belanjakan sendiri terlalu banyak dengan alasan itu adalah hak kamu."
Si orang miskin ini rupanya masih sedikit lebih kaya daripada pembantu si orang kaya, karena itu barangkali dia bisa membantah ucapan lawan bicaranya.
"Kalau kamu yakin Tuhan lebih sayang ke kamu hanya karena kamu kaya, gimana dengan banyak orang yang jauh lebih beriman dari kita tapi hidupnya melarat dan dianggap hina dina?"
"Misalnya siapa?"
"Banyak. Kamu pikir Isa Almasih lebih kaya dan makmur dari kamu hanya gara-gara dia lebih beriman kepada Tuhan? Enggak. Dia tidur berbantal batu, enggak punya kekayaan. Dia melayani tanpa ada yang bayar. Dia tergerak bukan karena dipanggil perusahaan untuk ngasih motivasi. Dia melakukan itu demi melaksanakan panggilan saja. Yahya, yang membaptis Isa, lebih parah. Kepalanya dipenggal. Hidup Ayub morat-marit, lebih buruk kondisinya dari pembantu kamu. Dia penyakitan dan ampun-ampunan kere. Yunus kalah taruhan dan dilempar ke laut, terus dicaplok ikan paus."
"Ha ha... gimana dengan Sulaiman? Dia hamba Tuhan yang taat, beriman, dan dia juga raja, jadi orang paling kaya di dunia yang pernah ada. Bukankah itu bukti Tuhan sangat sayang sama dia?"
"Bukan. Sulaiman kaya karena dia anak Daud, jenderal perang sekaligus seorang raja. Dia kaya sejak orok. Mencretnya aja mungkin bijih emas. Coba kalau dia anak petani, aku yakin dia jadi penggembala. Isa Almasih berasal dari keluarga tukang kayu. Enggak ada cerita dia pernah punya cawan emas. Tapi dengan kepapaannya dia bisa ngasih roti kepada umatnya. Kamu dengan kekayaanmu tidak bisa menyejahterakan pegawaimu!"
"Jadi kamu yakin orang bisa kaya karena keturunan, bukan oleh usahanya sendiri?"
"Itu cuma salah satu faktor. Aku cuma ingin bilang, kasih sayang Tuhan, kekayaan, atau dan iman itu bisa jadi enggak ada korelasinya . Sebagian orang beriman ternyata sangat miskin dan hidupnya terhina. Banyak penjahat, tidak beriman, dan abai pada Tuhan punya kekayaan lebih hebat dan hidupnya terhormat---bahkan ada yang berani mengaku diri sebagai Tuhan. Jangan menghakimi iman orang atau kasih sayang Tuhan dari kekayaannya."
"He he he.. kamu bilang begitu karena frustrasi kesulitan menambah pendapatan."
"Mungkin," aku si orang miskin. "Tapi aku tidak geer merasa lebih dicintai Tuhan hanya karena aku lebih kaya dari tukan antar atau tukang sampah di RT-ku. Aku juga tidak merasa lebih disengsarakan Tuhan hanya karena kondisi ekonomiku lebih parah dari kamu. Aku lebih yakin kamu bisa kaya karena kamu lebih pintar cari uang dan orang mau bayar lebih besar dari aku. Aku belum bisa seperti itu dan aku mau dibayar sekadarnya. Kamu enggak mau seperti itu."
"Halah, bilang aja tarif kamu murah! Enggak ada orang yang mau bayar kamu lebih besar, karena kamu memang enggak punya nilai lebih."
"Kadang-kadang aku dibayar cukup mahal, tapi menurutku itu bukan tanda bahwa Tuhan lagi sayang atau kasihan sama aku. Itu cuman karena orang mau mengeluarkan uang lebih besar daripada yang kamu lakukan ke pembantu kamu. Itu cuman menunjukkan kebaikan seseorang ke aku, bukan membuktikan kasih sayang Tuhan."
"Aku memberi gaji sesuai pekerjaan pembantuku, bukan berarti aku tidak mampu atau tidak mau. Uang ada. Tapi aku mendidik orang biar mendapat sesuai yang diusahakannya. Biar adil."
"Ha ha... justru di situ persoalannya, bung! Apa kamu pikir adil seperti itu yang dipraktikkan Tuhan? Tuhan bukan manajer yang rewel soal gaji dan uang! Tuhan bisa memberi kekayaan gilai-gilaan kepada diktator paling jahanam yang pernah ada di dunia, meski diktator itu pasti gengsi mengakuinya. Itu kalau kamu tetap menganggap bahwa kekayaan memang benar-benar dipengaruhi sentimen Tuhan atau ada hubungannya dengan iman. Kalau kamu mau memberi rezeki kepada orang tanpa perhitungan, orang lain bisa semakmur kamu. Tuhan tidak mencelakai ciptaannya hanya gara-gara dia tidak beriman. Tuhan tidak sependendam itu."
"Buat apa aku memberi orang sesuatu yang bukan haknya?"
"Biar dia bisa memperbaiki rumah seperti cerita kamu, misalnya. Biar kamu bisa bilang bahwa Tuhan juga sayang sama orang itu, meski dia tidak punya akses atau kemampuan sehebat kamu."
"Nanti orang itu tidak tahu terima kasih dan rasa bersyukur dong?"
"Apa urusan kamu dengan beryukur atau beriman? Bukannya itu urusan orang dengan Tuhannya? Kenapa kamu merasa perlu menghakimi orang? Kamu belum pernah jatuh segitu miskin sampai melihat semua orang lebih kaya dari kamu dan merasa pantas dikasihani. Begitu kesulitan ingin mendapat sesuatu. Kamu belum pernah segitu terhina sampai semua orang melihat kamu sebagai pesakitan yang pantas untuk disingkirkan dan kamu berdoa agar orang-orang itu dibinasakan Tuhan."
"Jangan keterlaluan bung! Buat apa aku minta Tuhan membinasakan orang lain yang menghina aku?"
"Untuk membuktikan bahwa Dia sayang kamu. Bukankah kamu yakin kalau seseorang dekat atau disayang Tuhan dia bisa minta apa saja, termasuk yang gila-gilaan atau kata orang ajaib? Dan Tuhan tidak akan keberatan dengan permohonannya, apa pun itu."
"
Obrolan berakhir menggantung. Si orang kaya aneh kenapa ada orang sesengit ini bisa yakin bahwa Tuhan tidak punya pengaruh pada kehidupan seseorang. Pikirannya mendadak melantur kapan dia terakhir kali merasa kelaparan. Waktu puasa? Atau waktu diet karena dokter memerintahkannya waspada terhadap asam urat di tubuhnya? Sementara itu pikiran si orang miskin mengawang-awang atas keinginannya yang kandas. Tapi ada doanya yang lebih besar, dia ingin Tuhan membuatnya berhenti menginginkan sesuatu yang tidak dia butuhkan atau tidak dimiliki, dan mencukupi sesuatu yang menurutnya pantas diterima.
Apa kekayaan adalah bukti bahwa seseorang disayang Tuhan?[]
Anwar Holid, bersyukur atas kesederhanaan, berusaha tabah atas rasa nelangsa.
Showing posts with label no pity for me (usaha relaks sempurna). Show all posts
Showing posts with label no pity for me (usaha relaks sempurna). Show all posts
Wednesday, May 16, 2012
Friday, February 26, 2010
[halaman ganjil]
no pity for me (usaha relaks sempurna)
---anwar holid
all you need is just a little patience
--guns n' roses
kadang-kadang ada berita seorang eksekutif perusahaan besar punya hobi off-road dengan mobil 4X4-nya. atau ceo institut anu tiap minggu melaju dengan kendaraan mewahnya. seorang manajer rutin bergabung dengan kawan-kawan komunitasnya, bisa jadi dalam keadaan yang amat lain dengan perilaku dia sehari-hari di tempat kerja. atau yang rada nyeni, seorang pekerja level atas punya hobi ngeband memainkan musik etnik. lainnya hobi mancing di laut, yang bisa dia lakukan sehabis kerja semingguan di kantor instansi pemerintahan.
entah kenapa setiap kali baca hal semacam itu, aku jadi membatin: emm... kayaknya asyik punya hidup relaks seperti itu. bisa jadi sebenarnya aku pun punya sisi itu. dulu, di sela-sela hidup biasaku, kadang-kadang aku suka beli kaset atau cd atau buku. jadi tiap kali ke kota lain, aku suka sengaja beli kaset atau cd lagu daerah setempat atau buku yang menurutku asyik sebagai tanda. ternyata, seiring waktu dan ditindas kebutuhan kehidupan, koleksi itu akhirnya lepas juga. aku enggak mati-matian mempertahankannya. kini rasanya aku enggak punya koleksi yang berharga lagi---kecuali sejumlah buku yang kadang-kadang oleh istriku diminta agar disumbangkan juga, apalagi yang menurutnya tersia-siakan di rak.
dulu, aku merasa termasuk sering ke luar-masuk galeri, menghadiri pembukaan atau diskusi seni rupa. kadang-kadang kepikiran ingin juga memiliki karya-karya itu, apalagi kalau menurutku bagus. tapi rupanya aku naif, waktu tahu betapa karya-karya itu mahal, tak terjangkau sama sekali oleh keuanganku, bahkan para penjaga galeri itu ternyata lebih suka kalau yang masuk itu adalah orang yang beli benda seni, bukan orang yang cuma lihat-lihat dan berusaha menghabiskan makna keindahannya di tempat nyaman mereka---karena itu terlalu sulit dinilai dengan uang. seniman juga begitu. aku lihat mereka memperlakukan orang yang potensial mau beli karyanya secara lebih istimewa, daripada menanggapi orang sok penasaran dan tanya ini-itu hanya karena bodoh dan tengah terbangkitkan gairah seninya. ternyata memang amat lain antara seorang "penggemar seni" dengan "pembeli benda seni." penggemar seni enggak bisa memutar benda seni jadi komoditas, sementara pembeli bisa.
aku sendiri menganggap hobiku murahan, meski kalau mau dicari tentu ada yang lebih murah lagi, apalagi pada kasus yang lebih mengenaskan. tapi dibandingkan hobi para eksekutif, manajer, kepala bagian itu, hobi mereka jelas gila-gilaan biayanya. dan yang terbayang dalam kepalaku: berapa mereka sisihkan pendapatan demi kesenangan itu? soalnya aku sudah membuktikan hal sebaliknya: yaitu justru mengorbankan kesenangan untuk menyumpal kebutuhan hidup---apalagi bila itu terpaksa dilakukan. mari bayangkan contoh orang yang suka mancing di laut: berapa biaya berangkat menuju pantai, berapa harga sewa kapal, berapa ongkos alat pancing, konsumsi, dan seterusnya. tentu sebagai orang baik, kita berharap pehobi ini sudah mengalokasikan pendapatannya buat istri dan anak (kalau dia punya) dan dia tidak korupsi untuk memenuhi kesenangan itu, artinya alokasi itu memang murni suka rela dia sisihkan dari pendapatannya. maka yang terbayang ialah: alangkah banyak jumlah pendapatan dia untuk berbagai keperluan itu. sedangkan aku dengan nelangsa merasa bahwa pendapatanku masih sedikit, sampai-sampai setiap kali sadar bahwa uang itu habis, aku hanya melongo sambil membatin: rasanya baru sembilan hari lalu aku serahkan semua penghasilanku, bahkan tagihan bulanan pun belum sempat dibayar semua...
sudah beberapa tahun lalu aku menempelkan "17 Prioritas Keuangan Keluarga" dari Kompas di samping mata kananku, isinya ialah sebagai berikut:
1/ meningkatkan penghasilan keluarga
2/ membayar pajak
3/ menabung pada awal bulan, sebaiknya 30 % dari penghasilan
4/ batasi kebutuhan rutin keluarga
5/ siapkan tabungan darurat. sebaiknya jumlahnya minimal enam kali kali pengeluaran sebulan.
6/ hati-hati dengan kartu kredit. jika belum bisa membayar cicilan sebaiknya lupakan keinginan memiliki kartu kredit
7/ miliki asuransi jiwa
8/ siapkan dana pendidikan
9/ tetap miliki kemampuan hidup prihatin
10/ miliki investasi keluarga. keluarga bisa berinvestasi meski dengan uang sedikit
11/ siapkan biaya untuk kebutuhan membaca
12/ siapkan tabungan untuk membantu orang tua dan mertua
13/ biaya memiliki rumah. jika mencicil, sesuaikan cicilan dengan kemampuan keuangan. cicilan tidak lebih dari 30 % penghasilan
14/ bijak mengatur pengeluaran. hindari membeli sesuatu di luar kemampuan
15/ siapkan biaya rekreasi
16/ siapkan dana untuk pensiun
17/ siapkan wasiat dengan bijak
ha ha ha.... aku tertawa manyun. sebagian saran bijak itu rasanya absurd. BERAPA PENGHASILAN SESEORANG AGAR BISA SEMPURNA MEMENUHI 17 SARAN ITU? bayar pajak misalnya: ngapain harus bayar pajak, kalau utang-utang pun masih belum pada lunas? ini menyedihkan.
perhatikan no. 3: ini otomatis membuat penghasilan yang boleh dibelanjakan tiap bulan ialah 70 %; sementara poin ke bawah-bawahnya antara lain memaklumkan: sebaiknya punya tabungan darurat, jumlahnya minimal enam kali pengeluaran sebulan, dan jangan lupa alokasikan buat menabung dan investasi, dana pensiun, asuransi, kebutuhan tambahan, siap sedia bantu orangtua dan mertua, termasuk buat rekreasi. WADAW... kalau semua harus terpenuhi, bisa-bisa alokasinya hanya puluhan ribu per item per bulan. itu mustahil. misal: adakah asuransi pendidikan yang iuran per bulannya di bawah seratus ribu rupiah? tidak ada. aku sudah cek, di tahun 2009, rata-rata asuransi pendidikan biayanya minimum 250 ribu per bulan.
apa aku salah paham? kehilangan sesuatu? atau logikaku kacau?
walhasil, aku hanya paham empat poin:
1/ meningkatkan penghasilan keluarga
6/ hati-hati dengan kartu kredit. jika belum bisa membayar cicilan sebaiknya lupakan keinginan memiliki kartu kredit
9/ tetap miliki kemampuan hidup prihatin
14/ bijak mengatur pengeluaran. hindari membeli sesuatu di luar kemampuan
keempatnya nyaris tidak berhubungan dengan angka.
ah, apa hubungan hobi orang lain atau hobiku itu dengan 17 saran bijak bestari itu? cukup jauh memang. tapi yang kepikiran ialah: setelah bisa memenuhi kesenangan itu, terbayang dong berapa banyak uang yang masih bisa mereka bagi-bagikan untuk berbagai pos keperluan dengan jumlah memadai. rasanya aku bisa memastikan bahwa orang-orang itu tentu mudah memenuhi semua saran "17 Prioritas Keuangan Keluarga." benar? mungkin itulah orang yang hidupnya sudah dalam tahap "kebebasan finansial" dan pekerjaannya dengan sempurna mencerminkan slogan "simple work high income."
aku jelas iri dan sedih, sisanya mengeluh dan berusaha lega. tentu jijik banget kalau sampai terdengar berita bahwa orang yang membelanjakan uang untuk hobi itu ternyata ketahuan punya utang puluhan juta ke banyak orang, dan dia enggak niat bayar, atau dia rupanya dikejar-kejar debt collector. bukankah banyak muncul berita bahwa orang kaya tertentu ternyata punya kredit macet milyaran rupiah dan dia sudah lama jadi buron? sementara di sisi lain, dia tetap bisa menjalankan hobi, menjadi politisi, atau jadi penguasa dengan sempurna. sedangkan aku hanya bisa mikir-mikir: bagaimana itu semua bisa berlangsung dengan baik? dulu aku pernah baca ada seorang suami menghabiskan uang untuk kesenangan, tapi rupanya istri dan anak-anaknya tak kebagian, sampai istrinya berutang ke orang lain, menggadaikan harta lain mereka, akhirnya mereka terjerat utang yang jumlahnya keterlaluan buat ditanggung. bagaimana mungkin bisa terjadi hal tolol seperti itu? nah, bagaimana dengan orang yang memang punya begitu banyak harta, tapi ternyata dia penjahat ulung? aku tahu sebagian konglomerat ternyata enggak bayar kewajiban mereka. dalam sejumlah kasus perusahaan ketahuan tidak bayar honor dan royalti yang mestinya diberikan kepada rekan mereka, atau dapat dari tipu-tipu. begitukah cara mereka jadi kaya dan membebaskan diri dari penjara finansial? ah, ayo wartax. coba fokus. kamu tidak sedang ngomongin bagaimana cara orang dapat penghasilan. kamu sedang menulis betapa sejumlah orang membelanjakan sebagian penghasilan itu untuk hobi, dan keuangannya masih baik-baik saja. dan kamu heran bagaimana itu bisa begitu. apa karena penghasilan mereka masih terlalu banyak untuk dibagi-bagi?
rasanya kini aku hampir tak pernah ke galeri lagi untuk menikmati seni. aku juga sudah berhenti beli kaset. cd terakhir yang aku beli ialah cd musik bengkulu, waktu aku diundang gpu buat ke universitas bengkulu. setelah bertahun-tahun tidak masuk bioskop, film terakhir yang aku tonton ialah avatar---itu pun tertipu, karena aku pikir itu film tentang aang. kalau terpaksa, aku baru beli buku. aku kini lebih mengandalkan pinjam dari rumah buku atau lihat-lihat koleksi budi. aku merasa sudah berusaha "hidup prihatin," "membatasi pengeluaran dan menghindari beli sesuatu di luar kemampuan" tapi benteng pertahananku rupanya terlalu mudah jebol. artinya, kamu harus membangun lebih tangguh. harus lebih cerdas dan pintar. belajar taktis. mengambil hikmah. (terdengar seseorang berteriak: hikmah itu apa om?)
aku pernah dengar cerita ini: kalau kamu ingin membuat cipratan dahsyat di danau, lemparkan batu sebesar mungkin yang bisa kamu angkat ke sana. maksimalkan kekuatan kamu untuk mengangkatnya! ah, bagaimana kalau saking berat, aku malah kena encok atau patah tulang? lebih parah lagi: aku juga dimaki orang yang merasa terganggu oleh cipratan itu dan menilai perbuatanku merusak lingkungan, membuat ikan mati dan habitat hancur? kalau begitu bukankah lebih baik membiarkan danau tenang dan mendiamkan batu pada tempatnya, sementara aku bisa menghemat energi untuk menikmati keindahan, menghayati suasana, merasakan ketenangan? dengan begitu aku bisa relaks sempurna?
ah, wartax, kamu memang ironik![]
anwar holid lagi kelabakan dengan janji-janjinya editor, penulis, dan publisis.
situs terkait:
http://halamanganjil.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)

