Friday, October 14, 2005

[SELISIK]

Buku Setebal Bantal
>> Anwar Holid

APA yang bisa ditulis orang pada buku setebal 1492 halaman? Apa yang akan didapat pembaca dengan niat baik-baik menggumulinya?Saya menebus A Suitable Boy (Vikram Seth) dari Omuniuum setelah titip beli sekitar satu bulan. Itu adalah buku paling tebal yang pernah saya beli. Beberapa tahun lalu Watung A.B. menghibahi saya War and Peace (Leo Tolstoy), yang juga sangat tebal. A Suitable Boy bahkan lebih tebal lagi. Sebenarnya ada buku sangat tebal lain yang disarankan, yaitu Infinite Jest, karya David Foster Wallace---yang konon, karena belum lihat, memuat catatan kaki lebih dari 1000 halaman. Merriam-Webster's Encyclopedia of Literature juga sangat tebal; tapi untuk ensiklopedia satu volume, itu sangat biasa.

Tentu menggelikan mencatat buku semata-mata karena tebal.

Tapi ada novel yang lebih tebal dari A Suitable Boy. Dalam Wonder Boys (film adaptasi novel karya Michael Chabon) diceritakan ada penulis yang sudah mengetik naskah lebih dari 2000 halaman, dan dia belum tahu kapan ceritanya bakal berhenti. Yang bakal kerepotan, meski senang, adalah penyunting. Tapi naskah itu ternyata gagal disunting karena kertasnya berhamburan di pinggir sungai dan tak bisa diselamatkan.

Saya berani beli A Suitable Boy setelah ngobrol dengan Arif Ash Shiddiq. Setidak-tidaknya saya bisa janji melatih baca Inggris dengan memilikinya. Di buku sastra kontemporer mana pun, apalagi tentang India, buku itu selalu direkomendasikan. Lebih dari itu, semua review bilang, 'Jangan khawatir dengan tebalnya.' Tapi karena saking tebal, saya jadi sungkan buat baca-baca di angkot kalau pergi-pergi. Rasanya memang janggal melihat buku setebal itu, aneh sendiri buka-buka di tengah banyak orang. Tapi kalau malam-malam, sambil santai, bolehlah mulai membuka halamannya. Kata Kang Tanzil, bawa-bawa A Beautiful Mind (Sylvia Nasar) atau Angsa-Angsa Liar (Jung Chang) sudah bikin pegal; padahal tebalnya baru 600-an halaman. Tanpa bermaksud fetish, sesekali mungkin lucu juga memperlihatkan pada orang banyak ternyata ada buku setebal bantal. Percaya atau tidak.

MENERBITKAN buku tebal kerap dilematik. Penerbit maunya sukses menjual buku tebal; tapi juga paling takut bila buku itu malah jeblok penjualannya. Ongkos produksi buku tebal lebih besar; maka taruhannya juga besar. Di Indonesia penerbit apa yang mau bertaruh menerbitkan buku setebal 1492 halaman?

Membaca buku tebal mirip mendengarkan lagu berdurasi panjang. Kalau menarik, dinamik, asyik, pengalaman itu mengesankan; tapi sebaliknya bila lama namun monoton, datar, atau tak padu. Saya termasuk antusias dengan lagu berdurasi lama; tapi untuk buku belum banyak pengalaman. Sejauh ini membaca buku tebal cukup memuaskan. Kitab suci juga rata-rata tebal: Al-Qur'an dan Injil contohnya. Kanon-kanon agama juga begitu. Tapi, undang-undang, peraturan, hukum, kesepakatan, doktrin, juga dicetak tebal-tebal, dibiayai, dilatihkan, dipropagandakan; tapi buat apa itu semua ya? Untuk diamandemen?

Hal menakjubkan dari buku tebal tentu proses penulisannya. Vikram Seth tentu bukan Sangkuriang yang harus beres menulis buku setebal itu dalam satu malam. Para penulis lain, apa lagi yang masih ragu dan malas, bisa mengambil moral dari keteguhan itu. Bukan hanya dari dia. Perhatikan bagaimana Ihya Ulumuddin (Al-Ghazali) diselesaikan. Buku itu jauh lebih tebal dari A Suitable Boy. Sudah pasti butuh waktu panjang, pengorbanan, keteguhan, keyakinan, kerja lebih dari keras, ketelitian, kerja sama. Perhatikan kerja penyunting, kontribusi lay outer, lihat kerja desainer cover, hormati peran proof reader, keputusan penerbit, hormati pedagang, beri sedikit salut pada tengkulak, bagian promosi, yang mendiskusikan, hargai pembeli dan pembaca. Hargai semua pihak yang menyumbang peran menjadikan buku itu mendekati sempurna, diterbitkan, layak disarankan. Tak ada buku yang terbit oleh satu tangan; bahkan barangkali tak boleh ada yang berhak mengaku sebagai satu-satunya pemilik teks, karena teks diurus oleh banyak pihak.

Buku diterbitkan dengan maksud tertentu; penerbit ingin dapat sesuatu. Anda pikir tanpa risiko menerbitkan setebal 1492 halaman? Apa dia dicetak cuma-cuma, tanpa perhitungan matang? Penerbitan adalah bisnis; kalau bukan harta, setidaknya berharap mendapat citra. Kalau ada penulis bilang dia tidak peduli penjualan bukunya, kita boleh langsung curiga. Keangkuhan seperti itu sudah basi sekali. Coba tantang dia: berani tidak membiarkan naskah tetap teronggok; jangan berhubungan dengan penerbit. Penerbit senantiasa mencari naskah yang dianggap layak dan bisa diterbitkan, dicetak, dijual.

TENTU sah berharap banyak dari buku sangat tebal. Kita layak berharap pada jangkauan luas atau khazanah dan kedalaman wawasan. Tapi setebal apa pun, hidup terlalu kompleks untuk dibekukan atau ditangkap dengan utuh. Buku hanya salah satu usaha terbatas manusia memaparkan hal mengesankan. Manusia berusaha mengabadikan cerita sebagian; rincinya ditelan waktu, disimpan kenangan, disembunyikan rahasia, ditutup-tutupi oleh dusta, dibumbu-bumbui cerita. Lama-lama berkarat, bersepuh maksud lain.

Satu hal yang harus diakui adalah ketebalan tidak terlalu penting dan barangkali jadi sesuatu yang artifisial; yang penting isi. Bait puisi, haiku, kutipan, slogan, verbatim, hanya terdiri dari beberapa patah kata; tapi kalau memang menggetarkan, dia bisa mengubah siapa pun. Bila tak perlu, buat apa berpanjang-panjang. Buku setebal 1492 halaman pada dasarnya dirangkai dari 26 huruf. Inti, yang penting intinya.

Saya berharap semoga benar membaca buku itu . Jangan sampai ah, meski setebal bantal, jangan digunakan untuk ganjal. Nanti ada yang menyesal.[]

1 comment:

Anonymous said...

It's remarkable designed for me to have a site, which is good in support of my knowledge. thanks admin

Here is my page: Hotmail support