Sunday, July 02, 2006

Fiksi atas Sebuah Fakta
-----------------------
>> Anwar Holid

BEBERAPA orang di sekitarku nonton The Exorcism of Emily Rose. Film itu memang menakutkan. Aku menontonnya dua kali, ketika tengah malam. Setiap kali visualisasi horor atau adegan menyeramkan muncul, seketika bulu kuduk meremang, mengganggu ketenangan, memunculkan teror dan ketakutan. Karena dibuka pernyataan 'based on true story' teman-teman yakin bahwa kejadiannya memang begitu, barangkali yakin tak ada yang dibuang atau disimpangkan, bahwa film itu benar memindahkan kejadian sebenarnya, tanpa maksud melebih-lebihkan atau menciptakan agar peristiwa lebih dramatik. Dengan kata lain mereka yakin bahwa film itu terjadi di Amerika Serikat, terjadi baru-baru ini, gadis kesurupan bernama Emily Rose, terdakwa Romo Richard Moore, pembela pastor bernama Erin Bruner, demikian seterusnya. Mereka menambah dengan tafsir dan argumen kenapa kejadian tersebut berlangsung di Amerika Serikat, negara dengan masyarakat rasional dan objektif, namun betapa pihak yang terkait kasus gagal menerangkan fenomena dengan tepat---kecuali pak pastor.
Mereka percaya film itu berusaha setia sedetil-detilnya memindahkan peristiwa, tanpa tebersit sedikit pun kemungkinan siapa tahu film itu berusaha mendramatisasi kejadian; sekadar mengambil inspirasi atau pesan dari peristiwa nyata juga tak pernah terbayangkan. Barangkali dalam kepala atau keyakinan ada semacam kabut yang menutupi kemungkinan adanya penafsiran atau anggapan, apalagi mau mengaitkan ada kepentingan modal, image, maksud, dan sebagainya dari film tersebut; termasuk terpikir ada distorsi fakta.

Maka ketika aku bilang bahwa film itu tidak seperti kejadian nyatanya, bahkan berbeda sama sekali, tak seorang pun percaya. Bahkan ada yang dengan sengit bilang, 'Ah, tahu apa kamu? Kamu bohong. Sok tahu. Kamu tak tahu apa-apa tentang hal itu. Aku menolak ucapan kamu.' Bagaimana cara berkomunikasi dengan orang yang menolak kebenaran yang ingin kita sampaikan? Cara terbaik adalah biarkan mereka menemukan kebenaran dengan caranya sendiri.

Fakta bahwa film itu 'hanya' mengambil dasar plot dari kejadian aktual bisa diperiksa di Wikipedia, selanjutnya mengantarkan kita pada banyak hyper link tentang subjek terkait, baik eksternal dan internal. Tidak ada gadis bernama Emily Rose yang mengalami peristiwa itu, tak ada pembela perempuan yang akhirnya terusik oleh eksistensi Tuhan, dan lebih terang lagi: tak ada di sudut Amerika Serikat manapun kejadian itu pernah berlangsung. Lho? Kalau begitu berbeda, kenapa para pembuat film itu berkeras mencantumkan 'berdasar pada kisah nyata'?

FILM itu mengambil pengalaman Anneliese Michel, seorang gadis yang hidup di Klingenberg am Main, kota kecil di wilayah Bavaria, Jerman. Dia meninggal pada 1 Juli 1976, setelah sejak 1968 mengalami gangguan dan didiagnosis epilepsi. Tumbuh dalam keluarga Katolik taat, keluarganya menisbatkan bahwa kondisi yang dialami Anneliese sebagai dimasuki (kesurupan) setan, dan diagnosis itu dikuatkan oleh Romo Ernst Alt, yang memang spesialisis bidang eksorsisme (pengusiran setan), disetujui oleh Uskup Wurzburg Josef Stangl. Uskup Josef Stangl menunjuk Pastor Arnold Renz---dibantu Romo Ernst Alt---melakukan ritual eksorsisme berdasar tata cara Rituale Romanum tahun 1614. Setelah dilakukan berkali-kali satu jam per sesi kira-kira delapan bulan lamanya, ritual itu menyebabkan Anneliese tewas. Setelah investigasi, kedua pastor dan orangtua Anneliese dihadapkan di meja hijau. Pastor dibela pengacara bayaran gereja, sementara orangtua Anneliese dibela Erich Schmidt-Leichner, salah satu pengacara paling top Jerman saat itu, yang juga pernah membela sejumlah terdakwa dalam pengadilan kejahatan perang Nazi. Pengadilan itu dikenal sebagai 'Perkara Klingenberg'; itulah yang oleh Scott Derrickson (sutradara) dijadikan basis The Exorcism of Emily Rose. Sosok Erich Schmidt-Leichner (pria) kurang-lebih diwujudkan dalam diri Erin Bruner (wanita). Anneliese Michel dinamai lagi sebagai Emily Rose.

Ke mana kenyataan tersisa dalam film itu? Kenapa penyimpangan sengaja dibuat sangat berbeda dari kejadian nyata? Lebih tajam lagi: kenapa penonton langsung yakin bahwa kejadian faktualnya persis seperti yang di sajikan film, tanpa ada niat sedikit pun mau memeriksa atau menguji kebenaran fakta tersebut dari media atau sumber informasi lain, siapa tahu ada sesuatu yang bisa membuat subjek itu terlihat utuh atau memperlihatkan sisi lain. Apa pernyataan 'based on true story' harus dimaknai begitu saklek dan kemungkinan penafsiran maupun imajinasi terhadapnya jadi lenyap; seolah-olah di dalam kenyataan ruang buat perenungan, simbol, interpretasi jadi lenyap; kenyataan harus dipandang 'sebagaimana adanya', literal, tanpa embel-embel.

Budi Warsito, seorang scriptwriter, pernah mengulang pertanyaan retorik: 'art imitates life or life imitates art?' Kini, kata dia, siapa meniru siapa tak lagi soal. Lebih penting adalah orang belajar, mendapatkan sesuatu, dari manapun: kejadian sepele sampai dongeng yang membuai. Tegas dia: terkadang dalam hidup orang memang harus belajar dari hal-hal fiktif. Itu sebabnya peristiwa nyata dicuplik begitu rupa menjadi inspirasi, bahan renungan, ekspresi, pengayaan dalam seni dan kreativitas; dengan cara serupa seni menghasilkan pemaknaan, intensitas, penghayatan, simbolisasi di dalam hidup nyata, digunakan sebagai sumber kebajikan. Ada kalanya kehidupan sulit terperikan, begitu rumit, sementara manusia hanya bisa menjelaskan secara terbatas, sederhana, dengan cara masing-masing, termasuk dari fakta yang dibengkokkan. Fakta kadang-kadang terlalu dahsyat atau ngeri untuk dicerap, dibayangkan, dan orang butuh media tertentu untuk menangkap irisan kebenaran.

Di A Beautiful Mind ada adegan ritual para profesor almamater memberi pena pada John Nash sebagai simbol dia diterima dan diakui dalam komunitas matematika karena prestasinya, padahal adat itu sama sekali tidak ada di dalam kenyataan; adegan itu murni karangan Hollywood. Adegan ini menegaskan betapa fiksi memperkaya hidup dan demikian sebaliknya. Dalam genre ‘biopic’ (dari biographical picture, film biografis), ada lebih banyak lagi perbedaan (ketidakcocokan), jarak, antara kenyataan dan fiksi, meskipun film tersebut berkisah tentang orang tertentu atau sekelompok orang berdasar pada peristiwa kejadian sebenarnya, termasuk mengubah kejadian tersebut demi maksud lain.

LEPAS manusia butuh drama, fakta diinterpretasi berbeda-beda bergantung versi pembuatnya, lebih penting ialah sikap kritis pada yang dibaca, dilihat, ditonton, terhadap sodoran informasi. Sebab di sana ada bias, kepentingan industri, perhitungan modal, pertimbangan kemasan, komoditas, barang konsumsi. Dengan begitu orang dilatih awas, hati-hati dan berusaha menyelisik lebih jeli, menyaring 'penyusupan' dari cara yang paling halus. Ada banyak cara mengutuhkan informasi atau pernyataan, atau setidak-tidaknya berimbang, alih-alih menerima mentah-mentah, menganggap hanya ada satu versi atas sebuah fakta. Apa guna jargon 'berbudaya', 'literasi', bila orang terdidik, yang kerap menyatakan diri lebih beradab, rasional, ternyata mudah dikelabui dan nalar jadi tertutup kabut, sulit menerima atau menimbang pembanding lain. Benjamin Franklin dengan pas menggambarkan kondisi orang seperti itu, yang menurutnya sangat menyedihkan: ‘orang sendirian kehujanan yang tak tahu cara membaca’. Eh, BTW, apa Benjamin Franklin ini fiktif?[] 30 Januari 2006 5:23:45

Kontak: Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B Bandung 40141 Telepon: (022) 2037348 HP: 08156-140621 Email: wartax@yahoo.com

1 comment:

deetopia said...

blognya bagus.
saya link ya ke tempat saya.
Oh, ya
saya juga memasukkannya ke milis saya, kalau tidak keberatan.