Tuesday, June 24, 2008




Hetifah dan Taufikurahman


---Anwar Holid


Melihat stiker dan spanduk Hetifah dan Taufikurahman bertebaran di ruang terbuka Bandung membuat aku ingin menulis tentang keduanya, dari sudut pribadi yang sama-samar, karena aku hanya tahu sekilas dan terbatas tentang mereka. (Tapi kayaknya jelas mereka nggak kenal aku.) Kedua orang itu niat mencalonkan diri jadi walikota Bandung. Pertanyaan pertama yang muncul dari kepalaku ialah: "Apa motif mereka ingin jadi walikota?" Apa mereka ingin jadi ketua Persib?


Taufikurahman aku tahu waktu masih di Salman-ITB. Dia waktu itu dia baru pulang dari luar negeri, terus jadi pengurus YPM Salman, selain tentu saja mengajar di almamaternya, ITB. Aku dengar reputasinya bagus. Hetifah aku kenal waktu gabung dengan PATTIRO, karena dia jadi konsultan program PATTIRO. Dulu, aku tahu mbak Hetifah masih berjilbab; maka aku kaget melihat banyak spanduk dirinya tersenyum lebar tanpa jilbab. Sebenarnya, "gosip" tentang dia melepas jilbab ini sudah aku dengar beberapa bulan sebelumnya, tapi aku pikir itu hanya pembicaraan antar kawan. Beberapa kawanku menanggalkan jilbab, dan aku entah kenapa malas ingin tahu tentang motif mereka melakukan itu. Maksudku, orang berubah setiap saat. Tapi, waktu aku tanya ke Ubing apa sih istilah buat orang yang melepas jilbab, dia bilang, "Itu namanya futhur, mundur, berbalik ke belakang."


Reputasi Hetifah di dunia LSM jelas terkemuka. Dia dulu di AKATIGA, Sawarung, IPGI, yang semuanya merupakan LSM besar. Dulu aku dengar dari seorang program officer Ford Foundation bahwa AKATIGA adalah sedikit dari LSM yang bisa bekerja sama lama---artinya terus dapat donor---dengan Ford Foundation. Itu artinya mereka inovatif, bisa mengikuti irama lembaga donor, kalau bukan merancang program yang menarik perhatian lembaga donor. Di zaman Reformasi, ada satu kejadian yang mungkin membuat AKATIGA tidak populer di kalangan aktivis, yaitu ketika entah ketua IMF atau Bank Dunia atau WTO (harus klarifikasi) datang ke kantor mereka di samping Gedung Sate. Kedatangan itu didemo banyak kalangan yang gigih menolak neoliberalisme.


Aku kaget waktu pertama kali lihat spanduk upaya pencalonan dirinya jadi walikota. Untuk apa orang yang sudah lama ada di jalur NGO kini berusaha merebut kursi pemerintahan? Apa dia merasa perlu menyeberang ganti ada di pemerintahan untuk meningkatkan kinerja demi perubahan sosial-politik? Aku kadang-kadang merasa absurd dengan pilihan orang. Tapi apalah yang aku tahu tentang orang lain. Biarlah; kalau itu demi kebaikan, silakan saja. Spanduk Hetifah menawarkan "Program 100" yang buat aku sendiri beberapa di antara bikin geli. Dia menawarkan MENYEDIAKAN 100 HOT SPOT INTERNET. Aku pikir, apa manfaat program ini untuk orang seperti aku yang punya komputer jadul dengan teknologi 10 tahun lalu? Aku nggak punya laptop, dan komputerku Pentium I, jelas tanpa teknologi wi-fi. Buat aku, program ini nonsens dan elitis, nggak populer sama sekali. Program ini hanya memihak kaum urban yang punya laptop lengkap dengan wi-finya.


Di situs dia ada "Program 100" lain yang menurutku bisa menarik orang banyak, misalnya MEMFASILITASI 100 LEMBAGA KEUANGAN MIKRO, MENYEDIAKAN 100 AREA PKL, MEMFASILITASI 100 KLINIK UKM/BDS, juga MERAIH 100 KEMENANGAN PERSIB. Herannya, dalam pikiranku, kenapa nggak ada "Program 100" yang terkait dengan CSR---jargon LSM yang kini sedang trend?


Taufikurahman memasang spanduk dengan slogan "Bangkit Bersama untuk Perubahan" dan "Selamatkan Kota Bandung!!!"---dengan tiga tanda seru. Tapi aku nggak tahu dia mau mengubah apa dan menyelamatkan apa. Apa dia mau mengubah air Cikapundung yang butek jadi jernih dan bebas sampah? Apa dia mau menyelamatkan Bandung dari perjudian atau serbuan pengemis? Apa dia mau mengubah biaya pendidikan yang mahal ini jadi terjangkau rakyat miskin? Atau mau mengubah komputer jadulku jadi laptop dengan teknologi bluetooth? Boleh jadi; dengan begitu aku bisa menikmati Program 100 HOT SPOT Hetifah begitu nanti terwujud. Aku dengar dari seseorang, Taufikurahman dulu jadi pendiri Partai Keadilan cabang Bandung.


Taufikurahman dicalonkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Hetifah berusaha jadi calon independen. Mereka nanti harus bersaing terutama dengan Dada Rosada, walikota yang sedang bertugas sekarang. Belum lagi kandidat lain, yang konon ada dari birokrat/pejabat lama. Di sejumlah perempatan, spanduk Dada Rosada terbentang segede jebug mengalahkan spanduk Taufikurahman dan Hetifah. Aku ingin tahu, apa kalau terpilih Taufikurahman bakal memperlakukan kota cenderung sesuai adat keagamaan; sementara Hetifah akan bakal mengelola kota sebagai LSM?


Di tengah arus politik yang cepat itu, aku terpikir, wah... generasi yang bakal memimpin kota, bangsa, dan negara ini makin mendekat dari generasiku, generasi muda---artinya generasi ini tumbuh dewasa untuk kemudian menua. Jelas setiap orang punya motif kenapa ingin jadi pemimpin. Mungkin mau memperbaiki kota tercintanya, mereformasi sesuatu, menolong kaum miskin, atau ingin tantangan baru, kekuasaan dan gaji lebih besar. April 2008 lalu Fernando Lugo terpilih sebagai presiden Paraguay; dia melepas dulu status uskup karena ordo melarang seorang romo berpolitik. Program utamanya ialah antikorupsi dan reformasi agraria. Dia kebanyakan dipilih oleh penduduk miskin.


Apa artinya jadi pemimpin? Itu sulit aku jawab; sebab jangankan memimpin orang lain, mengarahkan diri sendiri agar berlaku sesuai ajaran luhur juga sulitnya minta ampun. Terlalu sering aku kalah oleh hawa nafsu. Baru-baru ini aku baca Imperium (Robert Harris), novel tentang Cicero, orator terkemuka Roma (106 SM-43 SM). Dia memperjuangkan nasib orang-orang yang dijahati dan diperlakukan semena-mena oleh gubernur. Tawar-menawar politiknya jelas; Cicero memperjuangkan nasib mereka, mereka dan sukunya memberi suara dan dana untuk Cicero.


Politik adalah keterwakilan. Kalau orang merasa terwakili oleh salah satu calon, tentu dia akan memilih calon itu. Kalau tidak, orang akan mengabaikan mereka, memilih melanjutkan hidup sendiri, yang boleh jadi apolitis. Dengan berbagai faktor di dalam dan luarnya, kota tumbuh sendiri. Dari dalam, aku menyaksikan Bandung tumbuh dan berkembang. Meski kadang-kadang merasa begitu kecil jadi bagian kota ini, aku senang tinggal di sini, terlibat dalam dinamikanya.[]


Anwar Holid, penduduk Bandung, tinggal di gang Panorama II. Ngeblog @ http://halamanganjil.blogspot.com/ Menulis buku Barack Hussein Obama (Mizania, 2007).


FYI, Hetifah dan Taufikurahman juga ngeblog.

No comments: