Friday, June 13, 2008











 




Terlalu Melangitkah Cara Kita Beragama?
Sejenak Merenungkan Cara Kita Beragama
---Agus Kurniawan

Terus terang, saya sangat kecewa atas terjadinya insiden Monas. Terlepas dari siapa pelakunya dan siapa yang benar, peristiwa itu justru mengalihkan perhatian orang dari nestapa nyata yang baru saja diderita bangsa kita, yakni kenaikan harga BBM. Peristiwa monas itu seolah-olah menihilkan arti dari meningkatnya beban hidup dan sekaligus meningkatnya jumlah orang miskin baru (4 - 5 juta orang, menurut versi pemerintah.) Dengan peristiwa itu, seolah-olah masalah nyata kehidupan di dunia (kemiskinan, eksploitasi alam, kesenjangan ekonomi, dan lainnya) tidak lebih berharga dibanding isu-isu langit seperti pemurnian agama atau pluralisme atau yang lainnya. Betapa beruntung Juru Bicara Istana saat ini, karena tidak lagi harus pusing-pusing menjawab pertanyaan orang mengapa BBM naik, atau apa rencana pemerintah menanggulangi dampaknya. Ya anggap saja suatu blessing in disguise. :)


Ini memang paradoks. Sebagai seorang Muslim, saya tahu bahwa Rasulullah Muhammad Saw. justru meletakkan keadilan sosial sebagai salah satu fokus ajaran dan reformasinya. Begitu pula di zaman khalifah. Keadilan sosial adalah salah satu pilar Islam, sesuatu yang begitu gigih diperjuangkan. Hal ini telah diakui secara global, juga oleh agama-agama lain, dan menjadi sumber kekaguman umat lain terhadap Islam.

Tetapi mari kita renungkan cara kita berislam di zaman kita ini. Terlepas apakah peristiwa Monas adalah kebetulan, direncanakan, konspirasi, ataupun diperalat, pokok persoalannya justru karena "cara beragama kita" saat ini yang tidak meletakkan permasalahan aktual kehidupan manusia sebagai fokus perhatian. Agama terlalu berbicara tentang isu-isu langit, kehidupan di hari akhir, atau isu dentitas. Mari kita jujur, seberapa besar porsinya para khatib membahas tentang keadilan sosial, pengentasan kemiskinan, kesenjangan ekonomi, degradasi moral, eksploitasi alam, pendidikan, ilmu pengetahuan, penegakan hukum, perburuhan, dan isu aktual lain dalam khotbah Jumat? Sejauh manakah fatwa-fatwa menjadi inspirasi dalam mencari solusi terhadap masalah-masalah aktual manusia? Menurut saya, agama sama sekali tidak boleh menjauh dari permasalahan aktual manusia. Dengan semakin kompleknya dan ambigunya problematika aktual kehidupan manusia, maka seharusnya semakin besar peran agama dalam menjawab permasalahan tersebut. Bukan hanya dalam hal memberi batasan (membuat hukum atau tata nilai) tetapi yang lebih penting adalah dalam hal menciptakan dorongan dan menginspirasi. Seperti halnya kehidupan Rasulullah, para ulama dan ilmuwan masa lampau, Al-Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Rusd, dan seterusnya.

Dalam keyakinan saya, Allah menciptakan manusia agar berperan membangun kehidupan di muka bumi lebih baik. Tetapi ketika cara kita beragama malah menjauh dari urusan aktual manusia, sudah benarkah cara kita beragama? Mari kita renungkan.

/*/


Saya ingin curhat dari pengalaman pribadi. Saya sekeluarga tinggal di pinggiran Bandung sebelah selatan. Rumah saya dikelilingi pabrik-pabrik besar, kebanyakan garmen. Akibatnya rumah saya juga dikelilingi kost-kostnya para buruh, selain juga penghuni desa yang sebagian juga buruh. Sebagian besar mereka adalah buruh biasa dan berstatus kontrakan. Satu atau dua orang memang memiliki jabatan koordinator, supervisor, tapi itu sangat sedikit. Jabatan lebih tinggi tentu akan dipegang orang-orang yang lebih berpendidikan.

Buruh pabrik berpenghasilan tidak jauh dari dari UMR. Anggap saja ditambah lembur, take homepay kira-kira 1 - 1,2 juta per bulan. Saya coba menghitung overhead mereka sebulan:
-----------------------------------------------
Beras: Rp 6,000 x 30 = 180.000
Lauk-pauk: Rp 10,000 x 30 = 300.000
Pendidikan anak: Rp 10,000 x 25 = 250.000 (asumsi 1-2 anak SD)
Transportasi: Rp 5,000 x 25 = 125.000
Kesehatan: Rp 5.000 x 25 = 125.000
Total Rp 980.000,-/bulan.
Sisa akhir bulan = 20.000 sampai 220.000.
-----------------------------------------------

Ok, hidup bisa terus jalan kan. Rejeki nomplok kalau pasangannya juga bekerja, sehingga penghasilan keluarga jadi dobel. Tetapi standar hidup yang saya hitung di atas kan masih terlalu sederhana. Dan biasanya kenyataan tidak seindah teori. Hitungan itu juga belum memasukkan komponen lain, seperti cadangan, tabungan, pakaian, rekreasi, apalagi kalau harus nyicil rumah, nyicil motor. Sebagai gambaran, cicilan rumah tipe 21 rata-rata sudah mencapai 400 ribu per bulan. Malapetaka akan terjadi bila salah satu anggota keluarga masuk rumah sakit. Dapat dipastikan bahwa mereka akan menangguk utang, yang biasanya dibayar dengan nyicil dari gaji. Akibatnya makin melemahkan kemampuan finansial.

Anehnya, buruh pabrik di desa saya (yang porsinya cuman kira-kira 10 - 20 % dari penduduk desa) masih termasuk kelompok masyarakat yang hidupnya lebih enak. Mungkin karena mereka mendapat penghasilan yang rutin dan pasti. Lalu bagaimana dengan masayarakat yang tidak berpenghasilan rutin, seperti sopir angkot, petani, buruh serabutan, buruh tani, tukang becak, dan seterusnya. Bapak saya, yang masih mendapat penghasilan rutin dari uang pensiun, masih tetap menanam padi lebih untuk mengisi waktu dibanding mengharapkan penghasilan. Bagaimana tidak, dari tanah 1000 m persegi, untung yang diperoleh dari menanam padi selama 4 bulan hanya 200 ribu. Atau rata-rata 50 ribu sebulan.

Lalu bagaimana kalau tiba-tiba BBM naik dan menjadikan harga barang-barang naik 5 - 10 %?

Repotlah. Itulah yang bikin saya kesel ketika ada orang bikin moving atas nama agama (siapapun itu) dengan isu-isu yang tak menyentuh hajat hidup. Padahal harusnya para agamawan yang lebih peka menyelamatkan rakyat kecil dari ketidakadilan kan? Bisa jadi mereka sekadar diperalat kali ya. Memang mudah sekali kita dipermainkan.[]


Dirapikan seperlunya oleh Anwar Holid.

Kartun oleh Erick S.

Awalnya tulisan ini di posting di smansa89@yahoogroups.com, manteos@yahoogroups.com, cyberaki@yahoogroups.com

No comments: