Friday, October 17, 2008



Ketika Cinta Menaklukkan Segalanya
---Anwar Holid

Ayat Ayat Cinta
Penulis: Habiburrahman El-Shirazy
Penerbit: Republika & Pesantren Basmala Indonesia, 2003
Halaman : 418
ISBN: 979-3604-02-6


Banyak kisah ajaib di dunia ini, salah satunya ada di dalam Ayat Ayat Cinta. Ia berupa melodrama; kisahnya sensasional, didukung karakter-karakter stereotipe, dengan pesan moral begitu gamblang. Puncak dari semua pengharapan itu ialah adanya rancangan dramatik untuk memenangkan nilai Islam di atas semua moralitas dan etika. Fahri, protagonis novel ini, tampaknya merupakan perwujudan idealisasi sosok Yusuf kalau bukan Sulaiman, dua orang nabi-raja yang diceritakan bijak bestari, mempesona banyak perempuan, dan mementingkan moralitas agama di atas semua segala. Kekurangan Fahri hanya dia merasa dirinya miskin, meski dia bekerja sebagai penerjemah, penulis, dan dai. Keunggulan moral itulah yang dieksploitasi untuk membuat empat perempuan seperti menemukan makhluk langka, dan dengan cara masing-masing saling berusaha mendapat limpahan kasih sayangnya.

Boleh jadi Fahri memang makhluk langka bila dibandingkan dekadensi di abad ke-21 ini. Dia mahasiswa brilian yang tengah menyelesaikan tesis di Universitas Al-Azhar, dihormati di antara sesama mahasiswa asal Indonesia di Cairo, hidup sederhana, pekerja keras, rela membantu siapa saja, taat beribadah, berusaha merancang hidup sebaik-baiknya, tak pernah mencederai komitmen sebagai Muslim. Dengan moral seperti itu, siapatah perempuan yang tak bakal terpesona kecuali dia tak kenal dirinya? Satu-satunya kekurangan yang ditunjukkan dalam diri Fahri ialah ada sisa rendah diri sebagai lelaki kere, karena ia anak penjual tape.

Hidup Fahri yang semula lurus mendadak jungkir balik ketika dia sadar dirinya tengah memikirkan pasangan. Dari sana novel bergerak cepat. Syaikhnya menawari gadis untuk dipinang lewat tradisi taaruf---model perkenalan pria dan wanita yang dianut sebagian golongan Islam. Ternyata dia perempuan yang dia kenal di trem. Setelah mengikat janji dengan keluarga perempuan itu, beberapa hari kemudian seniornya melakukan hal serupa atas nama seorang mahasiswi asal Indonesia. Tentu saja dia kelabakan karena harus mengecewakan wanita yang sebenarnya patut juga dinikahi. Hanya saja kesempatan tak tersedia. Baru sebentar menikah disertai peristiwa penuh madu dan ketakjuban, perempuan ketiga, tetangga yang persis tinggal di atas kamar flatnya kala bujang, mendadak meriang karena memendam cinta padanya; sementara seorang gadis yang dahulu pernah dia tolong memfitnah karena cintanya tak terbalas.

Di situlah melodrama novel ini betul-betul memanjakan imajinasi pembaca dengan cara memenangkan cinta dan moralitas yang bisa menghadang segala rintangan. Ketika Fahri di penjara dengan ancaman hukuman gantung akibat tuduhan memperkosa gadis Mesir, dia malah satu sel dengan para pejuang Islam yang kritis terhadap pemerintah Mesir. Klop sudah. Masuk penjara justru merupakan jalan untuk menguatkan mental. Di sana dia bertemu para mentor yang mengajarinya tabah berada di jalan dakwah. Ketegaran seperti Fahri inilah yang diidam-idamkan semua gadis Muslim pada pemuda yang bisa mendampingi hidupnya. Sementara para pemuda berharap-harap bagaimana cara menggaet salah satu tipe dari perempuan yang bisa menggaet Fahri.

Boleh jadi Fahri mengambil model Yusuf dalam kisah di Al-Quran. Ratu Zulaikha yang tersinggung karena Yusuf menolak diajak bercinta tega memfitnah dia memperkosa dirinya, akibatnya Yusuf di penjara. Ketampanan Yusuf sanggup membuat wanita yang memandangi mati rasa meski jemarinya teriris pisau, saking terpesona oleh wajahnya. Penjara bukanlah satu-satunya malapetaka yang pernah dia alami. Dulu, ketika remaja dia diperdaya saudara-saudaranya, dimasukkan dalam sumur, dan akhirnya dijual sebagai budak belian. Berkat kebersihan hati dan keyakinan pada Tuhan, Yusuf tetap tabah dan optimistik, menunggu kapan bisa memunculkan kualitas terbaik dirinya, sampai akhirnya kesempatan datang dan dia manfaatkan sebaik mungkin. Puncaknya ialah ketika dia berjaya mengatasi segala rintangan dan raja mengangkatnya sebagai menteri dan bisa berkumpul lagi dengan saudara-saudaranya. Moral dari sana ialah kadang-kadang orang harus menanggung sesuatu yang bukan tanggung jawabnya. Bila ia tabah, ujung hidupnya bakal bahagia. Dalam tradisi Islam, orangtua kerap mendoakan agar anak laki-laki kelak tampan dan berakhlak seperti Yusuf, kaya raya seperti Sulaiman, dan mulia seperti Muhammad.

Untuk meninggikan kualitas Fahri, cerita dibuat makin superlatif. Seorang wartawati AS yang pernah mewawancarai Fahri soal etika Islam terhadap wanita akhirnya memutuskan bersyahadat, begitu juga dengan gadis Kristen Koptik yang di ujung hidupnya jadi istri kedua. Dia memutuskan masuk Islam setelah mimpi tertutup jalan masuk ke surga bagi dirinya.

DALAM diri Fahri pembaca Muslim bisa menemukan seperti apa kualitas pria Muslim, seseorang yang secara simpel disebut sebagai insan kamil (manusia sempurna.) Perilakunya terjaga, nyaris tanpa cela, memperlakukan kekasih amat mesra, siap menanggung cobaan berat dengan tetap berhati dingin. Tingkat kemuliaan maupun kesantunannya barangkali hanya bisa disaingi laki-laki terhormat yang ada di legenda-legenda agama. Jangan kata mendekati zina, bersalaman dengan wanita non
muhrim (haram dinikahi) pun dia menolak.

Karena kesempurnaan karakter Fahri itu sebagian pembaca menganggap sosok dia seperti mengada-ada. Ketika masih lajang, di awal-awal halaman Fahri tangkas mematahkan prasangka negatif Barat terhadap Islam perihal masalah perempuan, ketika menikah dia menaburkan ayat-ayat tentang apa yang mesti dilakukan suami pada istri, ketika cinta mereka dirundung masalah, suami-istri ini dia berhasil menguatkan keyakinan bahwa cinta karena Allah (Tuhan) pastilah mampu mengalahkan segala persoalan. Di dalam dirinya terwujud sebuah cinta dalam bingkai Islam, yaitu cinta kepada Allah dan atas nama Allah.

Itulah guna melodrama. Ia menyediakan ruang lega untuk mengetengahkan kisah yang nyaris fantastik, terjadi di negeri nan jauh di rantau, beserta kekhasan penduduk, budaya, dan keistimewaan tanah airnya. Tentu fantastik ada cerita seseorang bisa menulis manuskrip sebanyak 575 halaman dalam 14 hari. Dengan penuturan sederhana yang lancar, ditunjang drama sensasional, diyakinkan dengan tebaran kisah dari Al-Quran, kitab kajian, dan khazanah Islam yang luas, menjelmalah Ayat Ayat Cinta ini sebagai fiksi amat fenomenal dalam industri penerbitan Indonesia. Ahmadun Yosi Herfanda, penyair yang jadi redaksi sastra & budaya Republika, kepada Iin Yumiyanti dari Detik.com menguatkan, "Ini puncak fiksi Islami yang memberikan pencerahan." Novel ini awalnya dimuat sebagai cerita bersambung di harian tersebut; Ahmadun merupakan salah seorang yang paling awal membaca manuskrip tersebut.

Ini memang novel tentang idealisasi cinta dari sudut pandang Islam. Hubungan Fahri dengan keempat perempuan bisa mengetengahkan berbagai bentuk cinta dengan sifat unik masing-masing. Misal hubungan dengan Nurul, sesama mahasiswa asal Indonesia, merupakan bentuk cinta platonik. Nurul tetap mendamba Fahri, meski dia telah bersuami dan susah payah menghilangkan bayang-bayang Fahri dalam kepalanya. Walhasil mereka tetap berteman, dan beranggapan itu yang terbaik buat mereka. Yang paling heroik tentu hubungan dengan Aisha, perempuan Jerman keturunan Turki yang rela dimadu agar Fahri bisa menyelamatkan gadis dari ancaman kematian.

SULIT menerangkan dengan pasti kenapa sebuah buku bisa menjadi bestseller. Rasanya kurang adil bila dibilang buku jadi bestseller semata-mata karena beruntung dan kebetulan. Seolah-olah itu menafikan bahwa massa bisa mendadak begitu saja menyukai sebuah produk. Komentar paling mujarab biasanya pemakluman bahwa itu merupakan berkah buat penulisnya. Dalam budaya pop ada istilah hype, yaitu untuk menerangkan fenomena yang sedang mendapat publikasi luar biasa dan digemari siapa saja, sampai-sampai semua orang takut ketinggalan "kereta" menikmati hal tersebut.

Tanyalah kepada para pembaca fanatik buku itu, kita bisa mendapat jawaban amat beragam kenapa sebuah buku bisa mempesona ratusan ribu pembaca. Pembaca cenderung menyarankan buku yang mereka sukai pada orang-orang terdekat, meski ada saja sebagian golongan yang terus-menerus resisten karena kurang nyaman terhadap sesuatu yang massal. Wiku Baskoro, seorang pegiat perbukuan Bandung, berpendapat normatif tentang fenomena itu, "Tema agama akan selalu laku di Indonesia, apalagi diramu dengan kisah cinta."

Apa pun komentar orang, jelas sulit "menghentikan" sebuah bestseller, karena ia memang telah membuktikan sesuatu dengan amat nyata, yaitu memenangi selera massa. Kritik paling kuat dan kena sekalipun biasanya gagal membuat pembaca memalingkan muka dari buku yang disukainya. Meski sebagian orang tak terima, kemungkinan besar pembacanya malah bertambah, apalagi bila popularitasnya sedang di puncak. Pembaca juga bahkan bisa santai mengabaikan kesalahan elementer dalam novel itu, lepas ada kesan bahwa Fahri seorang poliglot (menguasai banyak bahasa.) Dia kadang menulis "nigh club" alih-alih "night club", "brige" padahal maksudnya "bridge." Apa boleh buat, orang keburu terbuai keluhuran budi daripada ketelitian menulisnya.[]

Anwar Holid, kontributor Digibookgallery, penulis Barack Hussein Obama.

2 comments:

M.Iqbal Dawami said...

subhanallah (Akhi Wartax) ulasannya begitu memukau,seperti Fahri sendiri yang menulisnya :)

[HALAMAN GANJIL] & TEXTOUR said...

:) Makasih komentarnya kang iqbal. Beberapa waktu lalu aku kepikiran mau bikin esai judulnya "Aku masih belum menjadi Fahri" He he he... Semoga nanti punya energi buat itu.