Friday, October 24, 2008



Betapa sulit saya memahami puisi Nirwan Dewanto
Oleh: Anwar Holid


Jantung Lebah Ratu (Himpunan Puisi)
Penulis: Nirwan Dewanto
Penerbit: GPU, 2008
Tebal: 94 hal.
ISBN: 978-979-22-3666-8



Seorang kawan menghadiahi Jantung Lebah Ratu, buku puisi karya Nirwan Dewanto (ND). Tentu saya senang. Dulu, persis saat buku itu terbit kira-kira pada bulan Mei, saya sangat antusias kapan kira-kira bisa baca, bahkan kalau bisa memilikinya. Rumah Buku, perpustakaan favorit saya, sebenarnya segera mengoleksi himpunan puisi tersebut, tapi entah kenapa saya tak sempat juga meminjamnya. Ternyata buku itu sedang dipinjam anggota lain ketika saya ingin membacanya. Seorang teman sealma mater ND yang saya tahu langsung beli buku itu saya tanya, seperti apa sih puisi-puisi dia? Dia menjawab samar, "Yah, begitulah. Khas Nirwan, agak-agak susah dipahami dan berbau filsafat." Sementara waktu kawan yang menghadiahi buku itu saya tanya kenapa memberikan buku itu, dia menjawab tanpa pretensi, "Hm... susah ya. Mungkin puisinya bukan selera saya. Kurang nikmat bacanya."

Nirwan Dewanto merupakan penulis dengan reputasi terkemuka di Indonesia. Dia menulis esai budaya dengan beragam subjek, termasuk kritik buku, menjadi salah satu eksponen posmodern paling awal di Indonesia, ikut mendirikan jurnal Kalam (yang merayakan posmodern secara besar-besaran), bergabung dengan Teater Utan Kayu (TUK), dan sudah menulis puisi sejak lama. Boleh dibantah, peristiwa yang membuat namanya melambung ialah ketika dia jadi salah satu pembicara kunci di Kongres Kebudayaan 1991; dia membawakan makalah berjudul Kebudayaan Indonesia: Pandangan 1991. Esai ini pula yang jadi andalan pada buku pertamanya, Senjakala Kebudayaan (Bentang, 1996)---sebuah buku yang kini sudah turun dari rak toko umum dan hanya bisa ditemui kembali di perpustakaan seperti Rumah Buku.

Namun harus disebut pula reputasi dia kadang-kadang membuat orang lain jengkel atau penasaran. Sebagai kritikus sastra, pilihannya kadang-kadang digugat, yang paling terkenal boleh jadi "Siapa Takut, Nirwan Dewanto?" oleh Richard Oh dan "Yth Tuan Nirwan" oleh Damhuri Muhammad---isinya kira-kira debat seputar kritik dan standardisasi penilaian karya sastra. Saya sendiri menganggap reputasi ND di Indonesia mirip dengan Michiko Kakutani di AS---kritikus buku The New York Times. Michiko dijuluki "kritikus yang paling ditakuti sedunia." Keberanian Michiko memuji atau mengecam buku membuat posisinya sering ekstrem. Sebagian penulis jengkel sekali pada Kakutani. Saya juga tahu satu-dua penyair jengkel sekali pada ND dan bahkan ada yang menggunakannya sebagai bahan olok-olok dalam puisi ciptaan mereka.

Saya lebih bisa mencerap beberapa esai ND daripada puisinya. Meski begitu, saya selalu kelelahan bila baca tulisan dia di Kalam, misalnya, meski kecenderungan itu hilang bila saya baca kolom atau resensinya. Saya merasa standar dia terhadap sastra atau buku tinggi sekali, dan itu mungkin membuat posisinya jadi terasa adi luhung. Lagi pula, tampaknya, puisinya pun lebih jarang dipublikasi media massa daripada esainya; dan bila kebetulan bertemu puisinya, saya lebih banyak bingung daripada bisa asyik menikmatinya. Bagi saya, dalam selintas baca, puisinya sulit dipahami dan kurang nikmat dibaca. Ini lain sekali bila saya bertemu dengan puisi Joko Pinurbo, misalnya. Kadang-kadang, sebagian puisi Joko Pinurbo mengambang dan sulit dipahami karena makna dan kosakatanya ambigu; tapi saya masih bisa merasakan samar-samar nuansa keindahan di sana. Dalam puisi ND yang sukar, saya bahkan langsung merasa gagal meraba sebenarnya apa yang dia ungkapkan.

Di dalam Puisi dan Beberapa Masalahnya (1993), Saini K.M. sudah memuji bakat dan kemampuan Nirwan Dewanto. Waktu kuliah di ITB, Nirwan Dewanto merupakan salah satu penyair muda yang puisinya mendapat perhatian Saini K.M. di Pertemuan Kecil Pikiran Rakyat. Kata Saini: "Nirwan Dewanto, dalam bentuk kesamar-samaran, memperlihatkan kemungkinan yang dapat diharapkan di masa depan. Dia tidak saja peka terhadap kehidupan batinnya, melainkan juga terhadap dunia (lahiriah) di luar dirinya. Sajaknya menyajikan renungan yang cenderung falsafi." Puisi Nirwan Dewanto yang dimaksud Saini berjudul Agustus.

-*-

Jadi, kegirangan saya menerima buku puisi yang didesain dengan elok dan mencolok ini segera berubah jadi semacam bencana dan kejengkelan karena setelah membolak-balik ke sana-kemari, saya tak jua menemukan puisi yang enak atau bisa dipahami. Saya nyaris putus asa dan merutuk, karena tak kunjung ngerti, maksud dia menulis puisi itu apa? Hampir tak ada nikmat-nikmatnya. Jauh lebih nikmat bila saya baca puisi amatir kawan-kawan lama. Memang satu-dua puisinya ada yang cukup saya pahami atau cukup bisa saya rasakan keindahannya; tapi secara keseluruhan, bukunya merupakan himpunan puisi yang sukar.

Begitu baca puisi pembuka, Perenang Buta, saya seperti ditubruk oleh moncong pesawat terbang. Blas, buta sama sekali apa maksudnya. Betapa sulit saya mengira-ngira dia mau menulis tentang subjek apa. Seolah-olah ada batu karang yang begitu besar dan saya harus bisa mengangkatnya agar mampu beranjak dari sana dan segala sesuatu mengalir. Saya memaksakan lanjut ke puisi kedua, sama saja nasibnya. Rasanya ada yang mampat, "nggak bunyi." Seterusnya, sampai akhirnya saya kacau, mencari dari halaman sana-sini, berusaha menemukan puisi yang kira-kira bisa pahami atau nikmati.

Betapa susah menemukan frasa pada puisi-puisi yang bisa dengan mudah saya pahami sebagai sesama pengguna bahasa Indonesia. ND jauh lebih semangat menggunakan kokakata yang terasa asing, jarang digunakan dalam ungkapan sehari-hari, misalnya campuhan, zuhrah, bubu---bahkan tak terdaftar dalam Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko. Tiga frasa yang membagi himpunan puisi ini pun asing sekali, yaitu Biru Kidal, Kuning Silam, dan Merah Suam; bahkan makna tersirat ketiganya pun sulit sekali diraba apa maksudnya.

ND tampak sengaja cenderung memilih cara ungkap yang sulit dipahami dan berbelit-belit, misal:
Ia seperti hendak kembali
ke arah teluk, di mana putih layar
pastilah iri pada bola matanya.

Atau:
Lihat, betapa durinya melimpah ke luar mimpi, seperti hujan pagi.

Dengan cara seperti itu, mau bicara apa ND dengan puisi-puisinya?




ND menempuh cara yang sama sekali tidak populer dalam menulis puisi. Dia sengaja menggunakan bahasa adi luhung dan menyembunyikan makna serapat mungkin, malah seolah-olah ingin menaruh setinggi mungkin dari jangkauan penafsiran para pembaca. Ada kesan dia ingin menyimpan puisi-puisi itu sebagai rahasia yang sulit dipecahkan maknanya baik oleh para pembaca awam maupun kritikus ahli. Dia sengaja menyulitkan pembaca. Hasan Aspahani, seorang penyair produktif, berusaha memahami puisi-puisi ND dalam rangkaian esai cukup panjang: Tiga Belas Cara Saya Membaca Sajak Nirwan. Hasilnya, dia bahkan berhenti pada cara kesepuluh. Paragraf terakhir di esai kesepuluhnya, Hasan menulis: "Bagi pembaca yang suka kerumitan mungkin mengasyikkanlah menebak-nebak apa maunya sajak itu. Bagi saya, tidak. Ini sajak melelahkan. Dan saya kesal karena perburuan saya sepertinya sia-sia. Tapi, bukankah Nirwan sudah mewanti-wanti agar pembaca jangan berburu lambang dalam sajaknya?"

Via email, Saut Situmorang, penyair asal Yogyakarta yang baru-baru ini menerbitkan buku puisi Otobiografi, mengomentari buku Nirwan begini: "Dia memilih mana yang kira-kira akan membuat pembacanya tahu kalau dia baru saja habis baca sajak-sajak orang lain."

Karena saya langsung kesulitan membaca buku puisi itu, seorang teman yang sama-sama pernah jadi ketua Grup Apresiasi Sastra (GAS) ITB seperti ND, menanggapi: "Komentar kamu mirip orang yang ngomel pada lukisan Picasso tentang wanita cantik. Kotak-kotak nggak karuan kok dibilang wanita cantik?! Enakan melihat karya Basuki Abdullah... begitu ya. Saya rasa Nirwan mencoba menggunakan metafora baru, dengan latar belakang bacaannya tentang negeri Amerika Latin, sejarah bangsa-bangsa, dan seterusnya. Mungkin terasa asing buat imajinasi kita. Tapi ya nikmati saja kalau ada metaforanya yang enak atau kata-kata yang unik."

Ajakan yang persuasif sebenarnya. Dalam sajak, kita berharap mendapat inti makna yang lebih sensitif dibandingkan membaca prosa atau berita. Boleh jadi karena ada proses internalisasi di sana. Para penyair memiliki ruang yang lebih sempit untuk menaruh kata-katanya demi membangun makna. Dibandingkan esais sekalipun, pilihannya kurang leluasa. Dia harus lebih hati-hati memutuskan kata yang dipilih. Tapi bila hasilnya menyulitkan sebagian pembaca, apa yang sebaiknya dilakukan?

Mari kita mulai dari orang yang mula-mula mengomentari buku puisi Nirwan. Melanie Budianta, seorang ilmuwan sastra, berpendapat bahwa puisi Nirwan merupakan sehamparan momen estetika. Menurut Melanie, buku Nirwan ini berusaha memperluas potensi kata, sensasi imajinasi dan nuansa makna.

Berbeda dengan penyair yang kerap mengejar imajinasi batin, menerangkan idealisme, atau membangun suasana, Nirwan banyak bicara tentang binatang, tetumbuhan, juga benda-benda mati. Pilihan subjek ini tampak ajaib sekaligus menantang. Di dunia binatang, dia bicara tentang kunang-kunang, ubur-ubur, cumi-cumi, harimau, semut, ular, lembu, kucing persia, anjing, burung hantu, keledai; di dunia tetumbuhan dia menulis tentang apel, semangka, putri malu, nenas, makanan, kopi, mawah, garam; tentang benda mati dia bicara tentang peniti, kain, kancing, akuarium, gerabah, patung, bubu, biola, selendang, bayonet, lonceng. Subjek itu sangat aneh bila dibandingkan penyair yang gemar bicara cinta atau romantisme. Tapi bukan pula Nirwan anti membicarakan perasaannya, sebab dia menyisakan ruang untuk menulis tentang puisinya (Semu) juga tentang musim gugur dalam dua belas rangkaian haiku yang imajinatif (Dua Belas Kilas Musim Gugur.)

Pemikir Islam Ulul Abshar-Abdalla, menyatakan bahwa Nirwan berusaha membiarkan benda-benda dan peristiwa mengalir lewat dirinya, menjadi sebentang sajak yang mirip cangkang telur putih dan kabur. Dengan begitu, boleh jadi sajak Nirwan sebenarnya rapuh karena sudah berusaha menetaskan kata sebagai makna.

Baik setelah membaca urut dan membolak-balik, dari ke 46 puisi itu saya hanya menemukan tiga sajak yang terasa paling mudah untuk dimasuki, yaitu Kain Sigli, ode tentang keindahan kain dari sebuah daerah di Aceh; Kopi, ode tentang kenikmatan minum kopi; dan Dua Belas Kilas Musim Gugur, ode ala haiku tentang musim gugur. Sisanya saya merasakan persis yang dikhawatirkan Enin Surpiyanto terhadap puisi bebas, yakni saya menghadapi kabut kata dan kalimat yang sulit saya cerna untuk sekadar beroleh kenikmatan kata dan bahasa.

-*-

Setelah berbagi kesulitan membaca puisi Nirwan Dewanto, saya menaruh buku itu di antara himpitan buku lain dalam rak, entah kapan lagi saya akan membukanya. Jelas saya gentar, lantas teringat komentar Farid Gaban tentang tulisan-tulisan sulit karya sejumlah cendekiawan Indonesia. Kata dia: Tulisan itu mengandung ide yang bagus dan jarang dibicarakan, namun ide yang bagus itu ditulis dengan bahasa yang sulit dipahami orang awam. Buku Nirwan Dewanto boleh jadi salah satu buku paling sulit yang pernah saya baca. Tapi untunglah, seorang kawan mengirim pesan, "Tax, apa boleh pinjam buku Nirwan?" Wah... tak sabar saya ingin mengirim buku itu kepadanya.[]

ANWAR HOLID, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com

Situs terkait:
http://www.gramedia.com

1 comment:

master the king said...
This comment has been removed by the author.