Monday, May 25, 2009


Bisakah kita mengeja f-r-u-s-t-r-a-s-i dengan baik?
[HALAMAN GANJIL]

Salah Eja atau Salah Pikir?
---Anwar Holid


Coba ucapkan "frustrasi" dengan lantang. Dengar baik-baik. Apa ia terdengar sebagai "frustasi"? Kalau ragu, mintalah beberapa teman Anda mengucapkannya dengan keras. Mana yang lebih sering mereka ucapkan: "frustasi" atau "frustrasi"?

Saya cek di Google, ternyata orang jauh lebih banyak menulis "frustasi" daripada "frustrasi." Kurang-lebih setengahnya. Betapa massal kebiasaan salah eja itu. Saya mengecek di arsip-arsip milis, ternyata para membernya pun, sekalipun banyak di antara mereka ialah penulis profesional dan wartawan, melakukan kesalahan serupa. Barangkali saya pun pernah melakukannya.

Baru-baru ini saya baca Our Iceberg is Melting (Elex Media Komputindo, 2007), karya John Kotter dan Holger Rathgeber. Di buku itu saya menemukan kira-kira enam kali kata frustrasi; sekali dieja sebagai f-r-u-s-t-r-a-s-i, sisanya dieja sebagai f-r-u-s-t-a-s-i. Hal serupa saya jumpai di 50 Self-Help Classics (Tom Butler-Bowdon) terbitan BIP.

Pada tahun 2007 lalu Ufuk Press menerbitkan novel karya Mark Robert Bowden, berjudul Joey, Si Frustasi yang Beruntung. Saya memberi tahu, bahwa ejaan yang benar itu ialah "frustrasi." Di dunia musik, band Tipe-X dan Ebiet G. Ade sama-sama menciptakan lagu berjudul "Frustasi." Di Bandung, ada sebuah band bernama The Frustaters. Saya yakin mereka pasti gagal bila diminta mengucapkan "frustrasi."

Salah eja seperti itu betul-betul bikin saya frustrasi. Melakukan kesalahan umum ternyata begitu mudah. Alangkah sulit menulis sesuatu sebagaimana mestinya. Apa kata itu terlalu sulit untuk kita eja? Kalau mengeja frustrasi saja susah, bagaimana lagi bila kita harus menulis: Csikszentmihalyi atau Nietzsche misalnya? Nama akhir saya yang sangat biasa saja kerap salah ditulis sebagai Cholid atau Kholid.

Apa yang kira-kira terjadi pada kita? Apa tangan dan lidah kita secara fisiologi, gen, serta budaya selalu selip dalam mengeja dan menyerap kata frustrasi atau justru pikiran kita yang menganggap bahwa yang benar ialah frustasi?[]

ANWAR HOLID, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Blogger di http://halamanganjil.blogspot.com. Bekerja sebagai editor dan penulis.

KONTAK: wartax@yahoo.com (022) 2037348 Panorama II No. 26 B Bandung 40141

2 comments:

Bahtiar Baihaqi said...

Bahkan, kita pun masih lebih suka "merubah" daripada "mengubah". Lalu, di lain kesempatan kita masih sering kacau menempatkan dengan benar letak "dua 'di/di-'" sehingga susah dimengerti pula apakah senyatanya sedang berada "di kontrakan" atau tengah menawar-nawarkan tempat tinggalnya untuk "dikontrakkan". Anehnya, kita merasa nyaman-nyaman saja "memakai baju bolong-bolong" itu di publik.

[HALAMAN GANJIL] & TEXTOUR said...

Benar. Berbahasa secara umum itu kan ada aturannya (norma). Tinggal kesepakatannya seperti apa. Kadang-kadang secara massif suatu kaum melakukan kesalah; tapi kalau itu memang kesepakatan berbahasa mereka, mungkin memang itu yang paling baik.