Friday, May 29, 2009



Menanti Langkah Baru
---Anwar Holid


SAMPAI akhir 2008 ini perkembangan perbukuan Indonesia masih menarik. Kita makin kerap mendengar ada buku laris lebih dari ratusan ribu kopi, berbagai informasi buku, efek Kick Andy, peluncuran dan tanda tangan, talkshow, festival, pameran dan pasar buku, sayembara, juga penghargaan sastra. Belum lagi ada penerbit e-book & buku digital, termasuk publisitas dan gaya hidup perbukuan di berbagai situs. Dengan perkembangan seperti itu, kita boleh tetap optimistik terhadap dunia perbukuan.

Ada juga yang patut terus disemangati. Matabaca memasuki tahun ke-6, tetap bertahan, dan baru-baru ini menyebar polling untuk meningkatkan layanan. Dalam konteks Indonesia, Matabaca mengagumkan dan patut didukung lebih banyak lagi pegiat baik dari industri perbukuan, percetakan, dan media massa. Beberapa penerbit memiliki media internal yang digarap serius. GPU memiliki Bibliophile, Kelompok Agromedia menerbitkan Bukuné, Erlangga dengan Editor's Choice. Rentang isi media ini beragam, mulai dari iklan buku baru, isu terkait subjek sebuah buku, konsultasi, hingga memadukannya dengan pilihan dan gaya hidup. Persamaannya, produk yang dipromosikan mayoritas eksklusif merupakan produk penerbit tersebut. Kondisi ini mencerminkan betapa publikasi media perbukuan Indonesia belum terwadahi media tertentu yang bisa menampung semua secara seimbang.

Kondisi itu ingin diperbaiki antara lain oleh Matabaca, yang terbukti berusaha ada di lintas penerbit dan menjadikan buku sebagai sumber informasi. Lepas upaya itu belum maksimal, tampak kesulitan menggaet iklan dari industri perbukuan dan yang terkait secara lebih luas---misalnya percetakan, distribusi, biro iklan, jasa penyuntingan, alat tulis kantor (stationery) dan seterusnya---toh hingga kini cukup mampu mengangkat isu-isu yang senantiasa bisa membuat peminat buku menoleh dan berkomentar. Mungkin kelemahan paling kentara ialah justru kurangnya layanan kepada penerbit, misal terbatasnya jumlah resensi, tiadanya gambaran pasar yang cukup jelas, juga menangkap trend yang terjadi pada para bookaholic.

Sekilas melihat Publishers Weekly (PW) dan Writer's Digest (WD)---yang fokus pada industri penerbitan dan kepenulisan---kita lihat bahwa selain iklan buku, media ini memuat iklan lowongan kerja di dunia penerbitan, sayembara penulisan, agenda pertemuan dan festival sastra, workshop menulis, distributor (pemborong buku), teknologi percetakan, literary agent, print-on-demand, self publishing, sampai software dan aksesoris menulis. Sebuah keterkaitan yang tampak sukar dikejar oleh media perbukuan Indonesia. Perbukuan kita belum mampu menarik stakeholder berbondong-bondong mendukung media yang mengkhususkan diri di ranah tersebut. Ini menguatkan prasangka ternyata media perbukuan kita belum didukung oleh industrinya.

PW merupakan standar ideal media perbukuan, pada dasarnya juga bukan media bersirkulasi besar. Sampai 2008---136 tahun sejak debutnya---sirkulasi PW kira-kira 25.000 kopi. Pelanggan terbesarnya ialah penerbit (6000), perpustakaan (5500), toko buku (3800), penulis dan pengarang (1600), perpustakaan universitas & sekolah tinggi (1500), media cetak, film, dan umum (950), dan literary agent & agen rights (750). Rubrik andalannya ialah resensi buku, yang bisa mencapai 40 halaman tiap edisi, menghasilkan resensi lebih dari 7000 judul baru per tahun. "Starred Review" PW kerap jadi jaminan bahwa buku tersebut berkualitas, hingga kerap dikutip menjadi blurb maupun endorsement.

Jelas PW memilih lebih melayani dinamika industri, yang dikomandoi penerbit. Ia hendak menyetir selera pembaca. Sebaliknya, media perbukuan kita cenderung melayani dan menyajikan keinginan pembaca umum, namun tampak sulit menyemangati kalangan industri dan pelaku bisnis, akibatnya mereka malas berlangganan maupun berinvestasi, baik lewat iklan maupun promosi.

MEDIA perbukuan yang patut diperhatikan muncul di Internet. Media ini dibangun secara personal maupun kolektif; sebagian masih buruk, namun sebagian lagi sudah baik, di-update teratur, berisi artikel, esai, dan topik menarik sesuai niat pendiriannya. Jumlahnya cukup mencengangkan, sebab cukup mudah ditemukan, terutama karena keterkaitan antarmereka terbina dengan baik. Setiap situs dan blog selalu mencantumkan rekomendasi link luar. Sambung-menyambung seakan tiada henti. Yang paling menonjol dari sini ialah dedikasi para pendirinya yang nyaris tanpa pamrih, semata-mata demi kepuasan batin, memenuhi idealisme, menyebarkan pemikiran, dan memanjakan selera.

Di Internet ini kita menyaksikan book blogger, terdiri dari mereka yang tanpa pamrih mencintai buku, menikmati dan membicarakan dengan semangat, nyaris tanpa pretensi apa pun selain mengedepankan kesenangan dan selera, alih-alih mengkritik secara sok ilmiah. Sejumlah penerbit telah menangkap peran mereka dan memberi akses agar bisa lebih banyak lagi membaca, mengomentari, membicarakan, dan lantas menyebarkan dan merekomendasikan buku kepada kawan lain. Mereka lebih terpikat internet yang interaktif, cepat, spontan, dan langsung, dibandingkan media cetak yang cenderung lambat, serius, dan kurang interaktif.

Namun tulisan mereka kerap merupakan spoiler, hanya bercerita ulang, bahkan salinan sinopsis, alih-alih merupakan pendapat (komentar) yang jernih dan mampu memberi letupan penasaran pada khalayak. Kelemahan lain dari media ini ialah rendahnya standar kepenulisan, abai terhadap EYD dan kesepakatan umum. Lepas dari itu, media ini pantas diperhatian karena zaman memang mendukung, dipenuhi fasilitas berlimpah. Sebagian penulis malas menulis di media cetak yang ribet dan banyak aturan, sementara di Internet mereka bisa bebas menulis, ekspresif, tanpa halangan, langsung, pada teman-teman dekat. Ini sulit tergantikan.

Kelemahan ini lambat ditutup oleh ide yang mampu mengikat pembaca di setiap edisi baru. "Ide berbuku" kurang tumbuh di media perbukuan, sementara Internet dan semua turunannya berhasil terus-menerus menyambungkan pembaca satu ke pihak lain secara simultan dan nyaris tanpa henti. Ide berbuku apa yang kira-kira kurang tergali media perbukuan? Misalnya mengangkat tema "Buku Tahun Ini", "Penulis Paling Berpengaruh," "Cara Canggih Menulis" (bisa membahas gadget, software menulis, blog, dan sejenisnya), "Penulis Berbakat Tahun Ini", "Penerbit Paling Inovatif", "Penulis Legendaris Indonesia," "Buku Abadi Sastra Kita," atau menerawang masa depan perbukuan. Ketika Haidar Bagir, pendiri Mizan, terpilih sebagai "Top Ten The Best CEO 2008" versi SWA---peristiwa itu luput dari perhatian media perbukuan. Padahal itu bisa dijadikan topik cara mengelola penerbitan yang sukses dan memberi kontribusi pada bangsa. Tampak bahwa ide masih berkutat dengan ide berbuku yang masih menggunakan kertas.

KITA tahu Internet telah menyita waktu, ruang, dan energi yang semakin besar dalam kehidupan manusia. Tapi juga sadar Internet makin mengganggu, memecah konsentrasi, menghalangi orang dari upaya meditasi dan pemikiran mendalam. Beberapa media perbukuan semata-mata terbit online, meski produk turunannya berupa cetakan. Media buku konvensional harus melakukan reposisi dan reorientasi. Bila sukses, media bakal bisa bertahan sepuluh tahun ke depan, mengikuti jejak PW, Kirkus Review, dan WD.

Media perbukuan harus mendekatkan diri pada dinamika industri, yang berdampak besar pada perubahan pasar maupun pendekatan bisnis, bukan mendekati para selebriti untuk dikaitkan dengan buku. Mungkin menarik menimbang jalan yang ditempuh PW dan Kirkus Review: mereka jauh lebih banyak mengulas buku yang akan terbit beberapa minggu sebelumnya. Itulah yang akan jadi panduan bagi penerbit, toko buku, pemborong, termasuk perpustakaan. Beranikah Matabaca bereksperimen dengan hal itu? Mari kita tunggu langkah Matabaca selanjutnya.[]

Anwar Holid bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis freelance. Blogger di http://halamanganjil.blogspot.com.

NOTE: Matabaca memuat esai ini pada edisi pamungkas mereka, yaitu pada Desember 2008.

No comments: