Monday, June 03, 2013

20th Century Photography 
Museum Ludwig Cologne
--Anwar Holid

20th Century Photography Museum Ludwig Cologne 
Penulis: Reinhold Mißelbeck, et al.
Penerbit: Taschen, 2008
Halaman: 191 hal.
ISBN: 978-3-8365-0781-3

Buku penting berisi karya ikonik para fotografer paling berpengaruh abad ke-20.

Banyak pendapat menyatakan bahwa penemuan fotografi membebaskan seni lukis dari "kebutuhan" meniru kenyataan (realitas) yang bisa dilihat manusia. Fotografi memungkinkan orang mengambil atau mendapatkan gambar sesuai kenyataan secara cepat, akurat, dan seperti tampak mudah, seolah-olah semua orang bisa melakukannya dengan baik dan menarik. Pada perkembangannya sekarang, terlebih di era digital, fotografi tidak hanya mampu meniru atau "mengabadikan" kenyataan, melainkan juga bisa membuat kenyataan jadi tampak berbeda, memiliki konteks, maksud, kedalaman, sudut pandang, sesuai konsep penciptanya masing-masing.

20th Century Photography Museum Ludwig Cologne merupakan sejenis buku rujukan singkat dari para pionir fotografer terhebat dan paling berpengaruh di abad ke-20 beserta contoh karyanya yang sangat ikonik. Bahkan mungkin bisa dikatakan isinya mencakup semua fotografer penting abad ke-20 yang membentuk perkembangan dunia fotografi menjadi seperti yang kita kenal sekarang. Memuat karya enam puluh dua fotografer mulai dari Ansel Adams hingga Joel Peter Witkin, buku ini dengan sangat pas menghadirkan foto berbagai genre, mulai dari still life, potret, nude, pemandangan, kolase, fotojurnalisme/reportase, studio, fashion/glamour, konseptual, eksperimen, hingga abstrak. Dari sini kita bisa menyaksikan perkembangan fotografi yang merekam berbagai kondisi manusia sejak masa pra Perang Dunia I hingga masa keemasan Hollywood.

Entri para fotografer biasanya dimulai dengan informasi awal perjalanan karir mereka memasuki dunia fotografi, seperti apa pemikiran atau visinya, kenapa karya-karya mereka dianggap penting, ditambah berbagai pencapaian saat mereka yang dinilai memberi sumbangsih luar biasa penting bagi kebudayaan pada umumnya. Harus diingat, di awal masa modern, fotografi dianggap bukan merupakan karya seni, bahkan dinilai sesuatu yang murahan. Barangkali justru karena kemudahannya, fotografi sulit mendapat tempat agar bisa menjadi sesuatu yang istimewa dan bernilai seni tinggi. Berkat para pionir yang ada di buku inilah fotografi menjadi cabang seni yang setara, memiliki ilmu, disiplin, dan perkembangannya sendiri yang mandiri. Contoh Alfred Stieglitz, seorang pionir paling awal yang membawa fotografi jadi subjek penting, justru mengawali karirnya sebagai pelukis. Di masa kini, kita menyaksikan fotografi ternyata bisa berpadu dengan berbagai media atau saling melengkapi sehingga bisa menghasilkan karya-karya yang mencengangkan.

Yang menarik lagi di buku ini ialah mayoritas foto masih berupa hitam-putih (B/W), sepia, atau monokrom. Ini wajar, mengingat teknologi fotografi di masa awalnya belum bisa menangkap warna alamiah sebagaimana yang dilihat manusia. Foto B/W sebenarnya bukan merupakan pilihan fotografer, melainkan karena teknologi foto berwarna belum tercapai. Nah, justru ini makin membuktikan kehebatan fotografer zaman dulu, betapa mereka bisa menghasilkan foto yang benar-benar abadi meski kameranya barangkali biasa. Helmut Newton pernah menyatakan bahwa kamera yang dia gunakan adalah jenis biasa yang sering digunakan orang, perlengkapannya biasa, yang membedakan ialah apa yang ada di dalam kepala seorang fotografer.

Singkat kata, buku ini wajib dibaca atau minimal dibuka-buka semua orang yang tertarik fotografi, baik dirinya seorang fotografer wannabe, fotografer amatir, atau calon seniman fotografer. Dari buku ini minimal seseorang bisa menimba ilmu dan ide agar bisa menjepret foto yang memuaskan fotografernya sendiri, atau bisa juga buku ini dijadikan tolok ukur (benchmark) sudah sehebat apa karya kita.[]

Ilustrasi dari Internet.
Buku ini bisa dipinjam di Kineruku, Bandung.

Anwar Holid, mulai berani mencantumkan 'fotografi' sebagai tambahan hobinya.

2 comments:

Ridzki said...

Hi Anwar, ingin bertanya saja pada jaman sekarang dimana informasi mengenai fotografi (termasuk karya-karya iconic) dapat didapat dengan mudah, cepat dan sangat banyak. Apa relevansi atau hal khusus yang membuat seorang fotografer wannabe, fotografer amatir, atau calon seniman fotografer untuk memiliki/membaca buku ini?

HALAMAN GANJIL dan TEXTOUR said...

hi ridzki, thx komen kamu yah.

bener sih foto-foto ikonik itu gampang dicari di internet, tapi kalo bersatu dalam satu buku lain efeknya buat pembaca. dalam buku, semua elemennya sudah bersatu, hingga pembaca bisa menikmati secara lebih padu/komprehensif. sementara kalo harus dicari dulu satu per satu via internet... capek.

di luar itu, mungkin sebagian foto di dalam buku itu tidak ada yang upload ke internet. jadi satu-satu cara ya harus baca buku.

thx banget.