Wednesday, June 05, 2013

J. M. Coetzee

--Anwar Holid

Ada dua spekulasi soal kepanjangan M dalam nama tengah Coetzee. Yang pertama ialah Michael, kedua Maxwell. Tampaknya pilihan kedua lebih diyakini kebenarannya oleh banyak pihak, meski sulit dapat konfirmasi langsung dari penulisnya, sebab dia sangat tertutup. Coetzee terkenal suka sengaja menghindari publisitas dan dingin terhadap pers. Dia tak hadir dalam dua kali acara resepsi penyerahan Booker Prize untuk dirinya, malah diwakilkan kepada editornya. Maka ketika tahun 2003 dia diumumkan mendapat Hadiah Nobel untuk Sastra panitia sudah sejak jauh hari memastikan bahwa beliau akan hadir di acara penganugerahan sekaligus membacakan pidato penerimaan.

Coetzee merupakan penulis dengan prestasi luar biasa. Yang paling fenomenal dia adalah penulis pertama yang memenangi Booker Prize dua kali dan menerima Hadiah Nobel untuk Sastra. Coetzee tiga kali mendapat Central News Agency (CNA), anugerah sastra paling terkemuka di Afrika Selatan pada 1978, 1980, 1983. Di luar itu dia memenangi penghargaan sastra prestisius lain seperti Lannan Award for Fiction, Jerusalem Prize, dan The Irish Times International Fiction Prize.

Cukup sayang betapa reputasi Coetzee di Indonesia tampaknya kalah pamor dibandingkan penulis Afrika lain, katakanlah dengan Nadine Gordimer, penulis Afrika Selatan pertama yang memenangi Hadiah Nobel untuk Sastra. Salah satu sebab paling mencolok barangkali ialah karena Coetzee dianggap tidak pernah secara terang-terangan mengecam atau bereaksi frontal terhadap politik Apartheid. Padahal kalau ditilik, sebenarnya pesan politik dalam tulisan Coetzee juga memiliki banyak nuansa, diisi sejumlah lapis cerita, meski metaforanya cukup berat untuk langsung dipahami dalam sekali baca. Indonesia pertama kali mengenal karya Coetzee lewat terjemahan Jeritan Hati Nurani (Waiting for the Barbarians), salah satu karya awal dia yang paling direkomendasikan, bahkan kini telah masuk kategori "klasik modern." Setelah itu muncul terjemahan Life and Times of Michael K dan Disgrace.

Life and Times of Michael K (1993) menceritakan Michael K, lelaki polos yang berniat mudik setelah kematian ibunya. Di negeri yang tengah dilanda perang saudara, tatanan sosial rusak, dan kepercayaan pada sesama manusia nyaris punah, kita akan mendapati betapa pandangan K justru menghadirkan sesuatu yang sangat jujur, berani, bahkan mengalahkan keberanian palsu dan sok kuasa seorang tentara desertir.

Disgrace (1999) bisa dikatakan sangat kaya nuansa bagi novel yang terbilang tipis. Novel ini menceritakan seorang dosen sastra kulit putih yang womanizer, tapi pada satu kejadian dia dituntut pengadilan melakukan perundungan seksual pada mahasiswanya sendiri yang berkulit hitam. Di Afrika Selatan, peristiwa ini jelas skandal, muncul ke permukaan publik, sampai membuatnya ditendang dari alma mater dan dipermalukan pers. Novel ini menawarkan kedalaman dan keluasan yang universal dan mendasar. Dari sisi teknik novel ini ditulis sederhana, jelas, plotnya pun cukup cepat; tapi pembaca masih bisa menarik banyak simpul dari setiap peristiwa dan narasi di dalamnya, juga sangat memuaskan dan mudah dicerap dalam sekali baca. Yang sulit dilupakan adalah David Lurie, antihero yang dihadirkan Coetzee nyaris tanpa belas kasih dan simpati. Lurie tampak begitu kasar, bisa membuat pembaca jijik, sampai mengganggu pikiran betapa jenis manusia seperti dia ternyata ada.

Selain novel, keunggulan Coetzee yang juga kerap disanjung ialah kemampuannya menulis novel berbasis memoar (autobiografi yang difiksikan), bahkan dia mengajukan istilah khusus untuk itu, yaitu "autrebiography." Di ranah ini Coetzee telah menulis tiga buku yaitu Boyhood (1997), Youth (2002), dan Summertime (2009) yang merupakan memoir masa kecil, muda, dan dewasa. Ketiga buku ini pada tahun 2011 lalu dia edit dan diterbitkan dalam satu volume berjudul Scenes from Provincial Life.

Selain membangun karir di dunia fiksi, Coetzee juga dikenal kuat sebagai kritikus sastra dan penerjemah karya penulis lain ke dalam bahasa Belanda, Jerman, Prancis, dan Afrikaans, bahasa mayoritas penduduk kulit putih di Afrika Selatan. Salah satu buku kritiknya yang dianggap penting ialah Giving Offense: Essays on Censorship (1996). Dia menjadi profesor sastra dan bahasa di alma maternya Universitas Cape Town, tapi pada tahun 2002 Coetzee pindah ke Australia, dan pada tahun 2006 menjadi warga negara di sana.[]

Ilustrasi didapat dari Internet.

Buku J. M. Coetzee tersedia di Kineruku, Bandung antara lain:
* Waiting for the Barbarians
* Life & Times of Michael K
* Disgrace
* The Master of Petersburg
* Youth
* Elizabeth Costello

Anwar Holid mengedit edisi Indonesia Life & Times of Michael K dan Disgrace.

1 comment:

Rizki Amaliah said...

Kak, kalau boleh tau, apakah ada disgrace versi indonesia? Kalau iyah mohon info dong kak