Showing posts with label Barack Obama. Show all posts
Showing posts with label Barack Obama. Show all posts

Thursday, October 22, 2009


Foto cover oleh Anwar Holid.

Impian akan Seorang Ayah
---Anwar Holid

BILA jalan hidup Barack Obama biasa saja, tanpa terobosan, tidak menatah sejarah sebagai presiden Amerika Serikat pertama keturunan Afrika, Dreams from My Father bisa jadi terlupakan dan terkubur. Bagaimana tidak? Buku ini baru terbit ulang setelah out of print begitu Obama terpilih sebagai salah satu pembicara utama di Konvensi Nasional Demokratik (DNC) 2004 yang melejitkannya sebagai rising star politik Amerika Serikat.

Buku ini aslinya terbit pada 18 Juli 1995, ketika usia Obama 33, beberapa tahun sebelum Obama menjadi politisi, melainkan seorang aktivis masyarakat. Cikal-bakalnya lahir setelah dia terpilih sebagai Presiden Harvard Law Review pada 1990. Dia merupakan orang African-American pertama yang terpilih sebagai presiden jurnal hukum terkemuka tersebut. Kejadian itu bersejarah, membuat New York Times memuat profil Obama. Isi berita tersebut menarik perhatian seorang literary agent muda bernama Jane Dystel. Dia lantas merancang proposal penulisan buku oleh Obama berisi kisah kehidupannya, dikirim ke berbagai penerbit sampai akhirnya menemukan kesepakatan dengan Poseidon---sebuah imprint kecil dari konglomerasi penerbit Simon & Schuster.

Sayang setelah beberapa tahun lewat ternyata Obama tetap gagal menuntaskan buku tersebut. Dia hendak menyelesaikan studi dan mulai merintis karir lebih dahulu. Akibatnya Simon & Schuster membatalkan kontrak. Dystel mendekati Henry Ferris, editor senior Times Book dari kelompok Random House, dan Peter Osnos, wakil penerbit tersebut. Setelah bertemu dan mendengar cerita Obama, Times Book merasa bahwa kisah itu menarik, dan Obama yakin bisa menyelesaikan penulisannya.

Cetakan pertama buku ini laku 10 ribu kopi, menerima kritik bagus, di antaranya dari Publishers Weekly, dengan komentar ”mengharukan, memoar yang menggali kisah kehidupan langka---buku yang menggetarkan, dalam, dan kaya.” Setelah itu peredarannya habis. Namun, begitu Obama menjadi bintang Partai Demokrat, Crown Books segera menerbitkan ulang buku tesebut, ditambah pengantar baru Barack Obama dan lampiran pidato di DNC. Edisi itu menjelma sebagai sukses besar, terjual lebih dari 500.000 kopi dalam semester pertama. Edisi audio book-nya memenangi Grammy Award untuk kategori Best Spoken Word Album 2006. Sementara itu edisi pertama terbitan Times Book jadi barang buruan langka di kalangan kolektor, sebab hanya satu-dua yang bertanda tangan Obama. Harga satuannya bisa mencapai 13.000 dolar AS. Lebih dari satu dekade kemudian, penulis terkemuka macam Toni Morrison maupun Joe Klein baru tergerak membaca dan memuji-mujinya pada tahun 2008.

OBAMA menulis dengan gaya jurnalisme sastrawi (literary journalism), dan itu membuat kisah dalam bukunya sangat enak dinikmati. Penuturannya lentur, bahasanya ekspresif, dan eksplorasi terhadap identitas dirinya begitu emosional. Judul buku ini menyiratkan obsesi Obama akan ayah yang meninggalkannya sejak umur dua tahun, berusaha mereka-reka bayangannya berdasar cerita ibu dan keluarganya yang berkulit putih. Ayah jadi bayang-bayang idealisasi yang melahirkan perasaan rindu-dendam, apalagi selama masa pertumbuhan itu Obama menghadapai masalah identitas dan rasialisme. Sebenarnya subjek buku ini lebih menekankan pada pencarian akar budaya, pembentukan karakter, perjuangaan akan idealisme, dan penerimaan takdir.

Karena warna kulitnya, Obama mengidentifikasi diri sebagai keturunan Afrika. Ketika remaja, mula-mula dia sadar dirinya merupakan minoritas di tengah dominasi siswa keturunan Asia, sementara ketika kuliah dan dewasa, kaum kulit putih mendominasi segala bidang kehidupan sosial-politik AS. Namun identifikasi ini pun tetap bermasalah, sebab dalam kehidupan sosial-politik di AS tahun 1980-an rasisme masih merupakan persoalan sensitif. Di sinilah subjudul asli buku ini "kisah mengenai ras dan keturunan" menemukan signifikansi. Ketegangan menemukan identitas itu membuat Obama bertanya-tanya. Bila dalam lingkungan keluarganya menerima warisan banyak budaya---Amerika Serikat, Kenya, Indonesia, Kristen, dan Islam---kenapa dalam kehidupan sosial hal itu mudah menimbulkan prasangka dan sukar sekali diwujudkan?

Ayah Obama berasal dari Kenya, datang ke Amerika Serikat untuk belajar dan kelak kembali ke kampung halamannya untuk ikut serta memajukan negerinya. Dari cerita ibu dan kakek-neneknya, Obama tahu bahwa ayahnya brilian, cerdas, dan hebat, meskipun temperamental dan dominan. Karena tak terjangkau dalam kehidupan sehari-hari, lama-lama ayahnya berubah lebih merupakan mitos. Obama baru sadar akan sejarah marga ayahnya dari mulut nenek dan saudara-saudaranya, ketika menjelang kuliah dia mengunjungi kampung halaman ayahnya di pedalaman Kenya, itu pun setelah ayahnya meninggal.

Obama habis-habisan menelusuri kegelisahannya sebagai anak berkulit hitam di negeri kulit putih. Dalam pengembaraan yang emosional itu, dia berusaha mengerti apa artinya menerima warisan budaya bukan saja dari ayah dan ibunya, melainkan juga Indonesia dan agama. Ketika akhirnya memutuskan jadi jemaah gereja Trinity, dia menyatakan keberserahan diri kepada sang Mahakuasa.

Dalam masa transisi pembentukan karakter itu dia kerap frustrasi. Obama mulai mencoba-coba pengalaman pemuda yang lebih ekstrem, memiliki gang, menggugat takdir, merokok, minum alkohol, termasuk marijuana dan kokain. Dia mengakui masa ini merupakan kompensasi dari perjuangan kebingungan menghadapi kondisi sosial dan pencarian identitas karena warisan multirasialnya. Tujuannya, “Untuk menekan agar pertanyaan 'siapa aku' ke luar dari kepala.” Meski sebagian orang memuji karena jujur, pengakuan seperti ini selalu mengejutkan.

Setelah jadi best-seller, buku ini cukup banyak menuai kritik karena para analis sering menemukan inakurasi ingatan Obama dengan fakta. Yang cukup fatal ialah ketika dia menulis ada artikel di Life tentang laki-laki kulit hitam yang berusaha mencuci dan mengelupas kulitnya sampai putih dengan cairan kimia. Chicago Tribune melaporkan bahwa sejarahwan majalah itu menyatakan tak ada artikel seperti itu. Sebagian orang menilai bahwa Obama terlalu menonjolkan perannya sebagai aktivis masyarakat di Altgeld Gardens, sampai terkesan meremehkan sumbangsih orang lain.

Dari segi sosial, buku ini merupakan refleksi tentang ras dan dinamika persoalan sosial, sementara dari segi personal tampak sebagai pembentukan perkembangan jiwa. Bila orang gagal mengatasinya hakikat ras, keturunan, juga warisan budaya, persoalan fisik bisa melahirkan persoalan psikologis mengerikan, seperti tampak dari fenomena rasisme dan tribalisme. Di Indonesia fenomenanya mirip. Persoalan SARA bisa kapan saja meledak bila tak disikapi dengan baik, bahkan di beberapa tempat menimbulkan konflik berkepanjangan. Di sinilah pentingnya penerbitan buku ini bagi publik Indonesia yang juga multikultur dan bersuku-suku. Kita bisa belajar soal toleransi dari sini.

CETAKAN edisi Indonesia ini agak buruk, banyak huruf tampak pecah dan tinta blobor; ini patut disayangkan mengingat kualitas penerjemahan dan penyuntingannya bagus.[]

Anwar Holid bekerja sebagai editor dan penulis, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com

KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Friday, October 24, 2008




MENEMUKAN CICERO BARU
---Anwar Holid

Sebagian orang tak perlu menunggu remaja atau dewasa untuk menjadi pemimpin negara dan bangsa. Karena garis kekuasaan dan silsilah, sebagian orang bisa menjadi pemimpin sejak kanak-kanak, meskipun kepemimpinan itu hanya merupakan pajangan. Dia boleh tak mengeluarkan keputusan untuk warga negara maupun kelangsungan pemerintahan. Sebagai simbol negeri, pemimpin seperti itu cukup duduk manis dan rajin menyelenggarakan upacara hari raya nasional.

Alexander yang Agung merupakan contoh pemimpin muda yang memungkinkan bisa bertindak maupun melakukan ekspedisi hebat dan memperluas kekuasaan. Sebagai putra mahkota Raja Macedonia, Alexander malas sekadar jadi pengganti Philip II. Dia berambisi melakukan sesuatu yang lebih besar dan revolusioner. Sebagai pemimpin muda, pencapaiannya spektakuler, meski kesuksesan itu agak cacat karena kurang disertai administrasi yang rapi dan loyalitas wilayah taklukan, termasuk dipenuhi permusuhan, konspirasi, dan lumuran darah.

Ketika kekuasaan mampat dan korup, hanya berpusar dalam kelompok tertentu atau tak berdampak bagi mayoritas warga negara, kepemimpinan harus direbut. Bila yang berebut kepemimpinan ternyata cukup banyak, persaingannya ialah bagaimana cara meyakinkan warga negara agar percaya dan memilihnya. Di satu titik, politik merupakan keterwakilan. Kalau orang merasa terwakili oleh seorang calon pemimpin, tentu dia akan memilih calon itu. Kalau tidak, dia akan diabaikan orang, dan orang memilih melanjutkan hidup sendiri, yang boleh jadi apolitis.

Sejarah membuktikan bahwa kepemimpinan merupakan perjalanan panjang dan konsisten. Sebagian pemimpin harus magang pada senior. Dalam kasus yang sulit---seperti terjadi pada Syaikh Yusuf, Gandhi, dan Tan Malaka---seorang pemimpin harus berpindah-pindah dan di setiap persinggahan itu dia tetap mampu menciptakan guncangan maupun bertentangan dengan otoritas setempat.

"Demokrasi itu mirip pengalaman hidup---ia selalu berubah, jenisnya begitu beragam. Kadang-kadang bergolak, dan malah lebih teruji bila mendapat kesulitan," demikian Presiden AS Jimmy Carter pernah berkata.

Pemimpin Muda atau Perubahan?

Fenomena anak muda ingin menjadi calon pemimpin bangsa pada dasarnya merupakan gejala alamiah. Bahkan ada kala pemuda begitu ambisius sampai harus menjadi penguasa lewat kudeta.

Dalam memandang kekuasaan dan sistem sosial, generasi muda memang senantiasa ambisius; sebaliknya, generasi tua senantiasa meragukan kemampuan mereka. Selalu ada pertentangan tentang cara membawa bangsa maupun negara di antara keduanya. Yang muda merasa generasi tua lamban, sulit berubah, pro status quo; sementara yang tua menganggap generasi muda kurang pengalaman, gegabah, bahkan kurang bijak. Di setiap tampuk kepemimpinan, persaingan antara golongan tua dengan para calon penggantinya kerap menimbulkan gesekan yang kadang-kadang mengerikan.

Saat kita menyaksikan iklan politik bahwa beberapa tokoh muda berniat menjadi orang nomor satu Indonesia, pertanyaan pertama yang mungkin muncul ialah: Apa motif mereka ingin menjadi presiden? Semua orang berpendapat bahwa untuk menjadi pemimpin tingkat nasional, orang butuh ujian untuk meyakinkan sampai ke sana. Track record-nya harus jelas.

Farid Gaban, seorang jurnalis, ingin menguji para calon presiden itu dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana namun pelik, seperti: Apa saja jenis ikan yang ada di perairan Indonesia? Berapa ongkos produksi rata-rata nelayan Indonesia?; Apakah Anda akan menutup jalan di Jakarta untuk memudahkan rombongan Anda lewat?

Saya sendiri ingin mengajukan pertanyaan sangsi: Benarkah setiap pemuda dapat diharapkan menjadi pemimpin bangsa jika sudah tiba masanya? Bagaimana sikap seseorang yang layak jadi pemimpin? Bekal apa yang sebaiknya mereka miliki? Apa syarat mutlak bahwa kepemimpinan seseorang pantas dipatuhi?

Publik perlu yakin bahwa mereka memang pantas bersaing. Publik pantas diberi tahu apa yang pernah mereka perbuat untuk kepentingan warga negara. Iklan politik memperlihatkan bahwa kepemimpinan merupakan sejenis penawaran kompetensi personal, bukan pencapaian yang muncul dari komitmen dan pengabdian panjang terhadap warga negara. Jelas sulit meyakinkan mayoritas warga bahwa seorang kandidat pantas dipilih ketika rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, dia malah mendukung rezim menaikkan harga.

Ketika individu makin mandiri dan gerakan masyarakat sipil menguat, ketergantungan warga negara pada politik boleh dibilang melemah dan hanya kuat di saat-saat tertentu saja. Bahkan kalau mau orang bisa melanjutkan kehidupan nyaris tanpa politik.

Belajar dari Cicero dan Barack Obama



Dalam Imperium (GPU, 2008) karya Robert Harris, politikus bisa belajar dari Cicero (106 SM - 43 SM), orator, pengacara, dan negarawan Roma. Sejak muda dia berambisi bahwa suatu saat nanti harus menjadi pemimpin yang bisa menentukan arah politik demi kebaikan bersama. Berasal dari kalangan kelas menengah makmur namun minus patron pengaruh dan politik, strategi yang dia jalankan untuk meraih posisi puncak merupakan gabungan antara pengabdian pada kepentingan warga negara, kejelian membaca situasi politik, dan keberanian menghadapi risiko paling berbahaya. Dia berlatih habis-habisan agar jadi pembicara publik, jujur menghadapi kepentingan politik, merangkul sebanyak mungkin kawan, dan dengan cermat menghitung pihak yang pro maupun kontra.

Untuk membuktikan bahwa dirinya sungguh-sungguh, dia memperjuangkan nasib orang-orang yang dijahati dan diperlakukan semena-mena oleh gubernur kejam maupun aparat korup. Tawar-menawar politiknya jelas dan posisi kepentingannya terang. Cicero memperjuangkan nasib mereka; sementara orang dan suku yang dia bela memberi suara dan dana. Dalam politik, yang paling utama ialah kepentingan dan integritas. Kejujuran memang penting; namun selama ia gagal mengantarkan pada puncak kekuasaan, kejujuran hanya membuat politikus membosankan.

Dengan prinsipnya, Cicero membela kepentingan rakyat jelata di parlemen, mengamandemen undang-undang yang dinilai timpang, dan terperinci mencatat dukungan maupun kekuatan lawan. Pilihan itu membuat dia dibenci kaum aristokrat yang berpengaruh, kaya raya, dan memegang kekuasaan di banyak pos, nyaris menjadikan dirinya pahlawan kesiangan. Tapi konsistensi keberhasilan pembelaan yang dia tempuh lama-lama menguatkan reputasi dan memopulerkan namanya.

Barack Obama pun begitu. Meski sadar namanya menasional sejak di Konvensi Nasional Partai Demokrat 2004, dia tak buru-buru jumawa menyatakan ingin ikut mencalonkan diri jadi presiden AS. Tarik ulur ke arah sana dimainkan begitu rupa, disiapkan matang, diupayakan oleh tim sukses yang kompak, dan menempuh strategi lain dari kampanye-kampanye yang pernah ditempuh para kandidat sebelumnya. Pada saatnya, pencapaian tim Obama mencengangkan: mereka berhasil mengumpulkan dana sangat besar dan meyakinkan pendukung amat banyak dari semua golongan.

Di tengah persiapan yang begitu meyakinkan pun, sebagian pengamat politik sudah memperingatkan bahwa Obama masih dianggap terlalu hijau untuk maju menjadi presiden; baik karena kurang pengalaman dalam pemerintahan dan patron politik. Mereka menyarankan agar dia maju lagi pada pemilu periode 2012, ketika usianya matang dan pengalaman politiknya bertambah.

Cicero dan Barack Obama memperlihatkan fakta bahwa tekad dan strategi saja masih kurang bisa menjamin seorang politikus memenangi persaingan menjadi pemimpin. Politikus juga harus dengan jelas punya jumlah pendukung yang bisa diandalkan, tim sukses yang solid, dan biaya kampanye yang cukup.

Saya sedang menyaksikan pergeseran bahwa generasi yang bakal memimpin bangsa dan negara ini makin mendekat dari kawan sepantar. Namun, patut kita hati-hati: akankah mereka menjadi pemimpin sejati? Caranya ialah menentukan makna kepemimpinan itu. Jika pemuda mampu merdeka dari patron dan menjadi diri sendiri, pada saatnya mereka akan menjadi tonggak bangsa dan negara. Jangan sampai para pemuda itu malah jadi penguasa korup ketika tua.[]

---ANWAR HOLID, penulis Barack Hussein Obama (Mizania, 2007).

Esai ini awalnya dimuat di Matabaca, Oktober 2008