Showing posts with label bandung. Show all posts
Showing posts with label bandung. Show all posts

Monday, October 04, 2021

Kisah Tutupnya Warteg di Tegallega

Oleh: Anwar Holid 


Warteg langgananku di samping lapangan Tegallega, Bandung sudah sekitar dua bulan tutup. Waktu beberapa kali aku datangi sehabis kerja, warung ini tutup terus tanpa ada pengumuman di dindingnya. Biasanya kalau mereka libur ada pengumuman kapan mereka akan buka lagi. Aku tanya juru parkir yang mangkal di situ kenapa warung nasi ini tutup saja, mereka jawab, 'Duka a, teu teurang,' — entah mas, gak tahu.


Karena tutup lama, aku sangka mereka habis kontrak dan tidak memperpanjang, atau kena imbas pandemi Covid-19 — entah pelanggan jadi sangat turun, peraturan yang menyulitkan pedagang dan pembeli, atau amit-amit mereka terpapar penyakit mengerikan ini sampai berhenti beroperasi. Kadang-kadang aku sengaja lewat warteg itu sekadar buat ngecek apa mereka beneran tutup atau buka lagi.


Kadang-kadang pas makan di situ aku ngobrol dengan pemiliknya, sepasang suami-istri. Si istri perhatian sama rasa makanan dan nutrisi, sementara si suami suka mendengarkan khutbah di YouTube — meski mereka tetap mengumandangkan dangdut koplo agar suasana terus ceria. Mereka membolehkan aku bawa nasi, jadi aku cuma beli sayur dan lauk. Aku juga sering makan tanpa nasi — kebiasaan yang suka dianggap aneh oleh pelayannya, namun tidak oleh si istri.


Setahun lalu deretan toko persis di samping warteg itu terbakar ludes. Yang menakjubkan warteg itu tidak terjilat api, meski waktu kejadian mereka pun panik menyelamatkan diri dan mengeluarkan barang-barang. Betapa mereka bersyukur lolos dari kejadian mengerikan itu. 


Pas tadi pagi lewat sana, aku lihat warteg itu ternyata buka. Langsung saja aku mampir. Awalnya aku mau cari keringat mengitari lapangan Tegallega. Tapi pas masuk tak ada wajah yang aku kenal. Apa mereka aplusan?? (Mereka tak pernah melakukannya selama ini.) Aku tanya mbak yang melayani aku.

'Mbak mengganti yang lama??'

'Iya.'

'Memang mas dan mbaknya ke mana??'

'Kecelakaan mas. Masnya patah kaki, pinggangnya hancur.'

Haduhhh... lemas aku dengarnya.

'Kecelakaan apa??' tanyaku prihatin. Aku duga tabrakan dan semacamnya.

'Masnya kan bantu pasang lampu di rumah mertua, gak tau gimana... dia jatooohhh.'

'Aduhhh.... ketimpa tangga juga??'

'Gak tau kalo itu.'

'Mbak ini sodaranya?'

'Iya mas. Keponakannya orangtua si mbak.'

'Sekarang gimana kondisi masnya?'

'Masih belum bisa jalan. Berdiri aja harus dibantu. Dirawat istrinya.'

'Sekarang di Tegal?'

'Iya mas.... tadinya dari sini sempat diobati ke rumah sakit di Solo, terus dibawa pulang ke kampung.'

Foto dari internet.

Aku ngeri membayangkan kecelakaan itu. Musibah dan takdir, siapa yang tahu?? Dulu mereka lolos dari bencana, sekarang harus menerima kenyataan gawat. Aku sarapan di situ tetap tanpa beli nasi. Kepala jadi rada berat dengar musibah itu. Aku lihat stiker paguyuban persatuan pengusaha warteg Bandung. Semboyannya dalam bahasa jawa: _sedulur selawase,_ saudara selamanya. Semoga mereka kompak membantu rekan mereka yang lagi tertimpa musibah. Apa takdir dan peristiwa itu semacam koin yang salah satu sisinya bisa terlempar begitu saja, meski kita begitu hati-hati melakukannya?? Aku kecelakaan sepeda, gaji dikurangi atau telat dibayar, orang di-phk, honor dipotong, kerja keras tak dibayar, dipalak preman, dibohongi calon investor, ditipu orang yang bilang mau nyumbang, atau dirampok dengan kekerasan. Entah dari mana terlintas selarik lagu Ebiet G. Ade: 

anugerah dan bencana adalah kehendak-Nya 

kita mesti tabah menjalani 

hanya cambuk kecil agar kita sadar 

adalah Dia di atas segalanya...


'Apa mbak sering hubungan sama mas dan mbaknya?' tanyaku sambil bayar.

'Kadang-kadang aja mas.' 

'Semoga masnya cepat pulih dan sehat.'

'Iya mas. Makasih. Nanti kalau nanti aku kasih tahu ke mereka, dari siapa ya?'

'Bilang saja dari pelanggan yang bawa nasi sendiri,' jawabku.

Mbaknya Tertawa.[]

Anwar Holid, kerja sebagai editor dan penulis. Blog: http://halamanganjil.blogspot.com. Twitter: @nwrhld. IG: @anwarholid.


Wednesday, January 06, 2016

suatu hari dengar cerita pak sopir angkot
--anwar holid

kemarin waktu aku ngobrol dengan sopir angkot, dia cerita putranya yang sudah menikah jadi penjual kebab pinggir jalan. gajinya 800 ribu rupiah per bulan. terkadang kalau beruntung dia dikasih tambahan oleh bosnya sekitar 200 ribu.

'800 ribu cukup buat apa?' tanya pak sopir retorik. dia bilang sambil merokok. garis-garis di wajahnya tergurat dengan jelas dan tajam. topi kumal yang dia kenakan menambah kesan betapa dirinya sudah puluhan tahu disepuh alam.

aku terdiam dengar ucapannya. antara kaget dan prihatin atau gak bisa berbuat apa-apa. termangu.

'oh, penjual kebab itu digaji ya pak?' tanyaku tanpa bermaksud mengalihkan topik. 'saya kira dapat dari jualannya...'

'enggak. kan semua sudah dipasok sama bosnya. anak saya tinggal ambil dan jual.'

jadi sekarang aku baru tahu bahwa penjual kebab dan semacamnya juga orang gajian. pikiranku langsung terpelanting ke zaman pra-reformasi ketika aku pernah digaji di atas sejuta lebih sedikit. dengan gaji segitu saja rasanya aku masih prihatin. dan sekarang di rezim jokowi aku mendengar ada seseorang digaji di bawah sejuta. tapi untunglah aku sedang males nyinyir soal politik atau keadilan sosial yang jelas-jelas di luar kontrolku.

bagaimana satu keluarga menyiasati hidup sehari-hari dengan uang 800 ribu dalam sebulan? terlalu gelap buatku untuk membayangkannya.

'dengan gaji segitu, incu saya sering minta dibeliin buat paket data juga... jadi weh pengeluaran teh tambah besar,' lanjut pak sopir.

jujur saja aku ingin membensini ucapannya biar langsung melalap emosi yang sedang meluap-luap. tapi coba aku tahan. aku juga sudah lama niat berhenti beli paket data, tapi enggak bisa. malah sekarang harganya tambah mahal tapi terpaksa aku beli demi kepuasan bersenang-senang. aku sudah menyarankan agar berhenti beli air dalam galon (kembali minum air jerang), berhenti beli tisu, juga jangan beli dvd bajakan... tapi itu semua gagal. aku pikir kalau bisa menghemat pengeluaran untuk beberapa kebutuhan mewah itu maka aku bisa sedikit merasa lebih lega atau bahkan bisa menabung untuk beli kamera leica.



rasanya aku harus lebih prihatin. tapi mendengar obrolan pak sopir hatiku jadi lebih perih dan bergetar lagi. aku cuma bisa coba berempati.

banyak orang bekerja keras tiap hari sampai badannya mengeluarkan bau memuakkan, berjalan belasan kilo untuk mendapatkan nafkah, menunggu sampai tengah malam, memulai sejak dini hari... tapi hasilnya masih saja di bawah pengharapan dan mustahil protes lagi. sebab kalau protes keadaan bisa jadi lebih buruk lagi.

cerita pak sopir membuat pikiranku perlahan-lahan kabur. aku memandang ke luar. hari itu bandung sedang ditaburi air begitu banyak dari atas. udara yang rapat seperti mengeluarkan kabut. semua itu membuatku suasana hatiku jadi nelangsa... sampai entah kenapa mendadak aku teringat sebuah lirik lagu balada queen yang artinya: apa seperti ini dunia yang kita ciptakan?[]

[halaman ganjil]

Monday, July 14, 2014


Menyayangi Negeri dengan Membaca
--Anwar Holid

Menjadi Bangsa Pembaca 
Penulis: Adew Habtsa
Penerbit: Wisata Literasi, 2014
Halaman: 200 hal., soft cover
ISBN: 978-60295788728
Harga: Rp.40.000,-
Jenis: memoar, nonfiksi


Menjadi Bangsa Pembaca adalah memoar yang enak dibaca. Di buku ini Adew Habtsa menulis secara simpel, jelas, dan santun. Pemikirannya praktis, dengan kadar visioner yang masuk akal. Dia berkampanye mengenai literasi, berusaha menggugah kesadaran berbangsa melalui buku dan musik.

Apa guna literasi di zaman kini yang lebih silau pada kesuksesan, ketenaran, dan kemewahan? Bukannya dunia literasi tidak bisa mengantarkan orang pada hal semacam itu, tapi target utamanya bukan itu, melainkan bersifat lebih mendasar seperti penyadaran. Literasi membuat seseorang jadi tergerak untuk membaca diri, masyarakat, apa yang terjadi di dalamnya. Ia menjadi mahardika. Orang seperti ini biasanya tergerak untuk berbuat maupun berdedikasi pada masyarakat. Dia akan memikirkan ada apa dengan bangsa dan negerinya. Ia mencari jalan apa yang sebaiknya dilakukan demi mengejar ketertinggalan dan memacu kemajuan.

Pada skala nasional pun literasi kurang diperhatikan dan didukung sepantasnya dibandingkan nilai pentingnya. Pemerintah tampak sudah puas dengan anggapan bahwa literasi tercapai berkat tingginya angka melek huruf. Padahal itu baru aspek literasi tingkat dasar. Literasi tingkat lanjut mensyaratkan adanya penguasaan pemahaman, keterampilan, dan pengaruhnya terhadap psikologi individul, sosial, dan reproduksi budaya.
 
****

Dari mana Adew membangun keyakinan terhadap literasi? Dia membaca buku, memperhatikan lingkungan dan kondisi sosial-politik, terlibat di komunitas literasi dengan agenda dan gerakan kreatifnya. Adew melihat ada energi lebih melampaui buku.

Komunitas literasi bisa dibilang relatif independen, dikembangkan oleh beragam kalangan kelas sosial dengan keyakinan tertentu, dan semua mengalami jatuh-bangun tergantung dukungan, ketahanan, dan strategi masing-masing. Bentuknya beragam. Bisa toko buku, perpustakaan, penerbitan, kelompok penulis dan pembaca, studi budaya, dan peduli pada berbagai isu penyadaran lain. Mereka bersaing secara kreatif, menawarkan pemikiran dan strategi kepada massa, mencari jalan ke luar dari kemampatan ide, sekaligus mendobrak berbagai kejumudan berpikir. Mereka kritis, betapa sesuatu yang dari permukaan dianggap baik dan mulia ternyata bisa menyimpan kebusukan dan pengkhianatan terhadap bangsa dan negeri sendiri semata-mata demi keuntungan kelompok kecil.

Sebagai kunci pencerahan, Adew berpendapat bahwa para aktivis dan founding fathers Indonesia merupakan contoh generasi yang tercerahkan berkat literasi. Mereka bergerak, bekerja sama, mencari jalan demi kemajuan bangsa dan negerinya. Kini generasi penerus punya agenda baru, yaitu mengubah keterpurukan serta ketidakberdayaan karena berbagai krisis, mengubahnya jadi sumber kekuatan. Tantangan makin besar dan mendesak, sementara ruang makin sempit dan waktu terasa makin instan. Dalam kondisi seperti itulah literasi memiliki peluang momentum, persis ketika Kartini mendapat momentum 'dari gelap terbitlah terang.'




Dipecah dua seksi, bagian pertama buku ini mengisahkan meski tumbuh di lingkungan padat penduduk yang cukup keras, ia bisa ‘selamat’ berkat keluarga dan buku. Waktu kuliah ia bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP), mengasah diri menjadi penyair dan musisi. Di luar itu pergaulannya terbilang luas. Ia berinteraksi dengan berbagai pihak lain, bahkan yang sangat kontras sekalipun, baik dari latar belakang, status sosial, maupun ideologi. Ia menilai perbedaan bukanlah celah pertentangan dan sumber keretakan, namun peluang untuk saling mengisi. Ia berusaha menjalin benang merah agar literasi semakin massif.

Bagian dua menuturkan bagaimana dirinya terlibat lebih intim dalam literasi. Di fase ini ia mempraktikkan, mengampanyekan, menggali dan merekomendasikan berbagai buku untuk dipelajari dan digali lagi relevansinya, termasuk buku tua yang mungkin terlupakan.

Adew adalah generasi yang menyaksikan betapa di awal tahun 2000-an beragam variasi gerakan literasi mudah tumbuh di kalangan muda, meski kadang-kadang cepat layu karena berbagai halangan. Setelah ditempa waktu dan belajar cukup banyak demi perbaikan, sepuluh tahun kemudian kini mereka pelan-pelan tumbuh, mengembangkan peluang, mencoba menghasilkan buah, dan terus terbuka terhadap perubahan.

Yang terasa agak kurang di buku ini ialah tiadanya cuplikan puisi maupun lirik karya Adew sendiri. Bukankah ia sudah naik-turun panggung berkelana dari tempat ke tempat mengutarakan visi dan mencoba menjalankan misinya? Tentu ia punya lirik menggugah untuk disertakan. Barangkali kita harus menunggu sampai Adew merilis album musik sebagai karya selanjutnya. Kelemahan lain ialah ia masih banyak mengutip pemikiran orang lain, terutama dari Barat, alih-alih mencoba mengungkapkan pandangan dengan bahasa sendiri. Padahal di ujung buku ia berniat ingin mengedepankan pemikir Indonesia, karena jelas lebih tahu kondisi masyarakat dan negerinya.

Buku ini dengan baik merekam dinamika gerakan literasi di Bandung, kota tempatnya tumbuh. Ia patut dirayakan siapapun yang peduli maupun terlibat langsung dengan isu literasi, para pelaku industri buku, untuk memikirkan pengembangannya agar lebih massif dan kreatif.[]

Anwar Holid, editor, tinggal di Bandung.

Wednesday, January 29, 2014


Poster dukungan Rumah Amal Salman ITB untuk Gerakan Jaket Untuk Tukang Becak -#JUTB.

Silakan, donasi berupa jaket, jas hujan, maupun uang bisa diserahkan ke Rumah Amal Salman ITB, Jl. Ganesha No. 7 Bandung.

No. rekening: 
Bank BNI Syariah no. rek. 700-700-2002 a/n YPM Salman ITB

Bisa juga ke alamat rumah saya:

Anwar Holid
Jalan Kapten Abdul Hamid, 
Panorama II No. 26 B Bandung 40141

No. rekening pribadi:
BCA KCP CIDENG BARAT no. rek.: 3971247183 A/N ANWAR HOLID

(Mohon konfirmasi bila Anda mentransfer.)

Link terkait:
* posting soal gerakan jaket untuk tukang becak - #jutb: http://bit.ly/19wtXjp
* page untuk dukungan Gerakan-Jaket-Untuk-Tukang-Becak-JUTB: http://on.fb.me/Kfmf1d

Sunday, January 12, 2014

fotografi

kado awal tahun 2014 untuk ridwan kamil

kurangnya bak sampah, buruknya drainase, sempitnya selokan, warganya suka buang sampah sembarangan, membuat bandung gampang sekali kena banjir. dan begitu meluap, ia menghancurkan dinding selokan, melubangi aspal, dan membawa sampah ke mana-mana, membuat bandung jadi rujit. biopori? belum menolong.

#bandungjuara pokona mah!

(foto diambil dari atas angkot)








Thursday, January 02, 2014

Tolkien, Hobbit, dan Bandung Selatan
--Agus Kurniawan

Saya dan anak-anak menggemari novel J.R.R. Tolkien. Sejak mengenalkan karyanya kepada dua anak saya--Putri (13 th.) dan Faiza (9 th.), mereka kerap berlomba mengasosiasikan imaji Tolkien terhadap tanah kelahiran mereka sendiri, Bandung Selatan. "Ayah, kita sedang di Shire, ya," teriak girang Faiza ketika kami merambahi perbukitan eksotik Naringgul di perbatasan Kabupaten Bandung dan Cianjur Selatan, yang dihampari oleh permadani hijau kebun teh dan goresan kelak-kelok jalan tembus ke Pantai Jayanti. Di mata Faiza, bisa jadi orang-orang Naringgul yang ke luar dari pemukiman perkebunan itu dianggap seolah para Hobbit yang lagi berhamburan dari rumah-rumah pendam mereka. "Awas, kita memasuki hutan Fangorn. Tuh, pohon-pohon sedang saling bicara. Balik yuk ah, takut!" kata Putri ketika kami mulai memasuki gerbang hutan tersisa, yang memang bikin merinding. Maaf, Anda tak boleh protes. Dalam semesta subjektivitas, kita memang memiliki otonomi penuh untuk berandai-andai.

Konon masa kecil Tolkien terbilang manis. Dia tinggal di Sarehole, pedesaan di pinggiran kota Birmingham. Sekalipun jaraknya tak jauh, Sarehole dan Birmingham amat berlainan. Ketika itu awal abad ke-20, Inggris sedang gegap terpapar industrialisasi. Tak terkecuali Birmingham, kota industri besar di sisi barat daratan. Tetapi anehnya, Sarehole tak terimbas. Inilah sedikit dari pedesaan tua yang masih kebal. Di sana terpajang keelokan surga lawas: padang hijau, hutan kecil, sungai bening, dan jembatan batu. Juga tempat penggilingan kuno--sekarang jadi museum--dan rawa-rawa. Begitu terpana Tolkien pada masa lalunya hingga mengabadikan keagungan itu ke dalam sebuah desa imajiner: Shire.

Birmingham, atau tepatnya industrialisasi, selalu tampak buruk di mata Tolkien--ini kelak melahirkan para kritikus fanatik terhadap karya-karyanya. National Geographic mencoba mewakili kemurungan sang sastrawan itu dengan paragraf, "Produk-produk kerajinan dari kota-kota kecil tersapu oleh badai mekanisasi. Tekstil, galangan kapal, besi, dan baja, mengangkangi tanah Inggris sebagai industri strategis baru. Orang-orang berduyun-duyun menyesaki kota, beralih profesi menjadi buruh, dalam jumlah yang semakin berlipat-lipat. Batubara menghidupi pabrik-pabrik itu, tetapi sekaligus juga meracuni udara dengan jelaga pekat dan mewariskan lubang-lubang menganga bekas penambangan di seluruh negeri."

Tolkien melukiskan kegamangannya dengan cara lebih satir. Kutukan industrialisasi itu dalam imajinasi Tolkien adalah Isengard. Dipelopori oleh Saruman, penyihir paling sakti tapi khianat, Isengard bertiwikrama dari tanah indah menjadi "kota" bengis. Tak lagi dihuni oleh manusia, tetapi oleh para orc, monster tak berakal budi, yang hanya tahu sedikit hal: bekerja bagai mesin, patuh bak zombiE, dan menghancurkan layaknya iblis. Para monster itu tiap hari menebangi hutan dan menggali lubang-lubang menganga di dalam tanah demi satu tujuan, yakni menciptakan prajurit-prajurit tempur.

Memang, kerusakan alam bukanlah trauma utama Tolkien. Perang lebih menakutkannya. Ketika itu Perang Dunia I, usia Tolkien baru awal 20-an, dan lebih lagi dia masih pengantin baru. Menjadi seorang letnan dalam legiun Inggris, Tolkien menyaksikan manusia-manusia setengah hidup yang berjudi nyawa di parit-parit pertahanan di sepanjang kota Paris. Diiringi desingan artileri, para prajurit itu selama berbulan-bulan hidup di dalam kubangan lumpur, menyatu dengan mayat busuk. Begitu mengerikannya kondisi mereka hingga tak lagi mirip manusia. Tolkien mengasosiasikan para prajurit itu sebagai barisan tentara orc. Mereka merayap dari kedalaman bumi, untuk membunuh dan menghancurkan.

*****

Saya tinggal di pinggiran Bandung Selatan, kota kecamatan yang sepanjang jalannya dipenuhi industri. Pada saat-saat tertentu--misalnya pagi hari, halaman atau lantai luar rumah akan terlapisi samar-samar oleh bebutiran mirip bubuk kopi. Warnanya memang seperti kopi. Hitam, tetapi bau. Itulah sisa pembakaran batubara dari pabrik-pabrik. Cerobongnya menjulang; anak saya menyebutnya sebagai Menara Isengard. Sungai di belakang kampung pun senasib. Tahun 80-an sungai itu berair bening layaknya pegunungan. Penduduk memanfaatkannya sebagai sarana mandi dan mencuci, selain untuk pengairan. Anda boleh juga membayangkannya sebagai Rivendell, keraton para peri dalam dongeng Tolkien, yang dihiasi oleh anak-anak sungai berkilauan. Tetapi naasnya kini pabrik-pabrik di kampung saya gencar mewarnainya. Kadang biru, kadang bersemu merah, kadang kekuningan. Kusam karena berbaur lumpur. Mereka setiap hari menggelontorkan berkubik-kubik limbah pewarna--tanpa diolah--ke sungai, lalu membumbuinya dengan aroma menyengat. Saya sering menggoda anak saya, "Put, jangan-jangan pemerintah yang mengizinkan terjadinya pencemaran akut ini adalah Saruman?"

Tolkien pernah sekali bercerita tentang banjir. Dalam The Silmarillion, dia bertutur tentang Numenor, koloni makmur ras manusia di tengah lautan. Sayang rajanya kemaruk, menginginkan hidup kekal dengan cara mengakuisisi keabadian dari seorang dewa bernama Valar. Kemarahan Valar ternyata mengerikan, mereformasi bentuk bumi menjadi datar. Akibatnya air laut tumpah, menenggelamkan seluruh dataran Numenor. Para kritikus menganggap ini sebagai alegori kisah Nabi Nuh ataupun Atlantis, tapi Tolkien menampiknya.

Berbeda dengan Numenor, Bandung Selatan tak hanya sekali terlibas banjir. Nestapa ini justru seolah abadi. Sepanjang tahun, ratusan pemukiman di bibir Citarum rutin terbilas. Ruas jalan utama penghubung antar kecamatan terendam, menyisakan tenda-tenda pengungsi di sisi jalan. Majalah Tempo beberapa bulan lalu mendokumentasikannya genangan air itu dalam foto-foto bernuansa coklat pekat seluas berhektar-hektar. Rumah-rumah penduduk--entah reyot atau mewah--mengapung di permukaaannya. Tragisnya, itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Tapi kini saya senang, konon tahun 2018 kejadian ini tak kan terulang. Menurut janji Wagub Jawa Barat Deddy Mizwar, sungai Citarum pada tahun itu akan kembali sebening Rivendell, dan penduduk Dayeuh Kolot, Baleendah, atau Bojongsoang bisa bernapas lega. Ya, semoga saja.

Pada usia remaja Tolkien merasa beruntung bisa berwisata ke Swiss. Dulangan kenangan tentang pegunungan Alpen yang mengendap selama bertahun-tahun akhirnya mengilhami sang sastrawan untuk menciptakan semesta fiktif, yang dia sebut legendarium. Rivendell (hunian para peri), Celebdril (tempat pertarungan sampyuh antara Gandalf dan Balrog--setan api), Anduin (sungai terpanjang dalam dongeng Dunia Tengah), Khazad-dum (kerajaan bawah tanah terbesar para Dwarf yang memiliki tangga tak berujung ke puncak gunung), juga Misty Mountains atau Hithaeglir (surga petualangan para Dwarf yang dijadikan tema soundtrack film The Hobbit) konon terinspirasi langsung oleh ekspedisi Tolkien tahun 1911 itu.

Saya ingin menularkan kegairahan Tolkien muda pada anak-anak saya, mengeksplorasi keindahan tanah kelahirannya sendiri, Bandung Selatan. Dataran bekas danau purba ini sesungguhnya tak kalah menginspirasi. Sekelilingnya berjajar barisan gunung dan hutan langka: Patuha, Tilu, Puntang, Malabar, Guntur, Papandayan. Bahkan tak kurang orang sekaliber Franz Wilhelm Junghuhn pun mengaguminya, dan menjadikan tempat ini sebagai tetirah. Kita bisa menyusuri hutan Puntang atau Patuha yang perawan, dan membayangkan diri sebagai Frodo atau Sam Gamgee menjelajahi The Old Forest. Atau kita bisa menyusuri hutan mati di lereng Papandayan agar bisa menikmati padang edelweis, seperti Bilbo Baggins dan para Dwarf menyibak Mirkwood.

Sungguh, saya tak mengharuskan anak-anak saya menciptakan legendarium sebagaimana Tolkien. Saya hanya berharap mereka belajar menghikmati alam, sembari berdoa agar gunung dan hutan-hutan ini tak segera dimakan zaman.[]


Foto dari Internet.
Silakan berteman dengan Agus Kurniawan di https://www.facebook.com/goeska.

Monday, December 30, 2013


Gerakan 
Jaket Untuk Tukang Becak 
(#JUTB)

Bagaimana mengawali gerakan ini?

Tukang becak merupakan pemandangan biasa di kota Bandung. Kita bisa melihat mereka ada di perempatan atau persimpangan yang ramai, pasar, lapangan/taman kota (alun-alun), juga di mulut jalan. Saking biasa, kita suka lupa bahwa mereka adalah bagian dari denyut kota dan hidup kita. Mungkin kita baru peduli tukang becak kala butuh, trenyuh sesaat melihat mereka kepayahan dan keringatan membawa penumpang atau muatan, juga basah kuyup kehujanan tanpa perlindungan layak sambil tetap semangat menarik penumpang.

Suatu hari di jalan Karapitan saat musim hujan, dari angkot saya lihat beberapa tukang becak tua meringkuk di becaknya. Seorang dari mereka mengenakan plastik lusuh sebagai pelindung, sisanya bersedekap menahan dingin dan tempias hujan. Saya langsung teringat pada dua jaket di rumah. Akan jauh lebih bermanfaat kalau salah satu diberikan buat mereka, batin saya. Entah kenapa pula langsung terbetik di kepala saya niat mulai menggalang gerakan Jaket Untuk Tukang Becak (#JUTB), meski tak tahu cara memulainya. Saya tanya kepada teman yang sudah biasa terlibat aksi sosial. Saya berniat menggalang amal dan sumbangan dari teman-teman, mohon bantuan kepada orang/pihak yang bisa diajak kerja sama.

Esoknya, saya bungkus jaket kuning yang bertahun-tahun saya pakai. Saya berikan kepada seorang tukang becak di jalan Karapitan. Barangkali itulah cara paling sederhana untuk memulai gerakan ini. Saya jadi suka bertanya pada tukang becak di jalan Ciateul, Tegal Lega, Astana Anyar, Otto Iskandar Dinata, Kebon Kalapa, dan Geger Kalong Girang di sekitar tempat saya kerja dan tinggal. Kondisi mereka seperti apa, bagaimana mereka bekerja, di mana mereka tinggal, sampai kenalan dengan juragan becak.

Mohon dukungan dan bantuan Anda.

Semoga gerakan ini bermanfaat, khususnya untuk tukang becak.


Kenapa perlu kita gerakkan:
* Memberi sedikit kehangatan dan kenyamanan bagi tukang becak, entah ketika kedinginan/kehujanan atau masih kerja di malam hari.
* Membantu daya tahan dan perlindungan kepada tukang becak.
* Sekadar beramal kebaikan kepada sesama manusia.

Kondisi umum:* Tukang becak tidak punya asosiasi/perkumpulan, tapi menginduk kepada juragan (pemilik becak)
* Banyak tukang becak yang tidur di garasi becak juragannya

Sasaran:* Pertama: Tukang becak di sekitar Kebon Kalapa, Tegal Lega, Otto Iskandar Dinata, Astana Anyar, wilayah sekitar Alun-Alun Bandung
* Kedua dan seterusnya: di pasar-pasar utama kota Bandung

Apa yang perlu dilakukan?
* Mendaftar dan mendata jumlah tukang becak, bekerja sama dengan para juragan becak
* Memberikan jaket

Periode pembagian jaket:
* Semester 1: Januari 2014 - Juni 2014
* Semester 2: Juli 2014 - Desember 2014

Bentuk sumbangan:
* Jaket atau sweater, baik baru ataupun bekas yang masih layak pakai
* Jas hujan (usahakan baru)
* Uang, untuk membeli jaket bekas seharga kisaran Rp.75.000,- sampai Rp.100.000,-

Kebutuhan:
* Biaya transportasi untuk mengantarkan jaket/menemui tukang becak
* Biaya kurir/bawa jaket/barang

Contact person:
Anwar Holid
HP: 085721511193
Email: wartax@yahoo.com

No. rekening donasi:
_____________________________
BCA KCP CIDENG BARAT
No. rek.: 3971247183

A/N: ANWAR HOLID
_____________________________
(Mohon konfirmasi bila Anda transfer.)

Alamat:
Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B
Bandung 40141

Link terkait:
Page Facebook: Jaket Untuk Tukang Becak - #JUTB: http://on.fb.me/Kfmf1d

Monday, December 09, 2013

Semakbelukar di Kineruku, Bandung. 2013.
Semakbelukar Tiada, Musiknya Masih Bernyawa
--Anwar Holid

Konser Semakbelukar adalah konser terbaik tahun 2013 yang aku tonton di Kineruku. Well, aku sedikit nonton konser sebenarnya, tapi sangat menyenangkan bisa menonton pertunjukan yang mengesankan dengan musik hebat dan sulit dilupakan, apa lagi dari sebuah band yang memutuskan menggelar konser terakhir sekaligus perpisahan dengan dunia musik. Terdengar dramatik. Padahal publik masih begitu penasaran bertanya-tanya Semakbelukar itu sebenarnya apa dan bagaimana.

Kolektif asal Palembang ini muncul seperti hantu yang hadir untuk membuat bulu kuduk berdiri. Musik etnik Melayu yang mereka bawakan sudah cukup untuk mengalihkan perhatian pendengar dari musik umum yang sehari-hari muncul di radio, televisi, atau playlist music player. Penampilan Semakbelukar yang simpel dan sedikit canggung sama-sekali tidak mengurangi aura performance yang dalam dan emosional sehingga meninggalkan kesan sulit dilupakan, bahkan diakhiri aksi dramatik yang sulit dipercaya.

Ada sejumlah aksi destruktif musisi yang membuat mereka malah legendaris. Aksi bakar gitar Jimi Hendrik, penghancuran alat musik The Who, peruntuhan bata Pink Floyd, pembantingan bas gitar The Clash, juga bakar bendera Amerika Serikat oleh Rage Against the Machine. Semakbelukar mengakhiri konser dengan menghancurkan seluruh instrumen, terdiri dari akordeon, mandolin, gendang, gong kecil, dan kerincing. Apa aksi ini bakal membuat mereka legendaris? Boleh kita taruhan.

Semakbelukar membungkus musik Melayunya dalam dominasi akordeon, jangkauan vokal kuat yang meliuk-liuk, lirik yang humanitarian-religius, diperkuat ritem dari mandolin, gong kecil, kerincing, dan dua gendang. Rada aneh bahwa mereka ternyata tidak menyertakan gitar ud yang biasanya jadi pendamping akordeon, malah menggantinya dengan mandolin, itu pun tidak dibuat menonjol dalam permainan solo atau interlud. Dalam bungkus begitu pun musik mereka bisa dibilang sempurna.


Ricky Zulman (ki) dan David Hersya (ka), duo motor Semakbelukar.
Dua kekuatan sekaligus pesona utama Semak belukar ialah permainan akordeon oleh Ricky Zulman dan kekuatan jangkauan vokal yang meliuk-liuk khas Melayu dari vokalis David Hersya, sekalian mengiringinya main mandolin, ditambah Ariansyah memainkan gendang besar, dan Angger Nugraha dengan mini gong dan kerincing. Memang mereka tidak terlihat skillful, jelimet, terpelajar, atau sophisticated katakanlah bila dibandingkan Suarasama dari Medan; tapi Semakbelukar bisa menyampaikan musiknya secara eksplisit dan jujur dengan lirik yang lebih tegas. Bisa jadi ini wajar, mengingat mereka lahir membawa spirit gerakan indie dari scene musik punk dan grunge. Sayang, David yang merupakan mastermind kolektif ini terlihat canggung atau sulit bicara ketika diminta menerangkan lirik-liriknya yang puitik dan cukup menggoda buat diinterpretasi.

Memang ada banyak PR di balik Semabelukar ini. Pertanyaan terbesar tentu saja kenapa mereka memutuskan mengakhiri karir sampai di sini saja? Apa ada persoalan internal, ideologis, atau keyakinan. Elevation Records secara implisit mengonfirmasi bahwa berakhirnya Semakbelukar terkait dengan pilihan para anggota kolektifnya untuk mengakhiri urusan dengan musik dan beralih untuk mendalami agama Islam. Ini jelas wilayah abu-abu. Nusrat Fateh Ali Khan, Youssou N'Dour, A.R. Rahman, bahkan Jalaluddin Rumi adalah sedikit figur utama Muslim yang mengekspresikan imannya dengan musik, seni, dan performance art. Tapi di sisi lain ada golongan Islam yang mengharamkan musik. Kita ingat Cat Stevens memilih berhenti main musik di awal-awal dirinya masuk Islam (tapi tetap menerima royalti tentu saja); kemudian comeback dengan spirit dan pendekatan berbeda dalam bermusik.

'Kami tidak akan reuni!' kata Semakbelukar.
Apa pun argumennya, Semakbelukar mati di Kineruku pada Minggu, 8 Desember 2013 dalam suasana yang dibekap dingin dan gerimis. Penghancuran instrumen itu seolah-olah berhala yang menghalangi jalan mereka pada iman. "Ini adalah bukti kami tidak akan reuni!" tegas Ricky. Cyusss? Miapa? Aksi penghancuran itu langsung mengingatkan aku pada performance art seorang mahasiswa seni rupa di FSRD ITB yang mengeping-ngepingkan dan membakar seluruh karya dan tugas kuliahnya karena ia ingin beralih jadi kurator.

Menjadi saksi berakhirnya sebuah kolektif musik membuat aku terusik. Bahkan para hadirin pun menyayangkan betapa band yang menjanjikan ini mati dini dengan ungkapan menyesal bersama, "Yaaah, kenapa sih harus bubar? Apa tidak bisa ditunda?" Jangan kuatir. Meski Semakbelukar mati, musiknya tidak berhenti. Kita bisa menikmatinya kapan saja baik pinjam di Kineruku atau beli rekamannya di Elevation Records, kemudian memainkannya sepanjang hayat di playlist yang bisa dibawa-bawa ke mana saja.[]

Anwar Holid, penikmat musik, kontributor jakartabeat.net.

Situs terkait:
http://elevationrecords.co
http://kineruku.com
https://soundcloud.com/elevation-records/berlayar-di-daratan