Arah Baru Literasi Indonesia
Ahmad Wiyono
United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (Unesco) tahun lalu merilis hasil survei gerakan literasi internasional. Yang mengejutkan adalah posisi Indonesia berada pada urutan 60 dari 61 negara yang menjadi objek survei intensif tersebut. Tentu ini kenyataan memilukan. Posisi literasi bangsa kita kalah jauh dengan beberapa negara di dunia, bahkan dengan negara tetangga di Asia yang sama-sama tergolong negara berkembang. Apa penyebab kemesorotan tingkat literasi tersebut? Di antara sekian banyak penyebab terpuruknya budaya literasi di negeri ini, salah satunya adalah sifat malas yang masih menggurita dalam jiwa segenap bangsa kita.
Perhatikan misalnya saat anak-anak diarahkan untuk menggalakkan budaya baca. Mereka lebih tertarik menjadi pendengar ketimbang pembaca. Atau dalam pengalaman keseharian anak-anak di kota, mereka lebih suka mendengar atau menonton berita ketimbang membaca buku. Endy Bayuni, editor senior The Jakarta Post, menyebut fenomena itu sebagai penyakit literasi.
Penyakit literasi lebih condong pada tradisi lisan, yaitu mendengarkan orang berbicara. Ini setidaknya salah satu akar masalah yang menyebabkan budaya baca tidak terbentuk. Padahal tradisi lisan yang dimaksud tak lebih hanya pembelaan atas lemahnya budaya baca itu sendiri. Sebagai langkah strategis dalam mengimbangi capaian literasi global tersebut, perlu ada konsepsi baru di bidang literasi.
Konsep baru ini menjadi arah baru serta jawaban atas kegundahan literasi Tanah Air. Tentu gerakan literasi baru ini hadir bukan dalam rangka sebagai alibi atas kegundahan posisi literasi kita di kancah global, tapi lebih sebagai solusi untuk membangkitkan kembali energi literasi bagi segenap bangsa Indonesia bahwa mengatasi ketertinggalan capaian literasi internasional merupakan hal yang wajar.
Kendati demikian, mengembangkan yang sudah ada juga suatu keniscayaan. Salah satu buku yang peduli dengan persoalan rendahnya literasi bangsa adalah Suara dari Marjin, karya bersama Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah. Buku ini boleh dibilang awal mula dari percakapan baru tentang dunia baca-tulis, literasi, interaksi pengetahuan dan cara berpikir.
Suara dari Marjin tampak sedang berupaya menggagas lahirnya literasi dengan konsep terbarukan. Di sini literasi tidak hanya dimaknai secara simbolik, lahir dengan data dan fakta kuantitas, tapi jauh dari itu literasi hadir sebagai roh untuk melihat, mengamati, dan membaca kondisi sebuah budaya dan jati diri bangsa.
Dengan pemahaman baru ini diharapkan gerakan literasi lahir secara alami dengan membangkitkan partisipasi para penggiat dari segala multiprofesi. New Literacy Studies (NLS) adalah salah satu kerangka kajian literasi baru yang lahir dari pergerakan anak jalanan dan buruh migran.
Gerakan literasi yang lahir dari kelompok anak jalanan dan buruh migran merupakan fajar baru untuk membangkitkan gairah literasi secara umum. Konsepsi dasar dari gerakan literasi baru ini adalah membangun kesadaran kolektif tentang budaya baca, tulis, dan mengkaji kondisi secara alamiah. Literasi tidak hanya diukur dari serangkaian kegiatan formal membaca dan menulis itu sendiri, tapi lebih pada kegiatan yang mengangkat harkat dan jati diri sebuah bangsa.
Literasi bukanlah sesuatu yang stagnan karena dia bergerak dan berubah. Misalnya, pengalaman literasi setiap orang bisa jadi berbeda dan tidak harus terkait pengalaman mengeja atau saat pertama kali seseorang mampu membaca.
Dalam buku ini, pengalaman literasi dimaknai sebagai rekam pengalaman seseorang dengan kegiatan membaca, menulis, dan mencerna pengetahuan, yang bermakna karena signifikan terhadap pilihan-pilihan hidupnya di kemudian hari (hal. 24). Buku ini hadir dengan tawaran konsep literasi lokal yang kontekstual, upaya untuk mengembalikan arah literasi pada khazanah budaya dan jati diri bangsa.
Selain itu, buku ini juga meramu konsep perlawanan terhadap hegemoni literasi yang terbentuk oleh praktik budaya kelompok masyarakat yang dominan, demi menumbuhkan praktik literasi yang lebih terarah sesuai konteks sosial, budaya, dan ekonomi Indonesia. Salam literasi![]
Ahmad Wiyono, Pegiat Literasi dan Peneliti di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan
Artikel ini dimuat di Koran Sindo, Edisi Minggu, 13 Agustus 2017.
Showing posts with label literasi. Show all posts
Showing posts with label literasi. Show all posts
Wednesday, August 16, 2017
Monday, June 19, 2017
Komentar Atas Buku Suara dari Marjin
Oleh: Satria Dharma
Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial
Penulis: Sofie Dewayani & Pratiwi Retnaningdyah
Penerbit: PT Remaja Rosdakarya, Bandung
Halaman: 229
Tahun terbit: Mei 2017
Harga: Rp78.500
ISBN: 978-602-446-048-8
Penulis: Sofie Dewayani & Pratiwi Retnaningdyah
Penerbit: PT Remaja Rosdakarya, Bandung
Halaman: 229
Tahun terbit: Mei 2017
Harga: Rp78.500
ISBN: 978-602-446-048-8
Apa itu literasi dan mengapa harus ‘dibumikan’? Literasi selama ini memang boleh dikata hanya berupa definisi canggih yang belum benar-benar membumi. Ia hanya dikunyah-kunyah dan dirumus-rumuskan oleh para akademisi di menara gadingnya.
Tentu saja kegiatan literasi telah ada
sebelumnya dan itu bisa dijejaki pada zaman-zaman sebelumnya. Tapi itu masih merupakan
inisiatif-inisiatif perorangan yang sangat elitis, belum merupakan sebuah
gerakan, apalagi berlandaskan semangat keagamaan atau spiritual seperti
dalam Islam.
Bangsa mana saja yang memiliki budaya literasi
tinggi akan menjadi bangsa maju dan berkembang, sebaliknya bangsa yang meninggalkannya akan tertinggal. Literasi menjadi tonggak kebangkitan peradaban, baik di dunia Barat
maupun di dunia Islam. Jadi upaya membangun bangsa sejatinya ialah membangun kembali budaya literasi umat
atau bangsa ini agar kejayaan dapat kita raih kembali.
Rod Welford, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Queensland,
Australia, telah memberi
perhatian khusus untuk literasi. Ia berkata :“Literacy is at the heart of a
student’s ability to learn and succeed in school and beyond. It is essential we
give every student from Prep to Year 12 the best chance to master literacy so
they can meet the challenges of 21st century life.”
Literasi adalah inti atau jantungnya kemampuan
siswa untuk belajar dan berhasil dalam sekolah dan sesudahnya. Tanpa kemampuan
literasi yang memadai, siswa tidak akan dapat menghadapi tantangan-tantangan
Abad Ke-21. Intinya, kemampuan literasi adalah modal
utama bagi generasi muda untuk memenangkan tantangan abad 21. Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan Queensland telah mengeluarkan buku Literacy the Key to
Learning: Framework for Action untuk digunakan sebagai acuan
pendidikan mereka pada tahun 2006-2008.
Bagaimana dengan pendidikan literasi di
Indonesia?
Rendahnya reading
literacy bangsa kita saat ini dan di masa depan akan membuat rendahnya daya
saing bangsa dalam persaingan global. “70 persen anak
Indonesia sulit hidup di Abad Ke-21,” demikian kata Prof. Iwan
Pranoto. Peringkat siswa kita di tes PISA terus berada di bawah sejak tahun
2000 sampai sekarang.
Alhamdulillah, sejak turunnya Permendikbud
23/2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang mencantumkan adanya kewajiban bagi
sekolah untuk membudayakan membaca melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS), maraklah kegiatan literasi di berbagai daerah,
utamanya di sekolah-sekolah. Gerakan Literasi Sekolah ini bak oasis bagi
hilangnya budaya membaca dan menulis bagi siswa di sekolah selama ini.
Sejak gerakan Gerakan Literasi Sekolah diluncurkan, berbagai daerah seolah berlomba untuk
menunjukkan gairah membaca dan menulis siswa dan guru. Contoh, sejak
dideklarasikan sebagai Provinsi
Literasi setahun lalu, DKI Jakarta berhasil mendorong siswanya untuk membaca
sebanyak satu juta buku. Di Surabaya program Tantangan Membaca Surabaya 2015
berhasil memotivasi 39.000 lebih siswa membaca 20 buku per orang. Siswa di SMAN 5 Surabaya berhasil membaca 1.851 buku hanya dalam dua bulan. Berbagai
sekolah berhasil mendorong siswanya untuk menulis dan menerbitkan karya tulis
dalam bentuk buku. Untuk guru program SAGUSABU (Satu Guru Satu Buku) yang
digawangi oleh Media Guru dan SAGUSABU yang dilaksanakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) berhasil
mendorong ribuan guru untuk mulai menulis dan menerbitkan buku mereka sendiri.
Literasi telah dibumikan kembali setelah selama ini menghilang dan tidak pernah
dipahami urgensinya.
Buku Suara
dari Marjin ini unik dan menarik karena ditulis oleh dua orang doktor di
bidang bahasa yang sama-sama menggawangi program Gerakan Literasi Sekolah. Tentu saja mereka berdua sangat
otoritatif untuk berbicara tentang literasi dan bagaimana membumikannya karena sama-sama
berprofesi sebagai dosen yang mengajarkan kemampuan literasi. Yang lebih unik
adalah bahwa buku ini berangkat dari penulisan ulang disertasi mereka ketika
mengambil program doktor. Sofie di
University of Illinois at Urbana-Champaign, Amerika Serikat, Pratiwi di
University of Melbourne, Australia.
Yang membuatnya sangat menarik adalah bahwa penulisan ulang disertasi ini
dilakukan dengan gaya bahasa populer yang membuatnya seperti sebuah novel saja
laiknya.
Buku ini sangat penting untuk dibaca oleh para
pengambil kebijakan pendidikan, pelaku pendidikan, maupun para aktivis yang bergerak di bidang pendidikan, baik di
sekolah maupun masyarakat. Pemahaman akan konsep literasi yang kontekstual dan autentik dari para pemangku kepentingan di bidang
pendidikan akan mampu memberikan arahan dalam upaya untuk memberdayakan
masyarakat dalam kegiatan literasi. Apa yang telah dilakukan pemerintah melalu
berbagai programnya akan diperkuat dan diperkaya oleh praktik literasi lokal
yang mengakar pada praktik budaya dan jati diri bangsa.
Satria Dharma, Penggagas Gerakan Literasi Sekolah – IGI (Ikatan
Guru Indonesia).
Wednesday, June 07, 2017
Ke Mana Arah
Gerakan Literasi Kita?
Membaca dan Merenungkan Suara dari Marjin (Sofie Dewayani & Pratiwi Retnaningdyah)
--Hernowo
Hasim
Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial
Penulis: Sofie Dewayani & Pratiwi Retnaningdyah
Penerbit: PT Remaja Rosdakarya, Bandung
Halaman: 229
Tahun terbit: Mei 2017
Harga: Rp78.500
ISBN: 978-602-446-048-8
Penulis: Sofie Dewayani & Pratiwi Retnaningdyah
Penerbit: PT Remaja Rosdakarya, Bandung
Halaman: 229
Tahun terbit: Mei 2017
Harga: Rp78.500
ISBN: 978-602-446-048-8
Ketika menerima
kiriman draft buku Suara dari Marjin,
saya langsung bilang ke Mbak Tiwik--panggilan akrab Pratiwi Retnaningdyah--dan
Mbak Sofie bahwa Bab 2 dan Bab 3 sangatlah mengesankan. Dua bab tersebut berisi
pengalaman literasi kedua penulis yang juga menjadi anggota satuan tugas
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdikbud.
Mbak Tiwik
adalah doktor literasi dari Universitas Melbourne, Australia, sementara gelar
doktor Mbak Sofie diraih di Universitas Illinois, Amerika Serikat. Sebelum saya
memperoleh buku karya kolaborasi mereka, saya sudah membaca banyak tentang
pengalaman literasi Mbak Tiwik lewat website IGI (Ikatan Guru Indonesia) yang
diposting oleh Pak Satria Dharma. Tulisan-tulisan Mbak Tiwik sangat
menginpsirasi saya untuk menggerakkan literasi sejak dini.
Saya baru
mengenal secara dekat Mbak Sofie ketika diundang oleh satgas GLS—yang diketuai
oleh Dr. Pangesti Wiedarti—dalam acara FGD (focussed
group discussion) yang membahas topik penjenjangan buku. Sehabis ketemu di
acara tersebut, Mbak Sofie kemudian mengirimkan beberapa file artikel yang
ditulisnya tentang literasi kepada saya via email. Saya pun banyak mendapat
sudut pandang baru dalam memandang literasi.
"Menjadi
literat lebih kompleks dari sekadar memahami simbol tertulis," tulis Mbak
Sofie di halaman 26 ketika menjelaskan pengalaman literasinya di negara Paman
Sam. "Perlakuan yang diberikan kepada kelompok minoritas yang tidak berbicara
dengan bahasa kaum mayoritas, tidak berperilaku, atau berpikir, atau memahami
konsep tentang kebersihan, keamanan, gaya hidup sehat, memuat diskursus tentang
literasi yang bukan sekadar aksara, namun juga cara hidup dan berbudaya."
Salah satu
pengalaman literasi Mbak Tiwik yang saya ingat hingga kini--saya memposting di
Facebook pada 24 Juni 2012 dan memposting ulang pada 2 Maret 2015--adalah
tentang "reading centre." Mbak Tiwik menulis, "Yang dimaksud
Reading Centre ini sebenarnya hanyalah salah satu ujung ruang bermain seluas 1
X 1 meter persegi. Ada rak buku kecil dan beberapa buku. Di atas rak yang lain
ada beberapa kardus berisi buku. Empat kursi sofa untuk ukuran anak-anak ditata
seperti ruang tamu. Tidak luas, namun nyaman.
"Ada sebuah
poster tertempel di dinding yang menyebutkan fungsi Reading Centre sebagai
tempat anak-anak untuk bersantai, menikmati dan mengeksplorasi buku-buku dalam
suasana yang tenang dan menyenangkan. Anak-anak bisa merasakan pengalaman
memegang dan membaca buku, terlibat dalam komunikasi non-verbal, memaknai
gambar dan teks, dan bercakap-cakap tentang apa yang mereka temukan dalam
buku-buku tersebut. Pengalaman-pengalaman inilah yang akan membawa mereka ke
‘pengalaman membaca yang sebenarnya."
Terus terang
pengalaman literasi Mbak Sofie dan Mbak Tiwik tersebut kemudian sedikit
"memaksa" dan mengarahkan saya untuk membaca secara mendalam Bab 7.
Judul Bab 7 buku Suara dari Marjin
kemudian saya pakai untuk menjuduli tulisan saya ini. Mbak Sofie dan Mbak Tiwik
dengan bagus mempertanyakan arah gerakan literasi kita. Katanya, literasi saat
ini diperlakukan seperti fashion. "Kita beramai-ramai memakainya agar tak
tertinggal gerbong pendidikan modern. Pada gerbong ini, kriteria
kemelekaksaraan menjadi usang. Kita mengamini bahwa seseorang tak cukup dapat
membaca. Ia harus dapat memahami bacaan tersebut, menganalisis, memilahnya,
lalu menggunakannya untuk meningkatkan taraf kehidupan…. Namun, apakah gerakan
literasi kita melangkah ke arah yang seharusnya?"
Buku Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik
Sosial (PT Remaja Rosdakarya, Mei 2017) sangat mencerahkan diri saya.
Apakah suara-suara yang berasal dari buku ini akan didengarkan oleh bangsa yang
sedang mabuk literasi saat ini? Apakah arah gerakan literasi--yang dicoba
dikritisi oleh buku ini--akan benar-benar melangkah ke arah yang seharusnya?
Apakah literasi lokal yang mengakar pada kekhasan praktik budaya dan jati diri
bangsa--sebagaimana dibahas dengan sangat menarik oleh buku ini—akan mendapat
perhatian pula?
Hernowo Hasim, perumus konsep “mengikat makna”, penulis buku Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza
Monday, July 14, 2014
Menyayangi Negeri dengan Membaca
--Anwar Holid
Menjadi Bangsa Pembaca
--Anwar Holid
Menjadi Bangsa Pembaca
Penulis: Adew Habtsa
Penerbit: Wisata Literasi, 2014
Halaman: 200 hal., soft cover
ISBN: 978-60295788728
Harga: Rp.40.000,-
Jenis: memoar, nonfiksi
Menjadi Bangsa Pembaca adalah memoar yang enak dibaca. Di buku ini Adew Habtsa menulis secara simpel, jelas, dan santun. Pemikirannya praktis, dengan kadar visioner yang masuk akal. Dia berkampanye mengenai literasi, berusaha menggugah kesadaran berbangsa melalui buku dan musik.
Apa guna literasi di zaman kini yang lebih silau pada kesuksesan, ketenaran, dan kemewahan? Bukannya dunia literasi tidak bisa mengantarkan orang pada hal semacam itu, tapi target utamanya bukan itu, melainkan bersifat lebih mendasar seperti penyadaran. Literasi membuat seseorang jadi tergerak untuk membaca diri, masyarakat, apa yang terjadi di dalamnya. Ia menjadi mahardika. Orang seperti ini biasanya tergerak untuk berbuat maupun berdedikasi pada masyarakat. Dia akan memikirkan ada apa dengan bangsa dan negerinya. Ia mencari jalan apa yang sebaiknya dilakukan demi mengejar ketertinggalan dan memacu kemajuan.
Pada skala nasional pun literasi kurang diperhatikan dan didukung sepantasnya dibandingkan nilai pentingnya. Pemerintah tampak sudah puas dengan anggapan bahwa literasi tercapai berkat tingginya angka melek huruf. Padahal itu baru aspek literasi tingkat dasar. Literasi tingkat lanjut mensyaratkan adanya penguasaan pemahaman, keterampilan, dan pengaruhnya terhadap psikologi individul, sosial, dan reproduksi budaya.
Penerbit: Wisata Literasi, 2014
Halaman: 200 hal., soft cover
ISBN: 978-60295788728
Harga: Rp.40.000,-
Jenis: memoar, nonfiksi
Menjadi Bangsa Pembaca adalah memoar yang enak dibaca. Di buku ini Adew Habtsa menulis secara simpel, jelas, dan santun. Pemikirannya praktis, dengan kadar visioner yang masuk akal. Dia berkampanye mengenai literasi, berusaha menggugah kesadaran berbangsa melalui buku dan musik.
Apa guna literasi di zaman kini yang lebih silau pada kesuksesan, ketenaran, dan kemewahan? Bukannya dunia literasi tidak bisa mengantarkan orang pada hal semacam itu, tapi target utamanya bukan itu, melainkan bersifat lebih mendasar seperti penyadaran. Literasi membuat seseorang jadi tergerak untuk membaca diri, masyarakat, apa yang terjadi di dalamnya. Ia menjadi mahardika. Orang seperti ini biasanya tergerak untuk berbuat maupun berdedikasi pada masyarakat. Dia akan memikirkan ada apa dengan bangsa dan negerinya. Ia mencari jalan apa yang sebaiknya dilakukan demi mengejar ketertinggalan dan memacu kemajuan.
Pada skala nasional pun literasi kurang diperhatikan dan didukung sepantasnya dibandingkan nilai pentingnya. Pemerintah tampak sudah puas dengan anggapan bahwa literasi tercapai berkat tingginya angka melek huruf. Padahal itu baru aspek literasi tingkat dasar. Literasi tingkat lanjut mensyaratkan adanya penguasaan pemahaman, keterampilan, dan pengaruhnya terhadap psikologi individul, sosial, dan reproduksi budaya.
****
Dari mana Adew membangun keyakinan terhadap literasi? Dia membaca buku, memperhatikan lingkungan dan kondisi sosial-politik, terlibat di komunitas literasi dengan agenda dan gerakan kreatifnya. Adew melihat ada energi lebih melampaui buku.
Komunitas literasi bisa dibilang relatif independen, dikembangkan oleh beragam kalangan kelas sosial dengan keyakinan tertentu, dan semua mengalami jatuh-bangun tergantung dukungan, ketahanan, dan strategi masing-masing. Bentuknya beragam. Bisa toko buku, perpustakaan, penerbitan, kelompok penulis dan pembaca, studi budaya, dan peduli pada berbagai isu penyadaran lain. Mereka bersaing secara kreatif, menawarkan pemikiran dan strategi kepada massa, mencari jalan ke luar dari kemampatan ide, sekaligus mendobrak berbagai kejumudan berpikir. Mereka kritis, betapa sesuatu yang dari permukaan dianggap baik dan mulia ternyata bisa menyimpan kebusukan dan pengkhianatan terhadap bangsa dan negeri sendiri semata-mata demi keuntungan kelompok kecil.
Sebagai kunci pencerahan, Adew berpendapat bahwa para aktivis dan founding fathers Indonesia merupakan contoh generasi yang tercerahkan berkat literasi. Mereka bergerak, bekerja sama, mencari jalan demi kemajuan bangsa dan negerinya. Kini generasi penerus punya agenda baru, yaitu mengubah keterpurukan serta ketidakberdayaan karena berbagai krisis, mengubahnya jadi sumber kekuatan. Tantangan makin besar dan mendesak, sementara ruang makin sempit dan waktu terasa makin instan. Dalam kondisi seperti itulah literasi memiliki peluang momentum, persis ketika Kartini mendapat momentum 'dari gelap terbitlah terang.'

Dipecah dua seksi, bagian pertama buku ini mengisahkan meski tumbuh di lingkungan padat penduduk yang cukup keras, ia bisa ‘selamat’ berkat keluarga dan buku. Waktu kuliah ia bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP), mengasah diri menjadi penyair dan musisi. Di luar itu pergaulannya terbilang luas. Ia berinteraksi dengan berbagai pihak lain, bahkan yang sangat kontras sekalipun, baik dari latar belakang, status sosial, maupun ideologi. Ia menilai perbedaan bukanlah celah pertentangan dan sumber keretakan, namun peluang untuk saling mengisi. Ia berusaha menjalin benang merah agar literasi semakin massif.
Bagian dua menuturkan bagaimana dirinya terlibat lebih intim dalam literasi. Di fase ini ia mempraktikkan, mengampanyekan, menggali dan merekomendasikan berbagai buku untuk dipelajari dan digali lagi relevansinya, termasuk buku tua yang mungkin terlupakan.
Adew adalah generasi yang menyaksikan betapa di awal tahun 2000-an beragam variasi gerakan literasi mudah tumbuh di kalangan muda, meski kadang-kadang cepat layu karena berbagai halangan. Setelah ditempa waktu dan belajar cukup banyak demi perbaikan, sepuluh tahun kemudian kini mereka pelan-pelan tumbuh, mengembangkan peluang, mencoba menghasilkan buah, dan terus terbuka terhadap perubahan.
Yang terasa agak kurang di buku ini ialah tiadanya cuplikan puisi maupun lirik karya Adew sendiri. Bukankah ia sudah naik-turun panggung berkelana dari tempat ke tempat mengutarakan visi dan mencoba menjalankan misinya? Tentu ia punya lirik menggugah untuk disertakan. Barangkali kita harus menunggu sampai Adew merilis album musik sebagai karya selanjutnya. Kelemahan lain ialah ia masih banyak mengutip pemikiran orang lain, terutama dari Barat, alih-alih mencoba mengungkapkan pandangan dengan bahasa sendiri. Padahal di ujung buku ia berniat ingin mengedepankan pemikir Indonesia, karena jelas lebih tahu kondisi masyarakat dan negerinya.
Buku ini dengan baik merekam dinamika gerakan literasi di Bandung, kota tempatnya tumbuh. Ia patut dirayakan siapapun yang peduli maupun terlibat langsung dengan isu literasi, para pelaku industri buku, untuk memikirkan pengembangannya agar lebih massif dan kreatif.[]
Anwar Holid, editor, tinggal di Bandung.
Subscribe to:
Comments (Atom)



