Monday, April 02, 2007

Inilah Hidup yang Aku Hadapi
-----------------------------------------------------------------
>> Anwar Holid

Stones taught me to fly
Love taught me to cry
Life taught me to die
-- Damien Rice, Cannonball

Aku sadar cukup yakin termasuk orang yang skeptik (ragu-ragu) terhadap banyak hal. Dari dulu, misalnya, aku ragu ada orang yang bisa cukup jujur mengungkapkan diri seratus persen, tanpa sedikit pun yang ditutupi. Aku merasa masing-masing orang punya motif, dan itu membuat mereka punya alasan bisa menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Keragu-raguan itu membuat aku memandang banyak hal dengan datar, termasuk terhadap hal-hal yang buat orang lain masuk kategori sakral. Contoh, aku sudah lama ragu bahwa orang yang menikah benar-benar berniat ingin menciptakan rumah tangga yang baik atau sejahtera atau dipenuhi harapan muluk lain. Aku menuduh, kalau orang jujur, tentu dia mestinya berani bilang bahwa salah satu motif dia menikah ialah ingin bersetubuh secara halal (legal) dan baik, tanpa mesti khawatir takut dosa, bersalah, maupun dilarang. Pada orang tertentu, aku kadang-kadang mengaku bahwa salah satu tujuanku menikah adalah ingin bersenang-senang, dan aku pikir tujuan seperti itu masih dalam kategori baik, tepatnya: bukan dalam kategori berdosa. Aku merasa banyak orang bersembunyi di balik alasan-alasan yang dicari begitu rupa untuk menyembunyikan keinginan terdalamnya.

Aku jarang berpandangan terlalu tinggi/agung terhadap sesuatu. Terhadap negara dan perannya, misalnya, sudah lama sekali aku merasa sinis. Memang aku juga mesti mengakui arti penting peran institusi semacam itu terhadap kehidupan individu atau masyarakat; tapi begitu negara juga berperan dalam penyengsaraan masyarakat atau malah sama sekali mengabaikan terhadap nasib warga negaranya, termasuk melakukan penghancuran terhadap penduduknya, seketika itu juga pendapatku tentang negara bisa sangat negatif.

Dari hal semacam itu aku sadar bahwa orang berpendapat sesuai dengan sudut pandang atau kepentingan masing-masing. Setiap orang punya alasan untuk perbuatannya; segala sesuatu punya posisi kenapa akhirnya terjadi. Aku sudah sering menyadari hal seperti itu, akibatnya aku kerap membiarkan sesuatu berjalan sesuai adatnya, atau kalau perlu memberi tahu pandangan sesuai pengalamanku. Memang perbedaan pendapat atau pandangan ini pada satu titik pasti menimbulkan konflik, tapi mau bagaimana lagi? Ada kalanya konflik juga memang mesti terjadi. Dan bila sudah terjadi, yang dibutuhkan orang kadang-kadang hanya kesabaran dan keikhlasan.

Dengan mental seperti itu aku menjalani hidup sehari-hari dan mengalami peristiwa sepanjang hidup. Kadang-kadang aku merasa mudah tergugah/trenyuh oleh hal-hal kecil seperti ketika melihat tukang angkut sampah menarik gerobaknya yang terlalu penuh dan berat. Tapi ketika hendak memberi pertolongan, aku sendiri langsung ragu, 'Apa itu termasuk urusanku?' Aku misalnya bisa bersimpati kepada tukang pulung sampah kanak-kanak yang bisa ditemui kapan saja, tapi dalam hati aku kerap membela diri: setiap orang dilahirkan untuk menghadapi realitasnya masing-masing. Dengan begitu aku bisa langsung cuek.

Menghadapi realitas yang mesti aku alami memang menghabiskan banyak energi. Dari peristiwa itu aku berusaha mengambil pelajaran, tapi kadang-kadang begitu sulit dilakukan, atau pada akhirnya peristiwa tersebut kehilangan pengaruh pada hidup. Tapi barangkali peristiwa itu jadi sejenis artifak di dalam diri, baik menjadi trauma ataupun peringatan.
Tentu saja ada banyak peristiwa yang kuanggap penting dalam kehidupanku; atau apa semua peristiwa pada hidup seseorang adalah penting? Harus diakui, ada peristiwa yang memang dianggap lebih penting dari peristiwa lain, dan itu membuat kejadian tersebut jadi lebih mengesankan. Tapi seberapa penting dan mengesankan?

Salah satu peristiwa yang kuanggap penting ialah ketika aku pertama kali diterima bekerja di sebuah penerbit, Mizan. Aku menganggap itu adalah bukti bahwa 'keinginan' (doa, harapan) diberikan oleh Allah. Rasanya aku hanya butuh beberapa hal di dunia ini, dan ternyata salah satunya benar-benar dianugerahkan oleh Allah. Tapi justru ketika aku menganggap diterima bekerja di sana merupakan sebuah peristiwa penting (berkah besar), aku akhirnya diguncang oleh kejadian lain, yaitu ternyata aku gagal menjadi karyawan yang baik, akibatnya aku terpaksa di-PHK. Dari situ aku tahu, peristiwa selalu punya dua unsur, dan keduanya mesti dihadapi dengan sabar.

Menikah juga merupakan peristiwa penting dan momen berkesan (bahkan berharga), tapi justru pernikahan juga merupakan sebuah 'pergulatan' yang harus dihadapi setiap saat---yaitu selama lelaki dan perempuan masih rela jadi suami dan istri. Menikah membuat aku mendirikan keluarga, mengenal persetubuhan, mengetahui dimensi orang lain yang hidup sebagai istri, punya anak, mesti senantiasa punya pendapatan (nafkah), mengenal mazhab Syi'ah (sesedikit apa pun), dan seterusnya. Faktanya ialah pernikahan mengayakan pengetahuanku dan terus menerus jadi semacam ujian. Tapi dari pernikahan juga aku menghadapi sejumlah peristiwa gawat yang memperlihatkan betapa rentan aku terhadap ujian.

Aku sejak lama bilang bahwa kesabaran itu tiada batas; tapi justru dengan keyakinan itu aku gagal menghayatinya. Akibatnya, aku pernah menampar istri. Ketika peristiwa itu terjadi, aku menyalahkan istri yang aku anggap 'terus-menerus' menggoda kesabaran, dan akhirnya membuat kesabaranku bobol. Tapi intinya adalah: pada satu titik tertentu, titik didihku tercapai dan akhirnya meledak. Ketika itulah aku kalah menghadapi orang lain ataupun kesabaran itu sendiri. Aku tahu ada banyak hal yang merupakan 'tombol emosi' dalam hidupku, dan barangkali tinggal menunggu saat saja semua itu akhirnya meledak satu demi satu. Pernikahan, mendirikan keluarga, punya anak, adalah hal paling berat yang pernah aku tanggung dalam hidup; tapi dari sana aku belajar banyak hal, salah satunya ialah mengendalikan diri dan emosi.

'Tanggung jawab' dalam keluarga membuat aku menisbatkan hampir semua yang aku lakukan sebagai ibadah, dengan itu pula aku berusaha melakukan yang terbaik demi mendapat yang paling bagus. Tapi pada saat bersamaan aku juga penuh kekurangan, dan itu membuat yang aku lakukan masih banyak kurang. Kenyataan berumah tangga membuat aku sadar betapa banyak kekurangan yang aku punya. Istriku malah sinis dengan kondisi yang aku rasakan itu; tapi harus aku akui barangkali kekurangan itu yang membuat aku terus bertahan, berbuat, atau menghasilkan karya. Aku juga mempersembahkan karir dan pekerjaan untuk keperluan keluarga. Dari sana pun aku masih bisa mendapat sisa-sisa kesenangan. Yang harus aku akui juga ialah bahwa aku ternyata masih buruk menjadi orangtua. Ketakutan menjadi orangtua itu barangkali bersumber bahwa aku pun kurang maksimal meningkatkan kualitas kemanusiaan. Aku tahu pada taraf tertentu, lepas bahwa aku berniat lebih berbakti jadi manusia, aku masih terlampau condong menuruti hawa nafsu. Anak yang lahir dari perkawinan kami tampaknya standar saja menjalani kehidupan sebagai manusia. Di satu sisi aku merasa baru bisa berbuat sekadarnya sebagai orangtua---itu pun dipenuhi keraguan dan kurang pengetahuan.
Hidup ternyata hanya harus dijalani (dihadapi), bahkan ketika ada dalam kondisi paling gawat. Kejadian dalam hidup yang aku alami betul-betul mengajarkan aku pada banyak hal, bahwa hidup jalan terus meski ia berusaha dihindari. Keputusan hanya akan membawa pada konsekuensi; dan konsekuensi yang gagal dijalani hanya akan membuat hidup berantakan.
Hal lain yang mengantarkan aku pada banyak hal adalah pengalaman punya utang terbanyak dalam hidup gara-gara merenovasi rumah. Renovasi itu membuat aku menghadapi kenyataan mesti berutang ke sana-sini, termasuk ke teman-teman. Rasanya malu merasa punya kekurangan sebanyak itu; kondisi itu membuat aku harus menghadapi orang lain, menyela keperluan mereka sendiri, membuat aku tersudut oleh kenyataan buruk demi memperoleh sesuatu. Sekali lagi aku sadar peristiwa itu menggiring aku untuk berpendapat bahwa berbagai kemungkinan siap terpampang di hadapanku, asal aku mau menghadapinya cukup baik-baik.
Pengajian di Paramartha pada banyak hal mengantarkan aku pada khazanah Islam yang lebih dalam dan luas. Rasanya aku cukup konsisten menjalani proses dan berusaha mencerap sungguh-sungguh. Hanya saja aku malas berharap. Harapan sudah sering membuat aku kecewa atau malas, karena itu membiarkan segalanya berjalan sesuai kehendak kejadian, apa pun kemungkinannya. Di pengajian itu aku mendapat banyak sekali pelajaran, meski beberapa unsurnya aku tanggapi dengan 'dingin.' Untuk menjelaskan ini, aku sepakat dengan ucapan Nu'aim bahwa aku tidak punya instrumen pengetahuan yang membuat aku paham atau terkesan pada sejumlah cerita yang diutarakan oleh mentor. Bagaimanapun, aku bersyukur mendapat pelajaran yang sangat mengayakan batin maupun kemanusiaan itu. Meski ada yang membuat aku kurang antusias atas sejumlah hal yang dianggap orang-orang 'luar biasa', toh aku bisa cukup berdamai dengan itu, atau bertanya. Orang punya pengalaman atau realitas tertentu, dan itulah yang membentuk hidup dan keyakinannya.

Hidup membuat aku mengalami banyak hal. Aku mendapat berbagai hal, bergulat, atau berselisih. Tapi di sisi lain aku berusaha belajar menghadapi persoalan secara proporsional atau berdamai dengan keadaan. Satu keyakinan yang tertanam betul ialah bahwa bantuan (berkah, pertolongan) akan senantiasa ada, entah bagaimanapun caranya. Persoalannya ialah aku, sebagai manusia, kerap kurang sabar menanti bahwa semua akan baik-baik saja. Kalau bisa berjarak dengan peristiwa tersebut, faktornya ialah aku masih gagal melihat di balik peristiwa tersebut. Aku terbukti kerap kurang sabar atau mudah tergoda oleh hasutan yang membuat aku lepas kendali. Ketergesa-gesaan itu sebenarnya hanya membuat kemanusiaanku erosi (luntur); tapi entah bagaimana lagi aku berusaha memperbaiki diri. Pengetahuan kerap sia-sia setiap kali gagal terejawantahkan atau digunakan pada saat diperlukan.[]09 Oktober 2006, 0:23:04

1 comment:

Cahya Kirana said...

Terpujilah Allah, perusahaan pinjaman Cahya adalah salah satu penjamin emisi independen terkemuka di seluruh dunia. Kami mapan dan selama bertahun-tahun kami telah mengembangkan pemahaman yang baik tentang kebutuhan dan kebutuhan individu. Kami berkomitmen untuk memperlakukan pelanggan kami cukup dan menawarkan layanan yang profesional, ramah dan membantu. Prosedur kami dirancang untuk cocok Anda, untuk memastikan bahwa kami menawarkan produk yang sesuai dengan kondisi Anda, formalitas dikurangi seminimal mungkin, dan bersama-sama dengan pendekatan yang fleksibel untuk setiap program, pastikan Anda menyelesaikan permintaan pinjaman Anda. Kami telah membantu mengubah pelanggan dan memperbaiki kehidupan mereka selama lebih dari 47 tahun dan kami benar-benar independen, kita berada dalam posisi yang unik untuk menawarkan berbagai pinjaman untuk semua jenis bisnis dan individu. Tujuan kami adalah untuk memenuhi kebutuhan keuangan Anda dan kepuasan Anda sangat penting bagi kami. Itulah sebabnya kita harus memberikan pinjaman dengan suku bunga 2%, Jadi kembali kepada kami hari ini jika Anda tertarik dengan layanan kami Email: cahya.creditfirm@gmail.com .... kebahagiaan Anda adalah sukacita kita