Monday, December 15, 2008


KEBAHAGIAAN SEJATI
--Anwar Holid


Authentic Happiness - Menciptakan Kebahagiaan dengan Psikologi Positif
Penulis: Martin E.P. Seligman, Ph. D.
Penerjemah: Eva Yulia Nukman
Penerbit: Mizan, 2005
Halaman: 410
ISBN: 979-433-398-0
Harga: Rp36,000.00 (Versi Digital); Rp60,000.00 (Versi Buku)


ORANG menempuh banyak cara agar bahagia. Sebagian orang dengan lagak menyatakan bahwa tujuan hidupnya ialah mengejar kebahagiaan. Mulai dengan menumpuk harta sampai menjadi relawan sebuah organisasi nirlaba. Kita sering mengira bila sedang senang artinya sama dengan sedang bahagia. Memang umum orang menyangka seperti itu. Kesenangan itu saudara kebahagiaan, kalau bukan keponakannya. Tapi benarkah seperti itu?

Inilah yang ditempuh orang dengan cara berbeda-beda. Ada kala bahkan dengan memaksa agar orang jangan melakukan ini-itu yang dianggap berbahaya. Bisakah orang mendapat kebahagiaan lewat paksaan? Apa bisa orang mengaku senang atau bahagia meski asalnya dari memuas-muaskan hawa nafsu sendiri sampai merugikan orang lain?

Ternyata kebahagiaan punya ciri, yang boleh jadi langsung runtuh bila melanggar aturan tertentu. Tapi di sisi lain orang bisa bahagia dengan cara paling sederhana. Dia bisa bahagia karena mampu menyenangkan anaknya, sementara orang lain girang bukan main karena bisa mengalahkan lawan tanding tangguhnya, atau dapat hadiah sesuatu yang sudah sekian lama diidam-idamkan.

"Sudah saatnya muncul sebuah ilmu yang berusaha memahami emosi positif, membangun kekuatan dan kebajikan, serta menyediakan tonggak paduan untuk menemukan hal yang oleh Aristoteles disebut 'kehidupan yang baik," kata Martin Seligman, pendiri Psikologi Positif, sekaligus secara komprehensif menuliskan landasan teori dan praktik cabang psikologi ini dalam buku Authentic Happiness. Psikologi Positif lahir dari kegalauan Seligman ketika jadi presiden American Psychological Association (APA) pada 1998. Dia tak sendirian; beberapa koleganya ternyata merasakan kecenderungan serupa, dan akhirnya saling mendukung dan mengisi gagasan tersebut hingga menjadi disiplin yang padu.


KIRA-KIRA satu dekade sebelum Seligman terpilih jadi presiden APA, organisasi ini pecah. Anggotanya terbagi dua: pertama kubu sains, yang mementingkan sains namun suka menggerutu; kedua kubu praktik, yang lebih suka berpolitik dan lebih mementingkan psikoterapi pribadi namun mengabaikan sains. Sementara media mereka yang terkemuka, Psychology Today, bangkrut. Beruntung masa sulit ini ditangani dengan baik oleh presiden mereka yang brilian, Ray Fowler. Dia berhasil membangun APA menuju kejayaan, termasuk berhasil menggaet anggota jadi 160.000 orang, sangat besar bagi organisasi sains. Agaknya sikap optimisme Seligman tumbuh dari pengaruh Ray. Namun ada yang lebih menggugah Seligman untuk memantapkan aliran ini, yaitu kebiasaan buruknya sebagai penggerutu yang sudah akut, susah diperbaiki dan terkenal di antara orang-orang dekatnya. Suatu hari dia mendapat ilham setelah ngobrol dengan anak bungsunya, Nikki. "Kalau aku bisa berhenti merengek, ayah juga bisa berhenti jadi penggerutu," kata putrinya. Seketika itu dia tertohok. "Saya menginginkan psikologi yang bisa membahas institusi positif biar makin memacu kekuatan dan kebajikan, yang akan memandu kita menempuh jalan lebih baik menuju kehidupan yang baik." Jawabannya ialah Psikologi Positif.

Psikologi ini berusaha menekankan pada kesehatan mental. Aliran ini merupakan generasi baru Psikologi Humanistik yang berhasil membangun dukungan bukti empirik yang solid, menyediakan landasan sainstifik kuat bagi studi tentang kebahagiaan manusia dan fungsi optimal manusia, menambah sisi positif dari psikologi yang terlalu dikuasai sisi negatif manusia. Komentar Jalaluddin Rakhmat: dengan buku ini, kita akan meninggalkan "psikologi bengkel" yang memperbaiki jiwa-jiwa yang rusak menuju "psikologi pandai emas" yang menyepuh logam mulia menjadi lebih cemerlang. Haris Priyatna, seorang editor, menambah: Psikologi Positif mengarahkan perhatian pada sisi positif manusia, mengembangkan potensi-potensi kekuatan dan kebajikan sehingga membuahkan kebahagiaan yang autentik dan berkelanjutan.

SEBENARNYA cara menulis Seligman cukup enak dinikmati, penjelasannya jernih, dan nuansanya membangun; hanya saja banyaknya contoh kasus, praktik tes psikologi, dan poin demi poin berbagai ciri suatu sikap seseorang membuat pembacaan tuntas mudah terganggu. Hal tersebut bukan merupakan kekurangan, melainkan untuk memastikan bahwa pembaca tahu persis dan jujur mengetahui kondisi psikologinya, biar dia tahu yang tengah terjadi dan apa yang sebaiknya dilakukan. Ragam tes psikologi ini amat beragam, sebagaimana kebahagiaan juga bermacam-macam spektrumnya. Ini dilakukan Seligman agar orang jujur betul dengan kondisi dirinya. Seluruh tes tersebut dikembangkan oleh para ahli psikologi dari lab atau lembaga psikologi terkemuka. Secara keseluruhan buku ini dengan baik mampu menjelajahi subjek yang ditawarkan dan bisa membangkitkan semangat orang untuk membangkitkan sikap positif dan kemudian mempertahankannya menjadi karakter pribadi.

Seligman memerikan bahwa kebahagiaan terdiri dari "emosi positif" dan "aktivitas positif." Dia berusaha mencakup faktor kebahagiaan cukup lengkap, mulai dari diri sendiri, lingkungan, keluarga (terutama dalam membesarkan anak), cinta, karir; sekalian membagi ilmu apa artinya optimistik, bahkan bersikap terhadap ketidaknyamanan atas nama demi kebahagiaan, dan seterusnya. Di buku ini dia juga mengenalkan sejumlah istilah teknis psikologi yang bermanfaat karena detilnya lain, antara lain kenikmatan, gratifikasi, flow, joy, dan sebagainya. Semua istilah itu berhasil dipadankan dalam bahasa Indonesia dengan enak. Namun yang paling penting ialah mengajak orang menemukan kebahagiaan yang terbaik bagi dirinya. Hanya orang itu sendiri yang bisa menemukan kebahagiaan autentiknya, terutama menemukan kekuatan khas di setiap diri orang.

Martin Seligman merupakan salah seorang psikolog paling terkemuka dewasa ini. Newsweek menyebut dia sebagai "psikolog abad ke-21 sekaliber Freud." Dan menurut Review of General Psychology, Seligman ada di peringkat ke-13 sebagai psikolog yang paling banyak dikutip di buku ajar pengantar psikologi dalam abad ini. Selain orang senior di APA, dia juga seorang penulis laris sejumlah buku dan seorang juara bridge Amerika Serikat.[]

Pertama kali dipublikasi di http://www.digibookgallery.com

No comments: